Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Gombalan Receh ( Bagian 4 )


__ADS_3

AUTHOR


Julian masih cengengesan tidak jelas, merasa bingung mau berkata apa. Tapi Julian sama halnya seperti Bara, lidahnya benar-benar tak bertulang, ada saja seribu alasan yang akan keluar dari mulutnya jika itu urusannya untuk membela diri.


Predikat playboy yang melekat padanya namun tetap banyak gadis yang bersedia menjadi kekasihnya juga adalah salah satu bukti kemahiran Julian dalam hal bersilat lidah.


" Hehehe... gue takut sama pertanyaan bang Der yang udah macam polisi yang lagi investigasi penjahat. Entar kebongkar semua dong rahasia gue. " Julian malah tercengir.


" Cih..." Decak Bara, padahal dirinya sendiri juga berfikiran sama dengan Julian, karena itulah dia juga memilih tantangan daripada kejujuran.


" Lo juga Dea, gombalan Julian malah lo tanggepin dengan kenyataan. Ngenes beneran tuh anak gagal gombal. Hahaha...... " Bara masih belum puas mentertawakan si buaya junior.


Deana menatap kasihan ke arah Julian, " Ya, udah emang apa jawabannya ?! " Deana mengalah.


" Cih....Udah hilang feelnya. " Diperhatikan malah membuat Julian ngelunjak dengan pura-pura ngambek.


" Haish... serah lo. " Omel Deana ketus.


" Hehe... Jangan marah dong Dea sayang. " Rayu Julian dengan manisnya, membuat beberapa mata menatap tajam ke arahnya dan kemudian beralih menatap gadis di samping Julian, siapa lagi kalau bukan Viola kekasih Julian.


Segitu entengnya seorang Julian memanggil gadis lain dengan embel-embel sayang di depan kekasihnya sendiri. Namun tidak ada ekspresi marah atau kecewa di wajah manis gadis remaja itu. Justru gadis itu yang terkikik paling keras diantara mereka semua.


Julian masih tercengir gemas melihat kekesalan di wajah Deana. Kemudian dengan santainya pemuda itu mengulang gombalannya.


" Mobil yang bikin galau, mobilang sayang, tapi takut ditolak. " Ucap Julian sambil tercengir sendiri.


" Gue tabok tuh mulut baru tahu rasa lo. " Maki Deana kesal seraya memelototi sahabat gilanya itu.


" Hihihi.... Takut gue. " Balas Julian sembari berakting memeluk tubuhnya sendiri seolah ketakutan membuat Viola semakin terkekeh melihat tingkah kekasihnya itu.


Tentu saja itu sukses membuat beberapa orang tercengang melihat ekspresi bahagia yang justru tampak di wajah Viola. Mana ada gadis yang seperti Viola, merasa senang saat kekasihnya menggombali gadis lain dan memanggilnya sayang.


Mereka yang menjadi penonton hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan adegan aneh bin ajaib itu.


Belum juga kehebohan yang ditimbulkan oleh ulah Julian mereda, dan tibalah giliran Bara, dengan beraninya menyebut nama seorang gadis yang dijaga oleh si monster bucin disampingnya.


" Moza. "


" Eh... " Moza tersentak.


" Cari mati lo Bar ! " Baru juga menyebutkan nama Moza, Bara sudah mendapat tatapan horor dan kalimat ancaman.

__ADS_1


Tapi bukan Bara jika menyerah disana, memang inilah tujuan Bara dan Derka mengadakan permainan ini. Yaitu membuat sahabat jutek mereka kesal tanpa bisa membalas dendam.


" Percuma abang gombalin Momo bang, palingan dia bisa jawab semua gombalan abang. Hihihi.... " Ucap Deana menyela.


" Kok gitu dek ? "


" Abang gak tahu aja udah berapa banyak cowok yang gombalin dia, lagi duduk di kantin digombalin, di taman kampus, di perpustakaan, bahkan waktu kelas lagi kuliah aja ada yang nekat gombalin dia, sampai Rena aja yang ikut dengerin ikutan muak. Hehehe..... " Sambar Renata didukung oleh gerakan manggut-manggut dari kedua sahabatnya yaitu Amira dan Deana.


Ucapan gadis itu seketika membuat ekspresi di wajah Hega semakin masam saja namun segera disembunyikannya. Meskipun sekilas Bara dengan jelas sempat melihat kekesalan yang memuncak di wajah sahabatnya itu membuatnya semakin puas saja mengerjai Hega.


" Akh.... Palingan gak ada yang bisa ngalahin abang dek. Gombalan abang mah lain dari yang lain. Hahaha... " Bara tergelak dengan sombongnya.


Dengan cueknya Bara melanjutkan aksinya, melengos mengabaikan tatapan kesal Hega dan kembali fokus pada sasaran gombalan recehnya.


" Panda panda apa yang bikin seneng ? " Tanya Bara dengan nada merayu khasnya tak lupa mengedipkan satu mata.


Moza hanya mampu menggeleng, memang benar jika selama ini banyak mahasiswa iseng yang mengatakan kalimat-kalimat rayuan padanya.


Tapi tidak lantas Moza harus mengingat semua gombalan tidak penting itu. Jangankan mengingatnya, mendengarkannya saja gadis itu enggan. Jadi ya sekedar masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan.


" Pandangin kamu terus setiap hari. " Jawab Bara kemudian yang dihadiahi sorakan.


Satu gombalan tak cukup bagi Bara, ini memang sudah rencananya dengan Derka, harus sampai Hega kesal sekesal-kesalnya.


" Tau gak kenapa menara Pisa miring ?Β " Tanyanya lagi masih tertuju pada gadis disamping Hega membuat Hega kembali melotot padanya.


Moza bingung, kenapa masih ada pertanyaan lagi, menatap Hega dan Bara bergantian. Dan untuk kedua kalinya gadis itu menggeleng.


" Karena ketarik sama senyum kamu. " Kali ini bukan sorakan melainkan suara tawa diiringi kacang kulit terbang ke arah Bara.


Bara dan Derka hanya terkikik geli melihat ekspresi masam di wajah sahabatnya. Derka melirik ke arah Bara seolah mengisyaratkan untuk menambah serangan.


" Dan satu lagi, kamu tahu gak apa bedanya kamu dengan lukisan ? "


" Beneran bosan hidup lo Bar. " Sela Hega semakin horor, tapi Bara tetap acuh seolah dirinya memiliki sembilan nyawa.


Moza kembali pasrah dan menggeleng, sambil menahan tawa melihat ekspresi masam di wajah pria yang ada di sampingnya, kemudian menggenggam satu tangan Hega yang ada di pegangan kursi.


" Kalau lukisan makin lama tambah antik. Kalau kamu makin lama tambah cantik. "


" Hahaha...." Tawa puas menggema dari mulut Bara an Derka melihat kekesalan Hega.

__ADS_1


Bara dengan lancar melayangkan rayuan gombalnya pada Moza meskipun berakhir mengalami hal yang sama dengan Derka, limau terbang yang mendarat tepat di jidatnya.


Lagipula dari beberapa gadis disana kenapa pilihan Bara harus jatuh pada Moza. Yang jelas pastinya adalah untuk membuat kesal sahabatnya itu dengan menggoda kekasihnya. Benar-benar cari mati saja Bara menggoda pacar dari sahabatnya yang sedang dilanda penyakit bucin parah itu.


Tapi bukan Bara jika tak bahagia setelah berhasil membuat sahabat menyebalkannya itu jengkel setengah mati.


Dimas dan Hega sama-sama memilih Truth [kejujuran] Hega semula juga mau memilih Dare [tantangan], tapi Moza melarangnya karena terbersit jika kekasihnya itu akan menggombalinya dengan sangat menggelikan.


Cukup ketika mereka sedang berduaan saja dirinya mendengar kata-kata manis memabukkan dari Hega, tak perlu mendengarnya di depan banyak orang yang akan semakin membuatnya malu tiada tara.


Membayangkannya saja sudah malu rasanya, tapi gadis itu tidak pernah menyangka jika pilihannya untuk memilih Truth justru akan membuatnya lebih malu lagi nantinya.


Dan hanya tersisa tiga orang yang memilih Truth atau Kejujuran.


Dan hukuman untuk yang memilih Truth adalah 'jawab cepat'. Derka akan mengajukan beberapa pertanyaan dimana ketig orang yang tersisa yaitu, Moza, Hega dan Dimas harus menjawab dengan cepat setiap pertanyaan yang dilontarkan Derka.


" Karena gue Raja yang bijaksana, kalian juga boleh buat satu pertanyaan untuk mereka. " Ucap Derka sembari menatap kesemua orang yang sebelumnya sudah mendapatkan hukuman tantangan.


" YEEEYYYYY..... " Terdengar sorakan dari beberapa gadis yang sangat antusias bisa ikut memberikan pertanyaan pada ketiga orang itu, karena jiwa kekepoan mereka yang tergoda untuk ikut mengorek rahasia ketiganya.


" Bagi siapa saja yang tidak menjawab atau pass harus meminum satu gelas kecil jus limau yang ada di depannya, tapi ini hanya boleh maksimal tiga pertanyaan. Jika total pertanyaan yang dilewatkan lebih dari tiga pertanyaan, maka orang tersebut akan mendapatkan hukuman tambahan karena gagal dalam hukuman 'jawab cepat'. " Imbuh Derka menjelaskan aturan permainan.


Alamak cobaan apa lagi ini pula ?! Seketika Moza merasa merinding sendiri, membayangkan pertanyaan-pertanyaan aneh yang akan dilontarkan sahabat dari kekasihnya itu.


Terlebih lagi Bara yang terlihat menyeringai mengerikan seolah pria itu sudah menyiapkan pertanyaan yang berbahaya.


Moza menelan salivanya dengan susah payah seolah ada yang sesuatu yang mengganjal di lehernya. Hega menggenggam tangan Moza yang tadi menggenggam tangannya. Mengisyaratkan agar gadis itu tenang dan santai saja, karena kedua orang itu tidak akan berani bertanya macam-macam padanya.


Aaaaa.... Bagaimana aku bisa tenang? Bagaimana kalau mereka tanya-tanya hal yang memalukan ? Kenapa tadi aku tidak memilih tantangan saja si ? Tinggal memakan limau asam dan meminum segelas jus limau itu kan jika aku tak bisa melakukan tantangannya. Dasar... Penyesalan memang selalu datang terlambat. Huuuuu.... ~ Moza ~


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Apa saja kira-kira pertanyaan mengerikan yang sudah disiapkan oleh Derka untuk sahabatnya Hega dan juga kekasihnya ?


Dan apakah Moza mampu menjawab semua pertanyaan gila dari sahabat kekasihnya itu ? Atau justru berakhir dengan hukuman tambahan ?!


Kalau kalian jadi Derka, mau tanya apa sama Babang Hega dan Moza ? πŸ€”


LIKE KOMENTAR DAN VOTE NYA YA SAYANG... 😘


Teman-teman follow juga akun Instagram othor ya @sherinanta

__ADS_1


__ADS_2