
โ ๏ธ Adegannya masih di kasur ya !!! Tapi sungguh tidak ada yang begituan. Kuat amat yak Hega berduaan di kasur gak ngapa-ngapain. ( Padahal aslinya dah guling-guling gak nahan ๐๐๐ )
Selamat Membaca. Jangan lupa like dan komentarnya โค
AUTHOR
Moza merubah posisinya, gadis itu bersandar di kepala ranjangnya yang nyaman.
Tampak sedang mempersiapkan diri untuk menceritakan sesuatu yang selama ini sulit diungkapkannya pada orang lain.
Bahkan kepada orang tuanya sekalipun Moza tak pernah bercerita karena tidak ingin ayah dan bundanya itu mencemaskannya.
Terlebih jika Ryuza yang selalu over protective padanya itu sampai tahu, pastinya adiknya itu tak akan mengijinkan kakaknya kuliah di luar kota.
Atau mungkin malah mengekori kemanapun kakaknya pergi.
Hega mengikuti pergerakan kekasihnya, melakukan hal yang sama dengan gadis itu. Ikut bersandar di kepala ranjang di samping gadisnya.
Menunggu dengan sabar Moza melanjutkan ceritanya.
Sesekali Hega menjahili Moza, menendang-nendang pelan kaki kekasihnya yang tengah selonjor menggunakan kaki panjangnya..
Seolah memamerkan kaki panjangnya yang sempurna itu.
" Kakak sedang pamer kaki kakak yang panjang itu padaku yah ?! " Gerutu Moza sebal.
" Anggap saja begitu. " Jawabnya sekenanya tak lupa senyum nyengir watadosnya.
" Cih... " Moza melirik sekilas kekasihnya kemudian berdecak kesal atas keusilan pemuda itu.
" Ayo lanjutkan ceritamu. " Sambung Hega saat melihat Moza menyebikkan bibirnya.
" Hentikan dulu ini. " Menujuk jari kaki Hega yang kini sedang menggelitiki kakinya.
" Kenapa ? Aku suka kok. " Ujarnya santai.
" Ugh... Aku geli kak, bagaimana aku bisa melanjutkan ceritaku jika kakak terus melakukan itu si ?! " Omel Moza memelototi pemuda di sampingnya itu.
" Hehehe.... Iya baiklah, aku akan lanjutkan nanti. Sekarang lanjutkan ceritamu. " Ucap Hega tanpa rasa bersalah ataupun malu sama sekali.
Moza cemberut sejenak, kemudian tatapan matanya kembali menerawang. Mengingat-ingat masa lalunya, memilih kata yang tepat untuk memulai ceritanya.
" Sejak kepergian kak Hyu, Ayah dan bunda akan selalu membawaku dan Ryuza kemanapun mereka pergi. Aku ingat saat itu sepertinya mereka membawa kami ke luar kota untuk berlibur, dan itulah pertama kalinya aku mengalami insomnia berat. Ruangan asing yang membuatku tidak nyaman. Dan sekalinya aku jatuh tertidur, maka tak berselang lama aku pasti akan segera terbangun kembali karena bermimpi buruk. " Hega menyimak setiap kalimat yang diucapkan kekasihnya.
Menunggu kalimat selanjutnya, tampak jelas di raut wajah gadis itu jika sedang memikirkan sesuatu.
" Ah... Mendengar kamu menyebutkan tentang mimpi, malam itu kamu juga menangis dalam tidurmu. Sama seperti saat aku memindahkanmu ke kamar ketika kita sedang berlibur di villa Bara waktu itu. Tapi waktu itu kamu hanya sedikit meneteskan air mata, berbeda dengan malam itu. " Hega begitu penasaran apa yang ada di mimpi Moza yang membuatnya menangis sesenggukan malam itu.
Aaaahhh.... Jadi waktu di villa bang Bara itu kak Hega bukan hanya sekedar memindahkanku ke kamar saja ? Tapi juga melihat aku menangis dalam tidur ? Itu kan sudah lama sekali. Arrgh....dia tahu kecengenganku jauh sebelum kami berdua dekat, Aaaiishh sangat memalukan !!!
Ehh... Lalu apa yang dimaksudnya dengan malam itu ? Jangan bilang kejadian di villa waktu itu bukan satu-satunya moment dimana kak Hega memergokiku sedang manangis dalam tidur ! Ahhh aku malu. ~ Moza ~
" Maksud kakak malam itu ? "
" Tentu saja malam saat kamu baru pindah ke rumahku. " Jawab Hega santai, terlihat salah satu alis tebalnya yang rapi itu sedikit naik.
" Eh... ?! " Moza menyipitkan matanya menuntut jawaban yang lengkap.
__ADS_1
" Aku teringat ucapan Deana saat di villa Bara waktu itu, tentang kebiasaan burukmu yang satu itu. " Kalimat Hega membuat Moza berubah ekspresi menjadi memelototinya.
" Insomniamu yang pilih-pilih itu. " Lanjutnya jahil kemudian tersenyum.
" Kaaak..... " Pekik Moza yang merasa malu karena godaan Hega.
" Hehe... Maaf. "
" Malam itu aku sengaja berjaga di depan kamarmu, mengantisipasi siapa tahu terjadi sesuatu padamu. Dan benar saja, saat hampir tengah malam aku mendengar suara teriakan dari dalam kamarmu. " Sambung Hega kemudian, dan berlanjut menceritakan apa yang dilihatnya malam itu.
" Eh... Kak. "
Jadi malam itu kakak ada disana saat aku mimpi buruk ?
Moza melamun sesaat, tidak fokus pada ucapan Hega selanjutnya.
" Jadi apa yang membuatmu menangis pilu seperti itu ? Apa yang kamu impikan sebenarnya ? "
" Emm.... " Sentuhan tangan Hega yang tengah mengelus kepalanya menyadarkannya kembali dari lamuannya.
Moza kemudian menceritakan perihal mimpinya malam itu, mimpi yang berbeda dari mimpi-mimpi yang selalu hadir di tidurnya selama 10 tahun ini.
Dan di kalimat terakhir, pertahanan gadis itu hancur sudah. Kelopak matanya tak mampu lagi menahan bulir-bulir air matanya.
" Sepertinya Kak Hyu benar-benar pergi untuk selamanya. Dia bahkan tidak lagi muncul di mimpiku lagi sampai saat ini. Dia meninggalkan aku. Hiks....hiks...."
Tangis yang ditahanya pecah sudah, Hega membawa gadis itu dalam pelukannya. Membiarkan gadisnya menumpahkan segala kesedihan yang sedang dirasakannya.
Cukup lama Moza menangis dalam pelukan Hega, pemuda itu dengan sabar menunggu luapan emosi kekasihnya mereda.
Kemudian mengecup pucuk kepala kekasihnya untuk memberikan ketenangan dan kenyamanan pada gadis itu.
Setelah beberapa saat melepaskan pelukannya, dan menangkup wajah cantik di hadapannya dengan kedua telapak tangannya.
" Ada aku, mulai sekarang dan selamanya aku yang akan mencintaimu dan menjagamu. Akan aku buat wajah cantik ini bahagia, tidak akan kubiarkan kesedihan ada di mata ini. " Ucapnya sembari mengecup kening Moza dengan sangat lembut.
Membiarkannya menempel disana beberapa saat seolah sedang menyalurkan rasa cintanya pada gadis itu.
Setelah itu kembali membawa gadis itu dalam pelukannya, Moza menenggelamkan wajahnya di dada bidang kekasihnya.
Moza masih menangis sesenggukan di pelukan Hega, berusaha mencari sesuatu yang membuatnya nyaman, dan seperti merasakan sesuatu yang tak asing baginya.
Hega terus mengusap lembut punggung Moza dan sesekali menepuknya perlahan. Tidak peduli pada kemejanya yang sudah basah oleh air mata kekasihnya itum
" Jadi malam itu kakak mengintipku tidur, hiks... hiks...? " Tanya Moza akhirnya dengan kepolosannya dengan masih sesenggukan menahan tangis.
" Ehhh.... Kenapa kamu mengatakan itu seolah aku ini pria mesum si ? " Protes Hega menggoda.
" Memangnya bukan, hiks...?! " Ucap Moza sekenanya sambil mengusap air bening yang membasahi pipinya.
" Aku disana malam itu benar-benar murni karena aku khawatir padamu Moza sayang. " Elak Hega, menyibak tangan Moza dari pipinya. Dan melanjutkan apa yang dilakukan gadis itu sebelumnya.
Kini Hega yang melanjutkan menyeka air mata yang membasahi pipi putih gadis itu, mengusap lembut kelopak mata yang terlihat sembab dan sedikit membengkak.
" Eummm.... Baiklah aku percaya. "
" Kenapa nada bicaramu terdengar masih meragukanku si ?! " Hega masih protes tak terima.
__ADS_1
" Iya kak, aku percaya. Dan terima kasih telah ada untukku malam itu. "
" Ingat satu hal, jika aku akan selalu ada untukmu. Jadi jangan menyimpan kesedihanmu sendiri, jangan menangis seorang diri. Menangislah di pelukanku jika kamu ingin menangis, hm. " Ujar Hega sambil meraih dagu Moza agar menatapnya.
" Bukankah dalam mimpimu juga Arka mengatakan kalau dia mempercayakanmu padaku kan ?! Jadi aku pastikan keinginannya itu akan aku penuhi. Mencintaimu dan menjagamu seumur hidupku. " Sambung pemuda itu sambil menatap lekat kekasihnya.
" Eum. Terima kasih. " Tutur Moza diikuti senyum di bibirnya.
Kalimat terakhir Hega terdengar sangat tulus diucapkannya, dan tentu saja memang itu kenyataanya.
Tapi pemuda itu tidak menyadari jika kalimatnya itu ternyata menimbulkan dugaan lain di hati kekasihnya.
Apakah kakak benar-benar mencintaiku sebagai Moza Artana ? Ataukah kakak mencintaiku karena jantung kak Hyu yang membuat kakak merasakan itu padaku ?
Ah... tidak, kamu jangan menduga yang tidak-tidak Moza Artana, pria ini mencintaimu, yakinlah itu. Pria yang memelukmu ini bahkan sudah menyatakan jika dia mencintaimu sebelum dia tahu jika kamu adalah adik dari Hyuza Arkana Dama, sahabat sekaligus pendonor jantungnya.
Tapi bagaimana jika benar dia mencintaiku karena terdorong rasa tanggung jawab semata ?
Aaaa... Aku tidak peduli, jikapun memang benar begitu aku tidak mau memikirkannya. Asalkan kak Hega ada di sampingku itu sudah cukup bagiku.
Aku akan punya banyak waktu untuk membuatnya benar-benar mencintaiku.
Moza terus berperang dengan hatinya, meyakinkan dirinya jika pria yang tengah memeluknya saat ini memang benar-benar mencintainya.
โค๐ค๐๐งก๐๐๐
Maaf ya. Meskipun ini adegan ranjang yang kesekian kalinya. Tapi belum ada adegan ranjang yang sebenarnya. Jangan kecewa loh....Aku gak php in kalian kok. Toh judulnya belum ada tanda 18+/21+ ๐๐
Hega : Gue yang lu php in thor, padahal udah pas tuh tadi...
Me : Apaan yang pas ?
Hega : Lokasinya lah.
Me : ??? ๐ค๐ค
Hega : Di Kasur thor, KASUR ... ๐คจ
Me : Belom Halal Woy...Ntar dong ada waktunya... kan masih pasangan baru ( baru pacaran pula ) kalau udah asek asek entar gak asyik lagi dong kalau udah Halal. Dicicil ya biar gak jantungan.
Hega : Jantung gue udah sehat thorr.
Me : Jantung gue yang bisa gak sehat kalau mikirin part ehem-ehem sebelum waktunya. ๐
Hega : Icip dulu lah thoor. Icip....
Me : Lu kira masakan di icip. Lagian sejak kapan lu jadi mesum gini si babang Hegaku ???? ๐ญ๐ญ๐ญ
Hega : ๐๐๐
Me : Kayaknya centong emak gue kemarin kagak mempan ya.... ( Nengok kanan kiri )
Hega : Ngapain lu celingukan thor... ?! ๐ค
Me : Nyari bakiak emak gue siapa tahu ampuh buat balikin otak lu yang ngeres ituh ๐๐๐
(maaf author lagi somplak, mendadak emosi bahasanya jadi berubah lu gue)
__ADS_1