
AUTHOR
Tidak terasa hampir satu hari terlewat, diisi dengan jalan-jalan dan berenang. Malam hari mereka memutuskan untuk barbeque, dengan bahan-bahan yang sudah dibeli siang tadi oleh Bara dan Dimas.
Dan sepertinya berkat insiden tadi pagi, kehebohan dimana satu rahasia Moza terungkap perihal kebiasaannya. Entah ide siapa saat ini keenam sekawan itu tengah berada duduk mengelilingi meja besar yang ada di halaman disamping kolam renang untuk melakukan sebuah permainan yang diberi nama " Kepercayaan dan Kejujuran ".
Tidak tahu karena merasa bersalah pada gadis itu atau karena mereka merasa belum mengenal baik satu sama lain padahal mereka selalu dengan bangga menyebutkan persahabatan diantara mereka. Akhirnya membuat permainan kejujuran ini, pertanyaan akan diajukan secara bergiliran sesuai urutan dijawab bergiliran oleh yang lainnya, tentu saja jawaban cepat, karena jawaban spontan biasanya adalah kejujuran, tapi buka seperti permainan lainnya yang biasanya akan diselipi dengan hukuman.
Dalam game ini, mereka sepakat tidak ada hukuman bagi yang tak bisa menjawab. Mereka cukup yakin hubungan persahabatan yang mereka jalin cukup lama, mampu menjadi lendasan untuk saling percaya dan jujur antara satu sama lain.
Dan dari permainan ini bisa jadi merupakan ujian pembuktian apakah diri mereka adalah sosok sahabat yang saling mempercayai satu sama lain sehingga tak akan ragu untuk jujur satu sama lain.
Bara tengah asyik memanggang beberapa daging dan bahan lainnya diatas pemanggang tak jauh dari meja itu, dan Hega tampak sedang duduk bersandar di sebuah kursi yang ada di samping kolam renang yang juga tak jauh dari mereka sambil memegang secangkir kopi dan sesekali berdiri membantu sahabatnya.
Pertanyaan dimulai dari hal-hal receh seperti warna kesukaan, makanan yang paling dibenci atau beberapa hal remeh lainnya.
Pertanyaan mulai mengarah ke hal yang lebih serius,
" When you first fell in love ? " tanya Julian kemudian.
" Waktu SMP. " jawab Renata.
" Mau lulus SMA. " lanjut Amira.
" Awal kuliah. " kali ini suara Dimas.
" SMA kelas satu. " jawab Deana kemudian yang disambut sikutan dilengan oleh Moza sahabatnya, dan beberapa mata tengah mengarah padanya menunggu jawaban.
" I've never felt it. " jawabnya santai yang membuat semuanya mengernyitkan dahi tak percaya, tentu saja kecuali Deana sahabatnya.
" Gue saksinya. " Deana menimpali saat menyadari arti ekspresi teman-temannya, dan tatapan mereka beralih pada Julian.
" TK. " jawab Julian yang membuat semuanya bersorak.
" Dasar Buaya. " kata Renata kemudian.
" Oke next question, Bagaimana kelanjutan cinta pertama itu, succes or failed. If failed, apa penyebab atau alasannya.? " tanya Renata.
__ADS_1
" Failed. " Amira singkat diiringi tatapan teman-temannya seolah menuntut jawaban lengkap sesuai pertanyaan.
" Dia udah ada yang punya. " lanjut gadis berhijab itu yang kemudian disambut ekspresi kasihan dari yang lain.
" Failed, asdos di kampus, gak berani lanjut." jawab Dimas kemudian sambil tersenyum.
" Succes dong, tapi dah putus waktu lulus SMA, LDR. " giliran Deana menjawab dan didukung anggukan dan pelukan oleh sahabat di sampingnya.
" Pass. " dan giliran Moza kemudian.
" Failed. " jawab Julian tak bersemangat.
" Oh, ada history kegagalan juga di kamus lo, siapa emang? " kata Deana kemudian.
" Guru TK gue. " jawab Julian ngasal yang sekali lagi mendapat sorakan dari teman-temannya.
" Kalo gue succes dong, tapi gak lama karena dia selingkuh. " kata Renata kemudian.
Berlanjut ke pertanyaan dari Amira dengan memasang muka serius.
" Selain kematian, hal apa yang paling kalian takuti di dunia ini ? " tanya Amira yang langsung menoleh pada Dimas yang merupakan giliran pertama menjawab.
" Ya kalo sepi ntar abang gak balik modal dek. " celetuk Bara kemudian, disambut tawa.
" Kalo gue paling takut gak ada kalian, bisa hampa hari-hari gue. " lanjut Deana.
" Huuuuu..... " ejek Julian kemudian.
" Kehilangan harapan. " giliran Moza menjawab yang hampir selalu membuat teman-temannya tercengang dengan jawabannya dan memilih tidak berkomentar karena sepertinya gadis itu masih tampak berusaha untuk mulai jujur dihadapan sahabatnya.
Dan dilanjut dengan jawaban Julian, Amira dan Renata yang hampir sama perihal dipotongnya jatah uang bulanan dari orang tua mereka jika nilai ujian mereka jelek.
" Giliran gue nih, " lanjut Deana bersemangat
" Selain orang tua, gambarkan sosok yang paling kalian kagumi ? " tanyanya kemudian sambil mengalihkan matanya pada sahabatnya, yang kemudian disadarinya jika dia telah memilih pertanyaan yang salah.
Moza tampak terpaku selama beberapa saat membuat semua orang termasuk dua pria yang tak ikut dalam permainan tampak memperhatikan gadis itu. Tatapan kosongnya dan ekpresi yang sulit untuk dikatakan, membuat Deana sangat kesal dengan dirinya sendiri yang terlalu bersemangat.
__ADS_1
Semua mata masih mengarah pada gadis itu yang bahkan seperti tidak bisa mengucapkan satu katapun.
" Gue yang akan jawab duluan. " kata Dimas kemudian mencoba mencairkan suasana.
" Sesorang yang paling dikagumi..., " tampak Dimas berfikir sejenak.
" Tangguh, kompeten, multitalent dan bertanggung jawab. " lanjut Dimas memecah keheningan.
" Makasih dek. " yang disambar oleh Abangnya yang tengah sibuk di pemanggangan.
" Nyamber aja lo bang, belum tentu juga abang yang dimaksud, orang abang pacarnya banyak, tanggung jawab apaan. " celetuk Deana kemudian membuat teman-temannya tertawa dan juga Bara sendiri.
" Giliran lo tuh dek. " kata Bara lagi saat melihat pandangan mata yang sudah mengarak ke Deana menandakan gilirannya menjawab.
Saat Deana hendak membuka menjawab sendiri pertanyaannya, tiba-tiba terdengar suara dari gadis yang sedari tadi tampak berada dalam pikirannya sendiri.
" Dewasa , bermata teduh dan menenangkan... " jawab Moza pelan. Membuat semua mata kembali mengarah padanya. Namun tak ada yang bersuara karena menyadari jika kalimat gadis itu belum selesai.
" ... .. sosok pelindung, hangat dan selalu bisa membuatku bahagia, seolah-olah akulah hal terpenting yang menjadi prioritasnya. " lanjut gadis itu dengan nada sendu yang ditutup lagi dengan keheningan selama beberapa saat.
" Wow, where is he now ? " tanya Renata dengan polosnya yang kemudian mendapat pukulan di lengan oleh Deana. Sebelum Deana sempat menghentikan permainan, tampak sahabatnya itu menghela nafas seolah bersiap mengatakan sesuatu. Semua tampak penasaran dengan jawaban apa yang akan keluar dari bibir gadis itu karena memang dia hampir tak pernah membicarakan hal pribadinya. Tak terkecuali dua pria yang sedari tadi ikut menyimak meskipun tak ikut dalam permainan
" With everything he has done for me, i think he's in heaven right now. " jawab Moza kemudian dengan tersenyum tipis dan kembali menghela nafas seolah tampak kelegaan menyeruak dari dalam dirinya. Seolah untuk pertama kali ia telah berhasil melepaskan satu beban dalam pikirannya.
Semua mata kembali mengarah sedih kearah gadis itu, Deana kemudian memeluk sahabatnya itu dan disusul Renata dan Amira yang beranjak dari tempat duduknya dan ikut memeluk sahabatnya.
" Gue rasa cukup mainnya. " lanjut Deana mengalihkan perhatian.
" Saatnya makan.... " kata Bara kemudian sambil melambaikan tangannya memanggil semua orang seolah ikut membantu mencairkan kembali suasana. Mereka semua berhambur menuju arah Bara yang membuat mini barbeque party di samping kolam renang, sambil menikmati malam bergadang dan bercakap-cakap ringan, disertai beberapa joke yang kadang lucu dan kadang garing diiringi tawa dari setiap orang. Untunglah keakraban mereka membuat suasana kembali ceria dengan cepat.
Sedangkan tanpa ada yang menyadari, di sisi lain tampak sepasang mata yang masih masih mengamati sosok gadis berparas cantik yang selama ini terlihat cuek dan ceria, namun tak pernah ada yang tahu ternyata dibalik sikap tenang yang kadang dingin itu tersimpan sebuah luka yang tidak pernah dibayangkan oleh orang lain, bahkan oleh sahabatnya sendiri.
' tidak kusangka wajah sepolos itu ternyata begitu tegar dan kuat menyimpan kesedihan dalam dihatinya untuk dirinya sendiri, kita seolah punya luka yang sama, aku merasakan rasa sakit yang sama denganmu. Tapi setidaknya kamu lebih berani dan tangguh saat memutuskan untuk jujur dan percaya pada orang-orang disekitarmu, tidak sepertiku yang masih sembunyi dalam keangkuhanku . ' pikiran itu berputar dikepala Hega begitu lama dan membuatnya membuat pria yang selalu tenang itu tampak sedikit gelisah.
^^ Kepercayaan adalah landasan untuk lahirnya sebuah Kejujuran dalam suatu hubungan. Baik dalam cinta ataupun bersahabatan, maupun hubungan lainnya antara sesama manusia. Jangan harapkan kejujuran dari seseorang jika dirimu tak bisa menjadi sosok yang dapat dipercaya, begitu juga jangan mengharapkan kepercayaan saat dirimu tidak bisa berkata sejujurnya. ^^ ( Sherinanta )
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......💔***