
AUTHOR
Kembali ke Moza yang masih termenung sambari senyum-senyum sendiri mengingat kenarsisan Hega yang tiada tara.
Ah... Kak Hega kan memang tampan, wajar lah jika dia sepercaya diri itu. Walaupun aku sedikit geli mendengarnya, tapi aku juga tidak bisa mengelak dari kenyataan jika calon suaamiku itu memang tidak ada duanya.
Gumam Moza lirih dan tersenyum sendiri seraya menggelengkan kepalanya.
" Ah... Lebih baik aku segera tidur. " Lirihnya pada diri sendiri.
Hendak berbaring dan menarik selimut, samar-samar didengarnya suara canda gurau dari ruang tengah dimana biasanya ia menonton drama korea.
Moza melangkah menuju pintu kamarnya, dengan sangat perlahan memutar handle pintunya hingga pintu itu terbuka setengah.
Moza menatap pemandangan luar biasa yang membuat manik matanya berkaca-kaca.
Kak Hyu, jika kakak masih hidup apakah kakak juga akan seakrab itu dengan Ryu ?
Maafkan aku yang berbahagia ini, Kak.
Terima kasih telah mengirim pria terbaik itu padaku
Terima kasih telah mengirim sahabat kakak untuk menjaga dan mencintaiku.
Gumam Moza lirih
" Mo... Kenapa kamu hanya berdiri saja disana ? Kemarilah ! " Suara lembut Hega menyadarkan Moza dari lamuan harunya.
" Ah... Iya. "
Ryuza dengan cepat berdiri dan menghampiri sang kakak, menatap mata sang kakak yang terlihat berkaca-kaca. " Ssjak kapan kakak berdiri disini ? Dan kenapa kakak tidak bergabung dengan kami ? "
" Eum... Tadinya kakak sudah mau tidur, tapi tidak jadi karena mendengar keributan kalian berdua. " Jawabnya Moza canggung.
" Ish . . . Ini masih sore, Kak. Ayo kita ngobrol atau main sesuatu atau kita nonton film. Iya kan, Bang ?! " Ucap Ryu seraya melirik Hega, dan dijawab anggukan oleh pemuda itu. Ryuza merangkul bahu kakaknya dan membimbingnya menuju sofa.
Dan malam itu ketiganya memutuskan menghabiskan malam dengan menonton film. Yang berakhir dengan tertidurnya Moza dan Ryuza di sofa dan Hega harus membawa kedua kakak beradik itu ke kamar.
βββ
Keesokan harinya, saat semua orang tengah berkumpul setelah sarapan pagi. Dan semuanya sudah bersiap untuk ke butik tempat pemesanan gaun pengantin untuk Hega dan Moza.
Hendak memasuki mobil yang sudah siap di depan pintu rumah utama. Gadis kecil yang masih memakai seragam sekolah, kemeja kotak-kotak merah dan rok selutut berwarna merah polos berlari dengan ceria menghampiri sang kakek.
Manik mata cantik gadis berusia hampir 7 tahun itu celingukan kesana-kemari mencari sosok yang dirindukannya.
" Rania cantik, selamat pagi. " Sapa Ayu seraya berjalan menghampiri gadis mungil itu.
__ADS_1
" Selamat pagi bunda. Dimana abang gantengnya Ranran, bunda ? " Tanya Rania dengan memasang ekspresi imutnya.
Heh. . . Sejak kapan panggilannya menjadi Ranran ? π€π€π€ ~ Thor ~
" Abang ganteng ?! " Ayu mengerut tidak mengerti.
" Maksud kamu kakak kamu, Hega ? " Rania menggeleng dan kembali menyusuri ruangan mencari sosok yang dia maksud.
Dari arah pintu muncul sosok pemuda tinggi dan tampan menggunakan kaos biru muda dipadu celana jeans berwarna hitam dan sepatu converse.
Rania hendak menjawab pertanyaan Ayu saat suara pemuda itu mengalihkan pandangan Rania.
" Bunda, Ryu mau ikut mobilnya abang aja, sekalian katanya nanti mau ajak Ryu ke kampusnya kak Momo setelah dari butik. " Ryuza mendekat ke arah sang bunda.
" Abaaaaang. . . Ranran kangen abang π. " Rania kecil berhambur memeluk kaki panjang pemuda pujaan hatinya.
Eh . . . Gue kok lupa ada anak monyet disini ?! Bisa-bisa ini anak ngintilin gue seharian ini. Gawat.
Batin Ryuza saat mendapati sosok mungil itu sudah menempel padanya, memeluk kakinya dengan sangat erat.
" Eitsss.... Lepas dulu ini kaki abang, dek ! " Bujuk Ryuza seraya menggoyang-goyangkan kakinya.
" Gak mau ! Nanti abang hilang lagi. Rania mau sama abang. " Rania malah semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di salah satu kaki Ryuza.
" Enggak kok, abang gak akan kemana-mana. "
" Enggak bohong, janji deh ! Tapi lepas dulu ini kaki abang, dek ! " Masih terus menggoyang-goyangkan kakinya berharap si anak monyet segera terlepas.
" Janji dulu abang mau menikahi Ranran kalau Ranran besar nanti ! " Rengek gadis kecil itu dengan suara manja.
" Heh ???! " Sontak membuat bola mata Ryuza membulat sempurna, kemudian menatap semua orang seolah meminta pertolongan tapi yang didapatnya malah gelak tawa semua orang yang menyaksikan tingkah gadis kecil itu di kakinya.
" Buuuund...... Tolongin Ryu. . . Huuuu π " Rengek Ryuza lirih menatap sang bunda.
Ayu tersenyum melihat ekspresi putra bungsunya. Baru kali ini anak bengalnya itu KO menghadapi seseorang. Biasanya sikap juteknya tidak akan mengenal batas usia dan gender, mau anak-anak atau dewasa, mau laki-laki atau perempuan, jika mereka membuatnya tidak nyaman maka putranya itu akan bertingkah menyebalkan untuk menjauhi orang tersebut, atau bersikap dingin dan cuek bahkan ketus agar orang-orang itu yang menjauhinya.
Ayu berjongkok mendekati Rania, " Iya nanti kalau Rania sudah besar abang ganteng akan menikah dengan Rania, jadi lepas dulu ya sayang ! Kan kita mau pergi. " Ucap Ayu sambil mengerlingkan satu matanya jahil ke arah putranya.
" Bund. . . Mana mau Ryu nikah sama dia, dia kan masih anak-anak, Bun. Lagipula bisa tua Ryu nungguin dia besar. " Protes Ryuza mendengar janji konyol yang diucapkan sang bunda pada si anak monyet yang selalu mengekor padanya sejak pertemuan pertama mereka dulu.
Dan ucapan pemuda itu malah memancing tangis Rania, " Huwaaaa..... Abang jahat ! "
" Ssst... Diam saja kamu ! " Omel Ayu seraya memelototi putranya.
Ayu kemudian membawa Rania dalam gendongannya, dan mencoba merayu gadis kecil itu agar berhenti menangis.
" Cup cup cup sayang, anak cantik jangan nangis ! Nanti cantiknnya hilang loh. Kan katanya mau jadi mantu bunda, gak boleh cengeng ya, sayang! " Benar-benar kalimat yang absurd untuk digunakan membujuk seorang gadis kecil yang rewel. Tapi seperti keajaiban, gadis itu berhenti menangis dan menghapus sendiri air mata di pipinya.
__ADS_1
" Ranran gak cengeng kok, bund, hiks... " Ucapnya sesenggukan.
Dan saat Ayu sedang sibuk menenangkan gadis kecil itu, dari arah yang sama dari datangnya Rania tadi, tengah berlari tergopoh-gopoh seorang wanita paruh baya.
" Rania . . . hosh. . . hosh. . . Rania. " Teriak wanita itu dengan nafas tersengal.
" Pih, maaf Rasti tadi kecolongan. Rania tiba-tiba lari saat Rasti sedang menyiapkan makanannya. " Ucap wanita itu dengan nada cemas dan ketakutan, Suryatama hanya mengangguk.
" Rasti akan bawa Rania sebelum Hega keluar dan melihat Rasti ada disini ! " Sekali lagi Suryatama mengangguk.
Di belakang Suryatama, Ayu yang sedang menggendong Rania tampak mematung, menatap sosok wanita yang terlihat lelah setelah berlari mengejar gadis yang sekarang ada dalam gendongannya.
" Rania, sudah mami bilang jangan lari-lari ! " Ucap wanita yang adalah ibu dari anak yang sedang digendong oleh Ayu. Rasti mendekat ke arah Ayu.
" Mila ! " Ucap Ayu saat melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Mendengar nama belakangnya disebut, istri kedua dari Arya itu membelalak menatap wanita yang tengah menggendong putrinya. Rasti menatap lekat-lekat wanita di hadapannya, sepertinya lama berpisah membuat Rasti tidak bisa langsung mengenali wanita itu, apalagi dulu Ayu belum mengenakan hijab seperti sekarang.
" Mbak Ayu. " Manik mata Rasti berkaca-kaca begitu pula dengan Ayu.
Kedua wanita paruh baya itu saling menatap dalam diam, kemudian Ayu menurunkan Rania dari gendongannya dan berjalan mendekati wanita di hadapannya, memeluk sahabat lamanya yang bertahun-tahun tidak ada kabar.
" Kemana saja kamu selama ini ? Kenapa tidak memberi kabar padaku ? Aku dan Dira mencari-cari kamu, setelah lulus SMA kamu menghilang begitu saja. Bukankah kamu sudah janji waktu itu akan melanjutkan kuliah di kampus yang sama dengan kami. Kamu malah pergi tanpa kabar. Hiks. . . "
" Maafkan aku, Mbak Ayu ! Hiks. . . " Rasti membalas pelukan Ayu tidak kalah eratnya.
" Terakhir aku dengar dari Dira kamu kuliah dan tinggal di luar negeri. Kenapa tidak memberi kabar pada kami ?! " Ayu terus membombardir Rasti dengan pertanyaan tanpa henti seolah tengah meluapkan segala tanda tanya di hatinya selama bertahun-tahun ini.
Selama lebih dari 20 tahun tahun berpisah, dua sahabat itu akhirnya bertemu dalam situasi yang sangat tidak terduga.
" Bunda, ada apa ini ?! " Suara bass dari arah pintu sontak mengejutkan semua orang.
Rasti yang mengenal baik suara itu segera melepaskan pelukan Ayu, dengan cepat menyambar tubuh Rania dan menggendong putri kecilnya itu. Menatap takut pemuda yang masih berdiri di ambang pintu dengan ekspresi wajah dingin dan sorot mata menakutkan, jelas terlihat bahwa putra dari suaminya itu sedang menahan amarah.
" Hega, ma-maaf, tante hanya mengejar Rania, tante akan segera membawa Rania kembali. " Ucap Rasti terbata dan berbalik badan hendak berlari menuju paviliun kedua kediaman Saint yang ditempatinya selama sembilan tahun ini.
" Tunggu, Mila ! " Ucap Ayu bermaksud menghentikan sahabatnya yang ternyata adalah ibu sambung dari calon menantunya.
" Mbak Ayu, maafkan aku. Kita bisa bicara lain waktu, aku harus segera pergi. Maaf, permisi. " Pamit Rasti sambil menggendong putri kecilnya.
" Tunggu ! "
Satu kata itu seketika membuat semua orang tercengang, tidak ada yang berani menginterupsi.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
SUARA SIAPA ITU ?
__ADS_1