Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Peninggalan Berharga Hyuza


__ADS_3

โš ๏ธ Chapter ini masih adegan kasur ya tapi jangan ngarepin adegan kasur yang begituan, meskipun rasanya thor kegoda buat nyelipin dikit si... Untunglah bisa menahan diri ( Lah emang belum waktunya ) ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„


Happy Reading โค


AUTHOR


" Jika kamu mengira aku pernah melihat isi buku ini sebelumnya, maka jawabannya adalah tidak. Ini pertama kalinya aku melihatnya. "


" Tidak mungkin ?! " Ucap Moza lirih.


" Ah... Maaf, sepertinya ini yang kedua kalinya, pertama kali aku melihatnya saat tidak sengaja kamu menabrakku di kafe Dimas dua tahun yang lalu, saat itu aku baru beberapa hari tiba di Indonesia dan itupun aku hanya sekilas melihat isinya. Bahkan saat itu persiapan pembangunan villa ini sudah mulai berjalan. " Ucapnya meralat pernyataan pertamanya tadi.


Menabraknya ?! Kapan ? Ahh aku lupa. ~ Moza ~


" Aku mengerti jika kamu lupa, saat itu kamu sepertinya sedang tidak fokus setelah menangis. Kedua matamu ini membengkak tersembunyi di balik kacamata bulat. " Sambung Hega sembari mengusap kedua kelopak mata kekasihnya yang sepertinya mulai berkaca-kaca.


Hega menarik kembali tubuh Moza ke dalam pelukannya, lalu berbaring lagi sehingga gadis itu ikut terjatuh dan berbaring.


Kepala Moza berada di atas Hega, menjadikan dada bidang Hega sebagai bantal, mendengar detak jantung Hega sangat dekat membuatnya merasa canggung.


" Sepertinya Arka meninggalkan padaku dua hal lain selain jantungnya. " Hega bergumam kecil namun masih terdengar jelas di telinga Moza mengingat jarak diantara mereka yang cukup dekat, bahkan sangat dekat.


Yaelah kan mereka lagi pelukan di kasur, catet lagi ya DI KASUR, ya gak ada jarak dong namanya. Authornya lagi mumet nih ๐Ÿ˜–


Moza mendongakkan kepalanya berusaha menatap wajah kekasihnya.


" Bakat sekaligus hobi seninya yang berharga. " Ucap Hega sembari mengangkat telapak tangan kanannya ke atas, dan memainkan jarinya.


Kemudian menunduk menatap wajah cantik yang sedang berbantalkan dada bidangnya.


" Dan cinta untuk adik kesayangannya. " Lanjutnya kemudian, kini tangan kanannya sudah berada di pipi Moza, mengelusnya perlahan dan kemudian mengecup kembali kening gadis itu.


" Jadi maksudnya Kak Hega ..... "


" Hm, beberapa bulan setelah bangun dari koma setelah transplantasi jantung yang baru aku ketahui beberapa bulan lalu. Sejak saat itulah entah darimana datangnya hobi dan bakat dalam bidang desain arsitektur itu mulai muncul dalam diriku. " Jelasnya sambil tertawa sendiri, karena sampai saat inipun Hega masih tak percaya adanya keajaiban seperti itu.


Yang nyatanya justru terjadi pada dirinya sendiri, bukan hanya jantung yang diberikan oleh sahabatnya itu, tapi kecintaannya pada seni arsitektur juga ikut ditinggalkannya dalam memori Hega.


" Apa ada orang lain yang tahu tentang ini kak ? "


" Tentu saja tidak, mungkin aku akan dianggap kerasukan atau bahkan mungkin dianggap gila jika aku mengatakannya. " Jawab Hega dengan tertawa renyah.


Sepertinya mood Hega sudah mulai membaik, terbukti dengan nada bicaranya yang sudah mulai normal kembali ditambah tawa ringan yang baru saja keluar dari bibirnya.


Moza merasa lega dengan kembalinya tawa riang kekasihnya yang sedari tadi terlihat sendu.

__ADS_1


" Yah, aku tidak keberatan punya suami gila dan kerasukan yang bisa menghasilkan banyak uang dengan bakat yang muncul dengan ajaibnya ini. " Balas Moza dengan tak kalah absurdnya. Membuat keduanya tergelak bersama.


" Emmm....Apa kak Hyuza akan marah padaku kak ? Aku selalu dilema setiap kali merasa bersyukur kak Hega ada bersamaku, tapi saat aku juga akan teringat jika.... " Gadis itu tak sanggup melanjutkan lagi kalimatnya, terlalu menyakitkan baginya.


Melihat Hega sama halnya melihat bayangan kematian kakaknya, tapi Moza juga mencintai pemuda itu.


" Aku juga sempat berfikir begitu, tapi kamu harus ingat jika Arka meninggalkan bagian terpenting dirinya padaku agar aku bisa menjagamu dan mencintaimu seperti yang dia lakukan saat itu, saat dia masih ada di dunia ini. Jadi jangan berfikir yang macam-macam lagi, hm ! " Hega berusaha memberi ketenangan pada kekasihnya yang akan selalu merasa gelisah jika mengingat tentang kakaknya


Terutama tentang kenyataan bahwa jantung kakaknya lah yang menbuatnya bisa bersama dengan pria yang dicintainya itu.


" Eum, baiklah. Aku akan menganggap kak Hega adalah jodoh yang dikirimkan kak Hyuza dari surga. " Balas gadis itu.


" Ah... Kenapa kak Hega bisa ada disini ? Bukankah kakak bilang pekerjaan di Bali akan selesai dalam 3 atau 4 hari ? " Moza tampak mengalihkan topik pembicaraan yang mulai membuatnya tak bisa menahan keharuan sekaligus kesedihan di hatinya


" Oh, itu. Aku mempercepatnya. " Hega menjawab dengan nada santai seperti biasanya.


" Kenapa ? Dan bagaimana bisa ? "


" Kamu lupa siapa calon suamimu ini, hem ? Pengusaha muda jenius abad ini. Apa yang tidak bisa aku lakukan. " Ucapnya kemudian, dengan nada yang sengaja dibuat membanggakan diri dan angkuh, tentu saja dengan tujuan membuat kesal kekasihnya.


" Ih... Narsis. " Cicit Moza geli dengan kepercayaan diri kekasihnya itu.


" Hahaha... Dan kamu tadi tanya kenapa ? Tentu saja karena aku ingin segera bersamamu, menghabiskan tahun baru berdua denganmu seperti ini. " Kembali mengeratkan pelukannya.


" Ish.... Dasar. " Mendengar gombalan yang mulai dilancarkan lagi oleh Hega perlahan membuat suasana yang tadinya sendu sepertinya mulai kembali ceria dengan canda tawa mereka.


" Eh ? "


" Aku khawatir insomniamu kambuh lagi. " Hega mengelus pipi Moza dan tampak dahi pemuda itu mengerut cemas.


" Cih.... Aku kan sudah tidak begitu lagi. " Moza malah memalingkan wajahnya dari jangkauan tangan Hega.


" Benarkah ?! " Tanya pemuda itu senang.


" Hem, buktinya pertama tinggal di rumah kakak aku baik-baik saja tuh. Aku bisa tidur dengan nyenyak. "


" Pffft..." Mendengar ucapan Moza yang penuh keyakinan itu tentu saja membuat Hega tak mampu menahan tawanya.


Pasalnya malam itu, Hega tahu pasti apa yang membuat gadisnya bisa terlelap dengan mudah di kamar barunya. Tertidur sangat pulas hingga bangun kesiangan.


" Kenapa kakak tertawa ?! " Omel Moza kesal.


" Tidak apa-apa. Untunglah aku segera datang kesini, kalau tidak pasti akan ada yang insomnia lagi nanti malam. "


Kamu tertidur pulas karena aku memelukmu semalaman, dan aku tidak keberatan melakukannya lagi malam ini agar kamu bisa tidur lelap seperti bayi.

__ADS_1


Batin Hega tersenyum geli.


Moza yang tak mengerti apa maksud ucapan kekasihnya itu hanya bisa mengernyit bingung.


" Apa si ? Aku kan sudah bilang aku sudah tidak insomnia lagi meskipun tidur di tempat yang baru pertama aku kunjungi. "


" Memangnya kamu pikir kenapa kamu bisa tidur sangat pulas di hari pertama kepindahanmu di rumah keluargaku, hm ?! "


" Tentu saja karena insomniaku sudah sembuh. "


" Hahahaha.... Baiklah anggap saja begitu. Karena aku sudah ada di sini jadi kamu tidak perlu khawatir lagi kalau insomniamu itu kambuh nanti malam. "


" Apaan si kak ? Apa ada sesuatu yang tidak aku tahu ? "


" Tidak ada. " Jawab Hega santai.


" Ah... aku akan pergi kalau kakak tidak mengatakannya. "


Pasti ada sesuatu yang tidak aku ketahui. Jangan panggil aku Moza Artana jika tidak bisa membuat kakak bicara.


Batin Moza yang mulai tak sabar dengan kelakuan kekasihnya itu.


Pasalnya gadis yang punya kepekaan level dewa itu menyadsri ada yang disembunyikan kekasihnya.


Tentu saja kepekaannya hanya berfungsi saat kondisi fisik mentalnya sedang normal. Karena ada satu masa dimana kepekaan Moza tidak berfungsi sama sekali, yaitu saat dirinya tengah dilanda patah hati.


" Hei, jangan ngambek gitu dong. " Hega mencekal lengan Moza saat gadis itu hendak bangkit dari posisi berbaringnya.


Gadis itu malah makin cemberut.


" Katakan dulu sejak kapan kamu mengalami insomnia seperti itu, dan anehnya hanya jika kamu menginap di tempat yang baru kamu kunjungi. Insomnia kok pilih-pilih. " Goda Hega di akhir kalimatnya.


" Ukh... Kakak nyebelin, memangnya itu mauku apa ?! " Protes Moza sembari mencubit acak lengan Hega yang mencekal tangannya.


" Hahaha.... Iya maaf, ayo ceritakan aku ingin tahu ! " Hega tergelak dengan tawa renyahnya.


" Aku lupa sejak kapan, mungkin sejak 10 tahun lalu. Tiba-tiba beberapa ingatan tentang kepergian kak Hyuza dan hari-hari setelahnya mulai memburam di ingatanku. "


Kali ini giliran Hega yang berlaku layaknya pendengar yang baik.


โค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™๐Ÿ–ค


Bersambung dulu ya.


beberapa episode memang sengaja dibuat khusus untuk kedua tokoh utama saling mengenal satu sama lain lebih dalam.

__ADS_1


Jadi yang tungguin part romance nya sabar bentar ya.


HeMo lagi tahap pdkt dari hati ke hati. โค


__ADS_2