Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Luka Hati Hega


__ADS_3

AUTHOR


Hega meraih tangan Moza, menggenggam tangan itu dan membawa gadisnya masuk ke dalam kamar duduk di sofa yang ada di salah satu sudut kamarnya.


Keduanya duduk berdampingan, Hega merangkulkan lengannya di punggung Moza dan menyandarkan kepala gadis itu di dada bidangnya.


" Mamaku meninggal saat aku berusia 14 tahun, yang aku tahu mama meninggal karena sakit. Dan syok karena kematian mama membuat aku mengalami serangan jantung parah untuk pertama kalinya setelah 7 tahun divonis punya kelainan jantung. Dan aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya, saat aku bangun aku sudah ada di rumah sakit di Singapura. Dan tidak lama setelah aku pulih papa dan kakek membawaku kembali ke Indonesia, tapi bukannya membawaku kembali ke rumah, mereka mengirimku ke rumah sahabat mama. "


Moza mendongakkan kepalanya menatap wajah Hega dan dahinya mengerut penasaran.


Hega menunduk membalas tatapan kekasihnya, " Rumah kamu, ya... seperti yang kamu tahu jika mamaku dan bunda Ayu adalah sahabat lama. " Sambung Hega dan gadis di sampingnya itu mengangguk mengerti.


" Setahun aku berada diantara keluarga kalian, kakakmu yang pendiam dan hanya fokus padamu, tapi dia juga tidak mengabaikanku. Hanya saja awalnya dia sedikit kurang ramah padaku, apalagi saat kamu mulai dekat denganku dan terus memintaku untuk menikahimu. "


Hega tergelak mengingat memori yang sudah mulai jelas di kepalanya itu, apalagi mengingat cerita sang kakek beberapa waktu lalu tentang masa kecilnya dan pertemuan pertama antara dirinya dan gadis yang sebentar lagi akan segera menjadi istrinya itu.


Moza mendelikkan matanya mendengar penuturan sang kekasih, ekspresj wajahnya terlihat imut dan menggemaskan.


" Kita sering bepergian bertiga, aku, kamu dan kakakmu. Dan akhirnya kami berdua akrab dengan cepat karena diantara kami ada penghubung erat yaitu kamu. Kakakmu yang pendiam di sekolah dan aku yang terlalu cuek pada sekitarku membuat kami berdua tidak dekat dengan teman lainnya, tapi itu tidak membuat kami dikucilkan, justru kami menjadi pusat perhatian, terutama dari para siswi, bahkan di sekolah kami mendapat julukan Killer Ice Prince [ Pangeran Es Pembunuh ]. "


Hega sedikit tersenyum mengingat masa-masa itu saat banyak gadis berusaha mendekati mereka berdua. Tapi Hega terlalu cuek dan dingin sedangkan Hyuza pendiam dan bucin adik perempuannya, membuat keduanya tidak pernah menggubris para gadis yang caper pada mereka berdua.


" Kemudian tiba saat kematian kakakmu, aku kembali terguncang dan mendapat serangan jantung kedua yang lebih parah daripada serangan jantung pertamaku. Dan saat itu, menurut cerita kakek bahwa aku hampir meregang nyawa jika saja bunda tidak mengambil keputusan cepat untuk mendonorkan jantung Arka untuk menyelamatkanku. " Senyum Hega seketika berubah menjadi gurat kesedihan.


Moza menatap pilu kekasihnya, dan kembali menyandarkan kepalanya di dada Hega, mendengar detak jantung sang kakak di tubuh kekasih hatinya.

__ADS_1


" Setelah itu aku kembali dirawat di Singapura untuk beberapa bulan lamanya dan sempat mengalami koma. Akhirnya aku tersadar kembali, tapi beberapa memori dalam kepalaku seolah hilang. Aku bahkan tidak mengingat satu tahun masa-masa saat tinggal bersama dengan keluarga kamu, dan tentu saja melupakanmu. " Sesal kembali mendera hati Hega, jika saja dirinya tidak mengalami amnesia lakunar *, mungkin sudah sejak lama Hega mencari keberadaan Moza dan keluarganya. Dan bisa jadi sudah sejak lama mereka bisa bersama.


* FYI : Amnesia Lakunar


Pengidap amnesia ini akan mengalami hilangnya ingatan mengenai suatu peristiwa secara acak. Amnesia jenis ini tidak akan merusak ingatan di masa lalu atau yang baru saja terjadi. Amnesia jenis ini terjadi karena seseorang mengalami kerusakan pada bagian otak yang terjadi pada limbik. ( Halodoc )


" Kehidupanku mulai normal, aku melanjutkan SMA dengan home schooling karena saat aku terbaring koma, aku tertinggal banyak pelajaran sekolah. Kakek memanggil para tutor terbaik untuk mengajari aku. "


" Ck... Kakek benar-benar mendidikku menjadi pewaris tahta kerajaan bisnisnya yang saat itu masih dipegang oleh papa. Aku bahkan tidak punya waktu untuk hal lain selain belajar. " Lanjut Hega masam mengingat masa belajarnya yang begitu berat.


" Hingga dua tahun kemudian, papa yang baru kembali dari dinas di luar negeri membawa serta seorang wanita bersamanya. Papa mengatakan jika wanita itu adalah istrinya keduanya, wanita yang akan menjadi ibuku selanjutnya. " Suara Hega mendadak getir.


" Bagaimana bisa papa menikah dengan wanita lain begitu cepat ? Itu baru tiga tahun sejak kematian mama, istri yang sangat dicintainya, setidaknya itu yang dikatakannya saat aku masih kecil. Ahh... Tapi aku rasa semua itu bohong, jika memang papa mencintai mama sebesar itu bagaimana mungkin dalam waktu hanya tiga tahun bisa melupakannya dan malah menikah dengan wanita lain, cih... ?! " Hega berdecak marah.


Moza mengelus dada Hega untuk memberikan ketenangan pada kekasihnya dan meredakan amarahnya. Dan pemuda itu luluh, sentuhan Moza seolah selalu bisa menyihirnya dan membuatnya bisa melupakan segala rasa sakit dan amarah yang menyerangnya.


" Aku masih ingat bagaimana marahnya aku saat itu, tapi aku tidak meluapkannya. Aku justru hanya diam tanpa melihat lagi wanita yang dibawa oleh papaku itu. Dan tepat saat aku menyelesaikan pendidikan SMA, aku memutuskan untuk pergi kuliah di LA. "


" Sejak saat itu pula aku tidak mempercayai yang namanya cinta, bagiku cinta itu tidak ada, tidak nyata dan tidak dapat dipercaya. Cinta itu tidak ada arti apa-apa, dan hanya sekedar kata-kata kosong yang bisa diucapkan siapa saja. Dan selama hampir delapan tahun aku bertahan di LA, kuliah S2 dan membangun usahaku sendiri. "


" Asssh... Terima kasih sekali lagi untuk kakakmu, Arka, karena tangan ini seperti mendapat berkah sejak jantungnya hidup dalam diriku. " Hega mengangkat tangan kanannya, takjub sekaligus merasa terbebani dengan mujizat yang terjadi padanya.


Moza kembali menatap lekat sang kekasih saat kembali didengarnya nama sang kakak disebutkan.


" Sebenarnya aku menyadari ada yang lain dalam diriku sejak usiaku 17 tahun, tiba-tiba aku yang tidak pernah tertarik pada dunia arsitektur mendadak ingin mempelajarinya. Aku mulai hobi menggambar apa saja, desain arsitektur, desain interior dan bahkan jewellery design..

__ADS_1


" Dan dari ketiganya, entah mengapa aku merasa tidak punya kewenangan menggunakan keahlian desain arsitektur dan interior itu untuk kepentingan dan keuntungan yang bersifat meteriil, meskipun banyak peminat dari hasil koleksi rancanganku itu. Itu semua karena Bara pernah diam-diam melelang satu hasil gambarku di pelelangan amal kampus dan terjual dengan harga cukup fantastis pada salah satu perusahaan konstruksi disana. " Wajah kesal kini menghiasi wajah tampan Hega.


" Memang dasar kurang ajar bocah sialan itu, untung saja aku sempat menendang pantatnya dengan keras saat dia menunjukkan padaku dengan sangat riang cek dengan banyak angka nol disana, aku bahkan ingin mencekiknya saat itu juga karena mencuri koleksi pribadiku. Tapi kemudian aku memaafkannya saat tahu hasil pelelangan itu disumbangkan untuk kepentingan anak yatim piatu. " Hega kembali tersenyum mengingat kelakuan menyebalkan sahabat gilanya itu,


Moza ikut terkikik apalagi saat membayangkan adegan Hega menendang pantat Bara, jika boleh Moza ingin melihat reka ulang adegannya.


" Tapi berbeda dengan jewellery design, aku lebih leluasa dan bebas memanfaatkan bakatku yang satu itu, dan aku menggunakannya untuk merintis perusahaan pribadiku disana. " Terangnya melanjutkan cerita, Moza masih setia mendengarkan.


" Dan saat aku lulus S2 di usiaku yang saat itu 23 tahun, aku tidak bisa lagi menjadikan kuliahku sebagai alasan untuk menolak perintah kakek untuk kembali ke Indonesia, aku menjadikan perusahaanku itu untuk menghindari perintah kakek. "


" Lalu bagaimana kakak dan Rania bisa sangat dekat ? Bukankah kakak baru kembali kurang dari dua tahun yang lalu ya ? Secepat itukah kalian akrab ? " Tanya Moza penasaran.


Hega mendesah lirih, " Ah... Aku lupa cerita jika Rania lahir saat usiaku 20 tahun, tapi itu juga tidak membuatku ingin pulang. Bahkan setiap ulang tahun Rania, papa yang selalu membawa gadis kecil itu untuk datang menemuiku di LA. Mungkin papa berfikir bisa meluluhkanku dengan wajah polos putrinya dengan istri keduanya itu. Tapi tentu saja itu tidak semudah harapan papa, aku masih keras kepala dan sakit hati, apalagi melihat anak papa dari wanita lain. Aku marah dan semakin benci, semakin enggan pula aku untuk kembali ke Indonesia. Toh tidak ada lagi tempat aku untuk pulang, tidak ada lagi sosok yang menjadi alasanku untuk pulang. "


" Tapi saat ulang tahun Rania yang ketiga tahun, hatiku mulai luluh. Gadis kecil yang manis dan lugu itu menggoyahkan hatiku. Aku menyukainya, meskipun aku membenci ibunya. Saat itu tepat kelulusan S2 ku, dan papa datang bersama Rania dan Kakek untuk menjemputku. Tapi aku masih menolak, apalagi perusahaan yang aku jalankan bersama Bara baru mulai berkembang. Dan untunglah saat itu kakek mau mengerti dan memberikanku kesempatan untuk membangun bisnisku sendiri. Dengat syarat aku harus pulang dia tahun lagi. "


" Hingga dua tahun yang lalu kakek mangancamku, jika aku tidak pulang maka kakek tidak akan mengijinkanku untuk mengunjungi makam Mama selamanya. " Sambungnya getir.


" Dan aku terpaksa menurut dengan syarat jika wanita yang menjadi istri kedua papa itu tidak boleh menginjakkan kakinya di rumah utama, rumah yang hanya boleh ada kenangan mamaku disana. Sedangkah aku sendiri memilih tinggal di apartemen. Karena walaupun wanita itu tinggal di paviliun kedua, tapi aku bahkan tidak tahan menghirup udara yang sama dengannya di satu daerah yang sama. "


" Apakah menurutmu aku ini egois dan kejam ?! " Hega menatap Moza intens dan gadis itu menggeleng pelan.


" Kak, maafkan bunda jika perkataan bunda membuat kakak jadi kurang nyaman. "


" Tidak, tidak. Jangan berfikir seperti itu lagi ! Ini semua bukan salah bunda kok. Lagipula cepat atau lambat kalian harus tahu apa yang terjadi di rumah ini. Aku tidak ingin menyembunyikan apapun darimu. " Hega menangkup pipi Moza dengan satu tangannya, menatap lembut manik mata gadis kesayangannya.

__ADS_1


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


__ADS_2