Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Pertemuan Yang Tak Diduga


__ADS_3

AUTHOR


Moza mendekati gadis kecil itu setelah memperhatikan beberapa saat tak ada satupun orang yang menghampiri gadis tersebut.


" Halo cantik, kenapa kamu menangis ? " Moza duduk berjongkok dihadapan gadis mungil itu.


" Hiks.... hiks.... sakit. " Gadis kecil itu menjawab sambil meringis kesakitan memengang lututnya.


Moza memperhatikan lagi gadis kecil itu, lututnya sedikit tergores. Kemudian dengan lembut mengangkat gadis mungil itu dan mendudukkannya di kursi yang tadi didudukinya.


Moza kemudian duduk berjongkok di hadapan gadis kecil itu, membuka tasnya, mengeluarkan tissue basah dan kemudian membersihkan lutut gadis kecil itu.


" Tahan sedikit ya, mungkin akan terasa pedih sebentar. "


Moza mengusap lembut lutut gadis itu dengan tissue basah. Kemudian mengambil sesuatu lagi dari tasnya mengeluarkan kotak kecil mengambil obat merah dan plester luka.


" Nah sudah tidak apa-apa, nanti akan segera sembuh. Anak manis jangan menangis lagi ya. "


Moza menyeka air mata di pipi gadis kecil, kemudian mengelus kepala gadis cantik berambut panjang itu. Dan akhirnya gadis kecil yang sangat cantik itu berhenti menangis


" Dimana orang tuamu sayang ? " Tanya Moza kemudian.


" Aku tidak bersama papa mama. " Jawab gadis itu membuat Moza mengernyit sesaat.


" Lalu bersama siapa kamu kesini ? "


" Dengan kakak. "


" Dimana kakakmu sekarang ? " Gadis kecil itu menggeleng.


" Baiklah, kakak akan membawamu mencari kakak kamu ya. " Ucap Moza dan gadis kecil itu mengangguk.


Saat hendak berdiri, gadis kecil itu berteriak dengan ceria dan mata berbinar seolah menemukan sesuatu atau seseorang yang sangat disukainya.


" Kakak. " Gadis kecil itu seketika melompat turun dari kursinya lupa pada sakit di lututnya.


" Auwwww.... Sakit.... Hiks... hiksss. " Namun seketika itu juga dia meringis kesakitan karena lukanya berdenyut...


" Rania, kemana saja kamu sayang. Bukankah tadi kakak bilang jangan pergi terlalu jauh dari kakak. " Hega menggendong gadis kecil itu.


Deg...


Suara yang tak asing di telinga Moza, gadis itu tadinya hendak berbalik badan menemui kakak gadis kecil yang ditolongnya tadi.


Tapi mendengar suara itu, Moza mengurungkan niatnya, dia belum siap bertemu, lebih tepatnya dia belum bisa mengatasi hatinya. Dia masih belum bisa melupakan pemuda itu. Dan jika melihat wajah itu lagi, Moza takut ketegarannya selama ini akan runtuh seketika. Kedua bola matanya terpejam sejenak, menata ulang pikirannya.


Tolong biarkan aku melupakanmu, aku belum siap bertemu denganmu. Karena aku pasti akan luluh lagi jika melihatmu.


Moza kembali membuka matanya, memutuskan beranjak berdiri tanpa menoleh ke belakang, meninggalkan tempat itu. Namun baru satu langkah dia berjalan, suara gadis kecil itu menghentikannya.


" Kakak cantik mau kemana ? Rania belum mengucapkan terima kasih. " Ucap Rania polos.


Seketika pemuda itu terfokus pada sosok yang dipanggil oleh adik perempuannya itu. Dan dalam sekejap langsung mengenal siapa yang ada di hadapannya itu.


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Hega yang sedang bersantai di apartemennya, sambil mengecek beberapa email berisi dokumen dan laporan dari perusahaan pribadinya yang ada di LA serta beberapa cabang lainnya.


Ponselnya berdering beberapa kali,


~ Peri Kecil Calling ~

__ADS_1


" Assalamualaikm. "


( Waalaikmsalam. Kakak, aku merindukanmu. )


" Iya, kakak juga. "


( Benarkah kakak juga merindukanku ? )


" Tentu saja "


( Tapi kenapa kakak tidak pernah menemuiku ? Kakak bohong, kakak tidak merindukan aku. Huaaaaaa )


" Kakak sedang sibuk sayang. "


( Aku tidak mau tahu, kakak harus menemuiku sakarang, bawa aku jalan-jalan. )


" Huft... Iya baiklah, kakak akan mengajakmu jalan-jalan. "


( Benarkah ? )


" Iya, bersiaplah sekarang. Kakak akan menjemputmu "


( Yey.... Aku sayang kakak. Emuah... )


Tut tut tut


Belum sempat mengucapkan salam, gadis kecil di seberang sudah menutup sambungan teleponnya. Dan berhambur pada papa dan mamanya memamerkan jika dirinya akan jalan-jalan bersama kakak tercintanya.


Sedangkan di tempat lain Hega tampak menghela nafas, meletakkan ponselnya di meja dan bersiap-siap menjemput adik perempuannya yang berbeda ibu itu.


Tidak ada adegan hangat saat pemuda itu menjemput si kecil Rania yang kini sudah berusia 6 tahun itu. Hega hanya menunggu di depan pintu rumah kedua yang ditempati keluarga kecil sang papa.


Menyapa sekedarnya dan mencium punggung tangan pria paruh baya itu tanpa basa-basi. Kemudian langsung membawa adiknya pergi tanpa sedikitpun menoleh ke arah wanita yang tampak bersembunyi di balik pintu mengintip kepergian putrinya.


Aryatama memasuki rumah setelah mengantar kepergian putra dan putrinya, memeluk lembut wanita cantik yang ada di balik pintu.


Itulah yang dikatakan Arya pada wanita yang adalah istrinya itu, ibu dari putrinya Rania. Wanita itu hanya mengangguk pasrah.


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ’๐Ÿ’๐Ÿ’


Dan disinilah sekarang kakak beradik berbeda ibu itu berada, di sebuah mall elite yang juga merupakan salah satu aset keluarga Saint. Hega membawa Rania ke sebuah toko kue dan es krim, duduk di salah satu kursi menghadap sebuah taman dengan kolam air mancur.


" Kakak, Rania mau main disana. " Pinta gadis kecil itu sambil mengarahkan telunjuknya ke kolam air mancur, hendak berdiri ponsel Hega bergetar yang ternyata dari salah satu orang kepercayaannya di HEART.


" Baiklah, jangan terlalu jauh, kakak terima telepon sebentar. " Jawab Hega sembari mengangkat panggilan teleponnya.


Setelah hampir 15 menit pembicaraannya di telepon, Hega segera bangkit dari duduknya untuk menyusul adik kesayangannya. Matanya menyusuri seluruh sudut taman tersebut hingga suara centil sang adik membuatnya segera mengetahui posisi gadis yang dicarinya.


" Kakak. " Teriak gadis kecil itu ceria.


" Auwwww.... Sakit.... Hiks... hiksss. " Rania merintih marasakan nyeri di lututnya.


" Rania, kemana saja kamu sayang. Bukankah tadi kakak bilang jangan pergi terlalu jauh dari kakak. " Hega menggendong gadis kecil itu.


Melihat gadis kecil itu meringis kesakitan membuatnya cemas hingga tak menyadari siapa yang tengah ada di hadapannya.


Hingga saat gadis kecil itu kembali bersuara membuat Hega tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis yang dipanggil oleh adiknya.


" Kakak cantik mau kemana ? Rania belum mengucapkan terima kasih. " Ucap Rania polos.


" Moza. " Panggil Hega lembut.

__ADS_1


Mau tidak mau gadis itu berbalik, menghadap pria yang ingin dihindarinya meskipun dia merindukan sosok itu.


" Apa kabar kak ? " Tanya Moza akhirnya.


" Baik, kamu ? "


" Hm. Aku juga baik. Aku harus pergi, sampai jumpa gadis manis. " Ucap Moza sambil hendak melambaikan tangannya.


" Jangan pergi kakak cantik, Rania akan membelikan es krim untuk kakak karena kakak sudah menolong Rania. " Ucap gadis kecil itu yang masih berada di gendongan kakak lelakinya.


" Mungkin lain kali ya sayang, kakak harus pergi. " Tolak Moza lembut membuat Rania cemberut kecewa.


" Bisakah kamu tetap tinggal sebentar, anggaplah sebagai ucapan terima kasih Rania. Dia akan merengek seharian jika permintaannya tidak dituruti. " Bujuk Hega membuat gadis dalam gendongannya itu berbinar ceria.


Sebenarnya hanya alasan saja Hega mengatakan itu, kenyataanya pemuda itu hanya ingin bersama Moza sedikit lebih lama. Baru saja Moza ingin menggangguk, suara Dimas sudah menyela.


" Maaf gue lama Mo, tadi ketemu temen. Nih minumnya. " Sambar Dimas mengulurkan sebotol air mineral ke arah Moza.


" Ah, bang Hega disini juga. Siapa si kecil yang manis ini ? " Sapa Dimas sopan.


" Ini adikku, kalian kesini berdua ? " Tanya Hega menekankan kata berdua.


" Iya. " Jawab Moza singkat.


" Sama Mami dan Deana juga, mereka lagi di salon. Nah itu mereka. " Dimas menunjuk ke arah Deana dan seorang wanita paruh baya yang sedang mendekat ke arah mereka.


Kalimat Dimas membuat Hega lega, sejujurnya dia belum rela melihat Moza bersama dengan pria lain. Hega menatap lekat gadis itu, tatapan yang sangat hangat dan penuh kerinduan.


Begitu pula sebaliknya Moza menatap Hega tanpa berkedip sedikitpun. Sudut hati kecilnya ingin berhambur mendekat dan memeluk pemuda itu.


Dimas memperhatikan kediaman dan ekspresi yang ditunjukkan kedua orang di hadapannya.


Deg....


Dimas menyadari sesuatu yang selama ini seolah luput dari pengetahuannya.


Apa pria yang dicintai Momo itu ?!!! Gak mungkin ! Pasti gue salah.


Dimas berusaha menepis tebakannya sendiri, tapi melihat apa yang ada di depan matanya, Dimas tak bisa mengelak lagi jika kedua orang dihadapannya itu memang saling mencintai.


๐ŸŒŸ


~ Cuplikan ~


Hega memeluk erat gadis itu, lupa jika hari ini dia harus menemui gadis yang dijodohkan dengannya.


" Aku akan membicarakannya dengan keluargaku. Kamu hanya perlu menunggu. "


Itulah yang diucapkan pemuda itu pada Moza, kemudian memeluk kembali gadis itu dalam dekapannya.


Untuk urusan perjodohan dan hutang nyawa akan dipikirkannya lagi nanti. Jika perlu dia akan bersujud di hadapan seluruh keluarga gadis itu agar bisa membatalkan perjodohannya.


๐ŸŒŸ


๐Ÿ’™๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿงก๐Ÿ’œโค๐Ÿ’™๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿงก๐Ÿ’œโค


Bantu VOTE agar karya ini naik RANK yah....


Terima kasih ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜๐Ÿ’•๐Ÿ’•


Jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU....


โœ” LIKE ๐Ÿ‘

__ADS_1


โœ” COMMENT โœ๐Ÿ’Œ


โœ” VOTE ๐Ÿ’ฑ๐Ÿ’ฒ yah ๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹๐Ÿ’‹


__ADS_2