
AUTHOR
" Kamu ?! " Hega menatap manik mata Moza menuntut jawaban.
Moza mengangguk membenarkan jika dia sudah tahu jika gadis bernama Alina itu menyukai Hega.
" Jadi pergilah oke, kakak pasti tahu apa yang harus kakak lakukan, hm ?! " Ucap Moza lagi kali ini tersenyum dengan sangat manis membuat Hega tak kuasa menolak permintaan kekasih manisnya itu.
" Apa kamu sedang mencoba memperdayaiku dengan menggunakan senyum manismu itu, hem ?! " Balas Hega tak kalah menggoda, mencubit mesra pipi Moza. Seolah tak ada orang lain di ruangan itu.
" Eummm.... Apa niatku sudah ketahuan ya ?! " Tanya Moza sambil menundukkan kepala berakting kecewa.
Hega mengangguk, " Hem.... Dan kamu berhasil. " Kemudian mengacak rambut Moza gemas membuat gadis itu tersenyum puas dengan usahanya.
" Hehe... "
" Ekhem.... " Bara sudah benar-benar tak tahan menyaksikan kemesraan pasangan baru di hadapannya itu.
" Baiklah, aku tidak akan lama. " Jawab Hega seraya mengecup pucuk kepala Moza dengan penuh kasih sayang kemudian beranjak dari posisi duduknya berjalan menghampiri Alina.
Hei.... Kalian kenapa mesra-mesraan di depan umum si ?! Apa kalian menganggap kami ini setan yang tidak kelihatan ?!
Gue juga punya pacar tapi kenapa gue merasa kesal ya melihat tingkah romantis kalian ?! Benar-benar menyebalkan.
Dasar serigala berbulu domba, monster beruang kutub berkelakuan kucing anggora. π€π€
Umpat Bara dalam hati menyaksikan adegan mesra yang entah mengapa membuatnya kesal setengah mati.
" Ayo kita bicara ! " Ucap Hega melewati Alina tanpa menatap gadis itu sedikitpun.
Bara mengangkat kedua jempolnya ke arah Moza, " Lo benar-benar hebat dek. " Puji Bara saat Hega sudah menghilang di balik pintu.
" Hah ?! " Moza yang tak mengerti maksud Bara hanya bisa mengernyit bingung.
" Hehehe.... Maksud abang lo hebat dalam hal menjinakkan si monster beruang kutub hahahaha.... "
Plak....
Sebuah pukulan mendarat di bibir Bara, pelakunya tentu saja kekasihnya sendiri.
" Auwh.... Sakit Aliza sayang. " Gerutu Bara sambil mengelus bibirnya yang terkena gampar kekasihnya.
" Siapa suruh itu mulut kalau bicara tidak pernah disaring. " Omel Aliza.
" Hehehe... Maaf, kapan lagi juga bisa liat muka si jutek itu gak berkutik kayak tadi hahaha....." Bukannya marah karena kena omel dan gampar malah Bara cengengesan dengan puasnya.
" Sudah sana keluar, kamu akan membuat Moza tambah stress dengan ocehanmu. " Titah Aliza.
" Baiklah kekasihku yang cantik. " Ucap Bara manja sembari mencubit pipi Aliza.
" Abang keluar dulu ya dek, sering-sering lo bikin pacar jutek lo itu jinak, biar abang gak stress ngadepin tingkahnya yang gila di kantor hehhee.... "
" Bara Prasetya.... !!! " Ucap Aliza sedikit membentak karena mulai kesal.
" Ouhhh.... iya iya aku keluar. " Bibir Bara sudah manyun.
" Jangan diambil hati ucapan Bara barusan, dia memang begitu, suka bicara tidak jelas. Tapi dia itu sahabat terdekat Hega dan sudah seperti saudara. Tingkah mereka memang kadang kekanakan, tapi itu karena mereka sebenarnya saling menyayangi. Yah... Kamu tahulah para pria selalu gengsi menunjukkan perhatian dan kasih sayang mereka satu sama lain. " Ucap kekasih Bara yang juga berprofesi sebagai psikolog itu.
" Iya kak, aku tahu kok. Tapi mereka benar-benar menggemaskan jika sedang bertengkar. " Balas Moza sambil terkikik geli mengingat tingkah lucu Hega dan Bara setiap kali berdebat tidak jelas.
" Hahahaha.... Ternyata bukan hanya aku saja yang merasa begitu. " Aliza ikut tertawa.
__ADS_1
" Eh... Kak Al disini. Mana Bang Bara ?! " Sela Deana saat memasuki kamar dan melihat ternyata masih ada Aliza disana.
" Aku mengusirnya karena dia terlalu berisik. " Jawab Aliza diiringi tawa mereka bertiga yang memang tahu jika suasana selalu heboh jika ada Bara.
" Baiklah, karena sudah ada Deana, aku pamit kembali ke kamarku dulu ya. Sampai ketemu nanti. " Pamit Aliza seraya melambaikan tangan pada kedua gadis itu dan di jawab anggukan oleh Moza dan Deana.
Selepas kepergian Aliza, Deana menghampiri Moza, menaiki ranjang berukuran kingsize dengan sprei berwarna kombinasi cream dan putih itu.
" Dimana bang Hega, Mo ? " Tanya Dea sambil celingukan mengira mungkin kekasih sahabatnya itu sedang ada di kamar mandi atau di balkon kamar.
" Pergi sebentar. " Jawab Moza singkat.
" Tumben bang Hega mau ninggalin lo sendiri ? Bukannya dari tadi kalian nempel mulu kayak perangko sama amplop. " Ucap Dea yang memang sempat tidak sengaja melihat adegan mesra antara Moza dan Hega.
Eh... Kok aku berasa ada yang aneh ya dengan kalimat Dea ?! ~ Moza ~
" Apa si Dea, gak segitunya juga lah. Kak Hega sedang bicara dengan adik sepupu kak Aliza. " Ucap Moza dengan gaya santainya.
" HAH ?! Maksud lo si Alina ?! " Deana terpekik.
" Haish.... Kenapa kamu teriak si ? " Omel Moza yang kaget dengan kehebohan sahabatnya.
" Serius lo biarin bang Hega bicara berdua sama cewek yang naksir dia. Upsss... " Reflek Deana membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.
Moza mengangkat alisnya, " Hahaha.... Memangnya kenapa ?! "
Moza yang memang tahu jika Alina menyukai Hega bukannya kaget malah terbahak melihat tingkah Deana.
" Eh... Lo udah tahu kalau Alina itu suka sama bang Hega ?! " Tanya Deana terheran.
Moza mengangguk.
" Hei gadis bodoh, kenapa malah lo biarin mereka berduaan. " Omel Deana menjitak kecil dahi sahabatnya yang terlewat santai membiarkan kekasihnya bersama wanita lain.
" Aduuuhh.... Bisa-bisa sakit kepala gue Mo lihat kepolosan lo. "
Haih... Aku yang punya pacar kok malah dia yang heboh kayak kebakaran jenggot si ?! ~ Moza ~
" Ish.... Sudahlah Dea, aku percaya kok sama kak Hega. " Jawab Moza acuh.
" Ini bukan masalah percaya atau tidak, gue kasih tahu ya Mo, pelakor itu ada bukan karena ada niat, tapi juga karena ada kesempatan dan peluang. Dan lo baru saja membuka peluang itu. " Omel Deana kesal.
" Idih... Ucapanmu itu seperti kamu pernah mengalaminya saja. " Celetuk Moza.
DEG....
Sudut hati Deana seketika mencelos, ada luka lama yang seolah terbuka kembali.
Melihat reaksi Deana, Moza seketika memicingkan matanya menatap menyelidik ke arah sahabatnya.
" Hei.... Jangan bilang kamu pernah mengalaminya ? Kapan ? " Selidik Moza menatap ke dalam manik mata sahabatnya.
Deana memalingkan wajahnya agar tak tertangkap basah oleh sahabat super peka nya itu.
Moza masih berusaha mencari sesuatu di mata sahabatnya, Moza tahu ada yang tengah diaembunyikan Deana saat ini.
" Kamu jadi korban pelakor atau malah justru kamu jadi pelakornya ? " Goda Moza usil.
" Haish... Dasar gadis menyebalkan. Kenapa lo jadi pintar bicara begini si semenjak punya pacar. " Omel Deana memukul kaki Moza yang selonjor di atas ranjang.
" Hei, Dea sayang, aku memang sudah pandai bicara sejak dulu ya. Hanya saja selama ini aku malas menggunakannya. " Elak Moza.
__ADS_1
" Cih.... " Deana yang memang tahu pasti dengan kecerewetan Moza saat kecil hanya bisa berdecak malas.
" Jadi yang mana ? " Bukan Moza Artana jika menyerah mencari kebenaran.
" Apanya ?! "
" Korban pelakor atau malah kamu pelakornya hahahhaa....."
" Dasar gadis sinting... " Kesal Deana mengambil bantal dan memukulkannya ke arah Moza.
Dan terjadilah perang bantal antara kedua sahabat itu disertai gelak tawa dua sahabat cantik menggema di ruangan.
Setelah beberapa saat, keduanya terbaring di ranjang karena kelelahan. Dua gadis manis itu menatap langit-langit kamar dan suasana mendadak hening. Seolah keduanya sedang berada dalam pikiran mereka masing-masing.
" Mo.... " Deana menoleh ke arah sahabatnya.
" Hm. " Jawab Moza singkat dan ikut menoleh.
" Apa lo bahagia ? " Tanya Deana menatap lekat manik mata sahabatnya.
" Menurut kamu ? "
Deana bangkit dan duduk bersila, " Aaarrghhhh.... Dasar gadis gila, iya kamu terlihat bahagia, sangat bahagia. " Ucapnya dengan nada yang terdengar ikut bahagia.
Moza ikut bangkit dari posisi berbaringnya, bersandar di kepala ranjang menghadap Deana.
" Apa bang Hega memperlakukan lo dengan baik ? " Tanya Deana lagi.
Moza mengangguk dan tersenyum, pipinya merona tersipu malu.
" Aaaaah... Sepertinya gue yang gila, sudah jelas bang Hega memperlakukan lo dengan sangat baik. Kenapa gue menanyakan hal yang sudah pasti jawabannya si ?! Apalagi waktu lihat ekspresi kacau dan mengerikannya saat lo tenggelam tadi. Huffft...." Ucap Dea manggut-manggut.
" Bahkan kalian barusaja berciuman. " Seloroh Deana sekali lagi tanpa rem.
" Dea !!! " Pekik Moza dengan kedua mata melotot ke arah gadis di hadapannya.
" Hehehe... Maaf gue gak sengaja mengintip. " Ucap Deana kikuk, kemudian menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
Deana memang sempat melihat adegan mesra Moza dan Hega, dari saat sepasang kekasih itu berciuman hingga posisi absurd Moza yang memeluk dan menindih tubuh Hega. Benar-benar adegan yang membuat canggung dan malu sendiri bagi siapapun yang melihatnya.
" Sepertinya bang Hega sangat mencintai lo Mo. " Dea menatap bahagia pada sahabat tersayangnya.
" Hem... " Moza mengangguk dan tersipu malu.
" Agh.... Terlihat jelas si kalau bang Hega udah jadi bucinnya lo..." Teriak Deana gemas sambil memukul-mukul bantal di pangkuannya. Kemudian dua gadis itu tergelak bersama.
Dea merengkuh tubuh Moza dan memeluknya. " Gue ikut bahagia melihat lo akhirnya mendapatkan kebahagiaan lo Mo. "
" Terima kasih Dea, kamu juga harus bahagia. Sampai kapan kamu mau menjomblo. "
Luka hati gue belum mengijinkan gue untuk melangkah mencari kebahagiaan gue Mo. Tapi gue sudah cukup merasa bahagia melihat lo, sahabat gue yang paling gue sayang akhirnya bahagia. Gue berdoa semoga lo bisa terus tersenyum bahagia seperti ini selamanya. ~ Deana Mayangsari ~
Aku tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku Deana Mayangsari, tapi aku tidak akan memaksamu menceritakannya sekarang. Aku akan selalu ada saat kamu sudah siap membuka hatimu untuk mengatakan padaku semuanya. Aku juga ingin kamu menemukan kebahagiaanmu. ~ Moza Artana ~
..._Bersambung_...
Β " Sahabat itu seperti halnya mata dan tangan. Saat mata menangis tangan mengusap, saat tangan terluka mata menangis. "
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
β‘οΈ Jika menyebutkan kata " Sahabat " ? Adakah setidaknya satu nama yang terlintas di pikiran kita ?! Dan beranikah kamu menuliskan namanya sebagai bentuk pengakuan atas keberadaannya di hatimu ?
__ADS_1
Jika lebih dari satu, maka FIX kalian adalah orang-orang yang beruntung memiliki mereka. π
Terima kasih untuk sahabat-sahabat author meskipun kita sudah tidak pernah berjumpa karena jarak. Semoga kalian selalu bahagia dimanapun kalian berada. @Titin@Putri@Venty@Emi@Denok@Intan dll. I love you all