
HEGA
Aku tidak pernah menyangka dalam takdir kehidupanku ternyata ada skenario yang rumit seperti ini.
Gadis yang selama ini dijodohkan denganku, adik dari sahabatku Arka, dan perjodohan yang berusaha mati-matian aku batalkan.
Ternyata gadis itu adalah gadis yang sama dengan gadis aku cintai.
Aku sempat berfikir, apakah ini merupakan satu bentuk keajaiban dari ikatan jodoh yang diatur oleh Tuhan untuk kami.
Atau memang jantung ini yang mengantarkan aku pada sosok gadis yang akhirnya bisa mengunci hatiku untuk hanya bisa mencintainya.
Aku sudah tidak peduli mau ini takdir ataupun keajaiban atau apapun itu. Yang aku tahu adalah bahwa aku mencintainya.
Untuk pertama kalinya aku merasakan sengsara karena jauh dari seorang wanita.
Untuk pertama kalinya aku menginginkan seorang wanita hingga membuatku gila hanya dengan memikirkannya.
Dan aku tidak ingin mengalami hari-hari yang buruk seperti itu lagi. Aku akan membuat gadis ini menjadi milikku hingga tak ada sesuatu apapun yang bisa membuatnya pergi dariku.
Tapi saat kulihat tatapan matanya ketika memelukku tadi, saat air matanya hampir tumpah ketika merasakan detak jantungku.
Hatiku terasa nyeri, aku tahu pasti yang ada dipikirannya saat itu.
Aku merasakan ada kebimbangan dalam tatapan matanya. Mungkin juga rasa bersalah tengah menjalar di benaknya.
Tentu saja aku juga sempat merasakan hal yang sama, kenapa aku harus hidup dengan jantung dari sahabatku.
Terlebih lagi saat aku tahu gadis yang sangat aku cintai adalah adik dari Arka, pemuda yang meninggalkan jantungnya untuk membuatku tetap hidup.
Aku hancur, merasa bersalah. Bagaimana aku bisa menatap mata kecoklatan milik Moza ? Bagaimana aku harus menghadapinya ?
Dan akhirnya aku memberanikan diri untuk mengatakan semua yang ada di pikiran dan hatiku.
Bahwa aku sangat mencintainya dan aku tidak bisa hidup tanpanya. Dan tentu saja aku sudah siap dengan apapun jawabannya.
Meskipun aku tahu jika dia juga memiliki perasaan yang sama denganku, tapi bagaimana jika ia juga akhirnya membenciku karena aku hidup dengan jantung milik kakaknya yang sudah tiada ?
Aku sudah memutuskan kali ini aku akan bersikap egois, untuk pertama kalinya aku menginginkan seseorang untuk jadi milikku. Dan aku akan melakukan apa saja untuk itu.
Dan saat gadis itu mengangguk dan mengatakan jika dia juga mencintaiku. Seketika hatiku terasa lega, kebahagiaan luar biasa yang aku rasakan.
Maka terbayarlah sudah penderitaanku selama berbulan-bulan ini menahan perasaan cinta dan rindu padanya.
" Kak... " Suara merdunya seketika memutus lamuananku.
" Hmm.... Kenapa bangun ? Apa kamu membutuhkan sesuatu ? " Tanyaku sembari mengusap pucuk kepalanya, tapi Moza malah menggeleng.
" Kenapa kakak belum tidur ? Ini sudah larut malam. " Ucapnya lirih.
" Aku belum mengantuk. " Jawabku, aku melirik jam tanganku, pukul 11 malam.
" Tidurlah kak, aku tidak ingin kakak yang jadi sakit nantinya. " Pintanya lagi.
" Aku sedang menikmati wajah cantik yang selama ini aku rindukan, jadi jangan larang aku oke. " Mataku memang tak berhenti menatapnya sedari tadi, bahkan ketika aku tahu dia sudah jatuh tertidur.
Kulihat pipinya memerah tersipu, benar-benar menggemaskan.
" Tidurlah lagi agar besok kondisi kamu semakin membaik dan benar-benar bisa pulang. Atau mungkin kamu masih ingin berlama-lama di rumah sakit ? " Ucapku kemudian.
Bukannya menurut, Moza malah menggelengkan kepalanya dan bangun dari posisi tidurnya.
" Aku sudah tidak mengantuk lagi kak. " Bibir mungilnya malah menyebik lucu, benar-benar menggoda imanku.
Jika saja aku tak berjanji pada bunda Ayu akan menjaganya dengan baik, maka bibir itu sudah pasti sedang kukecup saat ini.
__ADS_1
Arrrggg.... Kembalikan kewarasanmu Hega !!!
" Tidurlah. Aku juga akan tidur sebentar lagi. " Ucapku lagi dengan sedikit memerintah, dan kubaringkan lagi tubuhnya untuk kembali tidur dan mengecup keningnya.
Cup
" Good night My Queen. " Kuselimuti tubuh mungilnya, kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan sholat malam untuk menjernihkan pikirannku.
โข
โข
โข
๐๐๐
~ MOZA ~
Aku sempat bimbang pada hatiku sendiri, saat aku dihadapkan pada kenyataan jika pria yang aku cintai ternyata hidup dengan jantung kakakku yang telah tiada.
Saat aku mendengar jantung itu berdetak di dada kak Hega, aku seolah diingatkan oleh kecelakaan yang merenggut nyawa kak Hyuza. Kejadian yang masih terasa samar di ingatanku.
Aku ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya saat itu juga. Tapi aku menahannya dan hanya bisa terisak di pelukannya.
Benarkah aku boleh egois dan memilih bahagia dengan kenyataan ini ? Bahagia karena pria yang aku cintai hidup dengan jantung kakakku, tapi justru kakakku kandungku sendiri malah tiada ?
Apakah aku adik yang jahat dan tidak tahu diri ?
Jika aku harus menyerah dengan cinta ini dan pergi, apakah aku masih bisa hidup tanpa pria ini ?
Aku terus bertanya pada diriku sendiri mana yang lebih diinginkan oleh hatiku ?
Akhirnya aku memutuskan untuk berdamai dengan luka masa laluku.
Aku menderita saat kak Hyuza pergi untuk selamanya, meskipun penyebab kematiannya masih samar-samar dalam ingatanku.
Hingga sangat sakit rasanya saat aku tidak bisa bersamanya ataupun melihatnya.
Bolehkah aku egois untuk kali ini saja ?! Dan aku memilih menerima pernyataan cintanya, karena aku sadar jika aku tidak bisa kehilangannya.
Saat ini aku duduk di sofa kecil yang ada di samping sofa panjang tempat dimana kak Hega tengah tertidur dengan pulasnya.
Aku menarik sedikit sofa kecil itu agar bisa menatap wajah damai Kak Hega dalam tidurnya.
Kak Hyu, maafkan aku....
Aku sangat menyayangi kakak.
Jika memang kakak yang mengirimkan kak Hega padaku, ijinkan aku mencintainya...
Karena aku tak sanggup jika harus kehilangan lagi....
Aku menatap wajah tampan kak Hega yang terlihat begitu tenang.
Kalau dilihat dari dekat begini, dia benar-benar sangat tampan hingga membuat mataku terasa sakit.
Benar-benar wajah yang berbahaya untuk kesehatan jantungku.
Entah sudah berapa lama aku menatapnya, tidak kusangka pria yang dulu pernah aku sebut si jutek menyebalkan ini memiliki wajah seperti malaikat saat tertidur.
Dan yang membuatku sangat bahagia tentu saja, pria ini adalah kekasihku.
Kekasih ?! Kenapa rasanya aku malu sekali mengucapkan kata itu ?! Benar-benar membuat bulu kudukku merinding dengan ucapanku sendiri.
__ADS_1
Kututup wajahku dengan kedua tanganku, merasa malu sendiri dengan apa yang terlintas di kepalaku barusan.
Huft.... Aku belum puas melihat wajahnya, aku menahan kedua pipiku dengan kedua telapak tanganku, dan sikuku bertumpu pada kakiku sendiri.
Menatap lekat pada wajah sempurna di hadapanku.
Lihatlah bibirnya yang seksi itu, bibir yang selalu pandai bicara dan membuatku gila setiap kali kalimat-kalimat manis keluar dari sana.
Bibir ?? ! Kenapa malah bahas bibir si ? Aku kan jadi tiba-tiba teringat kejadian sore tadi sebelum Ryu datang, bukankah saat itu kak Hega akan menciumku.....
Aaaahh.... Dasar gila. Kamu benar-benar sudah gila Moza Artana... Jomblo selama 20 tahun membuatmu menjadi gadis mesum.
Aku menepuk pipiku sendiri mencoba mengembalikan pikiranku yang mulai berkelana kemana-mana.
" Kenapa kamu sudah bangun ? Jam berapa ini ? " Suara Kak Hega yang serak khas bangun tidur menyadarkanku dari pikiran gilaku.
Aduh bukan hanya wajahnya yang berbahaya, suara seksinya juga tak baik untuk jantung. Kalau nantinya kami menikah apa aku sanggup menghadapi serangan mematikan dari wajah dan suaranya sekaligus.....Arrrghh aku benar-benar sudah gila.... Kenapa pikiranku kemana-mana si ?!!!
" Mo... " Panggilnya lagi, dan tentu saja langsung membuatku kembali pada pikiran warasku.
Kulihat kak Hega sudah dalam posisi duduk bersandar di sofa dan kemudian tengah menggeliat meregangkan ototnya.
" Ah... Jam 4.45 kak, aku tadi sholat subuh. Mau membangunkan kakak. "
" Oh... Iya, aku bersiap sholat dulu. Hoaaam... Ayo kubawa kamu kembali ke ranjang. " Kak Hega mendekat padaku, dari gerakannya aku tahu dia akan menggendongku.
" Ah... Aku bisa jalan sendiri kak. " Tapi tentu saja penolakanku tak digubrisnya.
Selang infus di tanganku sudah dilepas tadi malam, jadi aku sudah leluasa berjalan-jalan meskipun masih tertatih-tatih karena kakiku yang kesleo.
Dengan lembut kedua tangannya menyelusup di bawah kakiku dan satu lagi di punggungku.
Membopongku ala brydal style, dan tak lupa bibirnya yang selalu terukir senyum menawannya.
Ya ampun jantungku.... Ini masih pagi kamu sudah berulah......
Kenapa bangun tidur dia masih terlihat tampan si ?
" Aku memang tampan, kamu baru sadar, hm ? ! "
" Haisshhh.... Jangan terus-terusan membaca pikiranku seenaknya dong kak. " Kupalingkan wajahku yang sedari tadi memandangnya ke lain arah .
" Aku hanya menebak, dan ternyata tebakanku benar kan ?! Jadi benar kan kamu mau bilang kekasihmu ini tampan, hm ? " Bukannya segera berwudhu malah terus menggodaku, mendekatkan wajahnya tepat di hadapanku, dengan gemas aku cubit perutnya.
" Auwwh... Sakit Momo sayang. " Rintihnya sambil tetap kulihat senyum nakal di bibirnya itu.
Apa yang barusan aku dengar ?! Mo-mo sa-yang ? Uhuukk... Jangan mulai lagi dong kak !
" Kalau kakak terus menggodaku, kakak akan kehabisan waktu untuk sholat subuh. " Omelku ketus.
" Hehe....Baiklah aku sholat dulu ya, nanti kita lanjutkan lagi sayang-sayangannya...." Godanya lagi sembari mengelus kepalaku kemudian beranjak ke kamar mandi sebelum aku sempat mencubit lengannya.
Aku tak tahu bagaimana ekspresiku saat ini, wajahku benar-benar terasa panas. Malu, berdebar, kesal dan gemas bercampur jadi satu.
Dan apa lagi yang barusaja kudengar itu ? Sayang-sayangan ? Aargghh.... Aku geli mendengarnya....
Aku sembunyikan wajahku di dalam selimut, benar-benar sangat malu. Kenapa pagi-pagi harus mendengar gombalannya yang menggelikan itu si ?
๐๐งก๐๐๐โค๐๐งก๐๐๐โค
Hmmm... Mau diterusin sayang-sayangannya atau jeda dulu ???? ๐๐๐
๐๐๐๐
Jangan lupa like dan komentar ya teman - teman, Vote juga kalau ada poin nganggur.....
__ADS_1
Akuh padamu deh.... ๐๐