Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Kecelakaan dan Sebuah Permulaan...


__ADS_3

AUTHOR


Pagi itu pukul 08.00 WIB, Moza menaiki sepeda lipatnya, kado yang didapat dari sang ayah saat ulang tahunnya beberapa bulan yang lalu.


Gadis itu pergi ke perpustakaan kampus untuk meminjam beberapa buku sebagai bahan bacaan untuk mengisi liburan semesternya.


Deana sudah berangkat ke bandara kemarin sore menuju kota asalnya, menghabiskan liburan di rumah orang tuanya.


Sedangkan teman-temannya yang lain tentu sudah memiliki rencana mereka masing-masing.


Semester ini lagi-lagi Moza tidak akan pulang ke kotanya, saat Deana mengajaknya berangkat bersama. Moza terpaksa menolak karena dua hari sebelumnya sang bunda menelfon akan datang mengunjungi dirinya.


Sekalian ada urusan penting di kota tempat sang putri menuntut ilmu. Jadi mungkin pulangnya bisa bersama dengan kedua orang tuanya nanti.


Lagipula keempat dara cantik itu sepakat membagi jadwal untuk mengawasi butik selama liburan, dan Moza mengambil jadwal pertama untuk menjaga dan memilih tinggal di minggu pertama liburannya.


Setelah sekitar satu jam berada di perpustakaan kampus, gadis itu berjalan santai sembari membawa beberapa buku di tangannya menuju tempat parkir khusus sepeda.


Di letakkannya buku di keranjang yang ada di depan sepeda, baru saja hendak membuka kunci gembok sepedanya suara ponsel di dalam tas nya berbunyi.


~ Bunda Calling ~


" Assalamualaikum. Iya Bun. "


( Waalaikumsalam sayang. Ayah dan bunda sudah sampai dan ini sedang menuju hotel. )


" Iya bun, Moza akan kembali dulu ke kosan. "


( Memang kamu sedang ada dimana sayang ? )


" Di kampus bun, meminjam beberapa buku untuk mengisi liburan. "


( Oh... Oke sayang, kalau begitu Ayah dan Bunda akan menjemputmu. )


" Tidak bun, pasti Ayah dan Bunda lelah di perjalanan. Moza yang akan mendatangi bunda. Bunda menginap di mana ? "


( Ahhh... Kalau begitu kamu datang saja ke Hotel Imperial ya, nanti bunda share lokasinya dan nomor kamarnya. )


" Iya bun, sampai bertemu nanti. "


( Iya sayang, jangan lupa berdandan yang cantik ya. )


" Hah ???! "


Kenapa harus dandan yang cantik segala ? Tidak biasanya bunda bicara seperti ini ?!


Moza bergumam dalam hati, dahinya tampak mengerut.


( Ayah dan Bunda akan mengenalkanmu pada seseorang. )


" Bun ?! "


( Sudah ya, ponsel bunda lowbatt. Jangan lupa dandan yang cantik ya sayang. Sampai ketemu disana ya putri Bunda yang cantik. Assalamualaikum. )


Tut tut tut


Sang bunda memutup sepihak sambungan teleponnya tanpa memberikan kesempatan putrinya untuk bertanya lebih lanjut.


" Waalaikumsalam. "


~ End Call ~

__ADS_1


โ€ข


โ€ข


Kening Moza mengerut heran dengan perintah bundanya di telepon. Menatap ponselnya dengan heran, kemudian menatap dirinya sendiri dari ujung kaki dan memperhatikan pakaian yang dipakainya.


Tapi dasar gadis ini mungkin kelewat cueknya sehingga tidak memikirkannya terlalu jauh.


Dari kejauhan tanpa sepengetahuan gadis itu, ada seseorang yang tengah mengawasi setiap gerak-geriknya.


Setelah memasukkan kembali ponsel ke dalam tas, dibukanya gembok sepeda berwarna hitam di depannya.


Kemudian mengayuh sepedanya perlahan di sepanjang jalan beraspal area kampusnya yang luas. Jarak dari perpustakaan ke gerbang utama kampus sekitar satu kilometer.


Area kampus yang sedang sepi karena memang dalam masa libur semester. Moza mengayuh santai sepedanya sambil sesekali menikmati semilir angin yang berhembus dari sela-sela pepohonan besar yang ada di sisi kanan dan kiri jalan yang dilaluinya.


Tengah fokus pada jalan dan mengayuh sepedanya, secara tiba-tiba terdengar deru sepeda motor dari arah belakang. Melaju kencang dan menyenggol stang sepeda yang dikayuhnya.


Bruak...


Moza seketika kehilangan keseimbangan, sepedanya oleng dan tubuh gadis itu jatuh menghantam jalan aspal. Wajahnya sedikit terbentur aspal, membuat dahinya memar dan pipinya sedikit tergores.


Kakinya kanannya terjepit sepeda, sebelum pingsan gadis itu sempat melihat sosok seorang pria berpakaian serba hitam. Namun tak jelas siapa orang tersebut karena kedua matanya langsung terasa buram dan gelap.


" Nona, sadarlah. " Ucap pria tersebut sambil menepuk pelan pipi gadis itu.


" Maafkan ketidak sopanan saya Nona. "


Karena tidak ada respon, pria berpakaian serba hitam itu segera mengangkat tubuh gadis itu, dan membawanya ke dalam mobil, membaringkan gadis itu di kursi belakang.


Dengan cepat menelfon seseorang dan berbicara melalui headset bluetooth yang selalu terpasang di telinga kirinya. Sambil menyalakan mesin kendaraannya.


Dari sisi jalan tak jauh dari tempat jatuhnya Moza, seseorang tengah menyeringai puas di balik kemudi di dalam sebuah mobil mewah berwarna merah.


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Sekitar satu jam kemudian, Moza tersadar dari pingsannya. Kedua bola matanya mengerjap perlahan, dirasakannya nyeri dan perih di beberapa bagian tubuhnya.


" Hiks... hiks.... Bangun sayang. " Suara seorang wanita yang tengah sesenggukan membuatnya sadar sepenuhnya.


Wanita paruh baya berhijab itu menangis sambil menggenggam dan mengelus-elus tangan putrinya.


Dan seorang pria paruh baya yang tak lain adalah sang Ayah, berdiri di samping kursi, menatap putrinya sambil mengelus punggung istrinya untuk menenangkan istrinya yang terlihat syok dengan keadaan putri mereka.


" Bun.... " Gadis itu merintih saat mendapati sang bunda tengah duduk di kursi yang ada di samping ranjangnya.


" Ah... Sayang....Hiks... Kamu sudah bangun nak. Mana yang sakit ? Bilang sama bunda apa yang kamu rasakan sayang ? Hiks.... " Bunda Ayu terus bertanya dengan cemas sembari menyeka air matanya sendiri.


" Bun, tenanglah dulu. " Ayah Ardi mencoba menenangkan kembali istrinya.


" Yah, lihatlah putri kita seperti ini. Bagaimana bunda bisa tenang ?! Hiks.... " Bunda Ayu semakin terisak, memeluk tubuh putrinya dan mengecupi kening putrinya yang terbaring di ranjang rumah sakit.


" Ayah akan panggilkan dokter. " Ardi keluar, memanggil dokter yang sudah berjaga di sisi lain ruangan itu.


" Kenapa Moza bisa ada disini bun ? " Tanya gadis itu bingung melihat ruangan bernuansa putih, krem dan coklat dengan beberapa peralatan ala rumah sakit namun lebih mirip kamar hotel itu jika dilihat dari dekorasi dan furniture yang ada di dalamnya.


__ADS_1


Jika tidak ada selang infus dan ranjang khas rumah sakit yang tempatnya berbaring, mungkin saja Moza akan benar-benar mengira jika dirinya sedang berada di kamar hotel.


Tapi gadis itu terlihat tak terlalu terkejut, karena ia sempat dirawat di ruangan yang mirip dengan kamar itu saat pingsan beberapa minggu yang lalu.


" Kamu lupa sayang ? Kamu jatuh dari sepeda. Untung saja ada yang melihat dan langsung membawamu kesini. Jika tidak bunda tidak tahu apa yang akan terjadi padamu sayang. Hiks.... " Jelas sang bunda masih dengan menahan isak tangisnya.


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Setelah hampir dua jam menangisi putrinya, akhirnya wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan anggun di usianya yang sudah cukup matang itu bisa kembali tenang.


" Bun, Moza sudah tidak apa-apa. Bunda jangan menangis lagi. " Ucap gadis cantik itu masih dalam kondisi berbaring, mengusap pipi sang bunda yang berurai cairan bening dari kelopak matanya.


" Iya bun, bagaimana kalau bunda makan dulu. Ayo ayah temani bunda. " Ardi mengelus pundak istrinya, wanita itu menggeleng kembali menggenggam erat tangan putrinya.


" Bun, makanlah dulu. Moza tidak apa-apa, Moza ingin istirahat jadi bunda makanlah dulu. " Ucap gadis itu lembut membujuk sang ibu yang terlihat lemas kehabisan tenaga karena terlalu lama menangis.


Akhirnya sang bunda pasrah, menuruti keinginan putri tersayangnya namun masih terlihat enggan melepas genggaman tangannya di tangan putrinya.


" Ayah disini saja, bunda akan pergi makan di kantin rumah sakit saja. " Ucap Ayu pada menatap sang suami.


" Biarkan ayah menemani bunda. " Pinta Moza lembut.


" Tidak sayang, ayahmu akan tetap disini. Siapa tahu kamu butuh sesuatu. " Ayu memaksa membuat suami dan putrinya menyerah.


Hampir satu jam sang bunda tidak juga kembali dari kantin dan atas permintaan Moza, Ardi terpaksa meninggalkan putrinya sejenak untuk menjemput istrinya karena cemas jika mungkin terjadi sesuatu dengan istrinya itu.


Saat sang ayah sudah pergi, Moza justru ingin ke kamar mandi. Namun tidak ada seorangpun yang ada di ruangan itu.


Dengan perlahan dan hati-hati gadis itu turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi yang ada di sudut ruangan. Tangannya memegang tiang penyangga cairan infus beroda dan mendorongnya perlahan.


Tak berselang lama setelah memasuki kamar mandi, Moza mendengar suara pintu terbuka, gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi itu mengira jika ayahnya lah yang datang karena tadi sang ayah mengatakan akan menyusul bunda yang terlalu lama membeli makanan di kantin rumah sakit.


Tapi belum juga berselang lama ayahnya pergi, gadis yang sedang di kamar mandi itu mendengar suara pintu terbuka.


Karena tak ada jawaban ataupun suara sahutan, membuat gadis yang kesulitan berjalan itu terpaksa menghentikan langkah kakinya dan mendongakkan kepalanya untuk memastikan siapa yang datang.


Begitu terkejutnya gadis itu, sama terkejutnya dengan ekspresi yang ada di wajah pemuda yang kini tengah menatapnya dengan tatapan tak percaya.


Bouquet bunga tulip ditangan pemuda itu terjatuh ke lantai.


" Kak. " Moza menatap pemuda itu dengan tatapan sangat terkejut.


" Kamu ?!! " Begitu pula sebaliknya yang terlihat dari mata elang milik Hega.


Dan dari sinilah babak baru drama kisah cinta antara Moza dan Hega akan dimulai.


๐Ÿ’™๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿงก๐Ÿ’œ๐Ÿ’™๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿงก๐Ÿ’œ


Semoga masih dapat feel nya yah....


Selamat Membaca ๐Ÿ˜Š


Jangan lupa tinggalkan jejak ya teman - teman.... Jika ada yang dirasa kurang untuk bisa akuh perbaiki ๐Ÿ˜Š๐Ÿ™Š



Momo : InsyAllah nanti malam up lagi, kencengin komen dan vote nya ya ๐Ÿ˜Š

__ADS_1


__ADS_2