
AUTHOR
Setelah terjebak seharian bersama kakak beradik itu, Moza masihbharus dengan sukarela mengikat janji dengan gadis kecil itu untuk memenuhi permintaan Rania jika ingin bertemu.
Dan Hega menggunakan kesempatan itu semaksimal mungkin, beberapa kali mendatangi Moza di gallery H - Mo, menjemput di kampus atau datang langsung ke kosan gadis itu.
Deana yang mengamatipun awalnya bingung dengan apa yang dilakukan pemuda itu, bahkan sempat protes pada Hega kenapa terus-terusan datang dan menemui sahabatnya.
Tapi Moza sendiri yang akhirnya menjelaskan pada sahabatnya itu jika dia tidak akan menghindar lagi. Karena menghindar tidak lantas bisa membuatnya berhenti mencintai pemuda itu seketika.
Julian yang peka dengan apa yang sedang terjadi menjadi pendukung utama sahabat dan boss nya itu. Tanpa diminta oleh Hega, Julian menjadi garda depan yang menjaga Moza dari pria-pria yang mendekatinya terutama di kampus.
โข
โข
๐๐๐
Pukul 7 malam, Julian bersama kelima sahabatnya sudah duduk manis di salah satu sudut kafe. Setelah sekian lama, Enam Sekawan kembali berkumpul.
Karena ini bukan weekend, jadi kafe tidak terlalu ramai dan tidak ada jadwal life music disana.
Karena sudah lama tak bertemu, begitu datang langsung saja terjadi obrolan yang seru satu sama lain. Moza dan Dimas juga sudah tidak secanggung seperti beberapa minggu yang lalu.
Kini keenamnya benar-benar terlihat akrab satu sama lain.
" Ayo kita main game buat seru-seruan. "
" Hah... Palingan game lo itu lagi-itu lagi Jul. " Omel Deana yang tahu betul game andalan Julian, Truth Or Dare.
" Lah emang napa sama tuh permainan ? Anggap aja sebagai media kita saling memahami rahasia masing-masing. "
" Dasar tukang kepo rahasia orang lo Jul. " Ejek Deana sinis.
" Halah.... Palingan lo takut rahasia lo ketahuan sama gue kan ? " Balas Julian menyeringai.
" Cih... Ya lo kali yang punya banyak rahasia memalukan dalam hidup lo ? " Deana masih tak mau kalah.
" Hahaha... Anggap saja begitu, jadi kenapa lo yang takut secara gue yang menurut lo punya banyak rahasia memalukan aja gak takut tuh. "
" Serah lo aja. " Jawab Deana malas.
" Gak boleh mundur ya. Itung-itung biar kita sama-sama tahu rahasia masing-masing, udah lama ini sahabatan masa masih gak percayaan sama temen. " Bujuk Julian dijawab anggukan setuju.
Mereka duduk melingkar di meja bulat berukuran sedang. Julian memutar botol di tangah meja, semuanya tampak sedikit gugup menunggu siapa yang akan menjadi korban pertama.
Botol diputar searah jarum jam oleh Julian, mulai, dari Moza, Deana, Renata, Dimas dan Amira kemudian kembali ke Julian.
Putaran pertama botol berhenti dan ujung botol mengarah pada Dimas.
" Yah, yang punya kafe jadi korban pertama. Lo pilih apa Dim ? Truth or Dare ? " Renata menyela, Dimas sedikit grogi, tampak memegang tengkuknya cemas dengan pertanyaan yang akan diajukan sahabat-sahabatnya.
" Truth. " Jawan Dimas tegas.
" Oke, siapa nih yang mau nanya sama Dimas ? " Tanya Julian.
" Gue aja. " Renata mengangkat tangannya antusias.
" Hahaha.... Siap-siap lo Dim, nih anak suka menusuk kalo tanya, awas rahasia lo jebol sama dia. " Celetuk Julian disambut tawa dari teman-temannya.
" Mau nanya apaan lo Re ? " Tanya Dimas pasrah.
" Lo udah move on gak dari Momo ? " Tanya Renata dengan eskpresi watados nya.
__ADS_1
Jleb...
Pertanyaan Renata sontak mendapat pelototan dari Moza.
" Kenapa bawa-bawa aku si ? " Protesnya.
" Hehehe.... " Renata hanya meringis tanpa dosa.
" Gue masih suka sama Momo, gue masih berusaha move on meskipun belum berhasil. " Jawab Dimas sedikit kikuk.
" Yah gue kira lo udah move on, secara kalian tampak biasa-biasa saja gitu sekarang gak canggung lagi. "
" Emang kenapa kalo Dimas udah move on Ren ? " Tanya Amira dengan polosnya.
" Hehe.... Gak papa si, penasaran aja. " Jawab Renata merona.
" Udah sana puter lagi botolnya. " Omel Renata kemudian mengalihkan pandangan teman-temannya.
Dimas yang giliran memutar botol, dan kali ini tutup botol mengarah pada Julian.
" Rasain lo Jul, kena kan lo. Xixixi.... " Ejek Renata.
" Lo balas dendam Dim ? " Omel Julian dan Dimas hanya mengangkat kedua bahunya tanpa merasa bersalah.
" Gue pilih Dare. "
" Yah.... Yang punya paling banyak rahasia takut nih kebongkar rahasianya yang memalukan. Bener gak Dea ? " Lagi-lagi Renata mengejek dan Deana hanya nyengir kuda.
" Serah lo Ren. Jadi apa tantangannya ? " Julian menantang dengan percaya diri.
" Siapa yang mau kasih tantangan nih ? " Tanya Renata keempat sahabatnya menggeleng.
" Yah masa gue lagi coba. "
" Kita kan udah temenan lama Jul, pasti lo sayang kan sama kita. Dih ge er gue, haha... "
" Pasti dong, kalo gak sayang ngapain gue lebih milih kalian daripada mantan-mantan gue. " Seloroh Julian keceplosan membuat dia mendapati tatapan penasaran dari kelima sahabatnya.
" Dan gue paling sayang sama lo kok Deana cantik. " Ucapnya lagi mengalihkan tatapan penasaran sahabatnya.
" Cih.... " Decak Deana memutar bola matanya jengah dengan gombalan pemuda itu.
" Eh...Lanjutin Dea. " Balas Julian.
" Dari kita berempat, kak Dimas gak termasuk ya. Tunjukkan cara lo ngehibur jika ada salah satu diantara kita yang patah hati. Boleh dengan ucapan ataupun perbuatan ya, tapi dilarang keras skinship. " Tegas Deana memberi batasan sebelum pemuda itu melunjak.
Jika lo emang gak ada rasa sama Momo, dan apa yang lo katakan sama Bang Bara tempo hari itu gak hanya berlaku buat Momo. Gue mau lihat apa lo berani tunjukin di depan kita semua. Apa semua sahabat lo memiliki tempat yang sama berharganya seperti lo memperlakukam Momo. ~ Deana ~
" Yahhh... Pakai skinship lah, kan biar lebih dramatis... " Protes Julian kecewa.
" Modus lo. " Cibir Deana.
" Hahahaha....." Julian terbahak.
" Buruan Julian. " Omel Renata.
" Bentar kali, gue lagi mendalami karakter nih. " Balas Julian ikut mengomel.
Julian menghadap ke arah gadis disampingnya, menggenggam tangan gadis itu, Moza sontak tercekat sesaat.
" Eh jangan gila kamu Jul. " Moza memundurkan badannya menjauhi Julian mencoba menarik tangannya tapi gagal.
" Yah kan lo sama Dimas yang abis patah hati, masa gue gombalin Dimas sih ? Idih... " Protes Julian.
__ADS_1
" Ya jangan aku juga kali. " Tolak Moza.
" Biar lebih menghayati Momo sayang. Lagian pegang tangan doang, kemarin malah gue gendong dan peluk, lo mana ada protes. "
Goda Julian membuat keempat sahabat perempuannya menunjukkan ekspresi ingin muntah, sedangkan Dimas hanya geleng-geleng kepala saja meskipun hatinya sempat iri pada kedekatan Moza dan Julian.
Andaikan kedekatannya dengan gadis itu bisa seperti itu, tapi sudah mustahil memiliki hubungan persahabatan dengan Moza hingga seakrab itu.
Duh..... Bang Hega gak bakal lihat kan ?! Bisa mamp*s gue kalau ketahuan gue pegang-pegang calon bininya.
Julian melihat sekeliling, memastikan tak ada penampakan si boss di sana.
Gak mungkin juga Bang Hega nongol disini kan, pasti lagi istirahat dia secara besok kan mau berangkat ke Jepang.
Batin Julian lagi lega saat yakin tak melihat sosok si boss nya yang mengerikan ketika marah itu, dan tentu saja Julian tak mau menjadi korban amukan yang mengerikan itu.
" Udah ah lo diem aja Mo. Bentaran doang. " Omel Julian.
Julian mulai menyusun kalimat demi kalimat di kepalanya, menarik nafas dalam sembari memejamkan mata. Sesaat kemudian membuka matanya dan berdehem membuka suara.
" Ekhem..... Mo, gue tahu jatuh cinta adalah hal yang sulit buat lo. Gue juga tahu jika saat ini hati lo sedang terluka, tapi lo harus selalu ingat jika gue selalu ada buat lo. Jika hati lo tak kunjung sembuh, jika hati lo tak kunjung menemukan belahan jiwa lo. Gue rela menjaga lo selamanya dan gue pastikan gue akan membuat lo bahagia meskipun tanpa cinta. Jika hari itu datang, gue Julian Adiputra akan memegang janji gue buat hanya melihat lo di mata gue. Menyimpan nama lo di hati gue, dan memasang foto lo di buku nikah gue. Menjadi pasangan seumur hidup gue. " Ucap Julian dengan nada serius, kemudian diam-diam melirik ke arah gadis di samping Moza, Deana.
Glek....
Seketika hening, Dimas tercekat pada keberanian Julian. Sedangkan Amira dan Renata terlihat terpukau mendengar kalimat sahabatnya itu. Tak menyangka tipe bengal yang selalu pecicilan dan seenaknya sendiri itu bisa mengucapkan kalimat sesweet itu.
Sedangkan Deana, entah apa yang dirasakan gadis itu saat ini. Deana menggigir bibirnya sendiri, hatinya seperti teriris.
Lo beneran gila Julian. ~ Deana ~
" Dasar sinting. " Omel Moza menarik tangannya, kemudian menoyor dahi Julian dengan telunjuknya.
" Hahahaha.... Gue bikin kalian terharu ya. " Ucap Julian memainkan alisnya kearah Amira dan Renata yang masih menatapnya sendu.
" Mo, jangan jatuh cinta sama gue loh, bisa bonyok gue entar kalo lo sampe kesengsem sama gue. Hihihi.... " Goda Julian melirik Moza.
" Idih.... Never. " Cibir Moza dibalas cengiran Julian dan gelak tawa teman-temannya.
๐๐๐๐๐
Julian Adiputra : Maaf Bang Hega, gue cuma pegang bentaran kok calon bini abang.... ๐๐๐
๐
Kalau ada modelan Julian ngajak nikah gimana ya ?
Tapi gak pake cinta ya, soalnya abang Lian trauma sama yang namanya hubungan yang mengandung cinta.
( Lian : panggilannya Julian kalo di rumah, lebih keren daripada Jul kan ?! Tuh ulang Renata gesrek yang bikin panggilan ngasal ๐๐๐ )
๐
๐๐๐
๐๐๐๐งก๐โค๐๐๐๐งก๐โค
Bantu VOTE agar karya ini naik RANK yah....
Terima kasih ๐๐๐๐
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐๐๐๐๐
__ADS_1