
AUTHOR
Tiba hari dimana para dara jelita akan bertemu sesuai dengan kesepakatan mereka, membahas perihal rencana untuk membuka sebuah butik yang akan mereka kelola bersama.
Moza keluar dari kamar kosnya, tampak masih enggan melangkahkan kakinya, berjalan agak malas dan duduk di salah satu kursi rotan di ruang tunggu tamu. Menunggu abang ojol yang dipesannya beberapa waktu lalu.
Tak lama ojek online pesanannya datang, masuk ke arah taman kosan setelah mendapat ijin dari satpam.
" Dengan mbak Moza. " tanya driver ojol.
" Benar Mas, saya. "
" Sesuai aplikasi ? " tanyanya lagi dan hanya dibalas gadis itu dengan anggukan.
Setengah jam perjalanan menuju sebuah mall tempatnya janjian bertemu dengan ketiga sahabatnya.
Ketiga temannya sudah terlihat duduk dan memesan beberapa makanan ringan beserta minuman.
Moza langsung duduk di salah satu kursi kosong disamping Deana, meletakkan tas dipangkuannya, kemudian menyeruput es coklat yang sudah dipesankan sahabatnya.
" Kalian sudah lama nunggu ? "
" Enggak juga. " Jawab ketiganya hampir bersamaan.
" Jadi gimana kelanjutan pembicaraan kita tempo hari. Lo udah pikirin kan Mo ? " Tanya Renata bersemangat.
Moza hanya menggangguk pelan, kemudian tampak kurang bersemangat merespon. Karena dia tahu ide Renata sebenarnya sangat bagus, tapi tidak akan mudah merealisasikannya.
Butik ? ? ? Memangnya buka butik segampang buka toko sembako ? Bikin toko sembako aja butuh modal gede, apalagi butik.
Gumam Moza dalam hati.
Dan yang ada di dalam kepala Renata tentunya bukan butik biasa, melihat memang dari hasil goresan tangan sang sahabat gadis penggila fashion itu tahu jika semua karya yang dianggap iseng oleh temannya itu tidak akan cukup dengan sekedar membuka butik biasa.
Beberapa lama Renata menggambarkan beberapa rencananya, bagaimana produksinya, lokasinya dan marketingnya.
Untuk produksi sudah dipercahkan di awal pembicaraan mereka di kosan beberapa saat yang lalu. Jika mereka bisa bekerja sama dengan perusahaan konveksi milik keluraga Amira.
Dan untuk marketing, bukankah jaman sekarang mudah beriklan dengan media sosial.
Apalagi Renata cukup populer di dunia maya, follower nya bahkan sudang hampir setara dengan model dan artis papan atas negeri ini.
Dan hanya tinggal masalah tempat yang mereka belum menemukan titik terang.
Serempak mereka berempat tampak dalam pikiran mereka masing-masing. Sampai tak sadar ada seseorang tengah mendekat kearah meja mereka.
" Dek. " Sapa pria yang tak lain adalah Bara, mengagetkan Deana dengan tepukan di pundaknya.
Begitu pula ketiga gadis lainnya yang tak kalah kagetnya.
__ADS_1
" Abang ngagetin. " Ucap Deana sambil menepuk lengan abangnya.
" Lagian ngapain kalian pada bengong gitu, bibir manyun gak jelas. Kalo lagi ngehalu di rumah aja. " Goda Bara gemas sambil kemudian menyeruput es mocca di hadapan Deana.
" Ihhh abang kebiasaan, minuman aku ituh... " Decak Deana sebal dengan kebiasaan buruk sang abang yang suka nyosor makanan atau minumannya.
" Tinggal beli lagi dek, abang keburu aus...." Jawab pria itu santai.
" Lagian napa kalian pada bengong gitu ? Kesambet setan mall apa ? " Tanyanya lagi penasaran.
" Ini bang, lagi cari tempat buat usaha yang sewanya murah tapi tempatnya bagus. " Jawab Renata.
" Emang mau usaha apaan kalian ? Rumah curhat ? " Goda pria itu lagi.
" Abang..... " Teriak Renata dan Deana bersamaan membuat beberapa pengunjung lainnya menoleh ke arah meja mereka dan Bara malah menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.
" Aduhhh .... Ngapain pake teriak si ? Iya maaf, mau buat usaha apa ? "
" Renata mau buka butik bang. " Jawab Amira santai.
" Ih kita Mira, bukan cuma gue.... " Gerutu Renata.
Kemudian Deana menjelaskan sedikit garis besar tentang rencana mereka pada pria itu. Bara mendengarkan dengan serius, sesekali tampak mengangguk-angguk dan mengelus dagunya seolah memikirkan sesuatu.
" Kalo di mall mau gak ? " Celetuknya kemudian.
" Disini ? " Jawabnya santai sambil kemudian meneguk minuman botol yang tadi dipesannya.
Amira, Deana dan Renata yang tadi sempat antusias kembali lesu, menundukkan wajah mereka dan mengaduk-aduk minuman mereka dengan sedotan.
Sedangkan Moza masih tampak datar, karena dia tahu tak akan semudah itu juga kali.
*Fix halu ni orang, emang nih mall punya moyangnya apa ? Aku gak ikutan*. ~Moza~
" Kenapa ? " Tanya Bara heran melihat ekspresi ketiga gadis itu.
" Abang tahu gak ini mall apa ? " Tanya Deana yang tahu jika ini adalah salah satu mall milik anak perusahaan mall group terbesar di negeri ini bahkan ada cabangnya di luar negeri.
Meskipun bukan mall utama, tapi mereka tahu pasti jika sewa tempat ini tak akan mampu mereka jangkau.
" Tahu. " Jawab Bara santai.
" Idih abang ngeselin, kalo tahu kenapa coba masih bilang gitu ?" Gerutu Deana makin kesal sambil memukul abangnya.
" Emang kenapa si ? " Tanya pria itu masih tak mengerti.
" Idih abang mana kita mampu bayar sewanya.... " Sambar Renata dengan nada kecewa.
" Ya gak usah bayar. " Lagi-lagi dengan santainya pria tampan itu menjawab gerutuan gadis-gadis yang dianggapnya sangat menggemaskan itu.
__ADS_1
" Mana bisa gitu ? " Tanya Amira.
" Ya bisa, kan tuh tempat punya abang.... " Jawabnya santai sambil kembali mengangkat botolnya dan hendak meneguk minumannya namun gagal karena botolnya hampir saja terlempar saat mendadak mendapat pelukan dari dua gadis yang tiba-tiba berdiri dan berhambur ke arahnya.
" Abang is the best. " Ucap Deana dan Renata kompak.
Sontak saja kejadian itu mengundang perhatian banyak mata pengunjung yang tengah duduk di area food court ataupun yang sedang berjalan melalui mereka. Banyak sekali yang berbisik-bisik, beberapa malah berkomentar terang terangan.
Ih ganteng banget ya, pantesan pacarnya banyak. ~Netizen1~
Pasti tajir tuh pacarnya dua cantik-cantik. ~Netizen2~
Gue mau dong jadi yang ketiga. ~Netizen3~
Duh gak malu napa dilihat banyak orang. ~Netizen3~
Hei lihat tempat woy. ~Netizen4~
Dan masih banyak lagi komentar - komentar netizen lainnya serta bisik-bisik tetangga yang tak kalah nyinyirnya melihat insiden yang baru saja terjadi.
Amira dan Moza hanya melongo melihat kelakuan kedua temannya.
" Kalian berdua kok gak ikut peluk abang si ? " Goda Pria itu setelah berhasil lepas dari tingkah menggemaskan Renata dan Deana.
" Bukan mukhrim bang. " Jawab Amira sopan, Bara mengalihkan pandangannya pada gadis manis yang dari tadi tampak paling anteng-anteng saja. Hendak menunggu jawaban kemudian tersadar sesuatu.
" Kalo lo dek, gak usah aja, abang yang takut, ntar ada yang jambakin rambut abang. " Ucapnya sambil cengengesan membuat keempat gadis itu menatap padanya dengan tatapan tak mengerti.
☘☘☘
☘☘☘☘
^^ Ada banyak jalan mewujudkan cita-cita. Jangan berhenti berharap, karena Tuhan sudah mempersiapkan hasil yang terbaik jika kita juga memberikan usaha yang terbaik tuk menggapainya. ^^ ( Sherinanta )
☘☘☘
☘☘☘☘
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Terima kasih 😊😘😘😍
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕
__ADS_1