
AUTHOR
Kabar suksesnya kerjasama antara perusahaan mereka dengan perusahaan kosmetik terbesar di negeri ini sudah menyebar luas di seluruh penjuru kantor.
Semua karyawan tampak bersemangat, terutama karyawan yang menjadi team inti yang mengerjakan proyek tersebut. Disebut-sebut jika bonus dengan nominal yang menabjubkan akan mengalir ke rekening mereka bulan ini.
Meskipun ini juga merupakan hasil kerja keras mereka, namun tak tebantahkan jika bukan karena sentuhan akhir sang Presdir, maka keberhasilan yang dicapai tidak akan semulus ini.
" Memang punya Presdir tampan dan sempurna itu benar-benar suatu karunia ya. " Celetuk salah seorang karyawati yang ikut dalam pengarjaan proyek.
" Betul, bagaimana bisa membuat klien menyetujui kontrak tersebut tanpa adanya revisi apapun, bahkan semua point kontrak yang tampak mustahil itu benar-benar lolos sesuai yang dikatakan Presdir. " Respon karyawan lainnya.
Kesuksesan ini sebenarnya bukan untuk yang pertama kalinya, tapi memang bisa dianggap swbagai kontrak store tenant terbesar pertama yang pernah ditanda tangani.
Kehebohan beritanya juga sempat dibumbui perihal gosip tentang Nona dari keluarga Grace yang selama ini mengejar-ngejar Presdir mereka, meskipun bahan gosip tersebut tidak bertahan lama karena tidak ada yang berani terlalu dalam membicarakan kehidupan pribadi atasan mereka yang memiliki aura membunuh dalam kemarahannya itu.
Diluar keriuhan yang membicarakan kehebatan sang Presdir dalam menangani klien perusahaan, disisi lain pria yang tengah menjadi bahan perbincangan itu justru tampak fokus di meja kerjanya.
Tak menghiraukan para karyawan yang mengelu-elukan kesuksesannya, malah sedang duduk tenang di kursi kebesarannya. Sesekali bermain-main dalam pikirannya sendiri, sudah dua hari sejak rapat perundingan dengan pihak Berlin Corporation.
Dua hari yang terasa bagaikan dua minggu baginya, menahan diri lebih tepatnya menahan hatinya untuk tidak berlari mencari sosok gadis yang entah sejak kapan mulai membuatnya merasakan yang namanya kerinduan.
Perlahan ditekannya beberapa tombol di telepon yang ada di sisi kiri mejanya. Menyambungkannya dengan meja sekretaris di depan ruangannya.
" Anita, bawakan saya laporan persiapan penanda tanganan kontrak dengan Berlin Corporation dan minta Pak Bara datang keruangan saya. "
" Baik Presdir. " Jawab wanita itu dari suara telepon.
•
•
🍒🍒🍒
" Jadi bagaimana dengan pesta perayaan kerjasamanya ? " Tanya Bara setelah mereka membahas pertemuan antara kedua belah pihak untuk penanda tanganan kontrak kerjasama tersebut, yang disepakati akan diadakan satu minggu lagi.
" Lakukan seperti biasanya. " Jawabnya tegas dan datar.
__ADS_1
Anita masih fokus pada layar ipad nya, mengetik point-point penting perihal persiapan acara sesuai intruksi dari kedua atasannya itu.
" Seperti biasanya ? " Tanya Bara meyakinkan.
" Hn. "
" Jangan bilang lo bakal kabur dari pesta dan melempar peran lo ke gue lagi ?! " Bara menerka-nerka curiga.
Bukankah itu sudah pasti. ~Hega~
Sial gue terjebak, lo yang dikejar ular malah gue yang jadi tumbal. Meskipun gue gak keberatan sih main-main sebentar dengan ular seksi yang satu ini. ~Bara~
Selamat berjuang Pak Bara, saya tahu anda pasti juga cukup bahagia bisa bertemu nona Grace yang seksi itu. ~Anita~
Memang sudah menjadi rahasia umum jika Presdir Muda itu tidak terlalu suka berada di keramaian pesta. Kegiatan yang dianggapnya tidak cukup memberikan keuntuntungan baginya, membuang-buang waktu dengan berbasa-basi dan berbicara sesuatu diluar bisnis.
Jika adapun pembicaraan bisnis, mungkin hanya sepersekian persen saja itupun lebih seringnya jika orang-oranglah yang berusaha mendekatinya untuk kepentingan keuntungan diri mereka sendiri. Jelas saja siapa yang tidak tahu level perusahaan sekelas Golden Imperial Group.
Bayangan keuntungan jika bisa menjalin kerjasama dengan perusahaan itu saja sudah membuat mereka berlomba-lomba mendekati dan menjilat Presdir Muda itu.
Namun siapa sangka berurusan dengan anak muda yang mereka anggap masih bau kencur dalam dunia bisnis tersebut nyatanya lebih sulit daripada menjalin hubungan baik dengan Presdir sebelumnya yaitu Suryatama Saint.
Jangankan untuk menjalin hubungan baik, nyatanya untuk sekedar mencari kesempatan bertemu dengan pemuda itu bukanlah hal yang mudah. Sosok yang tidak menyukai pesta, maka tentu saja dia akan melakukan segala cara untuk menghindari acara yang menurutnya merepotkan itu.
Jika terpaksa datang hanyalah karena paksaan sang kakek yang tidak bisa ditolaknya, namun tidak akan lama, 15 menit adalah batas toleransi kesabarannya berada di tempat yang tidak membuatnya nyaman.
Maka kalau sudah seperti itu siapa lagi yang akan dilemparnya untuk menggantikan dirinya. Pastilah sang wakil sekaligus sahabatnya, Bara Prasetya. Pria yang berkebalikan sifat darinya, Bara menyukai pesta, lebih tepatnya menikmati dikelilingi banyak wanita cantik.
Tentu sudah dipastikan jika dengan senang hati dirinya akan menggantikan posisi sahabatnya itu, membantunya kabur dari pesta dan mengalihkan perhatian para gadis dengan rayuan-rayuannya.
Tapi sepertinya kali ini tidak bisa seperti itu.
" Kali ini lo harus datang Ga ! " Ucap Bara mengingatkan.
" " . Pemuda di hadapannya hanya mengerutkan dahinya.
" Ini kontrak besar yang dibuat Berlin Corporation untuk putrinya, dan pasti lo tahu alasannya kan ? " Jelas Bara tampak khawatir bagaimana jika pihak Berlin Corporation tersinggung atas ketidak hadiran sang Presdir.
__ADS_1
" Anita, coba ingatkan Pak Bara tentang nilai denda yang harus dibayarkan oleh klien jika mereka membatalkan kontrak ini ! Karena sepertinya atasanmu yang satu ini terlalu fokus pada pesta dan wanita sehingga melupakan point tersebut. " Ucapnya dengan nada santai.
" Baik.... " Belum sempat melanjutkan kalimatnya Bara sudah memotong ucapan sekretaris sahabatnya itu.
" Tidak perlu, ingatan gue masih normal, apalagi itu nominal yang tidak mudah lupakan. " Sambarnya sambil mengibaskan tangan kirinya ke arah Anita.
" Anita kamu boleh pergi, lakukan sesuai rencana, jangan ragu meminta bantuan pada divisi lainnya. " Perintah Hega pada wanita yang tanpa sadar masih bengong di tempat duduknya.
" Ah... Iya, baik Presdir, saya permisi. " Pamitnya kemudian dan mendapat anggukan dari atasannya itu.
Bara masih tercengang, memikirkan kembali keputusan sahabatnya. Dia tahu pria di sampingnya itu tidak akan merubah apa yang sudah ia putuskan.
" Lo yakin sama keputusan lo ? "
" Seratus persen yakin. "
" Tuh cewek pasti ngarepin kehadiran lo, bukannya itu tujuan dia memilih store kita, supaya bisa sering ketemu lo. " Kembali Bara mengingatkan tujuan Berlinda, membuat Hega sesaat kembali kesal.
" Di kontrak tidak dituliskan jika Presdir akan selalu memenuhi undangan pertemuan dengan klien. Buat apa gue punya banyak karyawan kalau apa-apa harus gue yang ngerjain. Bukannya lo sendiri yang pernah bilang gitu Bar ?! " Ucapnya dengan bahasa santai sambil.menyeringai kearah sahabatnya itu.
Sial, senjata makan tuan kalo gini. Ngapain gue bilang kayak gitua segala. Batin Bara kesal.
" Lagipula dimana lagi mereka bisa mendapatkan exclusive store dengan kualitas seperti yang kita miliki. " Tegasnya lagi dengan senyum dinginnya.
" Okelah, apa mau lo aja boss. " Gerutu Bara pasrah dibalas senyum kemenangan dari pria di hadapannya.
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Terima kasih 😊😘😘😍
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕
__ADS_1