
AUTHOR
" Kak, kamu kenapa tiba-tiba melamun ? Apa yang kakak lihat tadi ? " Tanya Ryu melihat sang kakak baru saja menatap ke satu arah dengan tatapan kosong, mencari-cari objek yang membuat kakaknya sempat kehilangan fokusnya.
Aku tidak salah lihat, itu mobilnya. Tapi kenapa dia tidak turun dan menemuiku ?
Moza yang baru saja melihat mobil yang dikenalnya melawati tempat ia berdiri.
" Ah tidak apa. Kamu sudah makan ? " Tanyanya pada sang adik yang dijawab gelengan kepala oleh pemuda itu.
" Eh... Gimana kalau makan siang di kafenya kak Dimas ? " Deana yang tahu apa yang baru saja membuat sahabatnya itu melamun sesaat mencoba mengalihkan perhatian Ryuza agar tak memburu gadis itu dengan pertanyaan penasarannya.
Nyatanya kedatangan Ryuza bukan hanya sekedar mencari informasi tentang kampus kakak nya itu, dimana dia berencana untuk mendaftar disana agar bisa dekat dengan kakaknya.
Namun ada alasan lain yang membuat pemuda itu datang, sesuatu yang sempat mengganggu pikirannya selama bebarapa hari ini atau mungkin bahkan sudah membuatnya resah selama satu bulan terakhir ini.
Beberapa kali berbicara dengan kakaknya melalui video call, ada sesuatu hal yang tampak berbeda dari sang kakak.
Kakaknya yang terlihat cuek tapi sangat menyayanginya itu, yang selalu berusaha menutupi rasa sayangnya pada sang adik. Yang selama ini seolah menahan diri untuk mengekspresikan kasih sayangnya pada adik bungsungnya.
Untuk membuat sang kakak mengatakan kalimat-kalimat sayang saja, Ryuza harus sangat bekerja keras. Moza harus mendapat desakan manja dan menyebalkan dari adiknya itu yang akhirnya akan membuat gadis itu menyerah dan mengatakan hal yang selalu ingin didengar adiknya.
Tapi sejak pembicaraan di telepon saat ulang tahun kakaknya itu, Moza beberapa kali menunjukkan kasih sayangnya pada sang adik atas kemauannya sendiri. Tanpa Ryuza harus merengek manja dan pura-pura merajuk dengan tingkahnya yang menggelikan dimata kedua orang tua dan juga gadis itu.
Bahkan Moza yang hampir tidak pernah berinisiatif menelepon sang adik, beberapa kali justru aktif melakukan panggilan telepon pada adiknya itu. Yang pasti membuat Ryuza sangat bahagia dengan apa yang dilakukan sang kakak.
Bukan tanpa alasan Moza selama ini bersikap sedikit dingin pada adiknya, diapun tersiksa tidak bisa meluapkan dengan bebas kasih sayangnya pada saudara satu-satunya itu.
Gadis itu masih memiliki trauma berat, dia tidak ingin kasih sayang yang akan dia tunjukkan menjadi boomerang bagi adiknya.
Bukan berarti dia merasa begitu pada kasih sayang almarhum kakaknya, tentu saja tidak seperti itu.
Moza hanya berharap jika sang adik tidak terlalu bergantung pada sang kakak, jug tidak ingin pemuda itu hanya mengutamakan kebahagiaan Moza.
Sebagai kakak, Moza ingin Ryuza memiliki waktu untuk fokus pada dirinya sendiri dan juga kebahagiaannya. Tidak ingin apa yang terjadi pada kakak sulungnya dimasa lalu kembali terulang lagi.
Jadi gadis itu selalu berusaha membatasi dirinya setiap kali mengekspresikan cintanya pada sang adik.
Ryu yang sempat merasa sangat bahagia mendapati perhatian kakaknya yang diluar kebiasaan gadis itu, akhirnya mulai curiga jika ada sesuatu yang terjadi pada sang kakak.
Pasalnya beberapa hari kemarin, kakaknya itu hampir tidak ada kabar, dan saat Ryuza menghubunginya di telepon, terdengar suara sang kakak terasa berat seolah sedang terbebani sesuatu.
__ADS_1
Bukan saudara jika mereka tak memiliki kedekatan hati, Ryuza yang selalu sensitif terhadap suasana hati kakaknya sejak mereka sama-sama tumbuh dewasa, tahu persis jika tengah terjadi sesuatu pada kakaknya itu.
Yang pastinya dia tahu jika sang kakak tidak akan menceritakan tentang masalah pribadinya. Jadi tentu saja dia sendirilah yang harus datang mencari tahu.
" Kamu pulang kapan dek ? " Tanya Moza tanpa basa-basi saat mereka baru saja duduk di kafe Dimas dan memesan makanan.
" Kakak jahat sekali padaku. Aku kan baru datang, kenapa malah ditanya kapan pulang sih ? Aku ini adikmu atau bukan sebenarnya ? " Gerutu Ryuza manja yang terlihat imut dimata Amira dan Renata yang juga sudah tiba disana.
Namun justru terlihat menggelikan dimata Deana dan juga Moza tentu saja.
" Adik lo imut sekali sih Mo. " Ucap Amira.
" Iya nih, kalau lo gak mau sini biar jadi adek gue aja. " Sambar Renata tak mau kalah.
Deana dan Moza memutar bola mata mereka jengah, tersenyum getir mendengar komentar menggelikan kedua sahabatnya itu.
Hahahaha..... Imut kalian bilang ? Kalian belum tahu saja aslinya gimana. ~ Moza ~
Lihat saja, sebentar lagi kalian akan menyesali ucapan kalian barusan. ~ Deana ~
Mendengar komentar dari dua gadis asing, mode cool Ryuza seketika aktif.
" Siapa sih, ngikut aja. " Ucapnya datar, menatap dingin kedua gadis dihadapannya.
Mendengar nada bicara adik sahabat mereka yang berubah 180 derajad dalam sekejap itu, membuat Renata dan Amira menelan ludah mereka, sedikit bergidik ngeri melihat tatapan tajam yang seolah berkata ' jangan ganggu gue '
Tuh kan kalian kaget. Makanya jangan main menilai aja sebelum tahu aslinya. Menyesal kan kalian menggunakan kata 'imut' untuk adikku ini. Hihihi. ~ Moza ~
Hahahaha..... Duh lihat tuh ekspresi mereka berdua, sumpah lucu abis....
Meskipun ini bukan pertama kalinya gue lihat ekspresi seperti itu sih kalau menghadapi bocah tengil ini.
Gue aja udah sepuluh tahun kenal nih anak masih berasa pengen nonjok ajah tuh muka ngeselinnya.
Tuh muka cuma manis manja di depan kakaknya doang....
Selebihnya muka iblis..... ~ Deana ~
" Yang sopan dek, mereka kan temen-temen kakak. " Omel Moza sambil menjitak kepala sang adik.
" Auwww... Sakit kak, kakak memukulku karena orang asing. "
__ADS_1
Rintih pemuda itu mengelus kepalanya yang menjadi korban jitakan sang kakak, pura-pura merintih padahal tak merasakan sakit sama sekali.
Seketika merubah ekspresi dingin menjadi manja di depan sang kakak. Dan berubah menjadi dingin kembali menghadapi orang lain.
" Sudah kakak bilang mereka sahabat kakak dek. Jadi sopanlah. " Omel Moza lagi.
" Aku kan tidak tahu, mereka bahkan tidak memperkenalkan diri. Memangnya aku dukun bisa tahu mereka itu siapa. " Protes Ryuza pura-pura ngambek.
" Ini Amira dan Renata, sahabat kakak. Jadi kedepannya bersikap baiklah pada mereka. Mengerti ? " Ucap Moza menekankan dua kata dalam kalimatnya 'bersikap baiklah' .
Pemuda itu tak merespon perintah kakaknya.
" Hah.... Mana bisa dia nurut gitu aja Mo, sama gue yang udah lama kenal aja masih belagu dia. " Cibir Deana melihat kediaman Ryuza.
" Ryu, kamu dengar apa kata kakak kan ? " Panggilan lembut kakaknya saat berbicara barusan membuat pemuda itu tak bisa berkutik dan akhirnya mengangguk pasrah.
" Baiklah kak. "
" Kamu memang adik terbaikku. Kakak menyayangimu. " Ucap Moza sambil sedikit mengelus kepala pemuda itu.
Kalimat terakhir dan juga belaian sayang Moza semakin menghipnotis sang adik dan membuatnya bersikap sangat manis bahkan pada Deana yang selama ini seperti musuh baginya. Karena Ryu menganggap Deana selalu memonopoli kakaknya. Memang dasar adik posesiv.
Ketiga gadis yang menyaksikan interaksi ajaib kakak beradik itu masih terpana di tempatnya.
Sesekali geleng-geleng kepala takjub saat melihat sang kakak seolah seperti pawang penjinak adik bengalnya, sesekali tersenyum gemas melihat tingkah imut sang adik.
" Jadi kapan kamu pulang ? " Tanya Moza kembali dengan nada datar.
" Kak... " Rengek Ryuza....
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Dukung akuh agar semangat MengHALU..... 😍😍
Terima kasih 😊😘😘😍
__ADS_1
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕