Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Buaya Pengganggu


__ADS_3

AUTHOR


BRUK....


Dan jadilah sekarang posisi Moza tepat di atas tubuh Hega, menindih Hega dengan tubuh mungilnya. Wajah mereka hampir sejajar dan kedua pasang manik mata mereka kembali bertemu.


Hega selalu menemukan cara manis untuk menggoda kekasihnya, siapapun yang mengenal Hega dengan baik tidak akan menyangka jika pemuda itu bisa melakukan hal seperti ini.


Lagi-lagi sebuah senyuman tersungging di bibir Hega, senyuman yang sangat dikenal oleh Moza. Senyuman yang selalu membuat Moza merinding saat melihatnya, namun bukan karena takut melainkan Moza seperti merasa jika kekasihnya itu sedang memiliki rencana untuk memperdaya dirinya lagi.


" Kenapa kakak tersenyum seperti itu ?! " Tanya Moza curiga, bola mata gadis itu menyipit.


" Memang senyumku kenapa ? "


" Senyum kakak yang seperti itu seperti sedang merencanakan sesuatu yang buruk untukku. " Moza bergidik.


Hega menaikkan alisnya, " Memangnya aku mau melakukan apa padamu, hm ? " Kali ini senyum mempesona tersungging di bibir seksi Hega berharap kecurigaan Moza menghilang.


" Jangan membodohi aku kak ! Aku hafal betul ekspresi kakak jika sedang merencanakan ide untuk memperdayaiku. " Gerutu Moza.


" Hahahhaa..... "


" Kenapa kakak malah tertawa ? Benar kan kak Hega sedang merencanakan sesuatu ?!


Ternyata kamu sudah mulai mengerti jalan pikiranku ya Momo sayang. Tapi tenang saja aku punya banyak cara untuk menggodamu, karena aku selalu ketagihan melihat ekspresi imutmu saat sedang kesal dan menggerutu. ~ Hega ~


Merasa gadisnya mulai curiga tak lantas membuat Hega mengurungkan niatnya untuk menggoda gadis cantik yang masih ada dalam pelukannya itu.


Lagi-lagi Hega tersenyum penuh arti, " Momo sayang,... "


" Eum... " Jawab Moza dengan nada malas.


" Lihatlah posisi kita sekarang ! Sepertinya justru kamulah yang terlihat ingin memperdayaiku. " Seringai nakal Hega menyadarkan Moza.


Moza kembali melihat posisinya yang tengah menindih tubuh Hega, " Akh.... "


Moza berusaha bangkit dari posisi yang membuatnya semakin kikuk, tapi usahanya gagal karena lengan Hega masih melingkar erat di pinggulnya yang justru membuat tubuhnya semakin menempel erat pada tubuh Hega.


" Jadi kamu mau coba posisi berciuman seperti ini, hm ? Sepertinya tidak buruk untuk pengalaman kedua. " Ucap Hega santai, sekilas senyum licik terukir di bibirnya.


" Eh.... " Moza reflek menjauhkan kepalanya dari Hega.


Satu tangan Hega masih sanggup meraih tengkuk Moza, mendekatkan wajah Moza padanya, dan Hega sedikit mencondongkan wajahnya seolah hendak ingin mencium lagi gadisnya.


GLEK....


" Akh.... Lepaskan aku kak ! " Moza meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari kuasa Hega, namun gagal karena kekuatan fisiknya jelas tidak bisa dibandingkan dengan Hega.


Hega tak bergeming, tetap mempertahankan posisi absurd tersebut, meskipun posisi tersebut diam-diam juga mulai menyiksa dirinya terutama di satu bagian tubuhnya.


Akh.... Sial, kenapa 'dia' harus bereaksi sekarang ?! Aku bisa gila jika aku masih bertahan di posisi ini, tapi aku masih belum rela melepaskannya.


Hega mengumpati dirinya sendiri dalam hati saat menyadari sesuatu dari tubuhnya mulai menegang.


Dengan nafas berat Hega kembali menarik tengkuk Moza dan menjatuhkannya di dadanya. Sedangkan kepala Hega yang tadi sedikit condong seolah hendak mencium Moza kembali dijatuhkannya ke ranjang.


" Haaahhhh.... " Hega mendengus kasar, menutup matanya sejenak dengan masih tak berniat melepaskan Moza dari pelukannya.

__ADS_1


" Kak... Lepaskan aku. " Pinta Moza lirih.


" Biarkan dulu seperti ini sebentar. "


" Kaaak.... " Rengek Moza.


" Jika kamu tidak bisa diam, aku tidak jamin apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Jadi diamlah dulu, hm ! " Hega berusaha mengatur nafas dan detak jantungnya. Menormalkan kembali tubuhnya dan menjauhkan pikiran-pikiran gila yang sempat melintas di kepalanya.


Entah berapa lama dua sejoli itu bertahan dalam posisi yang akan membuat siapapun yang melihat akan salah paham terhadap apa yang baru saja dilakukan oleh sepasang kekasih itu.


Hega dan Moza masih berpelukan di atas ranjang dengan posisi sangat intim, hingga seseorang mengetuk pintu yang seketika membuat keduanya kocar-kacir membetulkan posisi duduk mereka seperti sedia kala.


Tampak Bara memasuki kamar, Bara sudah mendekat ke ranjang, menatap Hega yang berdiri bersandar pada meja yang ada di samping ranjang Moza dengan kedua tangan dilipat di dada dan ekspresi wajah datar khasnya.


Kemudian pandangan Bara beralih menatap aneh pada Moza yang tampak sedang merapikan rambutnya dan terlihat gugup seolah kepergok habis melakukan sesuatu yang tidak boleh dilihat orang lain.


Bara yang memiliki pengalaman percintaan level tinggi langsung menyadari apa yang baru saja terjadi sebelum kedatangannya, ditambah lagi peringatan Deana saat tadi berpapasan dengannya di depan kamar.


~ Flashback ~


Bara yang baru saja mengatasi masalah Selena langsung menuju kamar Aliza dan Alina.


Biar bagaimanapun Alina adalah keluarga dari kekasihnya, jadi dia harus turun tangan menyelesaikan masalah yang dibuat oleh gadis yang nantinya juga akan jadi keluarganya kelak jika dirinya menikahi Aliza.


" Abang sudah meminta temanmu itu pergi dari Villa, bagaimanapun apa yang telah kamu lakukan juga salah. Kamu sudah dewasa, dan kamu pastinya tahu apa yang harus kamu lakukan sekarang. " Ucap Bara pada Alina yang sedang menangis sesenggukan si pelukan kakak sepupunya Aliza.


Setelah itu Barapun pergi meninggalkan dua saudara itu dan menuju lantai tiga.


Baru saja hendak memasuki kamar sahabatnya, dilihatnya Deana yang keluar dari kamar tersebut dengan berjalan mengendap-endap.


" Eisss... Busyet... Abang ngagetin. " Deana terpekik kaget kemudian mengelus dadanya.


" Lah lo ngapain dah kayak maling gitu ?! "


" Enak aja adek sendiri dikata maling. Abang mau ngapain kesini ? " Omel Deana ketus.


" Mau ketemu beruang kutub. " Jawabnya santai sembari menunjuk ke arah pintu di belakang Deana, tak memperdulikan tatapan heran Deana.


" Lebih baik abang ketuk pintu dulu sebelum masuk. "


" Kenapa ?! " Dahi Bara mengerut heran.


" Daripada ntar mata abang ternodai seperti mata polos Dea yang baru saja tercemar. " Jawab Deana bersungut-sungut.


" ". Bara masih mengerut belum paham maksud perkataan adik sepupunya itu.


" Eh... Mata abang udah gak polos lagi si, Dea lupa kalau abang udah tercemar sejak dulu kala, Hehehe.... " Sambung Deana sambil terkikik.


" Ah... Siyalan lo dek. Emang lo habis lihat apaan di dalam ?! " Bara yang mulai bisa menebak apa yang baru saja Dea lihat memancing gadis itu agar mengatakan dengan jelas insiden yang disebutnya telah mencemari mata polosnya.


" Hihihi.... Auk ah gelap, Dea mau mandi dulu. Jangan lupa abang ketuk pintu dulu ! " Ucap Deana dan ngeloyor pergi meninggalkan Bara, apalagi dilihatnya sosok yang baru saja muncul mengekori abang sepupunya itu, membuat Deana malas berlama-lama disana.


~ Flashback End ~


Bara masih menatap bergantian Moza dan Hega dengan tatapan menyelidik.


" Kalian habis ngapain ? " Tanya Bara to the point.

__ADS_1


" Bukan urusan lo. " Tatapan datar Hega mendadak berubah horor.


" Buahhahahahaha....... " Seketika tawa Bara langsung meledak melihat ekspresi jutek sahabatnya yang jelas terlihat sangat kesal seolah ada pengganggu kemesraan dirinya dan kekasihnya.


Ekspresi Hega saat ini lebih mirip srigala yang murka, yang terlihat belum puas memangsa buruannya karena datangnya buaya pengganggu yang muncul tiba-tiba.


Tawa Bara semakin tak terkontrol saat melihat wajah putih Moza yang memerah bak tomat, membuat wajah cantik gadis itu semakin merona merah saking malunya.


" Pffft.... " Melihat kekesalan di wajah Hega membuat Bara berusaha mengendalikan lagi tawanya.


" Diam lo Bar ! " Umpat Hega meraih sandal yang dipakainya dan melemparkannya tepat mengenai wajah tampan Bara sahabatnya.


" Auwh..... Sialan lo Ga main lempar aja ! Kena aset berharga gue lagi ! " Oceh Bara kesal, bibirnya sudah monyong-monyong sebal seraya mengelus-elus wajah tampannya.


Hega seperti biasa tetap datar dan acuh, sama sekali tak ada rasa bersalah pada sahabatnya.


Melihat interaksi dua sahabat di depannya membuat Moza terkikik, sedikit mengalihkannya dari rasa canggung yang tadi sempat membuatnya gugup dan salah tingkah.


Hingga pandangan mata Moza teralihkan oleh sosok yang masih terdiam di pintu kamar.


โžก๏ธ SIAPA ? Tunggu next chapter.


Maaf Aithor staminanya lagi naik turun jadi jadwal menghalunya berantakan, alhasil update nya juga gak pasti. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


โžก๏ธ VOTE nya jangan lupa ya teman-teman yang baik โ˜บ


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


...Semangat para author ada karena dukungan kalian...


...Mari dukung para penulis dalam negeri dengan memberi apresiasi berupa Like, Komentar dan Vote ya ๐Ÿ˜...


...๐Ÿ’ฎ...


...All the authors whose works you read...


...Please appreciate their efforts...


...Please support us......


...๐Ÿ’š...


...Like...


...โค...


...Comment...


...๐Ÿ’œ...


...Vote ๐Ÿ˜˜...


...๐Ÿงก...


...Follow Author ya ๐Ÿ˜˜...


...๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ...

__ADS_1


__ADS_2