
AUTHOR
Disisi lain, kembali ke ruang kerja Presdir Golden Imperial Group. Lantai 15 yang sakral, tak bisa tersentuh oleh sembarang orang.
Hanya pihak-pihak khusus yang berkepentingan atau mereka yang mendapat ijin saja yang bisa menginjakkan kaki di lantai tersebut, terutama ruang Presdir yang juga adalah tuan muda keluarga Saint.
Keluarga yang memiliki urutan pertama keluarga terkaya di negeri ini dan termasuk 10 besar di dunia. Hega tak suka jika ruang kerjanya didatangi oleh sembarang orang, petugas kebersihan pun harus diawasi secara langsung oleh sekretarisnya agar tidak ada satu barangpun yang berpindah dari tempatnya semula.
Jadi setiap pagi Anita selalu mengecek ruangan tersebut dan mengawasi cleaning service yang bertugas, memastikan semuanya sesuai standart sang boss.
Anita harus memastikan tidak ada satupun kesalahan, karena mood atasannya itu sedang dalam kode merah yang berarti bahaya. Sedikit saja ada yang tak sesuai keinginannya, maka tidak bisa dibayangkan kegilaan apa yang akan dilakukan pemuda itu.
Bukan pemecatan yang paling ditakuti oleh bawahannya, tapi tumpukan tugas yang dijamin membuat mereka akan lembur yang justru menjadi konsekuensi yang harus mereka bayar jika sedikit saja ada yang lalai dalam pekerjaannya. Benar-benar konsekuensi yang mengerikan.
Ingin mengundurkan diri ? Tentu saja banyak yang sempat berfikir untuk menyerah saja, tapi disisi lain para pencari nafkah itu pastinya merasa sangat tidak rela jika harus melepaskan karir mereka di perusahaan yang memberikan kesejahteraan sebaik ini.
Apalagi akan banyak orang lain yang mengantri untuk menggantikan posisi mereka jika mereka memilih untuk menyerah.
" Jika kalian selalu teliti dan bekerja keras, maka jangan takut akan melakukan kesalahan. Tapi jika kalian takut, itu artinya kalian tidak percaya diri dengan kemampuan kalian sendiri. Ingat, kalian bisa berada disini karena kemampuan kalian adalah yang terpilih dari sekian banyak orang yang bermimpi ingin berada di posisi kalian. "
Itulah pidato yang disampaikan Presdir muda itu saat perkenalan resmi dirinya sebagai Pimpinan tertinggi Kerajaan Bisnis keluarga Saint..
โข
โข
๐๐๐
Kembali pada Sang Presdir yang masih berkutat pada kesibukannya, patah hati memang membuat hatinya kacau balau, tapi Hega tetaplah Hega, logika berbisnisnya tetap berjalan.
Pemuda itu menggunakan seluruh kemampuan otaknya serta memeras tenaga dan menghabiskan waktunya untuk bekerja. Setidaknya seluruh perhatiannya akan tercurahkan untuk hal yang berguna, begitu pikirnya, dan tidak ada waktu kosong sedikitpun yang akan membuatnya meratapi kegagalan cintanya.
Setelah kejadian di rooftop garden beberapa hari yang lalu, pemuda itu diam-diam masih sering mengamati gadis yang dicintainya.
Sesekali melajukan mobilnya menuju kosan atau kampus gadis itu, dari kejauhan memperhatikan Moza atau sekedar melihat wajah gadis itu.
Hega masih belum bisa sepenuhnya merelakan melepas cinta pertamanya, setidaknya melihat Moza dari jauh bisa sedikit mengobati kerinduannya dan memastikan gadis itu baik-baik saja.
โข
โข
__ADS_1
๐๐๐
HEGA
Tanpa sadar hampir setiap pagi kuhentikan kendaraanku di seberang salah satu universitas ternama kota ini. Menunggu sosok gadis yang kurindukan.
Sudah hampir seminggu sejak terakhir kali aku berbicara dengannya, mendekapnya dalam pelukanku. Melihat setiap tetes air mata yang keluar dari matanya, aku belum bisa merelakannya. Mungkin tidak akan pernah ada kata rela dalam hidupku melepas gadis itu.
Setidaknya aku masih bisa melihatnya, menatap wajah cantik itu meskipun dari kejauhan, seutas senyum masih bisa kulihat dari wajahnya.
Huuffft..... Syukurlah kamu baik-baik saja, teruslah tersenyum. Jangan lagi mengingat luka yang sudah kuberikan, karena jika senyum itu memudar dari bibirmu, maka aku tidak yakin aku akan mampu bertahan.
Setelah puas melihatnya, kulajukan kembali mobilku ke kantor. Tempat dimana aku setidaknya bisa mencurahkan segala pikiranku pada sesuatu yang berguna.
Pekerjaan adalah obat terampuh untukku saat ini, tidak peduli dengan apa yang Bara katakan, jika aku mulai jadi mirip robot daripada manusia.
Segala ocehannya sudah tidak lagi berpengaruh padaku, tapi satu hal yang tidak bisa aku abaikan jika bocah itu sudah bicara. Tentu saja saat dia menyebut-nyebut nama Moza dalam ocehannya.
โข
โข
๐๐๐
AUTHOR
Ocehan Bara yang selama ini hampir selalu terdengar setiap mendapati Hega sudah duduk tenang di kursi kebesarannya dengan beberapa berkas dan laptop yang menyala.
Namun pemuda itu tak bergeming dari posisinya, kacamata masih bertengger di hidung mancungnya, menatap layar laptop dan menekan keyboard secara acak, tak sedikitpun menanggapi ocehan Bara ataupun sekedar menoleh ke arah sahabatnya itu.
" Hah.... Gue berasa angin yang tak terlihat, diabaikan dan diacuhkan. " Omel Bara lagi kemudian duduk di sofa dan menyilangkan kedua kakinya.
" Bukankah lo masih punya kesempatan Ga ? Apa lo gak mau mengambilnya meski kesempatan itu hanya satu persen ? "
" ".
Kalimat Bara sedikit menarik perhatiannya, diliriknya sekilas sahabatnya itu dengan tatapan butuh penjelasan.
" Bukankah kakek Surya bilang jika ternyata tunanganmu itu sudah punya lelaki lain yang dianggapnya lebih baik, lo bisa melepas tanggung jawab lo Ga ? " Jelas Bara mengingatkan kembali kalimat terakhir pembicaraan Hega dengan sang Kakek.
" Momo cantik rasanya belum bisa move on dari lo. Mami gue aja berusaha deketin dia sama Dimas belum berhasil juga sampai sekarang. Kasihan juga adek gue ya, tapi dia sendiri juga sih yang agak beg* gak mau move on padahal pernah ditolak. Hahaha...." Oceh Bara lagi sambil melirik jahil kearah Hega.
__ADS_1
Lihat apa lo masih bisa cuekin gue sekarang setelah dengar nama Momo cantik ? ~ Bara ~
Dan berhasil, Hega seketika menghentikan aktifitasnya, melepas kacamatanya dan beranjak dari kursinya, kemudian duduk di sofa.
" Gue gak mau terlalu berharap Bar, seperti yang kakek bilang gue bisa melepas tanggung jawab jika lelaki itu dinilai kakek lebih baik dari gue. " Ucapnya lesu.
" Iya juga sih, masalahnya apa memang ada pria yang lebih baik dari lo secara lo ini calon suami nomor satu yang paling diinginkan di negeri ini hehehe... Hega Airsyana Saint, si mister sempurna, tuan muda satu-satunya keluarga Saint. " Oceh Bara dengan membusungkan dadanya seolah sedang membanggakan dirinya sendiri sebagai sosok Hega, kemudian tersenyum jahil.
" Cih... " Hega hanya berdecak mendengar bualan Bara.
" Setidaknya lo bisa cari tahu Ga, siapa tahu yang satu persen tadi ternyata berpihak sama lo. " Ucap Bara serius memberi pertimbangan.
" Tapi janji gue sama Arka .... " Balas Hega, namun pemuda itu tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
" Hah... Memang lo pikir jika adiknya sudah bahagia dengan pria lain, Arka akan memaksakan adiknya untuk tetap sama lo apa ? Bukankah lo cerita kalau kebahagiaan gadis itu adalah yang utama buat Arka. " Sekali lagi Bara memberi pertimbangan yang masuk akal di mata Hega.
" Entahlah, gue belum berfikir sampai sana, lagipula satu persen itu rasanya..... Aaahhhh gue gak mau berandai-andai. " Hega yang sempat berharap seketika menepisnya begitu saja.
" Jadi lo rela nih Moza sama orang lain ? Lo tahu kan Mami gue gimana ? Kalau udah ingin sesuatu pasti Mami gue akan berusaha semaksimal mungkin buat jadiin Momo cantik menantunya, adik ipar gue, gue sih gak masalah lihat muka cantik itu tiap hari. Hehehe.... " Seringai Bara memancing emosi Hega sembari mengamati perubahan ekspresi sahabatnya, berharap pemuda itu setidaknya kembali mencoba memperjuangkan kebahagiaannya.
Satu persen yang memang sebuah kemustahilan, tapi tidak ada yang tahu jika bisa jadi satu persen itulah yang merupakan kesempatan berharga menuju kebahagiaan mereka.
๐๐
Kira - kira babang Hega mau menyerah atau memperjuangnyan 1 % kesempatannya ?
๐๐
๐๐๐๐งก๐โค๐๐๐๐งก๐โค
Bantu VOTE agar karya ini naik RANK yah....
Terima kasih ๐๐๐๐
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐๐๐๐๐
Jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU....
โ LIKE ๐
โ COMMENT โ๐
__ADS_1
โ VOTE ๐ฑ๐ฒ yah ๐๐๐