Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Kenapa dengan Mawar Kuning ?


__ADS_3

AUTHOR


Moza berjalan cepat menuju area parkir dimana Julian sudah menunggunya bersama ketiga sahabatnya yang lain.


Malihat Moza datang, Julian keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu.


Deana, Amira dan Renata sudah duduk manis di dalam mobil, lebih tepatnya di kursi tengah. Sedang asyik dengan ponsel mereka masing-masing.


" Lo dari mana si Mo ? " Tanya Deana saat sahabatnya itu sudah memasuki mobil Julian.


Dan perhatian ketiga gadis itu seketika teralihkan oleh bouqet bunga mawar kuning yang dibawa gadis itu.


" Jangan tanya. " Jawab Moza singkat sembari meletakkan bouqet ditangannya di atas dassboard.


" Jangan bilang lo ditembak lagi ?! " Ketiga gadis di kursi belakang saling pandang dan kemudian menatap Moza sambil memainkan alis mereka naik turun.


Tak butuh kalimat apapun untuk menjawab pertanyaan Deana, ekspresi di wajah Moza sudah menjelaskan semuanya.


" Lo bertiga tahu gak siapa yang jadi korban Momo kali ini ?! " Goda Julian setelah duduk di balik kemudinya.


Melirik jahil ke arah Moza dan menatap ketiga sahabat cantiknya yang terlihat menunggu kalimat Julian selanjutnya.


Kegita gadis itu menatap penasaran kearah Julian dan Moza bergantian.


" Julian, bahasa kamu gak bisa dibenerin apa ?! Korban ? Kok seperti aku yang jahat si ?! "


Moza memukul-mukul lengan Julian kesal membuat pemuda itu tergelak dan mengacak rambut Moza dengan gemas.


Untung saja yang melihat adegan itu adalah sahabat mereka sendiri.


Kalau orang lain yang melihat, mereka akan salah mengira jika terjadi di kursi depan itu bukanlah pertengkaran sahabat melainkan sepasang kekasih yang sedang mesra-mesraan.


" Hei, jangan bikin penasaran lo berdua. " Seloroh Renata mencubit lengan Julian.


" Auwhhh... Sadis nih pada. Lama gak ketemu tuh harusnya gue disayang-sayangin tahu kok malah di aniaya si ?! " Protes pemuda itu, bibirnya monyong-monyong gak jelas.


" Cepet bilang siapa ?! " Deana melotot menarik bibir Julian yang cemberut itu dengan tangannya.


" Auuwhhh, cium aja lah jangan ditarik gini. Cedera nih aset gue ! " Gerutu Julian yang membuat ketiga sahabatnya semakin geram saja.


" Si Ketua Senat Mahasiswa. " Jawab Julian ketus setelah mengusap-usah bibirnya.


Deana, Renata dan Amira kembali saling pandang dan mulut mereka ternganga kemudian menatap penasaran ke arah gadis yang duduk di samping Julian.


Geofano Syailendra, si Ketua Senat Mahasiswa bukan seseorang yang biasa menurut mereka. Setidaknya dari segi popularitas, pemuda itu adalah urutan kedua mahasiswa terpopuler di kampus.


Yang pertama siapa ? Coba tebak saja sendiri. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Reaksi Moza ?! Cuek bebek bin mas bodo.


No comment !!


Itulah yang ditangkap oleh ketiga gadis itu dari tatapan mata Moza, dan sepertinya mereka tak mau menuntut cerita lebih lanjut meskipun mereka penasaran setengah mati.


Semua sahabatnya tahu jika Moza baru saja patah hati, meskipun hanya Julian dan Deana saja yang tahu persis alasan patah hati gadis itu.


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

__ADS_1


~ Restoran ~


Setelah lebih dulu mengantar ketiga gadis lainnya ke kafe Dimas, Julian membawa Moza ke tempat yang diperintahkan oleh Hega dan kembali menyusul ke kafe Dimas meninggalkan sahabat cantiknya dengan kekasih dua minggunya.


" Kenapa kita tidak makan di rumah saja si kak ?! " Tanya Moza yang sudah duduk di kursi restoran.


" Tidak apa, hanya ingin membawamu mencari suasana baru. Dua minggu ini kan kamu hanya di rumah, pasti bosan. " Jawab Hega lembut.


" Kakek kan jadi makan sendiri kak ?! " Bayangan kakek Suryatama yang duduk di ruang makan sebesar itu sendirian membuatnya jadi merasa bersalah.


" Jangan kuatir, ada yang menemaninya kok. Jadi kamu santai saja. "


Yang menemani ? Siapa ? Bukankah selama dua minggu ini hanya ada mereka bertiga makan di ruang makan mewah itu, satu kali bersama Julian si.


Moza sempat bertanya-tanya dalam hatinya, bukankah kekasihnya itu masih punya papa dan seorang adik perempuan.


Kemana mereka ? Kenapa Moza tak pernah melihat dua orang tersebut di rumah besar selama dia tinggal disana ? Kenapa tidak pernah makan bersama ?


Tapi gadis itu masih menahan diri, dia tahu belum saatnya ingin tahu terlalu banyak tentang pemuda di hadapannya. Toh mereka baru dua minggu resmi berpacaran.


Dan Hega sepertinya tidak pernah menyinggung tentang papa ataupun adiknya lebih jauh di depan Moza, itu berarti memang belum waktunya gadis itu mengetahuinya.


" Kak ?! "


" Hm. "


" Anak-anak berencana merayakan tahun baru di puncak. "


Hega meletakkan sendoknya, menatap ke arah gadis di hadapannya.


" Kamu mau pergi ? "


" Tentu saja. Kami sudah berencana dari setahun lalu, kakak ingat kan waktu di Villa Bang Bara jika tahun baru kami akan pergi kesana lagi ?! "


Dan itupun setidaknya butuh waktu 3-4 hari dalam jadwal. Bahkan sempat terfikir untuk mengajak kekasihnya itu pergi bersamanya.


Anggap saja sekalian liburan setelah dua minggu terkurung di rumah.


Tapi mendengar rencana gadis itu bersama teman-temannya, Hega sedikit kecewa karena terpaksa mengurungkan niatnya untuk membawa serta Moza ke Bali.


Terlebih jika yang dimaksud Moza bersama semua sahabatnya, itu berarti akan ada Dimas juga disana.


Entah kenapa Hega masih was-was, bukan karena dia tak percaya pada hati gadisnya. Hanya saja pemuda itu merasa tak rela Moza berdekatan dengan pemuda lain, terutama jika pemuda itu jelas-jelas memiliki rasa untuk gadis itu


Hega tak tahan melihat ada pria lain yang menatap kekasihnya dengan tatapan cinta.


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


๐Ÿ Epilog ๐Ÿ


~ Kafe Dimas ~


" Eh Jul, lo lihat gak pas Moza nolak Ketua Senat ?! " Julian manggut-manggut mendengar pertanyaan Renata.


" Padahal kak Geo kan juga ganteng dan keren ya, meskipun memang gak bisa dibandingkan sama abang ganteng. "


" Hush... Awas loh Ren, lo jangan sampai keceplosan sebut-sebut nama bang Hega di depan Momo. " Deana melotot memperingatkan mulut ember Renata.

__ADS_1


Yang ada lo akan melotot kaget kalau tahu kabar terbarunya Momo sama Bang Hega. ~ Julian ~


Julian hanya nyengir mendengar ancaman Deana pada Renata.


" Kenapa Momo gak coba move on aja dengan pacaran sama kak Geo ya ?! " Celetuk Rena ngasal.


" Hahahhaa.... Bisa bonyok tuh muka si Ketua Senat kalau masih nekat mepet Momo. " Celetuk Julian keceplosan.


" Maksudnya ?! " Ucap ketiga gadis itu bersamaan.


" Adalah pokoknya. Dan lagian nembak cewek bawanya mawar kuning, dih pesimis banget bakal ditolak. " Ejek Julian.


" Emang kenapa dengan mawar kuning ?! " Deana keheranan.


" Oh my Queen Deana, kamu polos atau kelewat cuek si jadi cewek ?! Lo cewek bukan si ?! " Julian mendengus mendengar kalimat polos gadis itu.


" ". Deana masih tak paham, membuat Julian menepuk jidatnya sendiri karena frustrasi.


Gadis itu menatap ketiga temannya bergantian.


" Mawar kuning melambangkan persahabatan. " Ucap Amira bijak.


" Lah emang kenapa ?! " Masih juga menatap dengan wajah gagal pahamnya.


" Ya ampun Deana sayang. Meskipun seandainya Momo suka juga sama si Ketua Senat itu, paling juga mikir lagi buat nerima. Masa cowok nembak cewek bawa mawar kuning, tuh mau ngajak pacaran apa sahabatan ?! Niat gak sih nembaknya. Hahaha. " Julian tergelak dengan nada meremehkan.


" Iya deh yang playboy, pengalaman nembaknya segunung. " Cibir Deana.


" Eitss sorry ya, selama ini gak ada satu cewekpun yang jadi pacar gue itu adalah gue yang yang nembak duluan. Mereka sendiri yang sukarela jadi pacar gue kok. Hehehe." Julian berbangga.


Setelah mendengarkan keributan tak berfaedah antara Julian dan Deana, mereka kembali membahas perihal rencana tahun baru.


Yang diputuskan sesuai rencana awal yaitu ke puncak.


Destinasi dan waktu keberangkatan sudah ditentukan, serta bawaan apa saja yang harus mereka siapkan.


Tak lupa membagi tugas siapa yang harus membawa perlengkapan tertentu, seperti belanja camilan atau membeli kembang api. Yang sebenarnya gak penting-penting amat si, karena apapun yang mereka butuhnya nantinya akan tersedia disana.


๐Ÿงก๐Ÿ’œ๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค


~Cuplikan ~


" Jangan sentuh tunangan saya. " Hega menghempaskan tangan yang hendak menyentuh tubuh gadisnya.


Wajahnya tampak benar-benar murka.


Gadis itu pingsan dipelukannya, semua mata terperangah menatap adegan di depan mereka.


Semua diam membatu di tempatnya terkejut dengan teriakan penuh amarah pemuda itu.


Beberapa wajah malah terlihat pucat mendengar satu kalimat dari bibir pria itu.


Hega tak peduli dengan tatapan penuh tanda tanya di mata semua orang, pemuda itu segera membopong tubuh kekasihnya yang basah kuyup.


Tentu saja kecuali Bara dan Julian yang memang sudah tahu perihal hubungan Hega dan Moza. Yang ditakutkan kedua orang itu hanyalah satu, hal mengerikan apa yang akan dilakukan Hega untuk membalas orang yang sengaja ingin mencelakai kekasihnya itu ?!


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Satu Chapter lagi mau gak ?!!!


Semoga Malam bisa UP ya gantinya kemarin.

__ADS_1


Jan lupa like dan komentarnya ya....Emuah....


__ADS_2