Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Bisa-bisa Gagal Move On


__ADS_3

AUTHOR


Hega dan Bara sudah semakin mendekat ke arah meja yang ditempati Moza dan teman-temannya.


Baru saja hendak menyapa gadis itu dan juga ketiga sahabatnya, mata Hega terlihat menggelap penuh amarah.


Kemurkaan yang jelas terlihat saat menatap ke arah kolam renang, salah seorang perempuan yang tengah duduk santai di kursi dan berbincang bersama Aliza.


Melihat kebisuan serta tatapan mata dingin dan mengerikan sahabatnya itu, Bara yang tersadar ada sesuatu yang tidak beres langsung mengikuti arah pandangan Hega.


" Selena ?! Kenapa perempuan itu juga ada disini ?! " Seperti halnya Hega, Bara juga sama terkejutnya.


Melihat gadis itu tampak akrab dengan Aliza, Bara berinisiatif mendekati kekasihnya itu untuk meminta penjelasan.


Baru saja kakinya hendak melangkah, namun dihentikan oleh Hega.


" Biarkan saja ! Aku ingin tahu apa lagi yang sedang direncanakan oleh wanita itu. " Hega menahan lengan Bara dan berbicara cukup lirih agar hanya Bara saja yang mendengarnya.


Kemudian pemuda itu menoleh ke arah meja tempat Moza dan teman-temannya berada. Kembali fokus pada wajah cantik yang dirindukannya.


Terlihat kedua sudut bibirnya melengkung keatas mengukir sebuah senyum yang sangat menawan.


Alina yang melihat ekpresi ramah Hega tentu saja sangat kesal, selama ini pria yang disukainya itu selalu mengacuhkannya.


Bahkan selalu bersikap dingin dan kaku, jika sekalinya menanggapi malah dengan kejutekannya.


Alina yang merasa iri hanya bisa menahan geram dan kembali ke kursinya di tepi kolam renang sambil memperhatikan dari jauh pemuda yang sudah lebih dari dua tahun ini disukainya.


" Apa kalian merasa nyaman disini ?! " Tanya Hega masih tersenyum ramah, melayangkan pandangan kearah semua teman Moza.


" Tentu saja abang ganteng, lama gak ketemu ya, abang tambah cakep deh. Kemana aja selama ini gak pernah nengokin kita di butik ? Meskipun kiriman camilannya masih lancar si, hihihi.... " Cerocos Renata yang seketika seolah baru saja mendapatkan isi ulang energi dan kembali pada kecerewetannya.


Moza dan Amira terlihat biasa saja, sedangkan Deana yang paling terlihat gusar tengah menggerutu dalam hati.


Duh ngapain abang disini si ? Jangan bikin sahabat Dea baper lagi deh. Nih anak baru belajar move on dari bang Hega. ๐Ÿ˜–๐Ÿ˜–


Sejak kejadian di rooftop beberapa bulan yang lalu, Hega memang sudah tak lagi menampakkan diri di butik empat dara itu.


Namun rutinitas mengirim snack dan minuman masih terus berlanjut melalui Julian ataupun sekretarisnya Anita.


" Kalau abang gimana Dek ? " Sambar Bara merangkul pundak sahabatnya dan memainkan alisnya naik turun kearah Renata.


" Kalau abang biasa aja, kan sering ketemu. Rena sampai bosan. " Kejujuran Rena membuat mereka tergelak bersama.


" Silahkan kalian lanjutkan, saya istirahat dulu. " Hega kembali tersenyum dan melangkah meninggalkan Moza dan teman-temannya.


Lebih tepatnya senyum itu ditujukan ke arah kekasihnya. Para gadis itu mengangguk dan ikut tersenyum.


" Kamar gue dimana Ga ? " Tanya Bara saat Hega sudah berjalan menuju lift.


" Tanya pada Julian. " Menjawab tanpa menoleh dan memasuki lift.


Bara menghampiri Aliza kekasihnya, mengajak wanita itu menemaninya membereskan barang bawaanya.


โ€ข โ€ข โ€ข


Moza kembali duduk di kursinya, menahan rasa bahagia di hatinya agar tak terpancar pada ekspresi di wajahnya.


Entah kejutan apa lagi yang dia dapatkan hari ini dari kekasihnya itu.

__ADS_1


Ingin rasanya berhambur dalam pelukan pemuda tampan itu. Tapi ditahannya karena dia tak mau membuat kehebohan.


Dan memang sepertinya dia harus segera bercerita tentang perjodohannya dengan Hega pada ketiga sahabatnya.


Dengan cepat Moza menormalkan kembali detak jantungnya yang sempat melompat-lompat senang.


Melanjutkan obrolan suka-suka ala mereka.


" Mo, lo gak papa kan ?! " Tanya Deana cemas, gadis itu sempat menangkap senyum yang diarahkan Hega pada sang sahabat.


Lo jangan baper lagi sama bang Hega ya Mo, tuh orang emang gantengnya gak ketulungan, tapi dia bukan jodoh lo.


Lagian napa juga si bang Hega tebar pesona gitu, senyum-senyum gak jelas sama lo Mo. Dikira gue gak lihat apa ?!


Bisa-bisa Momo gagal move on kalau kayak gini ceritanya. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Deana membatin pilu mengingat kisah cinta tragis antara sahabatnya dengan pemuda tampan yang sudah menghilang di balik pintu.


" Ehh... Memangnya aku kenapa ? " Cicit Moza kikuk.


" Lo udah move on dari abang ganteng kan ?! " Celetukan Rena yang lagi-lagi terlalu to the point itu mendapat sikutan dari Amira sekaligus mata melotot dari Deana.


" Girls, soal itu sebenernya.... "


" Kaaakkkkk...... " Teriakan heboh Viola seketika memutus kalimat Moza


Membuat keempat dara itu kembali menghela nafas berat melihat kehadiran gadis cerewet itu.


Renata benar-benar kesal dibuatnya.


" Gila gila gila, yang barusan dateng ituh siapa kak ? Ganteng banget. Tapi kok tampangnya jutek ya ?! Aahh, gak papa si yang penting ganteng ๐Ÿ˜๐Ÿ˜. " Baru datang sudah nyerocos panjang lebar membuat Moza dan teman-temannya kembali ternganga.


Renata berbisik pada ketiga temannya, bukan dukungan yang dia dapat tapi malah dia ditertawakan.


" Heh ngapain kalian malah ketawa ? " Omel Rena.


" Pertanyaan lo tadi coba deh lo kembalikan pada diri lo sendiri ! " Amira tetap bijak seperti biasanya.


Renata benar-benar mati kutu dibuatnya, Viola bagaikan copyan dirinya


.


Tring....


Notifikasi pesan masuk ke ponsel Moza.


My Hubby :


ย 


" Naiklah sebentar. "


ย 


Moza langsung menyembunyikan ponselnya di dalam saku.


" Aku ke atas bentar ya. " Pamitnya saat melihat teman-temannya tengah asyik mendengarkan celotehan Viola.


Padahal aslinya keberisikan. Terutama Renata, karena Amira dan Deana sudah terbiasa meladeni seseorang yang secerewet itu.

__ADS_1


Ya siapa lagi jika bukan si cantik Renata kita.


Anggap saja ini karmamu mbak Renata sayang, selama ini suaramu yang merdu (cempreng) begitu menghiasi hari-hari para sahabatmu.


Sekarang cobalah kamu rasakan sedikit penderitaan mereka selama ini mendengar ocehanmu yang bagaikan komentator pertadingan bola itu. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


" Mau ngapain ? " Tanya Deana.


" Lowbatt, orang rumah mau telpon. " Moza berbohong sambil menunjukkan ponselnya.


Gadis-gadis itu mengangguk begitupun Viola.


" Buruan balik ya kak Moza yang cantik. " Seloroh Viola bergelayut manja di lengan Moza.


Moza mengangguk, sebelum beranjak pergi gadis itu berbisik pada ketiga sahabatnya.


Coba kalian jinakkan dia ! Kalau perlu di ruqiyah, siapa tahu bisa kalem seperti Rena.


Menunjuk Viola dengan ekor matanya, kemudian ke arah Renata dan tersenyum tipis dan berlalu pergi.


Dan ketiga dara itu kompak menatap ke arah Viola serentak, kemudian terbahak bersama membuat gadis itu kebingungan.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Moza sudah sampai di lantai tiga, matanya menyusuri setiap sudutnya.


Kosong, tidak ada siapapun. Dilihatnya layar ponselnya dan hendak membalas pesan Hega.


Layarnya menggelap padahal baru masuk aplikasi chat di ponselnya


Ini namanya senjata makan tuan, niatnya bohong mau charging ponselnya eh malah ponselnya benar-benar mati kehabisan daya. ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


Moza memutuskan memasuki kamarnya terlebih dahulu untuk mengisi daya benda pipih itu.


GREP


Baru dua langkah memasuki kamarnya, seseorang menutup pintu kemudian merengkuh tubuhnya dan memeluknya dari belakang.


" Argh... " Reflek Moza berteriak.


" Ssshhh..... Ini aku. " Suara yang familier di telinga Moza membuatnya membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.


" Kak lepaskan ! "


" Sebentar saja biarkan seperti ini. " Hega menghirup dalam-dalam aroma shampo di rambut gadis itu.


Dagunya kini bersandar di bahu Moza, indera penciumannya mengendus aroma stroberry dari tubuh gadis itu.


Rambut Moza yang terkuncir dengan gaya high messy bun, membuat leher jenjang gadis itu terekspos dengan sangat jelas.


GLEK..


๐Ÿ–ค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™๐Ÿ–ค๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™


Akankah iman bang Hega kali ini tetap bisa mengalahkan imron nya ?


Ataukah imron nya yang lebih dulu berkuasa ?


๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2