Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Will You Marry Me ?


__ADS_3

AUTHOR


Semua mata menatap haru dan bahagia ke arah sepasang kekasih yang terlihat sangat bahagia itu, seolah kebahagiaan keduanya menyebar pada semua orang di sekitar mereka.


Kebahagiaan terbesar terntunya sedang dirasakan oleh Moza, gadis itu merasa bagaikan sang tokoh utama wanita dalam drama korea favoritnya.


Kejutan yang membuatnya begitu bahagia dan terharu apalagi saat mendengar kalimat indah yang barusaja terucap dari bibir kekasihnya.


Belum sempat gadis itu memberikan respon apapun, pria di hadapannya kembali memberikan kejutan untuknya.


Hega berlutut dengan satu kaki, mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam dari saku jasnya, membuka perlahan kotak bludru di tangannya dan mendongakkan kepalanya menatap wajah cantik kekasihnya, belahan jiwanya dan separuh nyawanya.


" Beberapa waktu telah kita lewati dan juga banyak hal yang sudah kita lalui bersama. Bahkan ada kalanya terasa sulit dan menyakitkan. Tapi segala kesulitan bagiku seperti tidak ada apa-apanya asal itu tentang kamu. Asalkan kamu selalu ada bersamaku. "


" Kamu adalah alasanku tersenyum, aku berharap bisa melalui sisa hidupku bersama denganmu. "


" Moza Artana Dama, Will You Marry Me ? [ Bersediakan kamu menikah denganku ? ] " Ucap Hega kemudian.


Lagu Marry You, Bruno Mars mengiringi lirih acara lamaran itu. Melengkapi suasana romantis acara lamaran Hega dan Moza.


Manik mata Moza membulat sempurna, hatinya berdebar, tanpa sadar kedua matanya berkaca-kaca menahan keharuan.


" Say Yes, say Yes.... " Sorakan antusias dan bahagia dari sahabat-sahabatnya membuat Moza merasa gugup.


Moza menatap ke arah kedua orang tuanya dan sang adik tercinta, ketiganya menggangguk pelan pertanda restu, kemudian tersenyum seolah juga tengah merasakan kebahagiaan yang tengah ia rasakan.


Gadis itu beralih menatap kembali kekasihnya yang sedang berlutut di hadapannya, kemudian tersenyum dan mengangguk bahagia, " Yes, I will. [ Ya, Aku bersedia. ] " Ucap Moza akhirnya.


Hega tersenyum bahagia dan memasangkan cincin lamarannya di jari manis tangan kiri Moza, cincin yang sudah disiapkannya berpasangan dengan kalung yang sudah dikenakan Moza saat ini.


Kemudian Hega kembali berdiri dan mengecup kening Moza bahkan tanpa memperdulikan banyak mata yang melihat ke arah mereka.


" Ekhem... "


Jika saja tidak ada Suara deheman dan tepuk tangan meriah dari semua keluarga dan sahabat mereka, mungkin kedua sejoli yang sedang dimabuk cinta itu tidak akan menyadari jika mereka tidak berada disana berdua saja di sana. Seolah dunia hanya milik berdua, seperti itulah nyatanya orang yang sedang jatuh cinta.


Moza melepaskan diri dari pelukan kekasihnya, meskipun nyatanya Hega sebenarnya masih enggan melepaskan gadis itu dari dekapannya.

__ADS_1


Deana seketika berhambur memeluk sahabat karibnya, sahabat yang sudah bagaikan saudara baginya.


" Kyaaa..... Selamat Momo sayang. " Ucapnya bahagia mendekap erat Moza dan disusul Amira dan Renata.


Dimas menyusul di belakang Renata, mengulurkan tangannya dan tersenyum, " Selamat ya, Mo. "


" Terima kasih, Dim. " Senyum bahagia tak henti-hentinya terukir di bibir Moza.


Saat Julian mendekat hendak melakukan hal yang sama dengan Deana, Julian sudah di posisi kedua tangannya terangkat mengambil posisi ingin memeluk sahabatnya.


Namun gagal, karena bisa dipastikan apa yang terjadi pada pemuda itu, Hega dengan secepat kilat menarik kerah kemeja Julian membuat tubuh pemuda itu mundur beberapa langkah menjauh dari Moza.


" Mau apa kamu, Julian ?! " Ujar Hega dingin.


" Bang, gue mau kasih selamat buat Momo. " Omel Julian kesal.


" Cukup pakai mulut kamu ! Jangan peluk-peluk ! " Ucap Hega datar.


Julian mengernyit, " Pakai mulut ? Maksudnya cium gitu, bang ? " Tanya Julian jahil.


" Kalau kamu bosan hidup. " Ancamnya, terlihat kedua mata Hega melotot seram, seperti akan keluar laser dari tatapan mata itu.


Dan kekonyolan Julian sukses memancing gelak tawa semua orang yang menjadi saksi lamaran romantis Hega untuk sang kekasih tercinta.


Dan acara lamaran pun dilanjutkan dengan makan malam bersama. Para orang tua memutuskan untuk kembali lebih dulu setelah makan malam, sebelum kepulangan mereka, Hega menghampiri istri dari sang papa.


Hega merengkuh tubuh wanita paruh baya itu, " Mih, terima kasih. " Satu kalimat sederhana yang diucapkan oleh Hega pada ibu sambungnya seketika merubah suasana bahagia menjadi haru.


Rasti begitu terkejutnya mendapatkan ucapan terima kasih sekaligus pelukan hangat dari putra tiri yang sudah disayanginya seperti putra kandungnya sendiri.


Saking terkejut dan syok tubuh Rasti sampai lemas dan hampir jatuh jika Hega tidak sigap mengeratkan dekapannya menahan tubuh sang mami.


Rasti sedikit mendorong tubuh Hega agar melonggarkan pelukannya, kemudian menatap wajah tampan putranya dengan tatapan haru.


" Ka-kamu panggil tante dengan sebutan ma-mami ? " Tanya Rasti meyakinkan jika dirinya tidak salah dengar.


Hega hanya mengangguk, " Tapi kalau mami lebih suka dipanggil tante juga .... " Ucapnya canggung.

__ADS_1


Rasti menggeleng cepat, " Tidak, tidak... Panggi mami saja, ya ! " Pinta Rasti dengan senyum bahagia dan sekali lagi Hega mengagguk dan tersenyum.


" Terima kasih, Nak. Boleh mami peluk kamu lagi ? " Pinta Rasti dengan bahagia, menatap sendu putranya.


Arya yang tengah menggendong putrinya menatap haru pemandangan mengharukan di hadapannya. Pria itu tersenyum pada putranya.


Begitu pula dengan semua orang yang mengetahui dan memahami dengan baik bagaimana hubungan Hega dan ibu tirinya itu di masa lalu, merasa bersyukur dengan pemandangan itu.


Suryatama menepuk bahu cucu kesayangannya, cucu kebanggaannya, " Bagus, Nak ! Kamu memang tidak pernah mengecewakan kakek. " Ujar Suryatama dengan senyum bangga, Hega mengangguk dan membalas senyuman sang kakek.


" Terima kasih, Kek. " Sang kakek mengangguk sebelum akhirnya berbalik badan dan meninggalkan rooftop garden dimana Hega dan Moza akan melanjutkan acara lamaran dengan pesta kecil bersama sahabat--sahabat terdekat mereka berdua.


Hati Hega seketika merasa ringan dan damai, sebuah beban berat yang ditanggungnya selama ini seolah terangkat. Seperti ada rongga kosong menganga yang selama ini terasa hampa yang akhirnya bisa terisi dengan hal yang membuat hatinya tenang dan bahagia.


Hega mengalihkan pandangannya pada gadis cantik yang tengah menatapnya dengan senyum bahagia dan bangga. Tatapan mata Moza seolah mengatakan pada kekasihnya itu,


Kakak telah berhasil melakukannya, aku bangga pada kakak. Calon suamiku memang yang terbaik. 😊


Hega membalas senyuman kekasihnya dengan senyum sempurnanya, hingga lesung pipi Hega semakin menyempurnakan pesonanya.


Gadis itu langsung berhambur pada Hega, memeluk kekasihnya dengan erat.


" Terima kasih, Momo sayang. Ini semua karena kamu. " Mengelus pipi putih kekasihnya.


Moza menggeleng kecil, " Tidak. Aku tidak melakukan apa-apa. Ini semua karena kakak sendiri, hati kakak yang menginginkannya. "


Hega kembali tersenyum, benar apa yang pernah diucapkan sang kekasih,


" Berdamai dengan masa lalu adalah langkah pertama untuk menyambut kebahagiaan di masa depan. "


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...



...GOYANG JEMPOLNYA YA SAYANG...


...⚘ LIKE ⚘ KOMENTAR ⚘ VOTE ⚘...

__ADS_1


...TERIMA KASIH...


__ADS_2