
AUTHOR
Matahari bersinar dengan teriknya, Moza melangkah gontai keluar dari kelas menuju meja taman di depan gedung Fakultas Ekomomi. Dua mata kuliah selama hampir 5 jam berturut-turut sejak pagi tadi membuatnya kehabisan tenaga.
Gadis melangkah pelan dan duduk di sebuah kursi taman dengan meja bulat yang berada di bawah pohon besar yang biasa digunakan para mahasiswa untuk belajar bersama, ataupun hanya sekedar nongkrong berghibah ria dan bercanda tawa bersama.
Entah apa yang sedang ada dalam pikiran gadis itu, Moza terlihat menatap langit dengan tatapan kosong. Tapi sudut hatinya terasa hampa, langit biru yang sangat cerah yang dipandangnya benar-benar berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini.
Moza mengambil ponselnya dari dalam tas, menatap layar benda pipih itu, memastikan tidak ada satu notifikasi pun yang terlewat. Ya... Moza sedang menunggu, biasanya Hega akan menghubunginya saat jam makan siang untuk menjemputnya di kampus dan makan bersama di restoran atau di kantornya.
Tapi ini sudah hari keempat hal itu tidak terjadi sesuai kebiasaan. Bahkan Hega juga tidak bisa dihubungi sama sekali, semua chat Moza masih bertanda centang satu yang artinya belum masuk di ponsel Hega.
Julian ?! Saat seperti ini pun sahabatnya itu seolah juga menghilang entah kemana. Membuat Moza tidak tahu kepada siapa dirinya harus menanyakan kabar Hega.
" Mo, ngapain lo ngelamun sendiri disini ?! " Tanya Deana yang barusaja duduk di samping sahabatnya yang terlihat bengong dan muram dari kejauhan.
" Eh... Enggak kok. Kelas kamu udah selesai ? "
" Yup, gue bosen banget gila. Dosennya ngajar dah kayak ngedongeng. Berasa gue dapat cerita sebelum tidur. Kalau ada bantal tuh di kelas, pasti gue udah melayang-layang ke alam mimpi. " Gumam Dea mengomel yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Moza.
" Yuk kita langsung ke butik saja kah ?! " Tanya Dea seraya berdiri dan menarik tangan sahabatnya.
" Hem. " Mengikuti langkah kaki Deana menuju parkiran.
Dan mobil mewah lengkap dengan supir pribadinya, Pak Bakti sudah siap sedia menunggu.
" Enaknya yang jadi nona besar. " Goda Dea menyenggol lengan Moza.
" Ish... Bukan mau aku juga kayak gini Dea. " Elak Moza yang memang sudah lelah protes pada kakek Suryatama yang sangat memanjakannya.
⚘⚘⚘
Moza berdiri mematung di depan pintu besar berwarna hitam dihadapannya, tubuhnya gemetar kedinginan karena sempat kehujanan saat menuju gedung apartemen tempat Hega tinggal selama beberapa hari ini.
Ragu, gelisah dan lega bercampur jadi satu karena akhirnya ia akan bisa melihat sosok yang dirindukannya. Hanya tinggal memencet bel maka dirinya akan segera bertemu dengan kekasihnya. Tapi Moza kembali ragu saat hendak mengarahkan jari telunjuknya ke arah bel yang ada di pintu.
Bagaimana kalau Kak Hega memang sengaja menghindariku dan kedatanganku akan membuatnya merasa terganggu ?! Apa sebaiknya aku pergi saja ?
Batin Moza kemudian berbalik badan mengurungkan niatnya untuk menemui Hega. Tapi beberapa detik kemudian gadis itu kembali berbalik menatap pintu yang sesuai chat Bara adalah apartemen pribadi Hega.
Ah... Tapi bang Bara bilang kalau Kak Hega sedang sakit dan tidak masuk ke kantor. Aku harus memastikan dulu keadaannya sebelum pulang.
__ADS_1
Akhirnya Moza memberanikan diri memencet bel yang pastinya berbunyi nyaring di dalam sana.
Hingga tiga kali dipencetnya bel itu tapi tidak ada tanda-tanda pintu besar itu bergerak. Moza kembali ragu, kakinya hendak melangkah pergi
saat akhirnya muncul sesosok pria dari pintu yang nyaris dia tinggalkan itu.
Moza terbengong melihat tampilan pria yang dirindukannya, rambut acak-acakan, wajah pucat dan muka bantalnya sama sekali tidak mengurangi kadar ketampanan kekasihnya itu.
⚘⚘⚘
Hega yang merasa sakit kepala dan meriang sedari tadi malam sedang berbaring di ranjang king size nya. Bersembunyi di balik selimut tebal karena terasa menggigil kedinginan.
Tapi suara bel apartemennya membuatnya terpaksa terbangun dari ranjang, diliriknya jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan malam. Yah, setelah sholat maghrib tadi Hega memang tidur lagi dan itupun tidak nyenyak karena kepalanya terasa nyut-nyutan.
Hega berjalan sedikit terseok-seok menuju pintu utama apartemennya. Penampilan kacau, rambut acak-acakan, lengkap dengan baju tidur kusut, ditambah wajah pucat dan muka bantal.
Hega membuka handel pintu dan terkejut setengah mati saat mendapati sosok yang tengah berdiri di depan pintu.
" Mo... " Hega tampak terkejut melihat kekasihnya yang tiba-tiba ada di depan pintu apartemennya, ditambah dengan penampilan kacau Moza dengan rambut basah, begitu pula dress yang dipakai gadis itu terlihat basah di beberapa bagian.
Moza tampak menggigil kecil, tubuhnya jelas gemetar karena kedinginan.
" Kak.... " Ucap Moza dengan bibir gemetar menahan dingin.
" Kenapa kamu bisa ada disini ?! Dan apa ini ? Kamu kehujanan ?! Bagaimana bisa kehujanan ? Memangnya kamu kesini naik apa ?! " Hega membombardir kekasihnya dengan banyak pertanyaan tanpa memberi kesempatan Moza menjawab, jelas Hega terlihat cemas melihat keadaan kekasihnya yang hampir mirip kucing yang habis tercebur di empang. Tetap terlihat cantik meskipun penampilannya tampak mengenaskan.
" Kak...." Bibir Moza kelu tidak sanggup menjawab pertanyaan kekasihnya.
" Aaaaish.... Sudahlah, kita bicara lagi nanti. Berendamlah dengan air hangat, aku tidak mau kamu sakit. " Hega membawa Moza ke dalam kamar mandi yang ada di kamarnya, menyalakan keran air mengisi bathub dengan air panas dan dingin.
" Mandilah sebelum kamu masuk angin. " Titah Hega seraya mengelus pucuk kepala Moza, dan gadis itu mengangguk menurutinya.
Hega meninggalkan Moza di dalam kamar mandi, mengambil kemeja miliknya dari dalam lemari di walk in closet yang ada di samping kamar mandi. Terlihat cemas hingga melupakan sakit kepala yang dari semalam menyiksanya.
" Mo, aku letakkan baju ganti untukmu di atas ranjang. Aku akan menunggumu di depan. " Ucap Hega sedikit berteriak agar Moza bisa mendengarnya.
" Terima kasih, Kak. " Teriak Moza dari dalam kamar mandi.
Sekitar 15 menit Moza berada di dalam kamar mandi, memakai bathrobes dan handuk kecil melilit di kepalanya. Moza menuju ruang tamu setelah mengganti pakaiannya dengan baju yang disiapkan Hega di atas ranjang.
Ceklek....
__ADS_1
" Kamu sudah sele.... " Ucapan Hega terputus saat menoleh dan mendapati pemandangan indah di depan matanya.
Kemeja lengan panjang milik Hega tampak kebesaran dikenakan oleh Moza, panjang diatas lutut membuat kaki putih mulus milik gadis itu terekspose sempurna.
Moza menarik-narik kebawah ujung kemejanya, terlihat jelas jika gadis itu tidak nyaman dengan pakaian itu. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada baju lain yang bisa dipakai olehnya.
G L E K . . .
Hega.... Sepertinya kamu sedang menggali makam untuk dirimu sendiri.
Gumam Hega dalam hati dan dengan cepat mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Menggaruk tengkuknya canggung, kepalanya semakin terasa pening.
" Kak, maafkan aku yang datang tiba-tiba tanpa ijin kak Hega. " Moza masih berdiri canggung sembari meremas ujung kemeja yang dikenakannya.
" Ah... Tidak. Kemarilah, duduk disini ! Aku barusaja membuatkan hot chocolate untuk menghangatkan badanmu. " Ujar Hega menepuk sofa disampingnya.
Moza menurut dan duduk di samping Hega, meraih cangkir berisikan coklat panas di atas meja. Hega sendiri mengambil alih handuk kecil yang masih melilit di kepala gadisnya, menggosok-gosok pelan mengeringkan rambut Moza yang sudah berpindah duduk di lantai beralaskan karpet bulu berwarna hitam.
" Kak, aku bisa sendiri. "
" Ssstt... Diam lah ! Habiskan saja minumanmu ! " Titah nya masih melanjutkan aktifitasnya di kepala Moza dengan sesekali mengusap dan memberikan pijatan lembut di kepala gadis itu.
Perlakuan Hega benar-benar membuat Moza merasa nyaman, aaahhh.... sebenarnya ini yang sakit siapa si ? Dan siapa yang butuh dimanjakan sebenarnya, kenapa posisinya jadi tertukar ?
Moza yang niatnya ingin datang menjenguk kekasihnya yang sakit dan merawatnya, malah dirinya yang datang dengan penampilan mengenaskan dan justru dirinya lah yang berakhir dimanjakan.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
BABANG HEGA MUKA BANTAL AJA GANTENG YAH 😞
IYA LAH GUE GITU THOR...
HADEHHH.... DENGER AJA LU... 🙄🙄😑
HAHAHA... TELINGA GUE PEKA THOR KALO ADA YANG GHIBAHIN TAMPANG GANTENG GUE...
😭😭🤮🤮🤮
GUE TARIK KEMBALI OMONGAN GUE...
__ADS_1
IRI BILANG BOSS 😏😏