Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Ingin Melupakan, Malah Terpesona


__ADS_3

AUTHOR


Hega menatap lekat manik mata Moza yang selalu membiusnya dalam pesona gadis itu.


Dan mata itu pula yang membuatnya jatuh cinta.


" Ini adalah pertama kalinya aku tertarik pada seorang gadis, meskipun awalnya aku sempat merasa terganggu setiap kali wajah cantik ini terlintas di kepalaku. " Hega mencubit pelan hidung Moza.


Dahi Moza tampak mengerut sebal, manik matanya menatap mata elang Hega yang tak kalah mempesonanya.


Mencoba mencari kebohongan disana, tapi nihil, hanya ketulusan dan kejujuran yang dilihatnya dalam mata hitam legam milik kekasihnya itu.


Licik sekali, bisa-bisanya dia selalu membuat hatiku selemah ini dengan menggunakan wajahnya. ๐Ÿ˜ค


Ahh.... Dasar ! Sepertinya ini memang hatiku saja yang terlalu mudah terpesona dan terperdaya olehnya. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Dengan cepat Moza mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, berpura-pura menikmati hamparan kebun teh yang hijau menyejukkan.


Menghindari tatapan mata Hega yang membuatnya berdebar.


" Kamu ingat liburan di villa Bara setahun yang lalu itu, sebenarnya alasan aku kesana adalah aku ingin merefresh kepalaku. Tapi aku malah bertemu seseorang yang membuat kacau hati dan pikiranku. Gadis yang kehadirannya menjadi penyebab kegelisahanku. " Tutur pemuda itu diselingi tawa pelan.


" Aku bahkan sempat berfikir untuk mengurungkan niatku liburan di sana setelah aku tahu kamu dan teman-temanmu juga akan menghabiskan liburan di tempat yang sama denganku. Inginnya melupakan, aku malah terpesona semakin dalam. " Sambungnya lagi sambil tak hentinya tertawa kecil mengingat kenangan yang menggelikan itu.


" Hah ?! " Moza bingung maksud ucapan pemuda itu, belum menangkap arah pembicaraannya.


Gadis itu membelalakkan matanya masih menatap wajah kekasihnya.


Aaahhh kenapa aku malah bengong si ? Aku yakin wajahku seperti orang bodoh saat ini.


Gumamnya alam hati merutuki kebodohannya.


" Ah sudahlah, intinya aku jatuh cinta padamu. Dan aku senang kita bisa kembali lagi kesini dalam situasi yang berbeda, kamu adalah milikku sekarang. " Hega terkekeh melihat raut wajah bingung gadisnya, kemudian menangkup wajah Moza dengan lembut, menggerakkan ke kanan dan ke kiri dengan gemas.


" Haish... Aku kan bukan barang kak, dan aku bukan milik siapa-siapa. " Menyibak tangan Hega karena kesal sekaligus berdebar.


" Hehe.... Pokoknya kamu milikku, siapa yang berani melawan ucapanku, hem ? " Ucapnya tegas mengacak rambut Moza dengan gemas.


" Yayaya.... Tuan Muda yang keras kepala. " Gerutu Moza lirih, bibir mungilnya mengerucut kesal.


Entah kenapa setiap kali berbicara atau berdebat dengan Hega, seringkali logika Moza tidak berfungsi sempurna.


Apa karena Hega yang memang terlalu pintar bicara ?


Ataukan benar adanya jika cinta membuat seseorang seringkali terlena, hati lebih berkuasa daripada logika.


Entahlah gadis itu sedang tak mau lagi pusing-pusing mimikirkannya. Yang dia tahu bahwa saat ini dia bahagia.


" Tapi kamu suka kan ?! " Hega mendekatkan wajahnya menatap manik mata kekasihnya yang terlihat kesal padanya.


Moza hanya terdiam, enggan menjawab pertanyaan yang sudah pasti jawabannya. Rona merah kembali menghiasi pipi putih gadis itu, rasa panas menjalar di wajah cantiknya.


Membuat Hega tergelak dengan suara tawa berat nan merdu.


Dan merengkuh kepala gadis itu agar bersandar padanya.


" Ayo kita datang kesini sesering mungkin ! " Ucapnya kemudian.


" Hm. " Moza mengangguk setuju.


" Bersama Hega junior, atau Momo kecil yang manis. " Bisiknya parau di telinga gadisnya.


" Eh... " Mendengar bisikan Hega sontak membuat Moza terbelalak, reflek menoleh dan menatap mata kekasihnya.


Bukan ekspresi jahil atau candaan yang dilihatnya, melainkan wajah serius Hega dan seulas senyum terukir disana.

__ADS_1


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Setelah hampir satu jam bersantai menikmati pemandangan dan udara pagi di area perkebunan. Hega dan Moza memutuskan untuk kembali ke villa.


Kali ini benar-benar jalan santai, sesekali menyapa dan tersenyum ramah pada penduduk yang berpapasan dengan mereka.


Sampai di villa sudah pukul 08.30 tapi villa masih tampak sepi.


Moza memutuskan segera mandi sebelum sarapan.


" Darimana lo Mo ? " Sebuah suara tak asing mengejutkannya saat baru saja gadis itu hendak membuka pintu kamarnya.


" Heh... Ngagetin aja. Copot nih jantung aku, Dea. " Omel Moza.


" Dih mencurigakan, kaget lo barusan seperti maling yang ketahuan mau kabur setelah berhasil mencuri. " Deana mencibir jahil.


" Enak aja, aku tadi jalan-jalan pagi. " Celetuk Moza santai.


" Eh .... " Kedua mata Deana membelalak


" Aku mandi dulu, kita lanjutkan nanti ngobrolnya, badanku lengket semua. " Potong Moza sebelum sahabatnya itu memberondongi dirinya dengan pertanyaan yang pastinya tidak akan ada habisnya sebelum membuatnya puas.


Tidak butuh waktu lama Moza bersiap diri, saat sampai di ruang makan ternyata hanya dirinya saja yang melewatkan makan pagi.


Diputuskannya sarapan di dapur saja, meja makan yang besar tidak nyaman jika makan sendirian.


" Kenapa makannya di sini Non ? Saya akan menyiapkan makanan lagi di meja makan. " Ucap Bu Astuti.


" Tidak apa bu, disini saja. " Jawab Moza tersenyum ramah.


Bu As mengeluarkan makanan dan menatanya di atas bar table.


" Tolong satu piring lagi Bu. " Hega duduk di kursi di samping Moza.


Bukannya marah dikatain syetan, Hega malah terkikik mendengar omelan kekasihnya.


" Hemm... Maaf sayang. " Ucapnya lembut dan membelai kepala gadis itu.


" Uhuk.... Jangan begini kak ! " Protes Moza lagi mencoba menampik tangan Hega dari kepalanya.


" Kenapa ? "


" Ada bu Astuti, malu kak. " Bisiknya sambil menunjuk wanita paruh baya yang sedang mengambil piring.


" Memang kenapa ? Bu As sudah tahu kok kalau kamu itu calon istriku. "


" Eh.... " Mata Moza membelalak menatap kekasihnya, kemudian memandang ke arah Bu Astuti yang sudah ada di depannya.


Wanita itu tersenyum dan mengangguk membenarkan ucapan majikannya.


" Selamat makan Tuan dan Nona Muda. Jika butuh yang lain silahkan panggil saya. " Bu As meletakkan peralatan makan dan beberapa menu makanan sederhana, kemudian membungkuk pelan dan undur diri.


" Terima kasih bu. " Jawab Moza sopan, sedangkan Hega hanya mengangguk saja.


Sayur sop, ayam goreng, tahu tempe dan tak lupa sambal terasi sudah tersaji di atas bar table.


Tak lupa dilengkapi buah-buahan segar yang sudah terpotong siap disantap.


Secangkir kopi untuk Hega dan segelas susu strawberry untuk Moza.


Ah... Bahkan bu As tahu kebiasaanku minum susu di pagi hari. ~ Moza ~


" Mo... " Teriak Deana dari arah pintu dapur, Hega dan Moza menoleh bersamaan.


" Eh.... Ada bang Hega. " Deana menggaruk tengkuknya canggung.

__ADS_1


" Kenapa Dea, sampai kapan kamu mau berdiri di situ ? " Melambaikan tangan meminta Deana mendekat.


" Ah... Gue mau renang sama anak-anak, kalau lo udah selesai susulin kita di kolam renang ya. " Ucapnya sambil mendekat ke arah sahabatnya yang tengah menyantap sarapan paginya.


" Hm... " Jawab Moza singkat dan mengangguk.


Mendapat jawaban Moza, Deana tak juga beranjak pergi. Sepertinya masih ada yang ingin dikatakan oleh gadis itu.


Hega tetap bersikap biasa dan datar seperti biasanya. Melanjutkan makannya dengan tenang.


Moza menatap Deana, tatapan mata mereka seperti saling bicara.


Jurus bahasa kalbu sedang berlangsung diantara kedua gadis itu. ๐Ÿ˜


Moza mendongakkan kepalanya pada Deana.


Apa lagi ? ~ Moza ~


Deana menunjuk Hega dengan ekor matanya.


Ngapain lo sama bang Hega ? ~ Deana ~


Moza menunjuk piring di depannya.


Seperti yang kamu lihat, kami sedang makan ? ~ Moza ~


Deana melotot tajam kemudian memutar bola matanya jengah, mulai geram dengan sahabatnya.


Kalau itu juga gue tahu Momo, siapa yang bilang lo berdua lagi terbang layang ? ~ Deana ~


" Ekhem..... " Deheman Hega sontak membuat bahasa kalbu antara Moza dan Deana berhenti seketika.


" Eh maaf ganggu acara makannya. Silahkan dilanjutkan. " Ucap Deana kikuk.


" Hei, jelasin sama gue segera ! " Bisik Deana sebelum meninggalkan dapur.


Moza hanya mengangguk, memang belum ada kesempatan untuk bercerita pada ketiga sahabat perempuannya perihal hubungannya dengan pria yang tengah sarapan dengannya itu.


Dan sepertinya hal ini harus segera diungkapkannya sebelum mereka tahu dari orang lain dan kecewa padanya.


๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค


Lama thor, kapan Moza cerita si ? Kayak selingkuhan aja sembunyi-sembunyi..๐Ÿ˜ค


Hehehe.... Yang sembunyi-sembunyi itu kadang lebih mendebarkan ๐Ÿ™Š๐Ÿ™Š๐Ÿ™Š


Kelamaan gemes nunggunya.....


Aku suka e yang gitu, seneng lihat modus bang Hega digagalin terus, belum lagi wajah ngeblush Moza pas kepergok sayang-sayangan di dapur. Padahal aslinya cuma debat gak jelas.


Boro-boro di dapur, di kamar aja gak ngapa-ngapain ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Jempol 100 buat babang Hega yang kuat imannya ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ.


Gue tambahin jempolnya thooorrr...


Dengan senang hati sayang... ๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


โžก๏ธ Eh btw ada yang barusan dikatain syetan sama pacarnya ๐Ÿ˜


Hega : Biarin, calon bini gue ini yang ngomong.


Me : Siyalan, pilih kasih lu. Kalo gue yang ngatain aja ngamuk lu...๐Ÿ˜–


Hega : Masa bodo ๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2