
HEGA
Gemas sekali melihat ekspresi kesalnya yang masih saja bersungut-sungut memaki sahabatnya. Bahkan saat sudah di dalam mobil pun aku masih bisa mendengar gerutuannya.
Aku berharap gadis ini tak akan menghindar dariku, sudah kuputuskan akan mendekatinya secara terang-terangan.
Sebenarnya awalnya aku berniat mendekatinya perlahan, mulai dari teman-temannya, dan seperti sebelumnya berusaha berada di sekitarnya sesering mungkin agar dia terbiasa dengan keberadaanku.
Namun saat di Singapura aku terus memikirkannya, bukan tanpa alasan aku merubah strategiku mengejarnya dan menambah kecepatan pendekatanku.
Ini semua terjadi karena obrolan santai yang sempat terjadi antara aku dan Julian saat tengah break setelah meninjau proyek hotel disana.
•
•
~~ Flashback ~~
Siang itu di ruang tamu kamar hotel saat aku dan Julian tengah istirahat setelah menyelesaikan beberapa berkas terakhir sehari sebelum kami kembali ke Indonesia.
Aku akan menggunakan kamar President Suite yang berisi dua kamar tidur dan sebuah ruang tamu jika sedang dalam kunjungan bisnis agar memudahkanku menyelesaikan pekerjaan bersama dengan partnerku.
" Besok gue cuti ya bang ? " Ucapnya santai karena aku yang memintanya bicara santai ketika diluar urusan pekerjaan, seperti saat aku bersama Bara.
" Ada apa ? " Tanyaku.
" Mau ngurus KRS di kampus, kan libur semester sudah selesai, dan semester baru sudah mau mulai. " Jelasnya sambil merapikan dokumen di atas meja.
" Oke. Berapa hari kamu mau libur ? "
" Dua hari aja cukup, besok dan lusa. " Ucapnya yakin.
" Bakalan capek nih semester depan. " Lanjutnya dengan nada mengeluh dan bersandar di sofa.
" Jika kamu merasa berat kuliah sambil bekerja, kamu bisa berhenti jadi asisten saya, saya akan tetap mengajari kamu saat kamu sedang tidak ada kuliah. " Ucapku datar.
" Oh bukan soal itu bang, kalau itu gue mau pindah kuliah malam atau ambil kelas extension atau mungkin cuti satu semester. " Jelasnya sambil menegakkan kembali tubuhnya.
" Lalu ? " Tanyaku heran.
" Kalau mau semester baru gini, gue bakal repot jadi perisainya Momo. " Jawabnya sambil meringis.
" Maksud kamu Moza ? "
__ADS_1
" Iya, kan panggilan sayang bang hehehe.... "
What panggilan sayang dia bilang, rasanya ingin kuremas mulut bocah ini. Satu lagi bocah yang mulutnya menyamai mulut si Bara tengil.
" Maksud kamu jadi perisai ? " Tanyaku masih penasaran.
" Ya kalau semester baru gini apalagi kalau pas ada wisuda mahasiswa gini waktu paling rawan buat tuh anak. " Jawabnya berbelit.
" Jangan berputar-putar. " Protesku.
" Banyak mahasiswa yang pada mau wisuda tuh berlomba-lomba nembak tuh anak, meskipun sebenarnya mereka tahu hasilnya pasti ditolak. " Ucapnya sambil cengingisan.
" Lalu kenapa masih nekat nembak ? " Decakku tak paham.
" Ya mereka modal nekat aja, kalo diterima mukjizat ya kalau ditolak toh mereka gak akan malu juga kan udah lulus gak bakal ketemu lagi di kampus dan jadi bahan olokan karena ditolak. " Terangnya membuatku mengangguk-angguk.
" Sedingin itukan dia menghadapi pria-pria yang mendekatinya ? " Tanyaku.
Julian mengangguk, dan kembali bercerita.
" Cuma sama gue dan Dimas aja dia bisa ngobrol santai dengan lawan jenisnya, itupun dengan Dimas masih berasa ada jarak bang meskipun gak ada yang sadar. Tapi gue ngerasa Momo masih membuat dinding tipis antara dirinya dan Dimas. " Dengusnya sambil menghela nafas.
" Kalau sampai tiba saatnya jika tuh anak gak juga bisa membuka hatinya buat pria manapun, gue rela bang jadi perisainya seumur hidup. " Kalimat lirih Julian membuatku mengerutkan dahiku tak mengerti.
" Jika tuh anak gak menemukan cowok yang bisa bikin dia jatuh cinta, gue rela menjaganya dalam ikatan pernikahan. Toh kami bersahabat, meskipun tidak ada cinta setidaknya kami sudah saling nyaman satu-sama lain. Lagipula sepertinya gak sulit juga mencintai gadis seperti dia. " Ucapan Julian yang terdengar bukan bercanda melainkan bentuk kedewasaannya sebagai seorang pria.
Sahabat yang rela mengorbankan hidupnya untuk menjaga sahabatnya seumur hidup dalam pernikahan meskipun tanpa cinta, dan hanya dilandasi oleh kepercayaan dan kenyamanan sebagai sahabat.
Mendadak kerongkonganku tercekat, hatiku mencelos kacau mendengar penuturannya yang selama ini aku kira Julian adalah pemuda yang petakilan dan bergaya hidup santai nyatanya memikirkan masa depan sahabat perempuannya sampai sebegitu dalamnya.
Sial, ini gak boleh.... Aku harus gerak cepat..... Gak bisa aku biarkan siapapun bersanding dengannya, bahkan Julian sekalipun. Tenang Hega, kendalikan emosimu.
" Apa kamu yakin bisa membuatnya bahagia tanpa cinta ? " Tanyaku memancing.
" Jika cinta tidak pernah masuk dalam kamus hidupnya, ya gue rasa sebagai sahabat gue akan berusaha sekuat tenaga membahagiakannya. Meskipun jika seandainya nanti saat sudah menikah cuma gue aja yang akhirnya jatuh cinta sama dia, gue akan tetap menghormati setiap keinginannya ataupun pendapatnya selama itu membuat dia bahagia. " Lanjutnya masih dengan tampang serius.
Glek...
Aku kembali menelan salivaku sendiri mendengar kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Julian. Bagaimana bisa ada pria yang begitu memperdulikan sahabat perempuannya sedemikian dalamnya tanpa embel-embel cinta sama sekali.
Di satu sisi aku merasa Julian begitu hebat sebagai seorang sahabat, tapi juga begitu murka bagaimana bisa ada seorang pria yang bagiku berbahaya ada di samping gadis yang aku cintai.
Tetap tenang Ga.... Lo gak bisa kebawa emosi....
__ADS_1
Aku terus berusaha menenangkan diriku, menjaga ekspresiku agar tetap normal.
" Kamu yakin tidak sedang jatuh cinta pada sahabatmu itu ? " Tanyaku kembali memancingnya.
" Yakin. " Jawabnya tegas dan mantap.
" Bagaimana jika ada pria yang bisa membuatnya jatuh cinta dan bahagia. " Lanjutku.
" Tentu saja gue akan jadi pria pertama yang paling bahagia jika itu terjadi bang, oh mungkin kedua setelah ayahnya. " Jawabnya sambil manggut-manggut.
" Ternyata kamu adalah sahabat yang baik, melebihi yang saya lihat selama ini. " Ucapku tulus.
" Bang Hega, gue harap pembicaraan kita barusan ..... " Belum sempat Julian menyelesaikan kalimatnya, tapi aku paham betul apa yang akan diucapkannya selanjutnya.
Aku mengangguk mengisyaratkan jika aku tahu maksud kalimatnya untuk menjadikan obrolan kami barusan sebagai rahasia.
" Saya akan istirahat, kamu juga istirahatlah, meeting terakhir masih tiga jam lagi. " Ucapku sambil beranjak dari sofa, menepuk pelan bahunya dan kemudian berjalan menuju kamar tidurku.
Masuk ke kamar, kurebahkan tubuhku di ranjang, menatap langit-langit ruangan dan memikirkan setiap ucapan Julian.
Baiklah, aku anggap dia bukan ancaman. Tapi aku sangat salut dengan sikap Julian yang begitu gentle sebagai seorang pria sekaligus sahabat. Sisi lain seorang Julian yang bertolak belakang dengan sikap yang ditunjukkannya sehari-hari.
Dan mungkin kedepannya, aku bisa mempercayakan untuk menjaga Moza padanya jika aku sedang tidak ada di dekat gadis itu, tanpa ada rasa cemas ataupun cemburu karena sekarang aku sudah tahu karakter Julian yang sebenarnya.
Meskipun kadang aku masih merasa kesal setiap melihat kedekatan diantara mereka berdua.
~~ Flashback End ~~
•
•
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Terima kasih 😊😘😘😍
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕
__ADS_1