Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

AUTHOR


Plak......


Moza yang merasa kesal langsung menepuk lengan Hega dengan keras, " Ihh.... Kenapa kakak malah tertawa si ? Bukannya merasa bersalah telah mengambil ciuman pertamaku saat aku tidak sadar. "


Aduh.... Mulutku kenapa si ? Kenapa aku bahas lagi soal cium coba ?! Agh... bisa gila aku. ~ Moza ~


Bukannya berhenti tertawa, Hega semakin tergelak mendengar kalimat protes kekasihnya. Sisi Moza yang seperti inilah yang membuat Hega semakin jatuh cinta pada gadis itu.


Sikap acuh dan dingin Moza yang selama ini diperlihatkan dihadapan semua orang, nyatanya hanyalah cangkang buatan yang memang sengaja digunakan Moza untuk menutupi sisi rapuhnya.


Sebuah tameng yang digunakannya untuk melindungi dirinya dari luka hati dan air mata. Yang tanpa sadar perlahan-lahan membuatnya menjadi sosok dingin dan sulit membuka diri, terutama untuk rasa hati, asmara dan gejolak muda yang seharusnya sudah bisa dicecapnya sejak ia remaja.


Dan tidak ada yang tahu jika dibalik predikat Ice Queen yang selama ini melekat pada diri Moza, tersembunyi sosok gadis biasa yang manja, imut dan menggemaskan.


Sisi asli Moza yang dia sembunyikan sejak kematian kakak sulungya. Bahkan sejak 10 tahun terakhir, Moza hanya menampaknya sisi dewasa, mandiri dan tegasnya, bahkan di hadapan kedua orang tuanya sekalipun.


Tak ada lagi gadis manis yang manja dan ceria, yang tersisa hanyalah sosok gadis yang introvert, dingin dan minim ekspresi.


Bahkan persahabatannya dengan Deana pun tidak terjalin dengan mudah, Deana harus berusaha keras untuk menembus dinding pembatas yang dipasang oleh Moza karena ketakutannya akan rasa kehilangan jika ia memilih terlalu dekat dengan seseorang secara emosional.


Namun sejak kehadiran Hega, tepatnya sejak hati Moza terpaut pada pemuda yang berbeda usia 6 tahun darinya itu. Seolah sisi yang selama ini mati-matian disembunyikan oleh Moza terkuak dengan sendirinya.


Dengan kelembutan dan sikap dewasa Hega, secara natural dan perlahan sisi asli Moza mulai kembali menampakkan wujudnya.


Mungkin memang hanya Hegalah yang bisa mengembalikan Moza seperti sedia kala, mengembalikan gadis manis yang ceria, manja dan cukup banyak bicara.


Tentunya hanya di hadapan Hega saja Moza baru bisa leluasa menunjukkan sisi dirinya yang sesungguhnya, yang selama ini selalu ingin dikuburnya dalam-dalam dalam keangkuhannya.


" Berhenti tertawa kak ! " Moza begitu kesal, bibirnya mengerucut dan kedua bola matanya membulat menggemaskan.


Pfft.... Kenapa kamu polos begini si sayang ?! Aku kan jadi gemas melihatnya. ~ Hega ~


" Iya, iya. Baiklah aku tidak akan tertawa lagi. Jangan ngambek lagi oke ! " Hega menangkup pipi Moza dn menggerakkan ke kanan dan ke kiri, membujuk gadis itu agar berhenti merajuk.


" Dan soal cium.... " Bukan Hega namanya jika tidak bisa melihat celah kesempatan untuk menggoda kekasihnya.


" Aaaa... Tidak usah dibahas ! " Moza reflek menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Mana bisa begitu ?! Aku harus membersihkan namaku dong. " Hega meraih tangan Moza yang menutup erat telinganya.


" Memangnya yang Deana bilang salah ?! " Tatapan mata polos Moza benar-benar imut dimata Hega.


" Tentu saja dia salah. " Tegas Hega.


" Memangnya tidak benar jika bibir kakak dan bibirku...." Menyadari apa yang diucapkannya Moza segera menutup matanya rapat-rapat dan menggeleng-gelengkan kepalanya beberapa kali.


Aaagh... Gila, kenapa aku harus menyebutkannya lagi si ? Aku seperti menggali masalah untuk diriku sendiri.


" Bibirku dan bibirmu kenapa, hem ? " Hega sungguh ahli membuat kekasihnya tersipu malu.


" Tidak papa, tidak usah dibahas kak. " Moza membuang muka, mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Melihat tingkah imut Moza, sudut bibir Hega melengkung ke atas, diraihnya dagu Moza perlahan agar gadis itu menatapnya.


" Kenapa ? " Hega menatap lekat mata kecoklatan kekasihnya.


" Aku malu kak, kenapa kakak menyebalkan begini si ? " Pipi Moza yang putih langsung merona merah.

__ADS_1


Astaga, tunanganku benar-benar polos dan menggemaskan. Rasanya ingin kulahap dia sekarang juga.


" Bibir kita memang bersentuhan, tapi aku tidak menciummu Momo sayang. " Hega menerangkan dengan lembut.


" Kalau bibir bersentuhan tidak disebut ciuman lalu disebut apa dong kak ? "


Dengan kepolosan Moza, tidak ada yang akan menyangka jika gadis itu akan menginjak usia 21 tahun. Ditambah lagi wajah baby face Moza yang akan membuat siapapun percaya jika ada yang mengatakan kalau Moza adalah pelajar SMA.


Dan Hega benar-benar merasa beruntung bisa mencintai dan mendapatkan gadis semurni Moza sebagai tambatan hatinya, pendamping hidupnya yang akan berada disisinya hingga ajal memisahkan mereka.


" Seperti kata Amira dan Renata, aku hanya melakukan CPR. Tidak bisa dong disebut ciuman, aku bisa rugi jika kamu menuduhku begitu. "


Enak saja, aku bahkan belum merasakan manisnya bibirmu. Aku terlalu cemas saat itu, mana bisa kepikiran menciummu. ~ Hega ~


" Ah... Pokoknya aku sedang kesal. "


" Kenapa lagi coba ?! " Kening Hega mengerut heran.


" Itu kan ciuman pertamaku kak, masa aku tidak ingat ciuman pertamaku si ? " Gerutu Moza lirih, namun tetap saja terdengar oleh indera pendengaran Hega.


Astaga, apalagi yang barusaja aku katakan ?! ๐Ÿ˜–๐Ÿ˜– ~ Moza ~


Jadi dia masih kekeuh menganggap itu sebuah ciuman ?! Bagaimana aku menjelaskannya jika begini ?! ~ Hega ~


Hega menghela nafasnya perlahan, memijat pelipisnya yang terasa pening karena sedikit frustrasi menghadapi keimutan gadisnya yang benar-benar menggoda iman.


Hega kemudian menatap lagi kekasihnya menemukan sebuah ide jahil untuk meredakan kekesalan Moza. Atau mungkin ulahnya akan justru membuat gadis itu lebih kesal lagi nantinya.


" Jadi kamu kesal karena kamu tidak bisa ingat bagaimana ciuman pertama kamu begitu ?! " Tanya Hega menggoda kekasihnya.


BLUSH....


" Eh... Bukan begitu kak. Tapi.... "


" Tapi apa, hem ? " Hega memainkan alisnya naik turun dan jari-jarinya bermain di rambut Moza yang tergerai.


" Ah sudahlah, kan sudah kubilang itu bukan ciuman. Lagipula bagaimana mungkin aku menciummu saat kamu tidak sadarkan diri, aku kan juga ingin lihat ekspresi manis dan menggemaskanmu saat sedang kucium ? " Goda Hega seraya mengedipkan satu matanya.


Hega benar-benar bukan lawan yang mudah, sekali lagi Moza harus mengakui jika dirinya kalah telak dari kekasihnya itu.


Ugh.... Siapapun tolong aku. ๐Ÿ˜“๐Ÿ˜“


" Baiklah, kakak menang. Aku salah paham. Maafkan aku kak, jadi hentikan pembahasan tentang ini. "


" Mana bisa ?! Semua harus jelas dulu dong. "


Aku belum mendapatkan yang kumau, mana bisa berhenti di tengah usahaku ?! ~ Hega ~


" Apalagi ?! " Tanya Moza ketus.


" Tentu saja soal ciuman pertama. " Jawab Hega santai dengan masih memainkan rambut Moza dengan jarinya.


GLEK...


Moza melotot tajam, dan kemudian tubuhnya beringsut lemah merasa tidak akan bisa menang melawan kekasihnya.


" Baiklah kak, seperti yang kak Hega katakan kalau yang terjadi di kolam tadi itu CPR bukan ciuman. Puas ?! " Ujarnya pasrah, berharap Hega menghentikan pembahasan tentang seuatu yang membuatnya terus berdebar itu sekarang juga.


" Nah begitu dong, jangankan untuk disebut ciuman, apa yang aku lakukan itu bahkan tidak bisa disebut sebagai kecupan. "

__ADS_1


Tentu saja harapan Moza hanya tinggal harapan, nyatanya Hega tampak belum berniat menghentikan pembicaraan tentang ciuman.


" Eh... Ke-kecupan ?! Apa lagi coba ? "


Ya Tuhan.... Gadisku manis sekali saat bingung begini. ~ Hega ~


" Kamu mau tahu apa bedanya kecupan dan ciuman ?! " Tanya Hega sembari mengerling nakal.


" Ahh... Eumm... Ti..." Belum sempat Moza menyelesaikan kalimatnya karena terlalu gugup, bibir Hega sudah mendarat dengan cepat di bibirnya.


CUP....


๐Ÿ–ค๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿงก๐Ÿ’œโค๐Ÿ’™


Lanjut ???? Atau gangguin dulu biar gagal modus... ???! ๐Ÿ˜†๐Ÿ˜† Tenang aja, kali ini sepertinya author lagi males gangguin Babang Hega, so next part adegan yang ditunggu mungkin saja terjadi ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


LIKE COMMENT DAN VOTE nya DONG JANGAN LUPA CUY.... ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜˜


...๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ...


...Semangat para author ada karena dukungan kalian...


...Mari dukung para penulis dalam negeri dengan memberi apresiasi berupa Like, Komentar dan Vote ya ๐Ÿ˜...


...๐Ÿ’ฎ...


...All the authors whose works you read...


...Please appreciate their efforts...


...Please support us......


...๐Ÿ’š...


...Like...


...โค...


...Comment...


...๐Ÿ’œ...


...Vote ๐Ÿ˜˜...


...๐Ÿงก...


...Follow Author ya ๐Ÿ˜˜...


...๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ...


Curhatan ๐Ÿ˜“ : Chapter kemarin sepi komentar jadi sempet agak males update. Maafkan kelabilanku ya teman-teman.... Author kan juga manusia... Mood kadang naik dan turun begitu saja.


โžก๏ธ Next part Gimana kalau komennya rame aja baru UP ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Kasian Thor bibirnya Momo kelamaan dempetan ma bibir bang Hega


Kagak apa-apa, mereka malah kesenengan gak kelutungan ๐Ÿ˜†. Iye gak ( colek Momo dan Babang Hega )


Hega : ๐Ÿ‘ thor

__ADS_1


Momo : ๐Ÿ™ˆ


__ADS_2