
AUTHOR
Mata sayu dan bibir cemberut Rania sudah berganti dengan binar bahagia dan senyum cerah ceria yang mengembang di sudut bibir gadis mungil yang masih sekolah di bangku Taman Kanak-Kanak itu.
Rania begitu senang kepalanya diusap oleh Ryuza, apalagi pemuda tampan itu memanggilnya dengan sebutan peri kecil, panggilan sayang yang diberikan kakaknya untuk dirinya.
Belum lagi wajah tampan di hadapannya itu sedang tersenyum memandangnya, meskipun senyum tipis dan singkat tapi cukup membuat Rania bahagia bukan kepalang.
Seketika hati Rania terasa berbunga-bunga, rasanya juga seperti ada jutaan kupu-kupu yang menggelitik dan menari-nari di dalam perutnya.
Rania masih terbengong menatap pemuda tampan yang menurutnya memiliki ketampanan yang setara dengan kakak kesayangannya, Hega.
Untuk pertama kalinya Rania melihat pria yang menurutnya bisa menyamai ketampanan hakiki milik kakak lelaki yang selalu dipujanya.
Seketika pula roda kehidupan Rania yang selama ini berputar hanya pada kakaknya, perlahan berpindah arah menuju pria tampan dan rupawan yang tengah menatap dirinya.
Saat semua mata masih fokus pada dua insan berbeda usia itu, kalimat yang keluar dari bibir mungil Rania kembali mengejutkan semua orang dan berhasil meledakkan kembali tawa bahagia semua orang yang tengah berkumpul di rumah utama.
" Apa Kakak adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk Rania sebagai pengganti Kak Hega yang akan menikahi Rania nanti ? " Celetukan lucu kembali keluar dari bibir Rania tanpa disadarinya.
" Heeh......." Ryuza semakin terbengong mendengar pertanyaan gadis mungil itu, dahinya mengerut keheranan, menggaruk-garuk kepalanya yang juga tidak gatal kemudian menoleh pada kakaknya dan kedua orang tuanya secara bergantian.
" PFFTTT....... "
Dan kalimat Rania juga sukses membuat perhatian semua orang kembali pada sosok mungil Rania, dan seketika semuanya tergelak mendengar kalimat polos gadis mungil yang tengah menatap Ryuza dengan tatapan terpesona itu.
Ryuza yang bingung mau menanggapi bagaimana tingkah imut Rania hanya bisa tersenyum kemudian mencubit pelan pipi cubby gadis kecil itu.
Setelah itu Ryuza kembali berdiri meninggalkan Rania yang malah mengekor padanya, berjalan menyapa dan menghampiri semua orang tua dan mencium punggung tangan mereka satu per satu.
Tapi dengan datar dan acuh malah melewati Hega begitu saja.
" Hem. " Hega hanya mendengus pelan menanggapi kelakuan calon adik iparnya yang memang sudah kurang ajar sejak pertemuan pertama mereka.
Bagaimana tidak ? Di pertemuan mereka yang pertama saja, Ryuza sudah menghadiahi beberapa bogem mentah di wajah dan perut Hega sebagai tanda perkenalan.
Jika bukan karena bocah itu adalah kesayangan kekasihnya, maka sudah pasti nasib Ryuza saat ini akan lebih mengerikan dari nasib Bara yang seringkali membuatnya kesal.
" Ryu, kenapa kamu tidak menyapa kakak iparmu ?! " Omel Ayu pada putra bungsunya.
Ryuza menatap datar ke arah pria di samping kakaknya dan melengos tanpa dosa, " Masih calon, bun. Entar kalau sudah resmi baru Ryu mau salim. " Jawab pemuda itu santai.
__ADS_1
Ayu menjewer telinga putranya yang yang barusaja menjatuhkan pantatnya di sampingnya, " Dasar anak nakal, bukannya sekarang atau nanti sama saja ?! Memangnya kamu berharap kakakmu tidak jadi menikah apa ?! " Omel Ayu lagi sembari memelototi putranya.
" Aduh ampun, bun ! " Pemuda itu meringis, kepalanya miring mengikuti tarikan tangan bundanya yang menjewer telinganya.
" Kenapa ? Sakit ? " Cibir Ayu seraya mendelikkan kedua matanya lagi dan melepaskan tangannya dari telinya putranya.
" Bukan masalah sakitnya, bun. " Jawab Ryuza seraya menggosok-gosok telinganya.
" Lalu apa ? " Tanya Ayu geram.
" Malu bun, Ryu sudah besar ini masih juga dijewer. Emangnya Ryu bocah SD apa ? " Jawab Ryuza seraya bersungut-sungut.
" Ya, kelakuanmu memang sangat kekanakan melebihi bocah SD. Masa kamu ngambek hampir satu bulan karena kakakmu akan menikah ?! Bahkan saat kakak iparmu sering datang pun kamu malah bertingkah tidak karuan. Untung saja Hega itu sabar ngadepin kelakuan kamu yang ngeselin ini. " Omel Ayu lagi.
Kemudian Ayu menghampiri gadis kecil yang sedari tadi mengekor putranya, saat ini gadis itu sudah berdiri di depannya dengan tatapan mata yang masih fokus pada putra bungsu keluarga Dama itu. Ayu membawanya untuk duduk di pangkuannya.
" Benarkan tante bilang tadi kalau tante punya putra yang sangat tampan ? " Ucap Ayu sembari mencubit pipi Rania dengan gemas.
Gadis itu mengangguk dan tersipu malu, benar-benar sangat imut. Dan kedua manik mata Rania tidak beralih sedikitpun dari pemuda yang duduk di samping wanita yang sedang memangkunya.
" Ish... Tadi aja diomelin, dipelototin terus dijewer. Sekarang malah dipuji-puji. Dasar bunda ini suka pamer-pamerin anaknya. " Gerutu Ryuza lirih
" Ya, memang kamu itu cuma gantengnya aja yang bisa bunda pamerin. " Omel Ayu sewot.
" Buat apa ganteng sama pinter doang kalau kelakuanmu ketus dan horor melulu kalau ada cewek yang naksir. Udah bagus ini bunda cariin calon istri buat kamu. " Omel Ayu sembari mengelus rambut panjang Rania.
" Ckk.... " Ryuza yang merasa lelah memilih berhenti mendebat ibunya yang memang emak-emak banget jika sudah mengomel.
" Hahaha.... Sepertinya hubungan keluarga kita akan semakin erat saja, dalam sekejap Papi mendapatkam cucu menantu yang cantik dan tampan sekaligus. " Ucap Suryatama seraya tergelak.
" Uhuk.... " Meskipun dianggapnya gurauan semata, Ryuza tetap kaget dan terbatuk mendengar ucapan Kakek Suryatama.
" Hahaha.... Mereka masih anak-anak, Om. " Ucap Ardi merasa malu dengan kelakuan istrinya.
" Ardi benar, Pi. Mereka masih terlalu muda untuk kita memikirkan dan memutuskan hal itu. " Imbuh Aryatama yang justru merasa malu pada kelakuan putri kecilnya.
Β
" Ah... Masih muda apanya si Mas Arya ? Gak papa dong jodoh diatur mulai dini, buktinya saja Hega dan Moza bisa. Jodoh kan tidak ada yang tahu, setelah berpisah bertahun-tahun lamanya, takdir juga yang membuat mereka kembali bertemu dan saling jatuh cinta, bahkan sebelum kita para orang tua mengatur pertemuan untuk mereka. " Ucap Ayu kegirangan.
" Dan apa Ayah lupa umur berapa saat Momo merengek ingin menikah dengan Hega ? Setiap hari bahkan putri kita mengekor pada Hega dan merecoki Hega agar mau berjanji menikahinya ketika besar nanti. " Lanjut Ayu sambil melirik Moza tersenyum gemas mengingat masa lalu yang sangat lucu baginya itu.
__ADS_1
Moza terbelalak seketika, menatap bundanya dengan tatapan protes, " Eh.... Bun. Mana ada Momo seperti itu ? "
" Kamu masih kecil waktu itu tentu saja kamu lupa. Iya kan, Yah ?! " Goda Ayu santai dan suaminya itu mengangguk pelan membenarkan perkataan istrinya, kemudian menggaruk belakang telinganya karena merasa lucu mengingat kelakuan putrinya waktu kecil.
B L U S H . . .
Pipi Moza langsung merona merah seperti buah persik, membuat gadis itu reflek menutup kedua pipinya dengan telapak tangannya.
Aaaa.... Aku malu... Kenapa Bunda menceritakan sesuatu yang memalukan si ?! Dan lebih buruknya aku tidak mengingatnya....Tolong sembunyikan aku dimana saja π.
Teriak Moza dalam hati.
" Jadi kamu sudah jatuh cinta padaku sejak lama, hem ?! " Bisik Hega di telinga Moza yang tiba-tiba sudah memiringkan badannya ke arah kekasihnya itu.
" Ish... Apa si, Kak ?! " Elak Moza ikut memiringkan badannya menjauh dari Hega.
" Aku memang tampan sedari kecil, jadi wajar kalau kamu sudah tergila-gila padaku sejak dulu. Jadi akui saja, hem ! " Goda Hega lagi.
Aaaa... Tuh kan dia mulai lagi. Lihat itu wajahnya yang tampak senang seperti habis dapat lotre. Huuuu.... Menyebalkan, memangnya aku harus jawab apa ? Apa aku harus jawab kalau aku memang tergila-gila padamu sejak kecil baru kakak akan puas begitu ?! Aku kan bahkan tidak mengingatnya.
Gumam Moza lagi dalam hatinya, kesal sekaligus malu bercampur jadi satu. Jika bisa Moza ingin segera kabur saja dari sana.
" Sepertinya justru kalian lah yang sudah melupakan sesuatu yang lebih menarik. " Melihat wajah merah merona calon cucu menantunya, Suryatama tiba-tiba menyela dengan santainya.
Entah sejak kapan Suryatama selalu berada di pihak Moza, Suryatama bahkan terang-terangan terlihat lebih menyayangi cucu menantunya daripada Hega yang cucunya sendiri.
Nada bicaranya terdengar misterius seolah hendak mengungkap satu lagi rahasia kejadian masa lalu yang terdengar menarik untuk diceritakan.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
...Ada yang penasaran juga kah masa lalu HeZa ?!...
...Si Kakek perlu cerita apa gak ya ?!...
...INI KETIKNYA NGEBUT YA...
...MAAF KALAU BANYAK TYPO NYA...
...πππ...
...JANGAN LUPA JEMPOLNYA DI GOYANG YA SAYANG......
__ADS_1
...LIKE ~ KOMENTAR ~ VOTE...
...BABANG HEGA YAH πππ...