
AUTHOR
" Apa kakak tahu ada kalimat Jawa yang mengatakan 'Wong lanang menang milih, wong wadon menang nolak * ' ? [ Pria punya kuasa memilih, Wanita punya kuasa menolak ] "
FYI : * Yang artinya laki laki bisa memilih wanita manapun yang mau dia dekati ( karena dalam budaya Jawa tidak sopan atau saru jika wanita yang lebih dulu mendekati ), tapi wanita lah yang bisa menolak kalau dia tidak mau di dekati.
Hega mengangguk pelan, meskipun darah Jawa yang didapatnya dari neneknya mungkin tidak terlalu kental mengalir dalam dirinya, dan juga Hega yang cukup lama tinggal di luar negeri.
Tapi tidak lantas membuatnya melupakan budaya sendiri, selain itu hobi membaca membuatnya memiliki banyak pengetahuan secara umum.
Meskipun Hega memang pernah mendengar kalimat berbahasa Jawa itu dan tahu betul artinya. Tapi Hega belum bisa menangkap apa hubungan kalimat tersebut dengan hal yang tengah mereka bicarakan saat ini.
Dan sungguh untuk kali ini sepertinya pria ber-IQ sempurna itu terlihat kesulitan memahami kemana arah pembicaraan kekasihnya itu.
" Dilihat dari wajah, penampilan dan juga latar belakang keluarga, jelas terlihat jika kak Alina memiliki banyak pria yang ingin mendekati dan menginginkannya. Aku yakin dia sudah menolak banyak pria karena berharap perasaannya pada kakak terbalaskan. " Ucap Moza menerka-nerka kemudian mengangguk-angguk sendiri meyakinkan jika tebakannya pasti tepat.
Moza memiringkan badannya, menghadap Hega dan menangkup wajah Hega dengan kedua tangannya. Menatap mata elang hitam legam milik kekasihnya yang selalu membuatnya terpesona.
" Dan perempuan seperti itu rela mengesampingkan harga dirinya karena cintanya pada kakak. Karena cemburu pada perempuan yang dianggapmya saingan cintanya, dia bahkan rela melakukan hal paling buruk dan memalukan sekalipun untuk membalas wanita yang membuatnya tidak bisa mendekati pria yang disukainya. "
" Dan aku merasa kasihan pada sisinya yang seperti itu. Wanita cantik, terpelajar dan berasal dari keluarga terpandang. Melakukan hal memalukan untuk membalasku dan bahkan menyakitiku. Yah... tentu saja aku tidak bisa menyerah meskipun dia sudah bertindak senekat itu, jadi mungkin dengan menjaga wajahnya di hadapan kakak, anggap saja sebagai bentuk kompensasi atau mungkin juga toleransi terakhirku sebagai sesama wanita. Toh aku juga tidak sampai terluka parah. "
Hega meraih dan menggenggam kedua tangan Moza, meletakkannya diatas pangkuannya. Dan memalingkan wajahnya tampak kesal.
" Ck.... Tetap saja aku tidak suka, jangan melakukannya lagi ! Jangan temui dia meskipun dia memohon !" Titah Hega dingin.
" Huft.... Baiklah. " Moza pasrah, jelas terlihat Hega sedang mode merajuk padanya.
Dengan perlahan Moza mendaratkan kepalanya di dada Hega, melepaskan tangannya dari genggaman Hega dan melingkarkankannya di pinggang pria tampan di sampingnya itu. Kemudian mendusel-duselkan kepalanya di dada Hega dan bermanja-manja.
Berharap dengan tingkah manjanya itu bisa meluluhkan hati Hega yang sedang kesal, meskipun dalam hati Moza geli sendiri dengan tingkahnya.
__ADS_1
Tapi mau bagaimana lagi, cara cepat menjinakkan kekasihnya saat sedang marah atau kesal ya hanya dengan bertingkah imut dan manja seperti yang sedang dia lakukan saat ini.
Dan benar saja, pria tampan itu melunak seketika, Hega melingkarkan tangan kirinya di punggung Moza dan membelai kepala gadis itu dengan tangan kanannya.
Hega tersenyum simpul, " Kamu tahu kan aku begini karena aku mencemaskanmu ?! " Ucap Hega lembut.
" Hm, aku tahu, kak. " Jawab Moza seraya mengangguk dengan posisi masih berada di pelukan Hega, dan Hega mendaratkan kecupan lembut yang cukup lama di pucuk kepala gadis itu.
Moza selalu merasa nyaman dan aman setiap kali berada dalam dekapan Hega, hatinya sangat tenang ketika mendengar detak jantung Hega.
Entah berapa lama posisi mesra itu berlangsung, Moza masih terbuai dalam kenyamanan yang menyelimutinya. Dan Hega sendiri memang sangat suka memeluk gadis cantik itu, selalu tidak rela untuk melepaskan Moza dari kuasanya.
Namun semua harus berakhir saat tiba-tiba Moza mendongakkan kepalanya dan dahinya hampir berbenturan dengan dagu Hega jika saja pria itu tidak sigap dan ikut mendongakkan kepalanya ke atas untuk menghindari benturan.
" Tapi apa kakak tahu aku rasanya jadi merinding sendiri, bagaimana jika nantinya ada wanita lain yang mendatangiku dan melakukan hal lebih ekstrem daripada yang kak Alina lakukan hari ini ?! " Ucap Moza menggoda kekasihnya tapi nadanya terdengar serius tidak lupa ditambah gerakan bergidik dengan menggetarkan kedua bahunya sendiri.
Hega menunduk, menatap manik mata Moza yang juga sedang menatapnya, " Maksud kamu ? "
" Cih.... Kakak jangan pura-pura tidak tahu ya ?! Jelas-jelas aku mendengar pegawai resepsionis berbisik-bisik jika banyak wanita cantik dan seksi yang terus berusaha membuat janji untuk bertemu dengan kakak. " Sewot Moza.
" Cemburu ? Aku ? " Protes Moza dan dijawab anggukan mantap oleh Hega.
" Tentu saja tidak ! Aku hanya tidak mau jadi bahan tontonan ya, kak. Cukup hari ini saja aku merasa seperti sedang dilabrak, seolah aku lah antagonisnya di sini. Benar-benar memalukan tahu, apalagi saat dia menggebrak meja, beberapa pengunjung cafe langsung menoleh ke arahku dan menatapku seolah aku yang merebut kekasihnya. Huuh... " Protes Moza judes seraya mengerucutkan bibirnya.
" Pffft..... "
" Jangan tertawa, Kak ! " Memukul lengan Hega dengan keras.
" Hmph.... Tenang saja, itu tidak akan terjadi lagi. Tapi aku senang kamu cemburu seperti ini, sangat menggemaskan. " Kali ini pipi Moza yang menjadi sasaran cubitan gemas Hega.
" Sudah aku bilang aku tidak cemburu, Kak. " Elak Moza, tapi semburat merah jambu di kedua pipinya tidak bisa membohongi Hega.
__ADS_1
" Ah... Dan apa ya yang kudengar tadi ' aku sudah ada di hatinya sejak 20 tahun yang lalu ' ? Apa kamu pikir aku seorang pedofil, hem ? " Goda Hega tidak lupa menirukan intonasi Moza saat mengatakan kalimat itu pada Alina.
" Hahaha.... Aku kan hanya memanfaatkan kenyataan dari cerita kakek tempo hari. Apakah aku salah kak ? " Ujar Moza canggung mencoba membela diri.
Hega menjatuhkan kepalanya di bahu Moza, " Hmmph.... Kamu tidak pernah salah, sepertinya aku memang sudah ditakdirkan untuk menjadi bucinnya kamu sejak aku pertama kali melihatmu 20 tahun yang lalu. " Ucap Hega tanpa malu sama sekali, kedua tangannya sudah melingkar di pinggang Moza.
" Hehehe.... Menggelikan. " Moza terkekeh mendengar kalimat Hega yang semakin menggelikan.
" Biar saja. " Jawab Hega cuek dan malah uyel-uyel gemas di bahu kekasihnya membuat Moza kegelian karena tingkah Hega.
Moza menggeliat, mendorong Hega pelan, " Aaahhh..... Kak, geli. Hentikan ! Ayo kita makan saja ! " Sungutnya kemudian seraya berusaha menjauhkan kepala Hega yang sudah merambat cepat ke lehernya.
" Aku sedang makan tahu. " Protes Hega saat Moza menghentikan kesenangannya.
" Eh.... Kan kakak belum mengambil satu makanan pun dari tadi ?! " Menatap wajah Hega yang mendadak muram.
" Ini tadi kan aku sedang makan, kamu menganggu acara makanku tahu. " Gerutu Hega lagi.
" Aaa... Memangnya kakak vampir apa mau menggigit leherku ! " Omel Moza lagi saat mengerti maksud ucapan kekasih jahilnya itu.
" Haish... Kamu tahu itu kan cara favoritku untuk mengisi energiku dengan cepat. Istilahnya fast charging. " Hega yang tidak mau kalah terus mencoba melakukan aktivitasnya.
Aaaa.... Sejak kapan kakak jadi mesum begini si ?!
Batin Moza sambil terus berusaha menjauhkan wajah Hega yang masih terus berusaha mendekat padanya.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
...Terima kasih sudah membaca episode ini....
...Jangan lupa Like, Komentar dan Vote nya ya teman-teman....
__ADS_1
...I Love You Full...
...IG @ sherinanta...