
AUTHOR
Kediaman Ardi Dama telah disulap bak istana bunga. Bunga tulip putih yang indah dan segar menghiasi kediaman sang mempelai wanita.
Bahkan tangga mewah di rumah itu juga dihiasi bunga-bunga yang cantik bernuansa putih nan elegan.
Ruang tamu hunian Ardi Dama bahkan tak kalah mewahnya, dalam semalam berhasil disulap menjadi area hijab kabul yang juga dihiasi bunga-bunga cantik dan indah seperti di meja dan kursi akad.
Dengan backdrop berupa rangkaian bunga melengkung yang semakin menambah kesan elegan dan mewah.
Semalam Hega meninggalkan kediaman Ardi Dama setelah menemani calon istrinya seharian, nonton drama korea favorit Moza. Bahkan Hega masih sempat memanggil layanan VVIP spa dan perawatan wajah ke rumah untuk calon istri tercinta.
Setelah insiden yang terjadi kemarin tentu saja gadis itu butuh merilekskan dirinya, tidak hanya batinnya yang kelelahan, tapi raganya juga butuh ditenangkan.
Hega benar-benar tahu bagaimana menggunakan kuasa dan kekayaannya untuk membahagiakan calon istrinya. Dan tentu saja ini baru seujung kuku baginya. Akan banyak lagi hal mengejutkan yang akan dilakukan pria yang sudah kaya sejak lahir itu untuk wanita paling berharga dalam hidupnya.
Sebelum pergi meninggalkan kediaman Ardi Dama, Hega lebih dulu memastikan kondisi Moza baik-baik sebelum memutuskan untuk kembali ke mansion Suryatama untuk persiapan hari istimewa nan sakral yang akan berlangsung hari ini.
Dan pagi ini tepat pukul 9 pagi, rombongan pengantin pria sudah tiba kembali di kediaman mempelai wanita untuk melaksanakan prosesi ijab kabul.
Hega terlihat sangat tampan dengan setelan jas berwarna putih. Tidak lupa sebuah sangkok berwarna senada dengan list perak menutup sebagian rambut hitamnya.
Membuat ketampanan pria itu naik seribu kali lipat ditambah aura yang menenangkan di wajah tampannya yang biasanya acuh dan jutek yang hari ini berubah menjadi begitu kalem dan teduh.
Benar-benar menjadi sosok calon suami idaman.
Tapi tidak ada yang tahu jika diam-diam pria itu menyembunyikan kegugupannya. Beberapa kali Hega berusaha menetralkan degup jantungnya yang seolah hendak keluar dari tubuhnya. Kecuali seorang pria paruh baya yang duduk di balik punggung pemuda itu.
" Kamu gugup, hah ?! " Bisik Aryatama di telinga putranya.
Entah mengapa pertanyaan sang papa terdengar seperti bernada cemas dan mengejek di waktu yang bersamaan.
" Tentu saja Hega gugup, Pah. Memangnya dulu saat menikah dengan Mama ataupun Mami, Papa tidak merasa gugup apa ?! " Dengus Hega lirih namun jelas bernada kesal.
Arya malah terkekeh kecil mentertawakan putranya, " Papa kira kamu tidak akan punya rasa gugup saat menghadapi apapun. Ternyata kamu juga lelaki normal. " Goda pria paruh baya itu kemudian kembali terkekeh mengejek.
" Sudahlah, Pa. Jangan membuat Hega semakin tegang. " Protesnya.
Tiba-tiba Arya mencengkeram pundak Hega, " Eh, jangan tegang dulu sekarang ! Nanti malam saja, biar cucu buat papa langsung jadi. " Arya semakin usil dan terkikik di belakang putranya.
Hega menoleh ke arah pria di belakangnya dengan mata melotot galak, " Papaaaa.... " Pekik Hega dengan gigi bergemerutuk menahan agar tidak sampai berteriak.
Akh, bisa gila Hega mendengar gurauan sang papa yang mulai ngelantur. Dan sejak kapan pula papanya itu bisa bercanda semesum itu, ah masa bodo.
" Hahaha. . . Iya, iya. Dasar sensian kamu. Jangan terlalu tegang begitu, kamu bahkan belum melihat calon istri mu, bisa-bisa kamu pingsan nanti. Ah. . . Papa jadi cemas -- " Arya kembali terkekeh, nyatanya itu adalah caranya menenangkan sang putra agar pria tampan yang dilahirkan istri pertamanya itu bisa sedikit melupakan kegugupannya.
Mungkin seperti itu jugalah dulu Suryatama menenangkan dirinya saat akan menjalani prosesi ijab kabul ketika menikahi istri pertamanya, wanita yang melahirkan Hega.
Benar saja, seketika wajah Hega sedikit linglung, pria itu tengah membayangkan bagaimana wajah cantik Moza dengan balutan kebaya pengantinnya. Ahhh, benar-benar sudah tidak sabar melihatnya.
" Ambil nafas panjang, Nak ! " Ucap sang papa seraya menepuk-nepuk pelan bahu putra semata wayangnya itu, seolah sedang mengalirkan dukungan dan rasa tenang pada putranya.
" Huuuuft . . . ! " Hega menuruti saran sang papa, menghela nafas kemudian melantunkan lafadz tahlil, tahmid, dan takbir yang bisa menenangkan hatinya dan meredakan kegugupannya, rasanya benar-benar seperti mau berangkat berperang saja.
__ADS_1
Hega sudah duduk di kursi yang disiapkan untuk acara ijab kabul, di hadapannya, sang calon ayah mertua Ardi Dama yang sudah siap untuk membimbing sang calon menantu mengikrarkan janji pernikahan.
Hega tidak pernah menyangka rasanya akan segugup dan semendebarkan ini.
Dibandingkan dengan harus menghadapi ratusan klien, ternyata menghadapi sang calon mertua tepat saat ijab kabul pernikahan sungguh seribu kali lebih berat dan menegangkan.
Padahal ini bukan satu dua kali Hega berhadapan dengan ayah dari kekasih hatinya itu.
Tetapi entah kenapa hari ini auranya sungguh berbeda dibandingkan pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.
Perlahan kegelisahan Hega mendadak sirna saat kekasih hatinya muncul dari arah tangga. Gadis itu begitu cantik, sudah bagaikan bidadari yang turun dari langit. Bahkan sepertinya kata cantik saja tidak dapat menggambarkan pemandangan indah di depan matanya itu.
Hega bahkan yakin kalau bidadari pun pasti akan merasa minder seketika jika disandingkan dengan calon istrinya yang hari ini terlihat luar biasa menawan.
Gadis itu mengenakan kebaya putih senada dengan setelan jas yang dikenakan Hega, rambut panjangnya disanggul modern dan dilengkapi aksesoris rambut dan sebuah mahkota permata tersemat cantik di atas kepalanya. Mahkota yang semakin terlihat sempurna dengan untaian bunga melati hiasan kembang tanjung.
Semakin membuat aura kecantikan Moza terlihat jelas dan tak terbantahkan.
Moza hadir bagaikan jelmaan Dewi yang menghipnotis seluruh tamu undangan yang hadir dalam acara sakral tersebut. Kecantikannya bahkan mampu membuat semua mata begitu enggan berpaling dari wajah ayu nan memukau itu.
Begitu pula dengan mata elang Hega yang seolah akan keluar dari kelopak matanya karena terlalu terpukau dengan kecantikan sang calon istri.
Moza juga tidak kalah gugupnya dengan pria yang tengah memandang dirinya itu.Β Tapi dengan tenang gadis cantik itu membalas tatapan terpesona pria itu dengan senyum yang sangat menawan.
Sebuah senyuman yang berhasil membuat segala kegugupan Hega sirna seketika, karena senyum sang calon istri terasa bagaikan embun pagi yang mampu menyejukkan hatinya.
Rona merah di pipi Moza semakin kentara karena tersipu malu mendapati tatapan mata kekasih hatinya yang membuatnya semakin berdebar-debar.
" Ekhem . . . " Suara pak penghulu berhasil membuyarkan semua tatapan terpesona semua orang. Begitu pula dengan Hega yang seolah kembali tersadar dari sihir cinta bidadari hatinya.
Moza berjalan menuju meja ijab kabul, diapit oleh dua wanita paruh baya yang juga masih sama-sama terlihat sangat cantik. Siapa lagi jika bukan Ayu Puspita, ibunda kandung Moza dan juga Rastiana Kamila, sang calon mami mertua.
Tidak lupa ketiga sahabat cantiknya, Dea, Amira dan Renata yang mengiringi di belakang Moza.
Dengan dituntun oleh kedua wanita tersebut, Moza berhasil sampai dengan selamat tanpa hambatan meskipun sempat kesulitan dengan kain jarik yang melilit area pinggul hingga mata kakinya begitu erat.
Dengan perlahan Ayu dan Rasti membimbing putri mereka untuk duduk di samping Hega. Dan kemudian menutup kepala Hega dan Moza dengan sebuah kerudung panjang berwarna putih berbahan brukat dengan bunga-bunga keperakan.
" Apa bapak sudah siap ? " Tanya penghulu pada Ardi yang memutuskan akan menjadi wali nikah langsung dalam pernikahan putri satu-satunya.
" Saya siap. " Jawab pria paruh baya yang sangat tampan dengan setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putihnya.
" Apa mempelai pria juga sudah siap ? " Pertanyaan penghulu beralih pada Hega.
" Siap. " Tegas Hega lugas yang kembali memancing gelak tawa para tamu.
" Koyoke manten lanang e wes gak sabaran Iki. " Ledek pak penghulu yang berdarah Jawa itu berusaha mencairkan ketegangan yang pasti sedang melanda kedua calon pengantin.
[ Sepertinya pengantin prianya sudah tidak sabaran ini. ]
HAHAHAHA . . .
Dan tentu saja guyonan pak penghulu semakin memeriahkan suasana di kediaman Ardi Dama yang sudah penuh dengan tamu dari pihak keluarga dan tetangga terdekat yang akan menjadi saksi bersatunya sepasang insan manusia yang sedang jatuh cinta ini.
Setelah beberapa wejangan yang dilontarkan oleh penghulu perihal pernikahan, tanggung jawab suami dan istri serta bagaimana terbentuknya rumah tangga yang sakinah mawadah warahmah.
__ADS_1
Tiba lah saatnya moment terpenting yang paling ditunggu-tunggu oleh semua orang.
Suasana mendadak hening dan tenang, saat detik-detik menjelang moment sakral pengucapan ijab kabul. Tidak ada seorang pun yang bersuara, semua duduk di tempat mereka dengan sangat tenang. Menanti dengan tidak sabar momen berharga yang tidak ingin mereka lewatkan tersebut.
" Pak Ardi, monggo [silahkan] ! "
Ardi mengulurkan tangannya dan diikuti oleh calon menantunya yang menjabat erat tangannya, " Ekhem. . .Β Bismillahirrahmanirrahim. "
" Saya nikahkan dan kawinkan engkau ananda Hega Airsyana Saint Bin Arya Tama Saint dengan putri kandung saya ananda Moza Artana Dama Binti Ardi Dama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu set perhiasan berlian serta satu buah platinum key dibayar tunai. " Tuturnya mantap diakhiri hentakan kecil tangannya yang menjabat erat tangan Hega.
" Bismillahirrahmanirrahim. "
" Saya terima nikah dan kawinnya Moza Artana Dama Binti Ardi Dama dengan mas kawin tersebut tunai. " Dalam satu tarikan nafas, Hega berhasil mengucapkan ikrarnya dengan sangat lancar. Hatinya seketika lega dan bahagia.
" Bagaimana saksi ? Sah ? "
" Saaaahhhhh. . . "
" Alhamdulillah. " Ucap sang penghulu dilanjutkan pembacaan doa-doa yang disambut dengan khidmat oleh seluruh tamu undangan.
Kemudian kedua mempelai saling memasangkan cincin di jari manis masing-masing.
Dilanjutkan mempelai wanita mencium punggung tangan mempelai pria yang kini telah sah menjadi suaminya, imamnya. Disambut sebuah kecupan manis mendarat lembut di kening sang istri.
Sebuah moment mengharukan yang tidak lepas dari air mata haru dan bahagia dari keluarga dan para sahabat dari kedua mempelai.
Moza mendongakkan wajahnya, menatap wajah tampan pria suaminya. Senyum bahagia tidak henti-hentinya merekah dari bibir sepasang pengantin baru itu.
" Ekhem. . . "
Dan selalu saja ada iklan yang mengganggu adegan romantis sepasang kekasih itu, bahkan saat mereka sudah halal sekalipun. Sepertinya akan selalu ada pengganggu yang merusak moment mendebarkan kedua insan yang sudah resmi menjadi suami istri tersebut.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Siapa hayo yang gangguin ????
Yang bisa jawab benar aku kasih hadiah π€£π€£π€£
β‘οΈ Karena challenge di igeh thor gak ada yg claim hadiahnya, jadi hadiahnya masuk kantong thor lagi ya.ππ
Tapi tenang, akan thor jadikan give away lagi spt di GC, tp bukan berupa pertanyaan. Melainkan jumlah vote. Akan dihitung periode vote 1-14 Februari. 3 tertinggi vote akan langsung dapat pulsa.
β Yang udah menang di GC boleh tetep ikutan
β Khusus yang mau aja loh
β Tidak disarankan bagi yang merasa sultan, karena pasti nyinyir hadiahnya retcheeeh-an π
Terima kasih sudah membaca story saya yang retcheeeh ini. Sampai jumpa di story selanjutnya.
π ini contoh penampakan ya, nanti tgl 01 Februari sudah di reset ulang. Wew How, kalean jan lupa update versi noveltoon kalean ay. tampilannya cihuy
__ADS_1