Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Deana Baper


__ADS_3

AUTHOR


" Ekhem . . . " Deheman malas terdengar dari kursi belakang menginterupsi debat unfaedah sepasang kekasih itu.


Deana memutar bola matanya malas melihat adegan romantis sahabatnya dan juga calon suaminya yang seolah tidak sadar tempat dan waktu.


" Kalau mau bikin tontontan ala drakor, setidaknya penonton bayaran rasa gratisan yang dibelakang ini disiapin camilan dan minuman dong. Ileran nih Dea, Bang ! " Protes Dea sambil menggigit ujung jarinya baper melihat ke awuwuan pasangan di depannya.


Hega dan Moza sontak kompak menoleh ke arah gadis yang duduk manis di kursi belakang itu.


Keduanya kemudian saling tatap seolah merasa bersalah telah melupakan jika ada sosok lain yang sedari tadi mengamati perdebatan receh menggelikan di antara mereka.


Pipi Moza memerah malu dan beralih memelototi kekasihnya, sedangkan Hega hanya mengedikkan kedua bahunya dan tercengir dengan wajah tanpa dosa.


" Maaf ya, Dea. Aku lupa ada kamu disini. " Ucap Moza lirih menatap sahabatnya.


" Gue mah apa atuh, jomblo baperan, gue ini bagaikan flat shoes yang gak punya hak buat protes kalau ada orang sayang-sayangan di depan mata gue. Silahkan lanjutkan ! " Cibir Deana dengan nada jahilnya sembari mengibaskan kedua tangannya ke arah sepasang kekasih itu.


Moza tersenyum kikuk, " Deaa . . . "


Moza sebenarnya tahu jika sahabatnya itu hanya sedang menggodanya, tapi tetap saja gadis itu merasa tidak enak hati sudah mengabaikan keberadaan sahabatnya itu.


Dan malah berdebat tidak penting dengan pria menyebalkan yang sayangnya adalah calon suaminya sendiri.


" Ya ya ya, gue paham kok gimana perasaan orang yang lagi kasmaran. Dunia berasa milik berdua, gue yang jomblo baperan ini apalah daya hanya ngontrak. " Goda Dea memutar bola matanya malas.


" Jangan marah ya, Dea sayang. " Bujuk Moza meraih tangan sahabatnya.


Deana melirik sahabatnya penuh makna, " Okeh, dengan satu syarat ! "


" Apa ? "


" Traktir gue makan siang. "


" Siap, Dea sayang. " Ujar Moza dengan senyum cerahnya diselingi tepuk tangan antusias dari Deana.


Kedua sahabat itu asyik ngobrol hingga tidak menyadari ada wajah cemberut yang sedang menyaksikan interaksi mereka.


Moza kembali menatap ke depan dan memasang seatbelt nya, melirik sekilas ke arah kekasihnya.


" Kak, kita makan siang dulu ya sebelum ke butik, Japanesse Resto yang ada di jalan XXX. " Ujar Moza yang hafal betul isyarat Deana setiap kali menyebutkan kata 'traktir makan', maka artinya bukan makanan biasa melainkan makanan favorit mereka, japanesse food.


" Hmm . . . "


Jawaban singkat Hega membuat Moza merasa sedikit ada yang aneh, apalagi nada suara pria itu terdengar sedikit kesal.


Moza memiringkan badannya, ditatapnya pria yang tengah fokus hendak menjalankan kendaraannya itu.


" Kakak kenapa ? " Tanya Moza.


Hega menoleh sekilas, " Aku ? "


Bukannya menjawab malah balik bertanya dengan menunjuk wajahnya sendiri dengan jari telunjukknya.


Dahi Moza mengerut bingung dengan ekspresi wajah kekasihnya, kemudian mengangguk pelan, " Iya, kakak ? Kenapa wajah kakak begitu ? " Menyentuh sekilas pipi Hega yang terlihat mengerut karena sedang cemberut.


Hega kembali menatap ke arah depan dan akan menyalakan mesin mobilnya.


" Tidak. Aku tidak apa-apa. " Masih dengan nada suara kesal dan mengalihkan pandangannya dari Moza.


Moza meraih kembali pipi Hega agar pria itu kembali menatapnya, " Jangan bohong ! Kakak sedang kesal padaku, kan ?! "


" Tidak. Kenapa aku harus kesal padamu ?! Aku sudah biasa kok kamu diskriminasi. " Nada kesalnya meningkat.


" Eh . . . " Moza melirik sekilas ke arah Deana, mengangkat dagunya seolah bertanya pada sahabatnya itu.


Dia kenapa ? Apa tadi aku salah bicara ? ~ Moza ~


Dea mencebikkan bibirnya dan mengangkat kedua bahunya.


Mana gue tahu bang Hega kenapa ? Yang pacarnya kan lo, Mo. ~ Deana ~

__ADS_1


Tidak mendapatkan clue dari sang sahabat, Moza kembali menatap kekasihnya dan kini tangannya berhasil menangkup kedua pipi Hega.


" Kapan aku mendiskriminasikan kakak, hem ? " Tanya Moza berusaha selembut mungkin.


" Barusaja kamu melakukannya, dan sebelumnya juga begitu. " Ucapnya kemudian melengos melepaskan kedua tangan Moza dari pipinya.


Moza terlihat membulatkan matanya dan menautkan kedua alisnya, " Kapan aku begitu, Kak ?! "


" Kamu memanggil Dea dengan sebutan 'sayang', dengan adikmu juga begitu. Tapi saat aku memintamu memanggilku begitu kamu malah tidak mau. Bukankah itu mendiskriminasikan aku namanya. Kamu pilih kasih, huh. " Hega mengomel sendiri membuat kedua gadis itu kembali saling pandang dan melotot syok mendengar penuturan Hega yang kekanakan.


Moza terlongo sesaat, kemudian geleng-geleng kepala dan menepuk keningnya sendiri saat menyadari alasan yang membuat Hega kesal.


" Buahahahha. . . " Sedangkan Deana sudah terbahak dan menghempaskan punggungnya di sandaran kursi dan nyaris berguling-guling di jok belakang.


" Ya ampun, Bang Hega kekanakan banget si ?! Masa abang cemburu sama Dea si, hahahaha. . . " Cibir Deana kemudian kembali tergelak bahkan gadis itu sampai meneteskan air mata.


" Pfft. . . " Moza benar-benar tidak habis pikir bagaimana sosok tegas, berwibawa dan dewasa seperti Hega bisa kesal pada hal kecil seperti itu. Dan membuatnya begitu kekanakan dan imut diwaktu yang bersamaan.


" Tertawa lah sampai kalian puas ! " Tutur Hega sedikit sewot, nada kesalnya makin meningkat membuat Moza dan Deana merasa bersalah dan berusaha menahan tawa mereka.


" Hmmm. . . Jadi kakak mau juga dipanggil sayang, hem ?! " Bujuk Moza lembut.


" Tentu saja. Pria mana yang tidak senang dipanggil 'sayang' oleh kekasihnya ?! " Bersungut-sungut karena masih kesal.


" Ya, baiklah. Aku kan memikirkannya ! " Menjawab sekenanya karena bingung bagaimana harus menanggapi tingkah imut kekasihnya.


Hega reflek menoleh dengan wajah muram, " Heh. . . Memikirkannya ? Dan bukan melakukannya ?! "


Moza menggaruk tengkuknya canggung, bingung mau menjawab apa. Panggilan mesra seperti itu membuatnya bergidik, mendengarnya dari mulut Hega saja membuatnya merinding.


Apalagi jika kata itu harus keluar dari bibirnya, grrr. . . betapa geli membayangkannya. Moza belum siap untuk itu, lidahnya masih kelu. Belum lagi ada Deana yang tengah bersama mereka, membuat Moza sedikit canggung dan malu jika harus melakukan hal yang tidak pernah dilakukannya.


Moza mengangguk pelan dan tersenyum ke arah kekasihnya, " Iya, aku harus membiasakan diri dulu, Kak. "


Hega memiringkan badannya menghadap gadis cantik dengan pipi sedikit merona merah tersipu itu.


" Eum. . . Baiklah, kalau begitu coba sekarang ! " Pinta Hega lembut, terukir senyum penuh arti di bibir pria itu, sontak membuat Moza terpekik karena gadis itu hafal betul arti senyum Hega yang seperti itu.


Tampak Hega menganggukkan kepalanya beberapa kali dengan senyum nakal yang masih terukir di bibirnya, " Bukankah tadi kamu bilang mau membiasakan diri, hem ?! "


" Jadi, ayo coba latihan sekarang ! " Sambungnya dengan seringai nakal yang menggoda.


G L E K


Moza tampak tercengang mendengar permintaan pria tampan yang sedang dalam mode menjahilinya itu, membuatnya sedikit gugup, " I-iya. Ta-tapi. . . "


Dijentikkannya jarinya di kening gadis itu pelan, membuat Moza yang sempat linglung sedikit terlonjak.


" Tidak ada tapi. Bagaimana kamu mau terbiasa jika kamu tidak pernah mencobanya, hem ?! " Gerutu Hega masam.


Astaga. . . Cobaan apa lagi ini Tuhan ?! Sampai kapan gue harus gigit jari lihat ke awuwuan mereka ?! πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯


Deana sekali lagi terpaksa menggigit-gigit ujung kukunya melihat adegan yang membuatnya baper setengah mati itu.


Jika biasanya Dea hanya bisa melihat adegan seperti itu saat menonton drakor, yang pastinya akan berhasil membuat dirinya baper tiada tara.


Nah sekarang malah dirinya harus melihat adegan itu secara live di depan mata kepalanya sendiri.


Benar-benar pasangan gak ada akhlak, batin Dea merutuki nasibnya yang menjadi obat nyamuk sahabatnya.


Hega masih menatap genit Moza menunggu kata-kata yang ditunggunya keluar dari bibir manis kekasihnya itu.


P L A K . . .


Tapi bukannya kata manis yang keluar, Hega justru mendapatkan pukulan di lengannya.


" Hentikan, Kak ! Ayo kita segera pergi, atau kita akan terlambat ke butik. Kalau kakak terus seperti ini mami Rasti pasti sudah ada disana menunggu kita terlalu lama. " Elak Moza ketus.


" Memangnya kenapa kalau kita terlambat ?! Siapa juga yang berani mengomel jika aku terlambat ?! Mereka bahkan akan dengan senang hati menunggu kita seharian, huh. Desainer mana yang tidak akan senang menangani gaun pernikahan untuk kita. "


Muncullah sikap seenaknya sendiri dari seorang Presdir Hega Saint, terbiasa dilayani bak seorang putra mahkota sejak kecil membuatnya tentu saja memiliki sedikit sikap yang menyebalkan seperti ini.

__ADS_1


" Huh, jangan begitu kak. Kakak lupa aku juga punya butik, walaupun kecil, aku akan malas bertemu pelanggan seperti kakak. "


" Tapi. . . "


" Sudahlah, Kak. Berhenti mengajakku berdebat. Kasihan Dea sudah kelaparan karena kakak terus saja mengomel. "


" Ayolah, yank. Latihan panggil aku 'sayang' sekali saja, hem ! " Hega terus merayu dan menaik turunkan alisnya.


" Ugh. . . Aku akan sering latihan nanti, tapi di depan cermin. " Tolak Moza acuh.


" Huh. . . Dasar pelit. " Hega menggerutu sembari memanyunkan bibirnya, membuat Moza gemas setengah mati melihat tingkah imut calon suaminya yang sudah seperti bocah sekolah paud yang tidak mendapatkan es krim yang diinginkannya.


Dea masih terkikik sendiri di kursi belakang, mendengarkan perdebatan unfaedah pasangan di depannya itu. Deana sungguh tidak menduga jika dibalik karakter dingin Hega dan Moza ternyata bisa bersikap begitu menggelikan seperti saat ini.


Cinta memang benar-benar bisa mengubah manusia.


" Ayo, Kak ! Atau kakak mau menunda saja pernikahannya ?! " Moza melirik acuh pada pria keras kepala di sampingnya.


Dan benar saja, mendengar satu kalimat tersebut membuat ekspresi Hega berubah seketika.


" EEH. . . TIDAK ! " Ujar pria itu setengah terpekik.


" Aku akan mati jika menundanya lagi ! Aku sudah menahan diri cukup lama tahu ?! Bisa gila aku jika mau ditunda lagi ?! " Ceteluk Hega dengan secepat kilat menyalakan mesin mobilnya dan melaju meninggalkan area parkir kampus ternama itu.


Moza menahan geli melihat Hega yang seperti kebakaran jenggot saat dirinya mengungkit untuk menunda pernikahan.


Huft. . . Untung lah aku sempat terpikirkan senjata rahasia yang bisa membungkam mulut jahilnya.


Batin Moza menghela napasnya lega dan menahan tawa.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Cinta itu buta . . .


Cinta bisa mengubah segalanya . . .


Kita yang bahagia bisa saja tiba-tiba bersedih dan kecewa . . .


Begitu pula sebaliknya,


Kita yang sedang bersedih . . .


Sedetik kemudian bisa saja tersenyum saat cinta datang menyapa . . .


Seseorang yang kaku dan dingin . . .


Perlahan bisa berubah lembut dan hangat


Seseorang yang pendiam dan tertutup . . .


Bisa belajar untuk menjadi lebih terbuka dan ceria


Cinta lah yang mengubah manusia . .


Tapi tidak semua cinta terasa indah selamanya


Kenali lah cinta sebelum kamu memasukinya lebih dalam


Apakah cinta itu membuatmu menjadi sosok yang lebih baik dan sempurna ?


Ataukah justru sebaliknya ?


Cinta yang mengubahmu dalam keburukan


Cinta yang merusak dan menyesatkan


Karena saat kita salah menilainya


Tidak sedikit orang yang kecewa dengan cinta . . .


Dan berakhir menyalahkan cinta sebagai alasan kehancuran dan ketidakbahagiaan mereka. . .

__ADS_1


[ Curhatan Author πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ ]


__ADS_2