Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Kepergok Di Dapur


__ADS_3

AUTHOR


Satu jam lebih tertidur pulas membuat badannya terasa segar kembali. Selain itu juga pikiran dan harinya terasa lebih plong setelah menceritakan sedikit beban hatinya pada kekasihnya.


Moza menuruni tangga menuju dapur untuk mencari sesuatu untuk meredakan rasa lapar di perutnya.


Menangis tentu saja cukup menguras tenaganya.


Lantai satu terlihat tenang karena semua sedang sibuk di kamar mereka masing-masing.


Sedangkan para pengurus villa beserta beberapa pelayan sedang mempersiapkan makan malam di dekat kolam renang.


Entahlah acara apa yang direncanakan hari ini, padahal malam tahun baru masih esok hari.


Hega yang sedari tadi mengikuti langkah kekasihnya itu diam-diam setelah menyelesaikan sholat, sedang bersandar santai di pintu dapur mengamati Moza dengan mata elangnya yang memikat.


" Akh.... Kakak mengagetkanku. " Moza terpekik saat berbalik badan hendak keluar dari dapur.


Hega mendekat, mendudukkan Moza di kursi yang ada di bar table marmer di samping lemari es.


" Gimana tidurnya ? " Tanyanya sambil merapikan anak rambut Moza dan menyelipkannya di belakang telinga gadis itu.


" Eum.... Aku merasa lebih segar setelah bangun tidur. " Jawab Moza tersenyum ringan.


" Baguslah. " Hega terus memainkan rambut Moza dengan jari-jarinya.


" Hentikan kak ! Nanti ada yang lihat. "


" Memangnya kenapa jika ada yang lihat, hm ?! Aku kan sedang sayang-sayangan dengan kekasihku sendiri, dan bukan dengan kekasih orang lain. "


Bukan Hega jika tidak bisa menjawab ucapan orang lain, siapapun belum pernah ada yang menang melawan dirinya saat berdebat.


Astaga, sayang-sayangan dia bilang. Aku masih merinding mendengarnya. Padahal kan bukan sekali dua kali kak Hega mengatakan hal itu. ~ Moza ~


" Tapi kan tidak semuanya tahu kalau kita... " Merasa sangat malu mendengar gombalan Hega mambuatnya salah tingkah.


" Kalau kita apa hem ? Kenapa tidak dilanjutkan ?! " Namun tidak bagi Hega, tingkah kikuk Moza justru membuatnya semakin bersemangat untuk menggoda gadis cantik di hadapannya.


Moza bingung mau mengatakan apa untuk menjawab pertanyaan Hega, mencoba menghindari tatapan mata pemuda yang masih menunggu jawabannya.


Jujur saja malu rasanya mengatakan kata 'berpacaran' di usianya yang sudah bukan abg lagi.


Kata itu mungkin lebih tepat diucapkannya beberapa tahun lalu saat dirinya masih berseragam abu-abu.


Atau mungkin Moza merasa malu mengatakan kata itu karena kata itu sangat asing bagi dirinya yang baru pertama kali merasakan yang namanya cinta.


Ya...Pengalaman pertama memang seringkali membuat seseorang malu-malu kucing, dan hal itu sedang dialami oleh gadis itu.


" Ya itu. "


" Itu apa ? " Bukan Hega jika akan menyerah begitu saja.


" Kakak kan tahu maksudku. " Merasa dipojokkan, Moza melotot galak pada kekasihnya, berharap pemuda itu menyerah dan berhenti bertanya.


" Apa ? Aku tidak tahu tuh. Kalaupun aku tahu, aku kan ingin mendengarnya dari mulutmu secara langsung. Nah ayo coba katakan kita apa ? " Tentu saja Hega masih tetap konsisten dengan pertanyaannya.


" Atau kamu mau aku menahanmu disini sampai kamu menjawabnya ?! " Moza masih tak bersuara, Hega mendekatkan tubuhnya pada Moza.

__ADS_1


Meletakkan kedua tangannya di kanan dan kiri tubuh Moza, berpegangan pada bar table dan mengurung gadis itu dalam kuasanya.


" Ahhh....Iya aku jawab. " Teriak Moza kesal karena gagal mengalahkan keteguhan kekasihnya.


" Jadi mereka tidak tahu kalau kita apa, hm ? " Hega mengulangi pertanyaannya.


" Berpacaran. Puas ! " Jawab Moza setengah memekik, tulang pipinya merona merah.


" Hem.... Jadi kita sedang pacaran ya ?! " Hega mendekatkan wajahnya pada Moza, menaik turunkan alisnya untuk menggoda kekasihnya.


" Auwh.... " Sebuah cubitan kecil mendarat di perut Hega membuatnya meringis geli.


" Berhenti menggodaku kak ! "


" Jika aku tidak boleh menggoda pacarku sendiri, apa aku harus menggoda pacar orang lain ?! " Dan lihatlah pemuda itu selalu mendapatkan cara membalas ucapan gadisnya.


" Coba saja kalau kakak berani ! " Moza terlihat mulai geram, melotot tajam pada pemuda itu kemudian membuang muka, menatap ke arah lain.


" Tentu saja aku bukannya tidak berani. " Bukannya menyerah Hega malah menantang balik dan kemudian menyeringai nakal.


" Eh... " Ancaman Hega membuat Moza terkesiap, reflek menoleh kembali menatap mata Hega.


Sudut hatinya terasa ngilu membayangkan pemuda itu menggoda gadis lain.


" Lebih tepatnya aku tidak mau. " Ucapnya santai.


" Untuk apa menggoda pacar orang lain kalau aku punya pacar secantik dan semanis ini. " Lanjutnya dengan nada yang dibuat semanis mungkin.


Hega semakin mendekatkan tubuhnya pada kekasihnya yang masih berada dalam kungkungannya.


Melihat hal itu benar-benar membuat wanita paruh baya itu merasa canggung sendiri.


Memergoki dua sejoli yang sedang kasmaran, lebih buruknya itu adalah majikannya sendiri.


Jiwa emak-emaknya meronta-ronta.


Mau diomeli kok yang dipergokinya itu majikan yang menggajinya, mau dibiarkan saja takut kena dosanya.


Ahhh... Masa bodo, toh juga itu calon istrinya Tuan Muda.


Batin Bu Astuti kikuk.


Kembali ke pasangan yang tengah kepergok bermesraan di dapur.


Biarpun kejadian sebenarnya bukan sedang bermesraan si, lebih tepatnya perdebatan receh antara pria yang sedang dimabuk cinta dengan gadis polos yang terjebak dengan pacar bucinnya.


Namun dari sudut pandang yang melihatnya pun jelas mereka akan mengira jika itu adalah adegan romantis sepasang kekasih.


Posisi Hega yang tengah mengurung tubuh Moza dalam kungkungannya, gadis itu tak bisa kabur dari kuasa kekasihnya karena tubuhnya terjepit antara bar table dan tubuh gagah Hega.


Siapapun yang melihatnya pasti akan salah paham dibuatnya.


Moza benar-benar merasa malu, pipinya bersemu merah.


Segera gadis itu turun dari kursi mencubit lengan Hega agar bisa meloloskan diri dari kuasanya.


Kemudian secepat kilat berhambur meninggalkan dapur sambil berlari menyembunyikan pipi merahnya dengan kedua telapak tangannya.

__ADS_1


Ahhh.... Kenapa seperti habis ketahuan melakukan hal yang tidak-tidak si ? Memalukan.


Gadis itu bahkan tidak berani menoleh untuk sekedar melihat ekspresi bu Astuti yang memergoki dirinya yang sedang berduaan dengan Hega di dapur.


Sedangkan Hega tetap santai saja, tersenyum gemas melihat tingkah imut Moza yang sedang tersipu malu.


" Silahkan ibu lanjutkan. " Ucapnya pada bu Astuti dan berjalan meninggalkan dapur dengan senyum yang terus terukir di bibirnya.


Melihat ekspresi majikannya itu, tentu membuat Bu Astuti yang sudah mengenal pemuda itu sejak 2 tahun lalu sempat terkejut.


Apalagi mendengar cerita dari Pak Madi yang adalah suaminya, jika majikannya itu sosok yang tertutup bahkan pada keluarganya sendiri.


Pak Madi sudah 10 tahun bekerja sebagai tukang kebun di rumah besar keluarga Saint, saat hendak pamit karena ingin menghabiskan hari tua bersama anak istrinya.


Hega yang saat itu baru kembali dari luar negeri, menawarkan pada pria paruh baya itu untuk menjadi penjaga villa yang akan dibangunnya di area puncak yang kebetulan dekat dengan pemukiman kampung halaman Pak Madi.


Pemuda minim ekspresi itu, yang selalu dilihatnya berwajah datar dan serius. Ternyata bisa tersenyum sebahagia itu karena seorang wanita.


Yah benar adanya jika cinta bisa merubah segalanya. Memberi banyak warna pada kehidupan seseorang yang awalnya hanya abu-abu yang terasa hampa.


Dan wanita itupun ikut bahagia jika majikan mudanya yang sudah seperti putranya itu mendapatkan kehidupan yang sempurna dengan hadirnya cinta dalam hidupnya.


Dan melihat gadis yang dicintai majikannya, Bu Astuti benar-benar lega.


Dari sekilas pandang saja sudah bisa dilihat seperti apa watak gadis yang sudah membuat pemuda kaku dan dingin seperti Hega itu jatuh cinta.


Moza yang lembut dan sopan, bahkan pada orang-orang yang baru dikenalnya. Terutama pada orang yang usianya lebih tua darinya.


Gadis polos dan ceria, yang isi hatinya bahkan bisa dibaca dari ekspresi dan tatapan matanya.


Tentu saja itu berlaku bagi mereka yang memahami sisi tersembunyi dari seorang Moza Artana. Dan melihat gadis itu tanpa prasangka.


Namun tidak berlaku bagi mereka yang hanya melihat sisi Moza dengan mata benci dan kecemburuan.


Maka yang akan mereka tangkap dari sosok Moza hanyalah gadis dingin, cuek dan tak berperasaan.


๐Ÿ–ค๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿงก๐Ÿ’œ๐Ÿ’™โค


Yahhh.... Terganggu sudah ritual sayang-sayangan di dapur.


Salah siapa coba ?


Salah gue ? Salah Centong emak gue ? Atau salahnya bakiak ?


Yah kan tuh centong ma bakiak udah kepake episode kemaren. Kagak bakal muncul lagi lah, wong stok centong ma bakiaknya cuman satu.


Salah bu Astuti yang masuk tanpa ketuk pintu ? Lah kan dapurnya gak ada pintunya.


Jadi salahnya sepasang kekasih yang lagi mabuk cintalah.


Lagipula ngapain sayang-sayangan di dapur si.


Yang jelas juga bukan salah authornya ya kenapa adegan sayang-sayangannya harus di dapur.... ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


HEGA : SINI GUE GETOK LU PAKE CENTONG MA BAKIAK EMAK LU YANG KEMAREN LU PAKE BUAT GETOK PALA GUE THOORR....๐Ÿ˜ก


Me : Kaboooorrrrr......

__ADS_1


__ADS_2