Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Diam ! Atau aku akan menciummu...


__ADS_3

Hai hai hai.... Aku kembali ....


Kangen akuh kan ?!


( Enggak tuh )


Dih tega kalian....


Ya udah gih selamat membaca....


Jan lupa like , komentar dan vote nya....


๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค


AUTHOR


Bugh...


" Auwhh..... "


Sebuah bantal sofa melayang dari dalam kamar mendarat di wajah tampan Hega.


" Rasakan. " Umpat Moza lalu membanting kembali pintunya.


Brak


Bukannya marah, Hega malah tergelak melihat tingkah kekasihnya yang sangat menggemaskan, sangat puas menjahili gadis itu.


Pagi hari sudah mendapat asupan mood booster yang membuatnya semangat dan senyum-senyum sendiri.


Tak butuh waktu lama, Moza keluar dari kamar dengan memakai dress selutut berwarna cream. Rambut dikuncir kuda dan memakai sandal rumah berwarna coklat berkepala beruang.


Cantik, imut dan menggemaskan.


Dan dia adalah gadisku, milikku.


Mungkin itulah yang ada di pikiran Hega yang terus memandangi kekasihnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Menopang dagunya dengan telapak tangan dan sikunya berada di pegangan sofa yang didudukinya.


Lengkungan keatas terbentuk di bibir pemuda itu, membuatnya terlihat semakin tampan saja.


Senyum yang tidak pernah diumbarnya pada sembarang orang.


Namun sejak bersama Moza, pemuda tampan yang dingin dan angkuh itu terlihat lebih sering tersenyum.


Meskipun kelakuannya akan kembali seperti semula, datar dan seringkali jutek tiada tara jika kekasih cantiknya itu sedang tak berada di dekatnya.


Hega tersadar dari lamuannya saat melihat Moza mulai berjalan mendekat ke arahnya. Tapi tidak duduk ataupun menyapanya malah menuju anak tangga.


Jalannya masih sesekali tertatih tampak sedang menahan nyeri, tapi gadis itu terlihat ceria karena merasa sudah tidak perlu lagi naik lift.


Dan hal terbaiknya adalah bahwa hari ini ia terbebas dari kursi roda.


Kakiku, ayo kita jalan-jalan ringan....


" Eh... Mau kemana kamu ? " Tanya Hega saat gadisnya berjalan menuju tangga, dahinya tampak mengernyit.


" Tentu saja turun kak. " Jawab Moza polos.


" Memang kakimu sudah sembuh total ? Lewat lift saja ! " Titahnya tegas lalu beranjak dari duduknya.


" Hmmph..... Kakiku sudah tidak apa-apa kak. " Elak Moza memberengut.


" Tidak apa-apa bagaimana ? Tuh jalanmu masih belum stabil. " Melirik kaki Moza dengan ekor matanya.


" Iya hanya sedikit nyeri kok, tapi kadang-kadang saja. " Ucap Moza membela diri.


" Tidak boleh lewat tangga sebelum sembuh total. " Perintah Hega tegas sambil berjalan mendekati gadis itu.


" Tapi kan kak....? " Moza menggerutu menanggapi larangan Hega.


" Tidak ada tapi, bagaimana kalau kamu terkilir lagi dan membuat kakimu semakin parah. Ayo kita naik lift saja ! " Titah Hega lagi sembari meraih pergelangan tangan gadisnya.

__ADS_1


" Cih... Kakak menyebalkan. " Moza terus menggerutu kesal, memalingkan wajahnya lalu menunduk. Gurat kekecewaan di wajah gadis itu membuat Hega luluh dan akhirnya mengalah.


" Huffft.... Baiklah, ayo lewat tangga. " Menyerah dan mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.


" Hmmm. " Moza tersenyum menang dan kembali berjalan menuju tangga.


Namun belum juga kakinya menginjak anak tangga pertama, Hega dengan cepat menyambar tubuh gadis itu.


" Kyaaaaa.... Apa yang kakak lakukan ? " Teriak Moza saat tubuhnya melayang di udara dan sudah berada dalam gendongan Hega.


Hega membopong gadisnya menuruni tangga, seringai nakal terukir di wajah tampannya.


" Turunkan aku kak ! Aku malu jika ada yang melihat. " Pinta Moza sembari berusaha memberontak.


" Diamlah atau kita akan jatuh bersama karena kamu terus berontak. " Ucapan bernada mengancam dari Hega membuat tubuh Moza beringsut, berhenti melawan dan tenang dalam gendongan pria tampan itu.


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Sampai di lantai satu, Moza masih terus menyembunyikan wajahnya di dada bidang Hega, karena sangat malu menjadi tontonan beberapa pelayan yang tengah bertugas.


" Bang Hega.... "


Suara yang tak asing di telinga Moza, sontak membuat Moza membelalak, kemudian menoleh dan menatap ke arah sumber suara.


Dan teriakan yang hampir bersamaan keluar dari mulut kedua sahabat itu.


" Julian. "


" Momo. "


" Julian, ayo ikut sarapan. ! " Hega masih terlihat santai, melewati Julian dan melirik ke arah pemuda yang masih mematung dengan mulut ternganga di ruang tamu.


Dengan tenang Hega terus berjalan menuju ruang makan.


" Diam, atau aku akan menciummu agar kamu berhenti mendebatku. "


Ancaman Hega lagi-lagi sukses membuat kekasihnya menurut, mulutnya mengatup rapat dan tubuhnya tenang dalam pelukan kekasihnya, hingga Hega mendaratkan tubuh gadis itu di kursi ruang makan.


Aaaa... Kenapa Julian ada disini ? Dan kenapa dia harus melihatku dalam situasi memalukan seperti ini si ?! ~ Moza ~


Apa yang gue lihat barusan ? Itu beneran Momo bukan sih ? Kenapa dia ada disini ? Ada apa ini sebenarnya ? ~ Julian ~


Julian menatap keheranan, menggaruk kepalanya acak. Antara syok dengan yang baru saja dilihatnya, dan kemudian duduk di kursi berhadapan dengan sahabat yang sudah lebih dari seminggu ini tak bisa ia dihubungi.


Moza dan Julian saling menatap satu sama lain, kemudian berusaha mencairkan kecanggungan.


Jangan lihat aku seperti itu, Julian ! ~ Moza ~


Ada apa ini Mo ? Lo berhutang penjelasan sama gue ! ~ Julian ~


" Julian, sampai kapan kamu akan memandangi tunangan saya seperti itu ?! "


" Uhuk.... " Pertanyaan sekaligus pernyataan Hega sontak membuat dua orang yang sama-sama sedang meminum air putih itu kompak tersedak karena terkejut.


What ?! Tu-tunangan ????


" APAH ?! " Teriak Julian tanpa sadar.


" Simpan rasa penasaranmu untuk nanti, kita lanjutkan dulu sarapannya. " Perintah Hega datar.


" Kita ada tamu rupanya. " Suara kakek Suryatama memecah kecanggungan yang terjadi.


Selama sekitar 30 menit acara makan dengan tenang, meskipun Julian benar-benar tidak tahan pada rasa ingin tahunya, dan beberapa kali memelototi sahabatnya meminta penjelasan.


โ€ข


โ€ข


Hega sedang membicarakan sesuatu dengan sang kakek di ruang kerja, meninggalkan dua sahabat itu agar lebih leluasa bicara.

__ADS_1


Moza sudah duduk manis di ruang tamu, memandang kikuk pada sahabat yang masih menatapnya dengan ekspresi menyelidik.


" Hei, berhenti menatapku seperti itu Julian. Tanya saja apa yang ingin kamu tahu ! " Dengus Moza jengah.


Julian masih tak bersuara, tetap mempertahankan tatapan mata menyelidiknya. Antar cemas, kecewa dan kesal bercampur jadi satu di hati pemuda itu.


" HEH, harusnya lo tahu kan apa yang ingin gue tahu tanpa harus gue tanya ?! " Gerutu Julian.


" Cih... Memangnya aku dukun ?! " Moza berdecak malas.


Julian tampak menahan amarah, mengambil nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Tapi sepertinya kemarahan benar-benar sudah terasa di ubun-ubun kepalanya.


" Arrrrggg....Momo ! Kenapa lo gak jawab telfon gue ataupun balas chat dari gue si ? " Meluap sudah akhirnya emosi Julian saat mendapati respon cuek sahabatnya.


" I-itu .... " Mendapat cercaan sahabatnya, Moza mendadak tergugup bingung mau menjawab apa.


Belum pernah dilihatnya seorang Julian bisa seemosi itu.


" Lo tahu betapa khawatirnya gue waktu lihat lo terkapar di aspal dengan luka yang gue gak tahu separah apa ? Dan bagaimana keadaan lo saat itu ?! "


Moza terbelalak mendengar apa yang diucapkan sahabatnya. Belum sempat menjawab.


" Dan kenapa lo gak bisa dihubungi ? Gue cari di kosan katanya lo udah pindah, gue tanya Deana juga tuh anak kedengerannya belum tahu apa-apa. Arrrggg.... Mau gila gue rasanya cariin lo..."


Julian semakin terbawa emosi mengingat kembali saat tak sengaja dilihatnya isi amplop coklat di ruangan Hega dua hari yang lalu.


" Julian stop..... ! " Sambar Moza.


" APA, APA ?! Jangan coba menggentikan gue ! Lo tahu gue lagi emosi, kesal, kecewa, khawatir sama lo tahu. Tapi lo malah, aaaaa.... Momooooo ! "


" Jul, jangan bilang kalau Deana ..... ?! " Moza memang tidak ingin Deana tahu apa yang terjadi pada dirinya.


" Haisshhh... Lo masih khawatirin Deana ?! Lo gak lihat gue udah nyaris gila gara-gara cari-cari lo ?! " Umpat Julian menahan amarah.


" JULIAN ! " Teriak Moza.


" Huffft.... Lo pikir kalau Deana tahu, tuh anak masih bakal adem ayem aja ?! " Cibir Julian.


" Huuh... Syukurlah. " Merasa lega karena sahabat posesifnya belum mendengar kecelakaan yang menimpa dirinya.


" Eh... tunggu. Darimana kamu tahu aku pingsan di jalan ?! " Tanya Moza teringat kalimat sahabatnya.


Aaarrrggghhh.... Shit, gue keceplosan ! ~ Julian ~


Gumam Julian dalam hati, teringat apa yang diucapkan Bara saat Julian melihat isi amplop yang sudah berantakan di atas meja Hega.


Jangan ceritakan apapun tentang ini pada siapapun, terutama sama si cantik Momo !!


" Aahhh... I-itu.... Hei, lo jangan mengalihkan pembicaraan Mo. Kan gue yang lagi kesel sama lo ! " Sambar Julian kelabakan dan mencoba mengalihkan pembicaraan, tampak pemuda itu masih bersungut-sungut menahan amarah.


" Hah, iya maaf. Aku hanya tidak mau membuat kalian cemas. Lagipula aku sudah sehat kok sekarang. Jadi jangan cerita apapun sama yang lain ya ! Terutama Deana, please.... " Ujar Moza memohon menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada dan memasang ekspresi memelas.


Julian yang kesal tapi juga tak bisa menolak wajah puppies eyes sahabat cantiknya itu hanya bisa mendengus dan mengusap wajahnya kasar.


" Hmmh... Oke. Tapi gue gak mau ada kejadian kayak gini lagi Mo, apapun yang terjadi sama lo, jangan lo sembunyi-sembunyi lagi. " Ucap Julian serius, terlihat jelas memang kecemasan di wajah sahabat tampannya itu.


" Iya, memangnya kamu berharap aku akan mengalami hal seperti ini lagi ?! " Cibir Moza.


" Cih... Dasar, lo tahu bukan itu kan maksud gue ?! " Julian sepertinya sedang tidak dalam mood untuk diajak bercanda.


" Iya, iya maaf. Jika ada apa-apa aku akan kabari kamu dan yang lainnya. Puas !!! " Jawab Moza pasrah.


" Itu baru bener. Dan lo masih berhutang penjelasan sama gue ! " Lanjut Julian masih menatap menyelidik.


" Apaan lagi ?! "


" Hah, sejak kapan lo jadi gak peka gini si Mo ?! Kepala lo kayaknya kejedot parah deh, sini gue mau lihat !! "


Julian teramat kesal, tanpa aba-aba duduk mendekat ada sahabatnya itu. Mencoba mengecek kondisi Moza dari dekat, belum juga tangannya menyentuh dahi Moza, sudah teriterupsi suara bass yang membuat bergidik.


๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค


๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿ’œ

__ADS_1


__ADS_2