Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Penyesalan Fabian


__ADS_3

AUTHOR


Melihat wajah kusut Fabian, tentu saja membuat Dea iba. Bagaimanapun Fabian pernah menjadi sosok terdekatnya, jaman sekolah dulu bahkan ada guru yang menjuluki mereka Trio Kwek-Kwek [ seperti nama grup penyanyi anak-anak di era tahun 90-an. ]


" Sudah gue bilang lebih baik lo pulang dulu, Bian. "


Fabian menatap sendu sahabatnya, ada banyak kesedihan tersirat di mata elang pria itu.


" Selama hampir tiga tahun aku mencari kalian berdua, tapi saat aku sudah berhasil menemukan kalian berdua, yang aku dapat justru, aaargh. .Β  . " Fabian mengacak rambutnya frustrasi.


Memang selama tiga tahun Fabian mencari informasi kedua sahabatnya dengan mengandalkan orang kepercayaannya. Tapi tidak satupun usahanya membuahkan hasil, baru sekitar beberapa bulan yang lalu pemuda itu bisa fokus dan turun tangan langsung untuk mencari jejak Moza dan Deana.


" Bian, gue dan Momo masih temen lo, sahabat lo. Kita berdua selalu menunggu lo. Meskipun gue dan Momo sempat kesal dan kecewa atas kepergian lo yang tanpa pamit seolah hubungan persahabatan kita selama ini gak penting buat lo. "


Bian menatap sendu sahabatnya, lehernya terasa tercekik mendengar penuturan Deana sehingga pemuda itu bahkan tidak mampu berkata sepatah katapun untuk menjawab ucapan Deana.


Yang jelas bukan itu alasannya Fabian pergi tanpa pamit, Moza dan Deana adalah dua orang yang sangat penting untuknya. Tapi Fabian tahu apapun yang akan diucapkannya saat ini hanya akan terdengar sebagai pembelaan diri saja.


Deana mendesah kasar, menatap lekat sahabatnya kembali.


" Bian, akan selalu ada tempat untuk kehadiran lo. Tapi melihat ada maksud lain atas kedatangan lo hari ini, gue gak bisa jamin apa Momo. . . " Ujar Deana diakhiri desahan yang dalam.


Gadis yang biasanya ceplas ceplos itu bahkan tidak sanggup melanjutkan kalimatnya sendiri karena pasti kalimat yang akan diucapkannya akan membuat pemuda itu semakin terluka.


Kenapa juga pemuda itu harus kembali dengan perasaan berbeda untuk sahabatnya. Padahal Dea tahu pasti bagaimana posisi Fabian di hati seorang Moza.


Bukan hanya sahabat, Fabian sudah seperti seorang kakak bagi Moza. Bukan hanya karena usia Fabian yang terpaut 3 tahun dari Moza dan Deana. Tetapi juga karena sifat dewasa Fabian, yang menjadikan pria itu benar-benar menjadi figur kakak yang sempurna untuk kedua gadis itu.


" Kalian berdua juga penting buat aku Dea, tidak ada hari dimana aku berhenti memikirkan kalian. Tidak sedikit usaha yang aku lakukan untuk mencari keberadaan kalian. Meskipun aku sempat tidak fokus mencari informasi tentang kalian karena sesuatu hal. "


" Dan selama ini aku penasaran apa yang membuat semua usahaku untuk mencari keberadaan Momo tidak pernah membuahkan hasil. Bahkan saat aku memakai hacker terhebat sekalipun. " Fabian tampak begitu kacau, jika saja saat ini dirinya tidak berada dj tempat umum, bisa jadi pemuda itu sudah berteriak frustrasi bahkan menangis karena penyesalan.


" Tapi saat aku melihat pria yang bersama Momo tadi, aku baru mengerti kenapa aku tidak bisa mendapatkan sedikitpun informasi tentangnya. " Jelas terdengar kegetiran dalam suara pemuda itu.


Deana sendiri juga baru tahu dari Julian sebesar apa pengaruh dari keluarga calon suami sahabatnya itu. Bukan hanya kaya, tapi keluarga Saint juga memiliki pengaruh yang kuat baik di dalam dan luar negeri.


Deana tidak bisa berkata-kata lagi, terlalu menyedihkan melihat sosok Fabian yang seperti ini.


Deana dulu sempat membayangkan jika suatu hari saat sahabatnya itu kembali, maka akan menjadi hari reuni yang membahagiakan bagi mereka bertiga.


Tapi nyatanya kedatangan Fabian justru membawa sebuah kejutan yang tidak pernah diduganya.


Sejak kapan Fabian memiliki rasa pada Moza ?

__ADS_1


Apakah rasa itu sudah ada sejak awal persahabatan mereka ?


Apakah diam-diam Fabian mendekati Moza karena memang ada maksud tersembunyi dibalik semua kebaikannya ?


Jika benar begitu, alangkah hebatnya Fabian bisa menyembunyikan perasaannya dengan sangat rapi.


Membuat Moza yang introvert bisa menerima kehadiran sosok seorang Fabian, dan bahkan mempercayai pemuda yang entah datang dari mana itu.


Deana masih ingat bagaimana terlukanya Moza saat Fabian pergi tanpa pamit beberapa tahun lalu.


Saat dimana Moza kembali menjadi sosok dingin yang sulit percaya pada orang lain.


" Tapi kenapa kamu juga tidak bisa aku lacak, Dea ? Kamu harapanku satu-satunya untuk bisa menemukan Momo. Tapi kenapa data kamu juga ikut terkunci dan tidak bisa aku temukan ? "


Dea sontak terbatuk mendengar pertanyaan dari pemuda itu.


" Ugh. . . I-itu. . . Hahaha.... Mana aku tahu Bian ?! Jangan bilang lo gak tahu nama lengkap gue. Atau lo salah ketik salah satu hurufnya kali. Hahahaa. . . " Ucap gadis itu tercengir kikuk dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, menghindari tatapan menyelidik Fabian.


" CK. . . Kamu kenal aku Dea ?! Kamu tahu pasti seberapa telitinya aku Deana Mayangsari. " Fabian berdecak lirih.


Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa kecerdasan seorang Fabian tidak bisa dianggap biasa saja. Nyatanya pria itu bukan hanya menjadi idola sekolah karena wajahnya saja, melainkan juga karena otak jeniusnya. Prestasi olahraga dan juga selalu menjadi wakil sekolah dalam olimpiade Matematika dan Fisika.


Fabian selalu melakukan semua hal dengan teliti dan sempurna. Tidak pernah sekalipun pemuda itu lalai dalam melakukan sesuatu. Jadi kemungkinan jika Fabian tidak bisa melacak Dea dengan alasan karena kecerobohannya, maka itu adalah sesuatu yang mustahil.


Bisa saja hari-hari tenangnya akan lenyap begitu ia membuka mulutnya. Hanya Moza yang tahu identitas asli dirinya, dan cukup hanya Moza Artana saja yang mengetahuinya.


Akh. . . Sial, sejak kapan gue gampang terintimidasi gini si ? Kenapa juga gue ngerasa aura Fabian sedikit berbeda, bikin gue merinding kalau dia melototin gue kayak gitu.


Deana menyeruput lemon tea milik Moza yang masih utuh di atas meja, mencoba menyembunyikan kegugupannya.


Mendengar alasan konyol Deana, Fabian tidak bisa untuk tidak tersenyum.


" Ya. . . Kemungkinan itu bisa saja terjadi, meskipun kecil sekali. Atau bisa saja ada sesuatu yang memang kamu sembunyikan dariku DEANA MAYANGSARI NARENDRA ?! " Ucap Fabian menekankan nama belakang Dea yang selalu gadis itu sembunyikan.


" Uhuk. . . " Dea hampir saja menyemburkan lemon tea yang sudah masuk ke tenggorokannya.


Manik mata gadis itu membulat sempurna, Fabian menangkap kegelisahan di mata sahabatnya itu.


Pemuda itu jelas sudah mengetahui rahasia yang tentang Deana, rahasia yang benar-benar ingin disimpan rapat oleh gadis itu.


" Bi-bian, lo ?! "


" Tenang saja, aku tidak akan membongkar identitasmu yang barusaja aku ketahui beberapa hari yang lalu itu. "

__ADS_1


" Sampai mana lo tahu tentang gue ?! " Tegas Deana.


" Menurut kamu sampai sejauh mana aku tahu tentang kamu ?! "


Deana benar-benar dibuat geram oleh sisi Fabian yang satu ini, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.


Aargh. . . Otak Deana yang sedang kacau tentu saja tidak mau diajak berpikir keras. Yang tersisa hanya kecemasan dan rasa was-was.


" Yang jelas lebih dari sekedar mengetahui nama belakang yang selama ini kamu sembunyikan itu. " Sambung Fabian misterius.


" BIAN ! " Pekik Deana dengan nada cemas, meremas ujung dressnya di bawah meja dengan sedikit gemetar.


" Sudah aku katakan, Dea. Aku tidak akan melakukan apapun pada rahasiamu itu. Kamu tahu jelas kan dari semua hal yang bisa aku lakukan, hanya satu hal yang pasti tidak bisa aku lakukan, dan tidak akan pernah aku lakukan. " Ucap Fabian menggantung sembari beranjak dari kursinya.


" ". Deana mendongak menatap wajah sahabatnya dengan tatapan penasaran dan pria itu sedikit membungkukkan badannya dengan satu tangan bertumpu pada meja.


" Menyakiti kalian berdua, Momo dan kamu. Itu adalah satu-satunya hal yang tidak mungkin aku lakukan dalam hidupku. " Sambungnya dengan senyum hangat yang selalu pria itu tunjukkan kepada kedua gadis yang menemani hari-harinya semasa SMA dulu.


" So Don't think too far about what I'm going to do with your secret ! " Lanjut Fabian seraya mengacak rambut Deana.


[ Jadi jangan berpikir terlalu jauh tentang apa yang akan aku lakukan dengan rahasiamu itu ! ]


" Fabian. " Ekspresi Dea terlihat sedikit merasa bersalah seolah tidak mempercayai sahabatnya itu untuk berbagi rahasia.


" Semua orang pasti punya satu rahasia yang benar-benar ingin mereka jaga, termasuk dari orang terdekatnya sekalipun. Begitupun denganku, jadi kamu tidak perlu merasa bersalah begitu. " Ucap Fabian menenangkan, pria itu selalu bisa mengartikan ekspresi sahabatnya, terlihat jelas gadis itu merasa bersalah padanya.


Deana tersenyum lega.


" Aku pergi ! Seperti yang kamu bilang, sepertinya aku memang butuh udara segar untuk menjernihkan pikiranku. " Sambungnya seraya tersenyum tipis.


" Jika lo butuh teman bicara, lo bisa hubungi gue, Bian. " Ucap Deana sedikit berteriak pada pria yang sudah berjalan menuju pintu keluar.


Fabian tidak menoleh ataupun menjawab apapun, pria itu hanya mengangkat tangannya dengan menautkan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran mengisyaratkan kata 'oke' sambil terus melangkahkan kakinya meninggalkan sahabat lamanya itu.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Terima kasih untuk teman-teman yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini.


Kerangka Alur cerita sudah dibuat sedemikian rupa, jadi tidak akan berubah hanya karena ada yang komentar,


" ruwet lah / muter-muter lah / ngebosenin lah "


So, cerita ini hanya cocok bagi anda yang sabar dan mencintai proses.

__ADS_1


Kecup sayang buat kalian yang masih setia membaca sampai episode ini 😘😘😘


__ADS_2