Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Jadi kalau teman boleh peluk ?


__ADS_3

AUTHOR


Julian yang masih berdiri mematung di tempatnya, dengan satu tangannya terangkat keatas, masih mengambang di udara. Tangan yang diabaikan oleh sahabatnya.


" Duduk Jul, bengong aja lo. " Kalimat Deana langsung menyadarkannya.


Ditariknya tangannya yang mengambang di udara mengacak rambutnya sendiri, kemudian duduk dengan lesu di kursi yang tadinya diduduki Moza.


" Gue salah apa ya ? Bang Hega gitu amat sama gue, padahal kalau di kantor gak gitu-gitu amat. " Ocehnya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Ketiga sahabatnya cekikikan sambil saling pandang.


Salah lo sendiri gak peka. ~ Amira ~


Nasib lo Jul punya atasan galak bener, udah gitu lo berani-beraninya gangguin gebetannya. ~ Deana ~


Sukurin lo Jul, genit sih. Xixixixi..... ~ Renata ~


" Emang mau kemana tuh Momo sama bang Hega ? " Tanya Julian sambil meminum air mineral pesanannya.


" Katanya mau ngomongin kontrak store. " Ucap Deana berbohong.


" Kok kalian gak ikutan ? " Tanyanya curiga.


" Nah kan butiknya atas nama Moza. " Amira menutupi kebohongan Deana.


Meskipun sebenarnya mereka tidak sepenuhnya berbohong, nyatanya butik yang akan mereka buka memang atas nama Moza sebagai pemilik brand selaku designer dari semua koleksi yang akan menjadi produk butik tersebut.




🍒🍒🍒


HEGA


Pesawat yang membawaku kembali ke tanah air baru saja landing di bandara. Sebenarnya ingin langsung pergi menemuinya, tapi apa daya baru saja ponsel kuaktifkan kembali, langsung masuk banyak chat diikuti beberapa kali panggilan dari Bara.


Mengharuskanku mengurungkan niatku menemui gadis yang seminggu ini tak kujumpai.


Pak Bakti sudah menungguku di lobi bandara, membawaku langsung menuju kantor.


Kutitipkan dua paperbag pada Julian yang ijin cuti, katanya akan ke kampus mengurus kuliahnya yang akan mulai masuk kembali setelah liburan semester.


Sampai di kantor segera kuselesaikan beberapa berkas yang menumpuk di atas meja menunggu tanda tanganku.


" Tuh muka asem banget kenapa coba ? " Sindir Bara yang menyadari ekspresiku yang tengah tidak mood menanggapi dirinya yang sedari tadi mengomel tidak jelas.


" Diam lo Bar, gue butuh konsentrasi. " Omelku ketus.


" Pelan-pelan aja kali cek berkasnya, lagipula tuh muka serius amat, santai aja bro, apa gak capek lo baru datang sudah kerja rodi lagi. " Cerocos Bara semakin berisik.

__ADS_1


" Bukankah lo yang minta gue langsung balik ke kantor katanya nih berkas urgent semua. " Ucapku tanpa sedikitpun melihatnya.


" Hehehehe..... Itu.... Gue... " Kalimat terbata-bata Bara membuatku curiga.


Kuletakkan pena ditanganku, dan kualihkan pandanganku ke arahnya. Kulihat bocah tengil itu sedang cengengesan sambil menggaruk-garuk belakang telinganya.


" Lo ngerjain gue Bar ? " Ucapku mulai kesal.


Dan sekali lagi tanpa menjawab pertanyaanku, bocah gila ini cekikikan tanpa merasa bersalah.


Pletak


" Auwwww...... shit..... " Erangnya kesakitan saat sebuah pena mendarat tepat di kepalanya.


" Rasakan. " Cibirku menyeringai.


" KDHT lo Ga. " Omelnya sambil meringis dan mengelus kepalanya yang jadi korban pena terbangku.


" Apa lagi KDHT ? "


" Kekerasan Dalam Hubungan Teman. " Gumamnya sambil melotot.


" Cih, teman seperti lo pantas mendapatkannya. " Ucapku sambil berlalu meninggalkannya di ruanganku.


" Hei... Mau kemana lagi lo Ga ? " Teriaknya.


" Bukan urusan lo. Jangan ganggu gue Bar atau lo mau gue kirim lagi ke Afrika. " Seringaiku tajam.


Dengan cepat kulangkahkan kakiku menuju lift dan menelepon Pak Bakti untuk menyiapkan mobilku. Kemudian menelepon seseorang untuk mencari tahu sesuatu.


Setelah turun, aku bertanya pada beberapa mahasiswi dimana letak kantin fakultas Ekonomi. Bukan jawaban yang aku dapat malah wajah bengong yang aku terima.


Segera kutinggalkan mereka karena tak mendapat informasi yang aku inginkan, hingga akhirnya bertemu dengan kerumunan mahasiswa dan mahasiswi.


Kembali kulontarkan pertanyaan yang sama.


" Maaf, bisa tunjukkan dimana kantin Fakultas Ekonomi ? " Tanyaku pada gerombolan pemuda-pemudi itu.


Lagi-lagi tatapan yang sama yang aku dapatkan, kupijit pelipisku frustrasi sampai akhirnya seorang mahasiswa menunjuk ke salah satu arah.


" Heh, ada orang tanya kalian bengong aja kayak orang kesambet. " Omel salah seorang mahasiswa sambil mengibaskan tangannya di depan wajah gadis-gadis itu.


" Mas nya jalan saja lurus, nanti setelah gedung itu belok ke kiri, sudah kelihatan tulisan kantin Fak. Ekonomi. " Lanjut pemuda itu menerangkan.


" Terima kasih. " Ucapku sambil tersenyum tipis kemudian meninggalkan kerumunan tersebut.


Saat memasuki pintu kantin tak sulit menemukan yang aku cari, suara cempreng Renata salah satu teman Moza bisa segera membuatku menemukan meja mereka, ditambah teriakan Renata yang memanggilku sambil melambaikan tangannya.


Segera kuhampiri meja dimana gadis yang aku cari tengah berkumpul bersama teman-temannya.


Tanpa basa-basi kumeminta ijin pada ketiga gadis itu untuk membawa temannya pergi. Baru saja gadis itu berdiri seorang pemuda datang dengan gerakan akan merangkul pundaknya.

__ADS_1


Siapa lagi kalau bukan Julian, sahabat para gadis ini yang juga saat ini tengah menjadi asisten pribadiku di kantor.


Dengan sigap kurengkuh bahu mungilnya dengan lenganku, merapatkan tubuhnya mendekat padaku menghindari Julian.


Dengan segera membawanya pergi meninggalkan kantin setelah berpamitan pada ketiga gadis yang masih duduk di kursi mereka.


Aku rasakan gadis yang tengah kurangkul ini setengah berontak, tapi tak kuhiraukan dan tetap berjalan sambil lenganku masih berada di bahunya.


" Kak lepasin. " Protesnya saat kami sudah keluar dari kantin menuju parkir.


" Kenapa ? Saya hanya membantu kamu menghindari pelukan Julian. " Elakku datar sambil melepaskan tanganku dari bahunya.


" Memang kenapa ? Aku dan Julian kan teman. " Ucapnya santai.


Jadi kalau teman boleh peluk-peluk. Hmmmmm..... Seringaiku menemukan ide nakal.


" Oh... Jadi kalau teman boleh skinship gitu. " Godaku.


" Bukan gitu juga. Maksud aku...."


" Apa ? Kan kita juga teman, jadi kenapa kamu marah saat saya merangkul pundakmu ? " Sambarku memotong kalimatnya.


" Aku gak nyaman, banyak yang lihat kan malu-maluin. " Tampak dia sedang mencari-cari alasan.


Jelas saja aku tahu bukan hanya itu alasannya tidak nyaman dengan perlakuanku. Tadi aku sempat merasa tubuhnya sedikit gemetar saat aku merangkulnya, pipinya memerah dan aku tahu dia berdebar-debar seperti yang aku rasakan.


" Jadi kalau tidak ada yang lihat boleh ? " Kembali kucoba menggodanya.


Sial, darimana aku dapat kenekatan seperti ini ? Semoga gadis ini tidak kabur karena kecepatanku mendekatinya mulai tak terkontrol.


" Sudah jangan bercanda lagi, kak Hega mau bawa aku kemana ? " Ucapnya mengalihkan pembicaraan.


" Makan siang. " Jawabku santai.


" Aku sudah makan di kantin. " Jawabnya kemudian yang aku tahu jika dia berbohong.


" Saya hanya melihatmu meminum segelas es jeruk, itupun belum habis. " Ucapku sambil tersenyum miring.


" Makanannya sudah.... "


" Jangan bohong lagi, apa perlu saya telepon lagi teman kamu Deana. " Potongku kemudian sambil pura-pura mengambil ponsel dari saku celanaku.


" Dasar gadis tengil, kamu mengkhianati aku. Awas kamu nanti. " Gumamnya pelan yang masih bisa terdengar olehku membuatku menahan senyum melihat wajah kesalnya yang tengah memaki-maki sahabatnya.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....

__ADS_1


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕


__ADS_2