Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Hiasan Kulkas


__ADS_3

AUTHOR


Alina yang sedari tadi berusaha mencari kesempatan untuk bisa berdua saja dengan pria incarannya, merasa mendapat kesempatan saat sekilas dilihatnya Hega sedang menuju dapur.


Sejenak gadis itu berpikir apa yang akan dikatakannya pada Hega agar pemuda itu tidak lagi menolak untuk bicara dengannya.


Sejak kedatangan Hega sore tadi, Alina tak mendapat kesempatan sedikitpun untuk sekedar ngobrol dengan pemuda itu.


Melihat suasana lantai satu yang tenang, Alina yakin semua penghuninya tengah sibuk di ruangan mereka masing-masing.


Para pengurus villa beserta pelayan juga tengah berada di area kolam renang terlihat sedang sibuk mempersiapkan sesuatu.


Alina mengumpulkan keberaniannya untuk mendekati dapur, tapi mengingat sikap dingin Hega sore tadi, gadis itu sedikit ragu.


Bagaimana jika pemuda itu mengacuhkannya lagi ?


Tidak masalah jika tidak ada orang lain yang melihatnya, tapi jika ternyata ada orang lain di sana.


Maka Alina akan merasa dipermalukan harga dirinya, bagaimana mungkin dengan kesempurnaan dirinya harus mendapat perlakuan dingin dan acuh dari orang yang disukainya.


Alina mondar-mandir beberapa kali mencari solusi. Saat dilihatnya salah seorang pengurus villa masuk dari arah kolam.


Alina seketika mendapatkan ide.


" Bi... " Alina memanggil wanita paruh baya itu sembari melambaikan tangannya.


Wanita itu mendekat ke arah Alina berdiri.


" Ada yang bisa saya bantu Non ? " Jawab wanita tersebut.


" Bisakah Bibi membantu saya melihat apakah ada orang di dapur ? Saya belum kenal dengan semua orang yang datang bersama ke sini, jadi agak canggung jika bertemu seseorang yang belum akrab dengan saya. " Ucapnya beralasan.


" Baik Non. " Jawab wanita yang ternyata adalah Bu Astuti itu kemudian melangkah menuju dapur.


Alangkah terkejutnya wanita tersebut mendapati pemandangan yang pastinya akan membuat siapapun yang melihatnya akan merasa malu sendiri.


Padahal sebenarnya bukan mereka yang patut merasa malu, melainkan dua orang yang tengah berdekatan secara intim di tempat umum.


Setidaknya itulah yang terlihat dari sudut pandang Bu Astuti.


Seorang gadis tengah duduk diatas kursi dan tubuhnya bersandar di bar table dapur.


Dan di hadapannya, seorang pemuda berdiri tepat di depan gadis itu. Kedua lengannya berada di kanan dan kiri tubuh gadis, mengunci tubuh gadis itu dengan berpegangan pada pinggiran meja marmer.


Belum lagi wajah keduanya yang berjarak amat sangat dekat.


Dari sisi pintu dapur dimana Bu As berdiri, terlihat jika dua sejoli itu mungkin akan berciuman.


Alina yang berada tak jauh dari tempat wanita itu berdiri tampak penasaran kenapa wanita itu malah terdiam di ambang pintu dapur dan bukannya masuk.


Tentu saja Alina tidak bisa melihat apa yang dilihat oleh wanita itu.


Dan juga tak bisa mendengar satupun suara dari sana.


Alina yang hendak melangkahkan kakinya mendekat karena sudah sangat penasarannya, dikejutkan oleh munculnya seorang gadis keluar dari dapur dengan sangat terburu-buru.


Meskipun gadis itu melewatinya begitu saja dan bahkan menutupi pipinya dengan kedua telapak tangannya.


Alina dapat melihat jelas rona merah dikulit putih gadis itu.


Tak lama berselang, pria yang sedari tadi ditunggunya juga muncul dari arah yang sama dengan gadis yang baru saja melewatinya.

__ADS_1


Pemuda itu terlihat tersenyum bahagia, ekspresi yang tidak pernah sekalipun dilihat oleh Alina.


Dan sekali lagi, Hega hanya melewati dirinya tanpa menoleh ataupun menyapanya.


" Kak Hega. " Gadis itu memberanikan dirinya, membalikkan badannya kearah pemuda yang baru saja melewatinya. Bibir Alina bergetar, tangannya meremas dress yang dipakainya.


Hega menghentikan langkah kakinya,


" Nikmati saja liburanmu Alina, jangan mengharapkan hal lain dari saya. " Ucapnya tanpa menoleh sedikitpun pada gadis itu kemudian meninggalkan Alina yang masih mematung di tempatnya.


Kalimat dingin Hega tentu saja begitu menyakitkan bagi Alina, tapi mau seperti apapun pemuda itu mengacuhkannya, bersikap dingin dan mengabaikannya.


Gadis itu tetap tidak bisa menyerah begitu saja. Alina berjalan gontai menuju ruang tamu dan jatuh lunglai di salah satu sofa.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Di taman depan, semuanya tengah berkumpul menikmati malam pertama mereka di Villa mewah milik Hega.


Sembari menikmati makan malam santai yang sudah disiapkan prasmanan di area kolam renang.


Aset pribadi Hega yang tidak ada campur tangan sedikitpun dari keluarganya, murni hasil kerja kerasnya sendiri.


Bara bahkan sempat terpana pada bangunan itu, tapi bukan karena kemewahannya. Melainkan terkejut karena villa itu adalah salah satu dari sekian banyak gambar yang pernah dilihatnya di buku sketch milik sahabatnya itu.


Selama ini Hega selalu bersikukuh menolak siapapun yang hendak membeli desainnya.


Bahkan Hega tak bergeming, saat Bara mengatakan bahwa bakatnya itu akan berakhir di tempat sampah jika tidak satupun dipublikasikannya atau diwujudkannya secara nyata.


Seperti yang diucapkan Hega pada Moza sebelumnya, pemuda itu merasa tidak memiliki hak untuk menggunakan bakat seninya itu untuk kepentingan pribadinya, apalagi sesuatu yang bersifat komersil dan meteriil.


Dan villa ini mungkin akan menjadi wujud nyata pertama atau mungkin satu-satunya dari hobi menggambar yang ditinggalkan oleh sahabatnya.


" Hm. " Jawab Hega singkat.


" Lo yakin gak mau buka perusahaan arsitektur dan konstruksi ? " Tanya Bara serius.


" Yah jangan dong bang, bisa lewat perusahaan gue kalau bang Hega merambah di bidang yang sama dengan perusahaan bokap gue. " Seloroh Julian yang baru saja datang dan mendengar sekilas ucapan Bara tentang membuka perusahaan konstruksi.


Hega tersenyum datar, sedangkan Bara malah nyengir gak jelas dan garuk-garuk kepala.


" Bantu gue ngurus surat-surat villa Bar. "


" Siap. "


" Buat atas namanya. " Lanjutnya seraya menunjuk Moza dengan tatapan matanya, dan sebuah lengkungan ke atas selalu terukir di bibir Hega setiap kali menatap wajah kekasihnya.


" Ehh... " Bara dan Julian bersamaan.


" Lo yakin ?! "


" Hm. " Hega mengangguk mantap.


" Lagipula tidak ada yang lebih berhak selain dia. Dan mungkin keputusan membangun villa ini juga karena dia. "


Ehh... kan nih bangunan udah dibangun bahkan sebelum Bang Hega ketemu Momo ? ! Maksudnya gimana si ? Kenapa gue seringkali mendadak merasa beg* kalau ngomong sama Bang Hega ??


Batin Julian bingung, menggaruk belakang telinganya yang sebenarnya tidak gatal.


" Gak usah dipikirin dek, lo gak akan ngerti level bucinnya seorang pria sebelum lo ngalamin sendiri. Hehehe.... " Bara menepuk pundak Julian yang tampak jelas memikirkan maksud ucapan Hega.


Sekali lagi sindiran Bara membuat Julian terkikik, begitu juga Bara yang bukan lagi terkikik melainkan tertawa puas.

__ADS_1


" Saya akan menjadi yang pertama tertawa jika kalian berdua mengalaminya. " Balas Hega yang sedang mengaktifkan mode dingin dan seriusnya.


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


Dimas membawa sebuah gitar dari dalam villa, dan bergabung bersama keempat sahabatnya yang berada di meja bundar dekat kolam renang.


Moza bersama ketiga sahabatnya, Deana, Amira dan Renata tak lupa Viola yang sedari datang sudah menempel bagaikan perangko di grup empat dara cantik itu.


Bara yang tak hilang akal mendekati meja dimana para gadis itu sedang asyik dengan camilan dan obrolan receh mereka.


Diiringi lantunan gitar akustik tanpa vokal yang dimainkan oleh Dimas.


Entahlah lagu apa yang sedang dimainkannya, sepertinya pemuda itu hanya sekedar ingin mengiringi canda tawa para sahabatnya.


Bara menyambar gitar di pangkuan Dimas.


" Genjreng-genjreng doang gak ada yang nyanyi. "


" Suara gue fals kan Bang Bara sendiri tau. " Dimas nyengir kuda menggaruk tengkuknya linglung.


" Kalau itu gue tahu, makanya biar yang punya suara bagus aja yang nyanyi. " Balas Bara tanpa rasa bersalah sama sekali.


" Dea sama Momo nyanyi gih kalian berdua. " Tuntut Bara sembari menyodorkan gitar di tangannya tak lupa mengumbar senyum yang dibuat semanis-manisnya.


" Waaahhhh..... Kak Moza dan Kak Deana bisa main gitar ? " Viola begitu antusias mendengar dua senior tang disukainya itu bisa memainkan alat musik petik itu.


" Bukan hanya bisa, tapi jago. Udah gitu suaranya bagaikan bidadari. " Puji Bara sangat teramat berlebihan.


" Emang abang pernah denger bidadari nyanyi ? " Viola bertanya dengan polosnya.


" Heiii Julian, lo dapat pacar lugu polos dan imut gini darimana wooyyy.... " Teriak Bara yang tak sanggup meladeni keluguan kekasih Julian itu.


" Kenapa bang ?! " Teriak Julian tak kalah hebohnya, padahal jarak meja mereka tak terlalu jauh.


" Gue cariin satu. "


" Inget pacar bang, lagi melotot di belakang abang. " Oceh Julian menunjuk ke arah Aliza di sisi kolam lainnya bersama Alina dan teman-temannya.


" Gak papa, orang gue mau jadiin hiasan kulkas, soalnya lucu banget ngegemesin. Hahaha.... " Jawab Bara ngawur yang secepat kilat mendapat tabokan acak di seluruh badannya dari Deana dan Renata.


Sedangkan Viola yang menjadi bahan becandaan Bara hanya bisa cemberut sebal.


Dan Julian bukannya marah mendengar candaan Bara tentang kekasihnya, malah ikut terkikik dibuatnya.


" Ayo dek nyanyi, suara merdu jangan cuma dipakai di kamar... " Ucap Bara menggoda.


Eh...


๐Ÿ’š๐Ÿ’›๐Ÿ’›๐Ÿงก๐Ÿ’œ๐Ÿ’™๐Ÿ–ค


Ngerti gak arti omongan gak jelas Bara ?


Kagak thorr ๐Ÿค”


Sama gue juga kagak ๐Ÿ˜


Dasar author somplak, efek kena getok centong ma bakiak kali...


Bisa jadi ๐Ÿ˜–


โžก๏ธ Maaf episode ini sepertinya author merasa kurang puas dengan hasilnga, semoga tidak mengecewakan yang baca ya. ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ

__ADS_1


__ADS_2