
AUTHOR
Menahan diri selama beberapa hari membuat Hega justru jatuh sakit. Sepertinya memang benar jika sakit yang dideritanya adalah karena terlalu rindu pada gadisnya.
Terbukti sejak kehadiran Moza di apartemennya bisa membuat kondisi Hega lebih baik, bahkan melupakan sakit kepala yang sempat menyiksanya.
Moza memperlakukan Hega seperti saat bunda Ayu merawatnya saat gadis itu sakit. Memanjakan dan memberi perhatian. Diusapnya perlahan kepala Hega, sesekali memberikan pijatan kecil di kening pria tampan yang menjadikan kakinya sebagai bantal itu.
Hega membuka kedua matanya, wajah tampan itu menatap kekasihnya tanpa berkedip, netra hitam Hega mengawasinya dalam diam. Merasa nyaman berada di pangkuan Moza ditambah lagi usapan lembut tangan gadis itu di kepalanya.
" Mo... "
" Eum... " Moza menunduk, membalas tatapan mata Hega.
" Aku sangat merindukanmu. " Seutas senyum terukir di bibir tipis Hega yang masih terlihat pucat.
" Bohong. " Sungut Moza pelan.
" Kok bohong ?! " Hega bangkit dari posisi berbaringnya, menatap Moza lekat.
" Kalau kakak merindukanku kenapa tidak menemuiku ? Jangankan menemuiku, menelpon saja tidak. " Skak mat, Hega tercengang dengan pernyataan kekasihnya, menggaruk kepalanya yang tidak gatal bingung harus menjawab apa.
" Aku hanya sedang dalam situasi tidak bisa melakukannya. Bukan berarti aku tidak ingin melakukannya. " Gumam Hega lirih, kemudian mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, menghindari tatapan mata Moza yang terlihat jengkel.
Huuh.... Hega tahu apapun yang akan diucapkannya hanya akan terdengar seperti alasan yang mengada-ada saja di telinga Moza. Tapi Hega juga tidak mungkin mengatakan alasannya yang sebenarnya.
Bagaimana jika gadis itu menganggapnya mesum jika dia mengatakan sejujurnya alasan kepindahannya. Hega juga tidak mau tiba-tiba mengungkit pernikahan hanya karena sang kakek memergoki perbuatannya di Ruang Olahraga beberapa hari yang lalu bersama kekasihnya itu.
Bukan hanya tidak ingin Moza merasa malu, tapi Hega lebih tidak ingin jika Moza sampai menganggap jika keinginannya membahas tentang pernikahan adalah karena dasar nafsu semata. Karena dirinya yang kesulitan mengontrol diri setiap bersama gadisnya itu.
" Kakak bicara apa barusan ?! " Moza menyipitkan matanya menatap Hega.
" Ah... Tidak. Aku tidak mengatakan apapun. Lanjutkan pijatannya, karena sepertinya benar jika kamu itu lebih dari sekedar obat untukku. Kamu itu vitamin penyembuhku. " Elak Hega kembali menjatuhkan kepalanya di pangkuan gadis cantik kesayangannya.
" Haish.... Hentikan, Kak ! " Omel Moza seraya mencubit kecil perut Hega.
Bukannya kesakitan, pria itu malah kegelian dan beringsut menenggelamkan wajahnya di perut Moza.
" Pffft..... Iya, iya. Baiklah istriku yang cantik. "
" Uhuk.... KAAAAAK.... " Teriak Moza sambil menepuk bahu Hega.
__ADS_1
" Auwh.... Sakit Momo sayang. "
" Kakak sepertinya sudah benar-benar sembuh, jadi menyingkir lah dariku ! " Moza menghentakkan kakinya, berusaha membangunkan Hega dari pangkuannya, dan mendorong badan Hega agar menjauh darinya.
Tingkah Hega benar-benar membuat debaran jantungnya semakin tidak beraturan.
Bisa-bisa aku yang sakit jantung kalau membiarkan kelakuan gilanya ini.
Moza mendengus pelan dan menggerutu dalam hati.
" Aku masih sakit Mo, coba sentuh, masih panas kan ?! Aku masih demam loh ! " Hega menarik tangan Moza dan mengarahkannya untuk menyentuh keningnya, kemudian Hega merengek dengan mata memelas, bibirnya mengerucut menggemaskan.
Siapa yang akan menyangka jika pria dewasa berusia 26 tahun dan juga Presdir perusahaan besar itu bisa bertingkah kekanakan dan manja saat sedang sakit begini.
Aaaaa.... Kenapa kakak imut begini si meskipun sedang sakit ?! Wajah ini benar-benar memperdayaiku....
" Makanya aku panggil dokter ya, Kak ! " Moza masih kekeuh ingin memanggil dokter karena memang suhu tubuh Hega yang panas tinggi benar-benar membuatnya cemas.
" Tidak mau, sudah aku bilang Derka akan membuatku semakin sakit kepala. " Rengek Hega seraya menyembunyikan wajahnya lagi di perut Moza dan melingkarkan tangannya di pinggang kekasihnya itu.
" Kak, bukankah lebih baik jika diperiksa jadi kakak bisa lekas sembuh kembali. " Bujuk Moza lembut dan mengelus kembali kepala Hega.
Hega mendongak sedikit, mengintip wajah cantik kekasihnya, " Aku sakit kepala karena kamu tahu ? Jadi kamu lah yang bertanggungbjawab untuk menyembuhkanku. "
" Gimana aku gak pusing karena kamu, kamu berputar-putar terus di kepala aku si. " Goda Hega tersenyum smirk khas nya.
Manik mata Moza membulat sempurna menyadari jika sekali lagi dirinya telah terperdaya oleh kekasih jahilnya itu, " Uhuk..... "
Aaarggghhh.... Dasar gila !!!!
Haish.... Karena kakak sakit, maka aku akan membiarkan kelakuan kakak ini.
Moza mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa pasrah dan menuruti keinginan kekasihnya yang mendadak manja dan kekanakan itu.
βββ
Sinar matahari menelusup di sela-sela tirai kamar, menandakan pagi telah datang. Moza masih terlelap di ranjang empuk nan nyaman, menarik selimut hingga menutupi wajahnya.
Tapi ada aroma familiar yang menyeruak di indera penciumannya, aroma yang dirindukannya. Jika ini mimpi, Moza masih belum rela terbangun.
Selimut dan bantal yang beraroma seperti aroma tubuh Hega, gadis itu mesih terbuai dan enggan membuka mata. Seolah takut jika ia terbangun maka semuanya akan hilang sekejap mata.
__ADS_1
πΆπ΅πΆπ΅π΅π΅πΆπ΅
Tapi apa daya, alarm ponselnya berbunyi dan membuatnya terpaksa bangun dari tidur dan mengucapkan selamat tinggal pada mimpi indahnya.
Gadis itu menggeliat kecil, membuka perlahan kedua matanya. Mengintip dari kelopak matanya yang sedikit terbuka, memicingkan matanya karena silau oleh cahaya matahari yang menelusup lewat celah-celah tirai jendela kamar.
Ehhh..... Ini kan bukan kamarku ?
Batin Moza, seketika gadis itu terlonjak, menatap sekeliling ruangan besar dan mewah bernuansa putih biru.
Kemudian menunduk, mengamati tempat tidur dimana ia terlelap semalaman, menarik selimut biru langit yang masih menutupi tubuhnya dan mengendus aroma yang menempel kuat disana.
Aroma khas Hega, pria yang dirindukannya. Seketika Moza tersenyum tersipu, wajahnya merah padam menyadari jika apa yang terjadi semalam bukanlah mimpi.
Moza ingat betul jika dirinya datang ke apartemen kekasihnya dengan kondisi mengenaskan, kemudian berendam air hangat, dan Moza bahkan ingat jika Hega lah yang membantunya mengeringkan rambut basahnya.
Moza menarik ke depan rambut panjangnya yang tergerai berantakan, mengendus aroma shampo di rambutnya, shampo yang sama yang digunakan oleh Hega.
Moza tersenyum-senyum sendiri hingga lupa jika dia ada kuliah jam delapan pagi. Hingga suara bass nan seksi dan merdu mengembalikan kesadarannya sepenuhnya.
" Ekhem... Selamat pagi istriku yang cantik. " Moza melotot mendengar panggilan Hega padanya.
βββ
Hega bangun lebih pagi daripada biasanya, menatap lekat gadis cantik yang masih terlelap di sampingnya. Merapikan anak rambut Moza yang berantakan menutupi wajah cantik belahan jiwanya itu.
Cukup lama Hega memandangi wajah ayu nan polos Moza yang sedang tertidur, bibirnya tak henti-hentinya mengulas senyum bahagia. Apalagi mengingat kejadian semalam dan persetujuan gadis itu, membuat hati Hega benar-benar diselimuti rasa bahagia.
Dibiarkannya gadis itu terlelap dalam tidurnya, karena Hega tahu pasti jika Moza tengah kelelahan. Pemuda itu memutuskan untuk mandi dan menunaikan sholat subuh kemudian berlanjut olahraga pagi di ruang olahraga pribadinya. Membiarkan gadisnya bersembunyi dalam selimut dan melanjutkan tidur nyenyaknya.
Pukul setengah tujuh pagi, Hega sudah rapi dengan setelan kerjanya. Demam dan sakit kepalanya sembuh karena kehadiran Moza di apartemennya yang tiba-tiba, meskipun sempat membuat sakit kepalanya bertambah parah, tapi ternyata efek bermanja pada gadis itu benar-benar bisa menjadi penyembuh sakitnya.
Terbukti pagi ini Hega terbangun dalam kondisi suhu badan normal dan segar bugar.
Moza seolah menjadi penyebab sakit sekaligus penyembuh bagi Hega. Pemuda itu sakit karena merindukan kekasihnya, dan sembuh dengan cepat dengan kehadiran belahan jiwanya itu.
Cinta akhirnya bisa membuat pria dingin dan kaku seperti Hega Airsyana jungkir balik karena seorang gadis bernama Moza Artana.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Ada kah yang pernah mengalami seperti itu ? Saat sakit mendadak sehat kembali ketika sang kekasih menemani ?!
__ADS_1
Ea ea.... Thor pernah kek gitu... Dulu.. duluuuu sekali.... Waktu masih cinta Sun Go Kong [ Cinta Monyet maksudnya ] π