
AUTHOR
Hega keluar dari lift, melangkah menyusuri koridor menuju ruangannya. Dan berpisah dengan Bara yang berbelok arah menuju ruang kerjanya sendiri. Suasanya yang tadinya sedikit riuh mendadak tenang saat semua staff di lantai lima belas ini menyadari kedatangan sang Presdir.
Tiga hari tanpa kemunculan atasan mereka itu, suasana di kantor menjadi lebih santai. Namun akhirnya tiba hari dimana ketenangan suasana kerja harus kembali seperti sedia kala saat penguasa perusahaan telah kembali ke singgasananya.
Semua orang tampak tertunduk, khawatir jika tanpa sengaja bertemu mata dengan presdir itu, salah-salah akan menjadi sasaran pertama inspeksi karyawan. Beberapa saat kemudian terduduk di kursi kubikel mereka masing-masing, bernafas lega saat ternyata kekhawatiran mereka sia-sia belaka.
Mendekati pintu ruangannya, hendak membuka pintu, tapi mendadak terhenti, menoleh ke arah meja sekretarisnya. Semua wajah menegang, kecuali Anita yang memang sudah mengetahui watak atasannya itu. Tampak biasa saja karena wanita itu yakin sudah mengerjakan tugasnya dengan sempurna sesuai standart si boss.
" Anita, bawa semua laporan dan berkas yang harus saya cek atau perlu tanda tangan saya. " Kata Hega dengan tegas pada sekretarisnya.
" Baik Presdir. " Jawab Anita lugas dan percaya diri.
Semua staff sekretaris tampak bernafas lega saat Presdir yang terkenal jutek, dingin dan galak itu mengalihkan pandangnnya kembali kearah pintu dan memasuki ruangan.
" Huft.... Leganya, mbak Anita santai sekali menghadapi Presdir ? " Tanya salah satu bawahan Anita.
" Untuk apa tegang apalagi takut jika kamu sudah mengerjakan pekerjaan kamu dengan baik ? " jawab Anita sambil menata dan mengangkat beberapa map yang sudah disiapkannya di atas mejanya.
" Yah mbak kan tahu, dengan baik saja tidak cukup memenuhi standart si boss. Tapi harus sempurna. " kata seorang staff pria dengan menekankan kata sempurna sambil menyatukan ibu jari dan telunjuknya membentuk lingkaran, karyawan yang menjadi satu-satunya pria di jajaran staff sekretaris presdir itu.
" Maka dari itu bekerja dan belajar yang rajin supaya bisa memenuhi standart si boss. " Jawabnya bijak sambil beranjak menuju ruangan atasannya.
•
•
•
🍒🍒🍒
Hega memasuki ruangannya, melepas jas hitamnya dan meletakknya di sandaran kursi, menyisakan kemeja putih berdasi dengat vest berwarna senada dengan jasnya.
Perlahan membuka kancing lengan kemeja panjangnya dan melipatnya sampai dibawah siku. Kemudian mengeluarkan ponsel dari sakunya dan meletakkannya diatas meja, lalu menduduki kursi kebesarannya memakai kacamata yang hanya digunakannya saat menatap layar laptop atau komputer semata-mata hanya untuk perlindungan indera penglihatannya.
Perlahan menyentuh kursor laptop yang sudah menyala di atas mejanya, beranjak pada tombol keyboard mengetikkan password laptop hitam berlogo apel tergigit itu.
Satu tugas lagi dari sekretarisnya adalah memastikan laptop atasannya itu sudah dalam keadaan standby setiap paginya. Dan memastikan ruangan alam keadaan rapi, bersih dan wangi.
🍒🍒🍒
Tok tok tok
__ADS_1
" Masuk. " Jawabnya saat terdengar ketukan pintu.
" Permisi Presdir. " Ucap wanita itu seraya mendorong pintu dan segera masuk saat mendapat anggukan dari pria yang tengah duduk dan fokus pada layar kotak dihadapannya tanpa menoleh ke arah pintu.
" Ini berkas yang Presdir minta, sudah saya pilah berdasarkan dokumen dari yang bersifat paling mendesak. "
" Letakkan di meja. "
" Baik. " Jawab sekretaris itu sambil meletakkan tumpukan map di atas meja besar milik sang boss.
Kemudian beralih ke layar ipad ditangannya, membuka kunci layar dan menyebutkan beberapa agenda pria yang masih fokus dengan laptopnya. Sang Presdir tetap tenang mendengar penjelasan dari sekretarisnya, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari layar di hadapannya. Hanya sesekali merespon dengan anggukan ataupun hanya bersuara 'hemm'
" Dan untuk jadwal hari ini, jam satu siang nanti di Restoran S anda ada pertemuan dengan Nona Berlinda dari Berlin Corporation yang rencananya akan menyewa beberapa exclusive stand Golden Imperial Mall yang ada di beberapa kota diseluruh Indonesia dan...." belum sempat menutup kalimatnya Anita sedikit terlonjak saat mendengar decak kesal dari sang boss yang sedari tadi tampak tenang.
Upsss.... Apa yang salah coba ?
Batin wanita itu sambil perlahan menegakkan kepalanya memperhatikan ke arah sang boss. Dilihatnya sang boss bersandar di kursi dan mendengus kesal, melepaskan kacamata dan memijat pelan pelipisnya. Wanita itu memilih menunggu respon, tanpa berani bertanya.
" Huh... untuk yang satu itu minta Bara saja yang menemuinya. " Ucap Hega dengan sedikit kesal.
" Maaf Presdir, pihak Berlin Corporation meminta langsung bertemu dengan anda. " Jawab Anita mulai tegang.
" Merepotkan. " Gumamnya sambil melonggarkan dasinya kemudian mengetuk-ngetukan jarinya diatas meja.
" Tidak ada, ya sudah kamu boleh keluar. " Anita membungkuk perlahan melangkah keluar dari ruang pimpinannya, bernafas lega dan saat hendak menutup pintu, wanita itu terjingkat pelan saat mendapati sosok pria yang tengah terburu-buru menuju ruangan yang hendak ditutupnya.
" Apa dia di dalam ? " Tanya pria itu sambil mengarahkan telunjuk kanannya ke arah ruangan di hadapannya.
" Iya Pak, beliau di dalam. " Jawab wanita itu sopan kemudian menundukkan kepala memohon pamit kembali ke tempatnya.
•
•
•
🍒🍒🍒
Bara memasuki ruangan itu tanpa mengetuk pintu, kebiasaan yang jika dilihat orang lain akan dianggap tidak sopan. Tapi memang seperti inilah tingkah kedua sahabat itu, bersikap layaknya hanya teman diluar urusan pekerjaan.
Dan kembali bersikap profesional saat berada dalam lingkup pertemuan urusan pekerjaan.
Dilihatnya pemuda yang dicarinya tengah berdiri sambil kedua tangannya berada di dalam saku celananya, menghadap dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan kota dari lantai lima belas itu.
__ADS_1
Kemudian menoleh saat mendapati suara pintu terbuka.
" Ada apa ? " Tanya Hega pada pria yang sudah mendaratkan tubuhnya dengan santai di sofa berwarna hitam.
" Lo inget Berlinda Grace, anak dari Joseph Grace pimpinan Berlin Corporation ? " Tanya Bara sambil mengatur nafasnya seolah habis berlari dikejar sesuatu.
Hah.... Telinga bocah ini tajam sekali, beritanya bahkan sudah sampai di telinganya. Batin Hega kemudian melangkahkan kakinya menuju lemari pendingin di dekat rak buku. Membukanya dan mengambil dua kaleng soda.
Bara masih tampak menunggu gemas respon dari sahabatnya yang jelas-jelas tampak sedikit kesal namun tetap bersikap tenang itu.
" Hei. " Tak sabar menunggu respon Hega, segera meraih satu kaleng soda yang diletakkan pemuda itu di atas meja.
" Cepet banget beritanya sampai di telinga lo. " Jawab pemuda itu sambil kemudian duduk dan menyandarkan dirinya di sofa, membuka kaleng soda yang ada di tangannya.
" So ???? " Bara masih berusaha menerka-nerka maksud raut muka sahabatnya yang tampak memikirkan dan menimbang-nimbang sesuatu.
" Berapa nilai kontrak Berlin Corp itu Bar ? " Tanyanya kemudian dengan nada mulai serius.
" Di satu store saja sekitar dua puluh Milyar. " Jawab Bara sambil memijat dagunya tanda berpikir.
" Jadi bisa sampai hampir di angka satu Triliun jika mereka benar-benar akan memakai exclusive stand di semua Mall kita di negara ini, belum lagi yang di luar negeri. " lanjut Bara dengan mata berbinar.
" Amazing Brooo.... " Tambahnya lagi yang membuat pria di hadapannya masih berdecak.
Haishhh... Kalau urusannya sudah uang, nih bocah gak mungkin mau bantu.
Batin Hega yang semula hendak mengirim Bara menggantikan dirinya pada pertemuan itu.
•
•
•
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
Terima kasih 😊😘😘😍
__ADS_1
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊