Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Gombalan Receh ( Bagian 2 )


__ADS_3

AUTHOR


Aliza masih terlihat sangat malu dengan kelakuannya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Dan giliran selanjutnya adalah Viola, sesuai kesepakatan sebelumnya jika yang punya pacar yang harus lebih dulu melakukan tantangan itu.


Viola yang centil dan cerewet, sifatnya yang ceria, santai dan blak-blakan membuat gadis itu biasa-biasa saja menanggapi tantangan Derka.


Bukan hal sulit baginya memikirkan kata-kata gombal receh jaman sekarang. Lagipula Viola yang paling muda diantara mereka, gadis itu tentu paling akrab dengan candaan receh alay yang suka baper-baper di tayangan televisi.


Viola menarik kursinya sedikit miring menghadap Julian yang ada di sampingnya. Kemudian menopang kepalanya dengan satu tangan yang bertumpu pada meja.


" Kak Lian. " Ucap gadis yang berusia 18 tahun itu.


" Apa Beb ?! " Jawab Julian ringan seraya memainkan alisnya naik turun.


" Kakak tahu gak apa bedanya jam 12:00 sama kak Lian ?Β " Tanya Viola dengan nada imutnya membuat beberapa orang terkikik gemas melihatnya.


Julian mengernyit sesaat, " Apa ? "


Sama seperti Bara, bukan Julian tak tahu jawabannya, bagi player seperti Julian gombalan-gombalan receh seperti itu sudah jadi makanannya sehari-hari. Tapi yah... untuk saat ini dia memilih tak tahu saja daripada panjang urusannya.


" Kalau jam 12:00 itu kesiangan, kalu Kak Lian itu kesayangan. " Jawab Viola masih dengan keimutannya membuat Moza dan teman-temannya tersenyum dengan kecentilan gadis itu.


" Buahahahahha..... Tuh kan dek, pacar lo gemesin banget. Seriusan abang cariin satu yah buat boneka dashboard mobil abang. Hahahaha.... " Bara benar-benar tak sanggup menahan gelak tawanya sendiri meskipun disampingnya Aliza sudah melotot dan beberapa kali mencubit Bara agar berhenti tertawa.


" Dih, kemarin mau dijadiin magnet kulkas, sekarang boneka dashboard. Emangnya Vio ini dijual di toko souvenir apa ? Cewek kayak Vio ini langka tau abang, gak bakal ketemu dimana-mana juga. " Omel Viola sebal, pipinya mengembung dan matanya memelototi Bara. Sekali lagi sukses memancing gelak tawa dan menghidupkan suasana.


Moza beberapa kali menghela nafas lega, Moza tak bisa membayangkan betapa malunya dirinya jika memilih tantangan dan harus melakukan hal yang akan benar-benar bikin merinding itu.


Jangankan untuk menggombali Hega, untuk sekedar bertatap mata dengan kekasihnya itu saja sudah sukses membuat jantungnya seakan melompat-lompat. Belum lagi tingkah Hega yang pastinya akan terus menggodanya nanti jika sampai Moza melayangkan gombalan-gombalan menggelikan semacam itu pada pemuda itu.


Apalagi jika gombalannya berakhir menjadi bahan tertawaan semua orang yang ada di sana, membayangkan saja membuat Moza bergidik.


" Kenapa ? " Tanya Hega tiba-tiba berbisik di telinga Moza saat mendapati kekasihnya itu seperti tengah melamun.


Moza tersentak kaget, " Eh... Apa ? " Ikutan berbicara lirih.


" Apa yang kamu lamunkan barusan ? " Masih berbisik.


" Tidak ada. " Jawab Moza sambil menggelengkan kepalanya.


" Jangan membohongiku, jelas terlihat di wajahmu apa yang barusaja kamu pikirkan. " Goda Hega tersenyum usil.


Merasa ketahuan, Moza reflek memukul lengan Hega, " Haih.... Sssht ! " Kemudian menempelkan telunjuknya di bibirnya meminta agar kekasihnya itu berhenti bicara.


" Jangan bilang kamu menyesal tidak memilih untuk melakukan tantangan Derka ?! " Hega tiba-tiba bersemangat seolah mendapat ide menjahili kekasihnya.

__ADS_1


" Eh.... "


Jangan kumat sekarang dong gilanya kak. Aduh... Bisa malu aku kalau sampai ada yang dengar ucapan kakak yang menggelikan.


Gumam Moza dalam hati sambil memelototi kekasihnya yang mulai terlihat kambuh ide usilnya.


" Tenang saja, kamu akan punya banyak waktu dan kesempatan untuk menggombaliku nanti. Aku akan memberikan waktu sebanyak yang kamu mau untuk melakukannya hingga puas. " Ucap Hega dengan tampang datar, yang lebih pantas disebut tak tahu malu. Memang kalau berurusan dengan Moza, Hega akan tiba-tiba menjadi menggelikan dan tak tahu malu.


Tuh kah mulai lagi, kenapa otak dan mulutnya selalu bergerak cepat si kalau urusannya untuk menjahili dan menggodaku ?! ~ Moza ~


" Auwh.... Sakit Momo, kamu hobi sekali mencubitku. "


Jika begini Moza tak punya ide apapun untuk membalas ucapan Hega, maka jari-jari lentiknya yang akan berbicara. Cubitan-cubitan kecil sudah mendarat di lengan dan perut Hega, namun Moza masih tetap fokus melihat ke depan dan tetap bicara sepelan mungkin agar tak ada yang melihat ataupun mendengar perdebatan unfaedah mereka berdua.


" Siapa suruh kakak berasumsi seenaknya. Siapa juga yang mau menggombali kakak ?! " Omel Moza menggertakkan giginya menahan jengkel.


" Lalu jika tidak menggombaliku, apa kamu mau menggombali pria lain, hem ?! " Hega masih tak mau menyerah.


Duh... Kenapa kakak tidak mau berhenti bicara si ? Mau sampai kapan kakak menggodaku ? Apa menunggu sampai ada yang memergoki pembicaraan tidak penting kita yang memalukan untuk didengar ini ? Huuuh....


Gerutu Moza dalam hati menahan geram dan melirik tajam ke arah Hega dan muncullah ide gila untuk membalas Hega. Berharap idenya itu akan membuat Hega menghentikan lidahnya yang pandai bicara itu.


" Aku tidak terpikirkan hal itu si, tapi berhubung kakak membahasnya, mungkin akan aku pertimbangkan untuk melakukannya. " Balas Moza dengan senyum manisnya.


" Eh... Emphhh... " Hampir saja Hega berteriak, untung saja Moza dengan cepat membungkam mulut pemuda itu dengan telapak tangannya.


" Memang kenapa ?! " Tantang Moza yang mulai terpancing emosi.


" Aku akan mengirim siapapun lelaki itu ke Afrika. " Jawab Hega sinis.


Seketika Moza menoleh, dahinya mengernyit. " Kenapa ke Afrika ? "


" Biar dia beternak gajah disana, siapa suruh berani merayu calon istriku. " Jawab Hega acuh.


" Hei... kan aku yang merayunya dan menggombalinya, kok bukan aku yang dikirim ke Afrika ? " Protes Moza.


" Kalau kamu ada hukuman lainnya, bukan ke Afrika. " Jawab Hega sambil mengedipkan matanya nakal.


Dua manik mata Moza menyipit penasaran, " Kemana ?! "


" Ke KUA. " Jawab Hega sembari tersenyum penuh arti.


GLEK....


Eh... Apa lagi ini ? Eits... Tunggu dulu ! Ini kan tadi baru seandainya, kok malah jadi panjang lebar gini si urusannya ? Memang aku mau merayu siapa ? Siapa juga yang mau menggombali pria lain, menggombali kakak saja aku malu apalagi menggombali pria lain.


Kenapa pembahasannya merembet kemana-mana begini si ?! Kenapa malah bawa-bawa Afrika sampai KUA segala coba ?!!! πŸ˜€πŸ˜€πŸ˜–πŸ˜–

__ADS_1


Menyesal sudah Moza meladeni mulut jahil Hega yang selalu tak bisa dilawannya itu. Tapi sesalpun tiada guna, justru Hega makin merajalela saja.


" Kaaakkkk.... " Moza terperanjat dari kursinya, hampir saja terjatuh jika Hega tidak menahan kursi dan memegang lengan Moza.


Untung saja semua yang disana sedang fokus pada permainan yang dibuat Derka, jika tidak Moza pasti sudah malu setengah mati karena ulah Hega. Padahal Deana dan Amira yang diam-diam tak sengaja mendengar perbincangan sepasang kekasih itu ikut terkikik geli.


" Pffft..... Kenapa kamu sangat menggemaskan begini si ? Aku jadi benar-benar ingin segera membawamu ke KUA. " Goda Hega sembari mencubit gemas hidung mancung kekasihnya.


BLUSH.....


" HUUUH.... " Karena terlalu malu mendengar gombalan Hega, Moza melengos menyembunyikan wajah merah meronanya.


Bodo amat deh, yang terjadi biarlah terjadi. Aku sudah menyerah melawannya. Kapan kakak akan mengalah saat berdebat denganku.


Gerutu Moza lirih kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja, menyembunyikan wajahnya di kedua lengannya yang terlipat diatas meja.


Hega yang mendengar gerutuan kekasihnya segera mencondongkan tubuhnya mendekati meja, " Nanti saat kita sudah dari KUA, akan aku pikirkan untuk mulai mengalah padamu. " Bisik Hega nakal.


" Haish.... Sudah diam kak ! " Omel Moza masih dengan posisi yang sama.


" Pffft.... " Hega malah terkekeh mendengar omelan Moza dan memutuskan untuk berhenti menggoda kekasihnya.


" Ekhem..... " Deheman Bara sontak membuat dua insan yang sedari tadi asyik sendiri itu tersadar.


" Kalian gak bosen apa pamer kemesraan mulu ?! " Omel Bara dengan wajah masam yang seketika membuat yang lainnya ikut mengarahkan pandangan mereka ke arah Hega dan Moza.


" Iri bilang Bar. " Balas Hega cuek seraya membetulkan posisi duduknya.


Deana dan Amira yang sedari tadi menjadi pendengar perdebatan receh sepasang kekasih itu masih tercengir sendiri dan menahan diri agar tidak tertawa.


Momo, lo beneran udah berubah karena jatuh cinta. Hehhee..... Tapi gue bahagia, Momo manis yang gue kenal bertahun-tahun yang lalu sepertinya sudah kembali. ~ Batin Deana disela tawa kecilnya ~


Selama ini lo ketus dan dingin banget sama cowok Mo, selalu bisa bikin mereka mati kutu dan behenti ngejar-ngejar lo. Eh sekalinya dapat pacar, dapetnya modelan Bang Hega, alamak gak nyangka gue kalo Bang Hega pinter banget gombalin lo sampai bikin lo gak berkutik. Gue kira kalian bakalan jadi pasangan kulkas dua pintu hahahaha..... Nyatanya justru lebih mirip pasangan ulat bulu, menggelikan. Hihihi.....~ Batin Amira dengan ekspresi sama seperti Deana ~


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


MAAF YAH BEBERAPA CHAPTER INI SEPERTINYA FLAT & BORING. πŸ€—πŸ™πŸ˜€


MAKANYA SEPI KOMENTAR πŸ˜–πŸ˜–πŸ˜–


Hega : Coba kasih scene 18+ thor, pasti rame komentar.....


Me : Gila juga ada batasnya dong ! Ke KUA dulu sana, jangankan 18+, 21+ aku kasih 🀣🀣🀣🀣 (Tapi takut ada yang laporin Hihihi)


Hega : Nasibku kan di tanganmu thor. 😞


Me : Hahahhaaa... Itu tau. Dah ah aku mau menghalu, jan ganggu !!!!

__ADS_1


__ADS_2