Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Ketertarikan atau Hanya Kasihan ?


__ADS_3

AUTHOR


Menghabiskan malam dengan bermain billyard, tanpa terasa jam sudah menunjukkan pukul satu pagi. Beberapa kali ronde permainan Hega tak pernah sekalipun kalah, baik saat bermain sendiri ataupun secara team. Pria yang nyatanya tidak hanya memiliki kecerdasan berbisnis, namun juga memiliki kemampuan yang unggul dalam bidang olahraga dan seni.


Melihat kemampuannya saat bermain billyard, membuat Dimas dan Julian seolah tak bisa berkata apapun karena kagum. Sedangkan bagi Bara hal itu sudah tak asing lagi karena dia tahu dengan baik kemampuan sahabatnya itu.


Pria tampan bermata hitam legam itu tetap terlihat santai membidik setiap bola yang ada di meja billyard, meskipun beberapa kali terdengar tawa mengejutkan dari arah sofa, dimana para gadis tengah asyik bergosip tak jauh dari tempat meja billyar itu berada. Tentu saja isi pembicaraan mereka tidak dapat didengar oleh keempat pemuda itu.


Tanpa ada yang menyadari, tampak sesekali Hega melirik tajam ke arah gadis yang memakai piyama beruang. Selalu tanpa bisa dikendalikan, entah sejak kapan jantungnya terasa berdetak lebih cepat setiap kali berada dekat atau saat sedang memperhatikan gadis itu.


Pukul 01.30 mereka memutuskan mengakhiri permainan billyard, Dimas dan Julian memutuskan bergabung bersama para sahabat perempuannya yang saat ini tengah asyik menonton film di layar tv.


Hega berjalan kearah kolam renang setelah sebelumnya mengambil sekaleng soda di dalam kulkas. Melirik sekilas ke arah gadis manis yang tengah bersandar pada sofa sambil memeluk sebuah bantal di dadanya.


Bara mengambil soda dari kulkas dan duduk sejenak bergabung dengan Dimas dan Julian mengintip sejenak film yang tengah diputar di layar televisi. Kemudian tampak beranjak berdiri tampak tak tertarik dan melangkahkan kakinya mengikuti sahabatnya.


Hega sedang berdiri bersandar di meja yang ada di pinggir kolam, sambil meneguk soda di tangannya dan menatap ke langit sambil sesekali menghembuskan nafas berat.


" Apa yang bikin lo gelisah kayak gitu ? " tanya sahabatnya sambil menepuk pundak pemuda itu.


" Tidak ada. " jawabnya singkat tanpa menoleh kearah sahabatnya.


" Gue kenal lo sudah lama Ga. " katanya kemudian sambil membuka soda di tangannya.


" ". Pria itu masih terdiam dengan ekspresi dingin dan datarnya. Dengan sesekali meneguk soda miliknya.


" Si gadis singa ? " kata Bara dengan nada menggoda.


" Ugh. " membuat Hega tampak tersedak karna terkejut.


Sepertinya bener apa yang gue duga. batin Bara melihat ekspresi temannya.


" Dia cukup cantik, sangat cantik malah. Sepertinya cerdas dan menarik. Gue denger banyak mahasiswa yang mengejarnya sejak tahun pertama kuliah, dari yang seangkatan sampai senior, bahkan adek gue yang selalu fokus hanya kuliah dan kafe juga jatuh hati padanya, meskipun bernasib patah hati sama dengan pria-pria lainnya. " kata Bara panjang lebar yang sebagian besar cerita dia tahu dari Julian saat mereka sesekali ngobrol waktu tadi sedang dalam permainan billyard.

__ADS_1


Hega tidak terlalu terkejut mendengar ocehan sahabatnya itu, karena sebelumnya saat perjalanan sempat muncul pembicaraan tentang gadis itu dari Deana dan Renata.


" ". Hega mengernyit sekilas tak paham apa maksud sahabatnya itu mengatakan itu.


Haish.... nih gunung es parah gak pekanya, bisa puyeng gue bikin dia sadar perasaannya. batin Bara lagi.


" Gimana jogging tadi pagi ? " tanya Bara kemudian dengan nada mengejek.


" Pft. " kali ini sodanya sedikit tersembur dari bibir pemuda itu, seolah dia menyadari bahwa Bara mengetahui sesuatu.


Gue liat lo bocah, tadi pagi jalan sama si cewek singa. gumam Bara pelan.


" Gue gak sengaja ketemu di jalan. " kata Hega kemudian.


Aggh..... emang napa kalo gak sengaja, pasti ada sesuatu sampe bikin lo senyum-senyum habis jogging. batin Bara lagi kali ini semakin jengkel karena sahabatnya seolah menyembunyikan sesuatu.


" Lo sadar gak berapa kali lo diam-diam menatap tuh cewek hari ini ? " tembak Bara akhirnya karena kesal.


" ". membuat Hega lantas melotot ke arah sahabatnya disambut tawa Bara seolah berhasil menangkap basah pemuda itu.


Tapi ini bahkan bukan hanya lirikan sesaat, tapi lebih dari itu, dan lebih dari sekali. Sejauh mana nih lo udah tertarik sama dia sob ? tanya Bara dalam hati.


" Gue ngerasa seperti bukan diri gue... " ucap pemuda itu kemudian, Bara masih menyimak.


" Gak fokus sama kerjaan, tadi liat dia mau nangis rasanya jantung gue nyeri. " lanjutnya.


" Mungkin karena kenyataan yang baru kita tahu kalo dia pernah ngerasain hal yang sama seperti lo, sama-sama pernah kehilangan orang paling berharga. " jawab Bara kemudian sambil menepuk kembali pundak temannya itu.


" Mungkin. " jawabnya kemudian lagi-lagi sambil menghela nafas.


Apa ini seperti kata Bara, perasaan senasib karena memiliki bekas luka yang sama. batin Hega kemudian.


Gak mungkin nih bocah sampe gelisah seperti ini hanya karena merasa kasihan sama si gadis singa. Mana pernah nih gunung es punya rasa iba seperti itu ? Kalopun ada, kemana rasa iba itu ketika banyak parempuan yang menangis memohon cinta sama dia. Apa mungkin bener kata orang kalo jatuh cinta bikin IQ seseorang jadi merosot ? batin Bara penuh tanda tanya.

__ADS_1


" Lo coba ikutin kata hati lo. " kata Bara kemudian.


" " . Pria itu hanya menggangguk pelan.


" Gue rasa dia cukup serasi sama lo. " ejek Bara.


" Lo mau coba berenang tengah malam ? " kata Hega dengan tatapan mengancam.


" Ampun boss, gue gak mau masuk angin, cewek gue jauh, gak ada yang ngangetin. " jawab Bara dengan nada pura-pura memohon ampun diikuti tawa mereka berdua.


" Udah malem, mending kita tidur. Besok jogging bareng. Ajak gadis singa juga. " ucap Bara dengan nada menggoda yang disambut tendangan dipantat oleh sahabatnya itu namun tak kena karena Bara keburu kabur.


Saat masuk Bara melihat hanya tinggal empat orang di ruang tengah, Deana dan Moza tampak tertidur diatas sofa. Sedangkan Dimas dan Julian tertidur diatas karpet.


" Bangun dek, tidur dikamar. " kata Bara sambil menepuk badan Dimas dan Julian.


" Ngantuk bang. " jawab Dimas enggan sambil menutup kepalanya dengan kedua lengannya.


" Nanti masuk angin dek, pindah sana. Apa mau abang seret ? " tampak mereka menggeliat sesaat dan bangkit dengan enggan dan menoleh ke arah sofa melihat kedua temannya.


" Mereka gimana ? " tanyanya kemudian sambil mengucek kedua matanya.


" Abang yang urus. " jawab sang abang.


" Yuk Jul. " kata Dimas sambil setengah menyeret Julian yang masih berbaring di karpet kemudian berjalan gontai menuju ke kamar mereka.


" Titip mereka ya bang, gue udah ngantuk berat. " kata Dimas sambil kembali menguap.


" Hn. " jawab Bara.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤

__ADS_1


PLEASE DON'T BE SILENT READER......💔


__ADS_2