
AUTHOR
Ejekan Bara yang keluar begitu saja tanpa ada saringan dari otaknya itu tentu saja memancing tawa Julian.
Kedua pria yang telah diberi label buaya gila oleh Hega itu terbahak dengan puasnya.
Julian tak tahu atau mungkin lupa akan akibat yang akan ditanggungnya karena telah ikut mentertawakan si Bossy Boss.
Kalian benar-benar kompak dalam hal membully saya untuk masalah percintaan. Diam bukan berarti saya akan membiarkan kalian begitu saja. Lihat saja siapa yang nantinya akan menangis di akhir cerita.
Seringai tipis tersungging si bibir Hega, tentu saja banyak cara baginya membalas kelakuan lucknut kedua bawahannya itu.
" Emang lo kagak kegoda gitu Ga berduaan sama calon bini lo yang cantik itu ? Di kamar lagi. Pffft..... " Lanjut Bara, kapan lagi membully sahabat sekaligus boss nya yang menyebalkan itu pikirnya.
Katakan apapun yang lo mau Bar ! Gue sedang kelewat bahagia untuk sekedar meladeni ucapan receh lo itu yang justru akan mengganggu kebahagiaan gue saat ini. ~ Hega ~
Hega tak membalas ucapan sahabatnya itu, namun bukan karena tidak bisa, tapi lebih ke rasa malas untuk meladeni kegilaan pria yang sudah lama menjadi sahabatnya.
Apalagi sekarang Hega merasa tak sepenuhnya bisa yakin pada dirinya sendiri.
Mungkin Bara ada benarnya, sekuat-kuatnya dia menahan diri tapi akan ada saatnya pertahanan itu melemah.
Berada di kamar berduaan dengan Moza saja sudah membuatnya mulai merasa panas dingin.
Tapi untungnya sampai detik ini kewarasan Hega masih mampu membuatnya mengontrol dirinya, meskipun ada kalanya tak tahan juga. ๐ต
" Memangnya Bang Bara kalau pacaran gimana ? Sampai tahap apa ? "
Ini lagi si Buaya Junior ikut-ikutan. ~ Hega ~
" Ya gitu lah dek. " Jawab Bara gelagapan, menggaruk belakang telinganya kikuk.
" Ya begitulah itu gimana ? Cium ? Peluk ? "
Julian memang dikenal playboy, tapi selama ini tak ada yang tahu jika gaya berpacaran pemuda itu hanya sebatas ciuman dan pelukan saja.
Berbeda dengan Bara yang memang jam terbangnya lebih lama, apalagi pria yang sudah berusia 27 tahun itu sempat merasakan hidup di negara asing dengan gaya pergaulan bebas disana.
" Cih... Ya lebih lah, udah gede ini masa cuma peluk cium, udah macam iklan sabun tuh di tv 'peluk cium peluk cium' . Huahahahaha....?! " Ucap Bara yang mulai terpancing, dan malah bersenandung menirukan iklan sabun mandi di televisi.
" Terus apaan Bang ? Gr*pe-gr*pe ?! " Julian menaikkan level gesreknya.
" Buaahahahaha..... Bahasa lo Dek, macam bocah alay...hahahaha. " Seorang Julian untuk pertama kalinya merasa menjadi lelaki polos yang tak tahu apa-apa di hadapan Bara yang berpengalaman. Membuat tawa Bara meledak seketika.
Dahi Julian mengerut, tampak jelas rasa penasaran di wajah pemuda itu.
Hega hanya mendengarkan kegilaan sahabatnya dengan ekspresi datar tak tertarik pada bahan pembicaraan kedua makhluk yang mendadak menjadi sosok transparan di matanya itu.
" Apaan si Bang ?! " Gerutu Julian kesal, karena bukan jawaban yang didapatnya malah tawa membahana yang lebih terdengar seperti tawa meledek di telinganya.
" Jangan dengarkan buaya gila ini Julian, kamu cukup menjadi buaya di level kamu sekarang. Jangan ikuti jejaknya jika kamu tak ingin menyesal nantinya. "
Nasihat Hega bukannya justru membuat keingin tahuan Julian mereda, malah pemuda itu semakin ingin tahu saja.
__ADS_1
" Cih... " Bara berdecak malas mendengar ucapan sahabatnya.
Terdengar seolah dirinya adalah pria brengsek saja. Meskipun memang hal itu benar adanya si.
Gaya pacaran Bara memang cenderung melewati batas, tapi tentu saja itu dulu saat masih hidup bebas di luar negeri.
Kalau sekarang yah hanya Bara yang tahu. ๐
" Ahhh.... Bang Hega bikin gue tambah penasaran aja. " Julian tampak kesal, mengacak-acak sendiri rambutnya karena kelewat penasaran.
" Jangan bilang lo gak pernah lewat dari tahap cium dan pelukan dek ? " Ejek Bara.
" Hah ?! " Mendengar pertanyaan Bara, Julian sedikit terlonjak, kemudian mengangguk pasrah membenarkan ucapan senior buayanya itu.
" Emang lo selama ini pacaran ngapain aja si ?! " Bara masih terus tertawa geli melihat dua makhluk polos di hadapannya.
Satunya polos sejati karena jomblo sejak lahir.
Satu lagi playboy yang ternyata jejak karirnya dalam pacaran hanya sebatas ciuman dan pelukan ala ABG.
" Coba deh lo jawab satu pertanyaan gue dengan jujur dek ! " Raut muka dan nada bicara Bara mendadak berubah serius.
" Apaan ?! " Balas Julian ketus.
" Lo masih perjaka gak ?! " Tanya Bara tanpa malu.
" Hah ?! " Mendapati pertanyaan yang teramat pribadi membuat Julian terpekik kaget.
" Hah heh hoh... Jawab ! " Omel Bara mulai kehabisan kesabaran.
Itu kan rahasia dapur gue bang. ~ Julian ~
" Jawab aja kenapa si ? Bawel lo, mau dilanjutin gak ?! " Sepertinya Bara benar-benar kehabisan kesabarannya.
" Iya iya, galak amat dih. "
" Ya udah jawab ! Jangan bikin gue malas ngelanjutin kelas mentoring buaya gue. Hahaha.... "
" Iya, gue udah gak per - jaka. Puas lo bang ! " Omel Julian pasrah kemudian manyun-manyun gak jelas
" Uhuk...." Kejujuran Julian membuat Hega reflek terbatuk dan geleng-geleng kepala.
" Widih gitu katanya pacaran lo sebatas cium peluk doang. Nyatanya lo second juga. Hahahaha...." Ucap Bara terbahak dengan nada menghina.
" Emangnya bang Bara juga udah kagak perjaka ? " Oh no... Kenapa Julian si playboy mendadak polos dengan raut muka penasarannya itu.
" Hentikan obrolan receh kalian ! " Potong Hega dingin.
" Dih... Lo juga seneng kan dengernya Ga ?! Anggap saja latihan melepas keperjakaan lo. Haahahahaa.... " Ejek Bara.
" What ?! Bang Hega ?! Gak mungkin kan bang Hega masih..... " Julian terlonjak dengan kenyataan yang baru didengarnya, membekap mulutnya seketika dengan tangannya untuk menghentikan kalimatnya saat didapatinya tatapan tajam membunuh dari boss nya itu.
Hari gini cowok dewasa masih perjaka ? Gak mungkin. ~ Julian ~
__ADS_1
" Sepertinya berada di antara kalian membuat telinga saya akan tercemari oleh bahasan yang tidak berfaedah. " Ujar Hega kemudian beranjak dari sofa dan meninggalkan kedua pria buaya itu dengan omong kosong mereka.
" Hei mau kemana lo Ga, mentoring gue belum kelar nih. Wooyyy.... " Teriak Bara sambil terkikik melihat raut muka kesal sahabatnya itu.
Membuat Aliza yang sudah ikut bergabung di sofa ruang tamu bersama Alina dan teman-temannya ikut menoleh mendengar teriakan Bara.
Anggaplah Hega sok suci, tapi bukankah memang ada sepersekian persen dari lelaki di dunia ini yang memang pribadi dan kehidupannya benar-benar bersih seputih kapas.
Tak pernah tercemar oleh hasrat dan nafsu yang memang belum waktunya.
Toh memang selama ini belum pernah ada wanita yang bisa menggugah nalurinya sebagai seorang lelaki normal yang juga memiliki kebutuhan s*ksual.
Hidup Hega yang hanya berputar pada pendidikan dan pekerjaan. Membuatnya tak punya waktu untuk memikirkan hal lainnya.
Jadi anggap saja hampir 27 tahun kehidupan seorang Hega Airsyana termasuk dalam golongan yang sepersekian persen yang langka itu.
๐ป๐ป๐ป
Moza terbangun dari tidur pulasnya, kedua matanya terasa berat. Sepertinya sedikit sembab.
Diputuskannya untuk segera mandi karena hampir maghrib, setelah 30 menit ritual mandi dan ganti baju Moza bersiap untuk sholat.
Baru saja hendak memakai mukena, ketukan pintu membuatnya harus menunda sejenak ibadahnya.
Cekklek... !
Seorang gadis cantik tersenyum di depan pintu membawa nampan berisi secangkir coklat panas.
" Bolehkan saya masuk nona Moza ?! " Ucap Deana menggoda, dan meloyor masuk sebelum mendapat jawaban.
" Kenapa repot-repot si De ? Aku juga mau turun setelah sholat kok. " Ucap Moza seraya menunjukkan mukena di lengannya.
" Gak papa, kebetulan aja tadi pas bu As bawa jadi sekalian aku mau lihat lo. Lo gak kenapa-kenapa kan ?! "
" Eum... Aku baik-baik saja kok. "
Deana mengamati sahabatnya sejenak, memastikan tidak ada yang aneh dengan gadis itu.
Untung saja mata Moza yang tadinya sedikit sembab sudah memudar setelah ritual mandi ditambah kompresan air hangat dan polesan make up natural di wajah cantik itu.
" Ya sudah aku mau mandi dulu. " Ucap Deana, menepuk bahu Moza kemudian beranjak meninggalkan kamar sahabatnya.
Deana memang sedikit cemas saat Julian bilang Moza sedang istirahat dikamarnya dan tidak ingin diganggu.
Deana curiga ini ada hubungannya dengan kehadiran Hega disana, bagaimanapun Deana tahu jika sahabatnya itu masih belum bisa move on dari pemuda itu.
Dan nampan yang dibawanya itu disitanya dari Bu Astuti saat wanita paruh baya itu sedang menuju kamar Moza.
Dan betapa kesalnya Deana saat tahu itu adalah perintah dari Hega.
Dengan cepat Deana mengambil alih nampan tersebut sekalian ingin melihat apa yang terjadi dengan sang sahabat karib.
๐๐โค๐๐งก๐๐๐ค
__ADS_1
Gimana kelanjutan kelas mentoring buaya bang Bara ? ๐ค๐ค
Dipotong dulu karena kagak ada faedahnya ๐๐