Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Kemesraan (Keributan) Di Pagi Hari


__ADS_3

AUTHOR


Satu minggu kemudian.


Moza mulai bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya dan mulai nyaman berada di rumah mewah itu, meskipun belum sepenuhnya. Lebih tepatnya baru nyaman dengan kamarnya saja.


Untuk keseluruhan bangunan rumah tentu saja belum. Apalagi keseluruhan area termasuk taman dan bangunan-bangunan lainnya.


Bagaimana mau terbiasa ? Seminggu ini rutinitasnya hanya sebatas kamar tidur, ruang makan dan ruang keluarga saja.


Maklum saja kakinya yang terkilir belum bisa diajak beraktifitas berlebihan. Belum lagi sang pacar posesifnya yang masih saja membatasi gerak-geriknya.


Belum boleh ini, belum boleh itu.


Jangankan mau jalan-jalan ke taman, turun ke ruang makan di lantai satu saja dia menggunakan lift.


Kamar Moza berada di lantai 3 rumah utama, disana adalah area kekuasaan milik Hega.


Meskipun sudah lebih dari 10 tahun tak terjamah oleh pemiliknya, lantai 3 Rumah Utama tetap terawat dan tertata dengan baik.


Disana terdapat 3 ruangan besar, satu ruangan adalah kamar utama yang digunakan Hega.


Dua ruangan lainnya, salah satunya adalah ruang kerja dan perpustakaan, satunya lagi tadinya adalah ruangan olahraga yang sudah disulap menjadi kamar Moza oleh sang kakek seminggu sebelum kepindahan gadis itu kesana.


Ditengah-tengah ada area santai dilengkapi home theater, layar berukuran besar, sofa dan furniture minimalis bernuansa mocca dan ivory.


Tak lupa kitchen set minimalis lengkap dengan mini bar di salah satu sudut area..


Ahhh benar-benar bukan gaya seorang Moza, terlalu mewah untuk gadis biasa seperti dirinya.


Belum lagi selama seminggu ini dirinya benar-benar diperlakukan seperti seorang putri.


Seorang pelayan disiapkan untuk mengurus segala kebutuhan dan keperluannya secara khusus.


Awalnya Moza menolak namun mau bagaimana lagi, dia butuh seseorang untuk membantunya dalam beberapa hal, terutama untuk mandi dan berganti pakaian.


Jadi selama tubuhnya belum pulih betul, terpaksa gadis itu menurut saja.


Dan sudah satu minggu, luka memar di bahunya sudah membaik. Setidaknya sekarang ia bisa mandi ataupun ganti baju tanpa bantuan lagi.


Meskipun kakinya yang terkilir masih kadang terasa nyeri, tapi itu masih bisa diatasi olehnya.


Sebenarnya hari ini Hega berjanji akan mengajaknya berkeliling area taman. Tapi rencana itu harus ditunda karena Hega harus kembali masuk kantor setelah hampir seminggu membolos.


Dan pagi itu selepas mandi, Moza tampak terdiam di depan pintu kamar mandi. Matanya celingukan mencari sesuatu.


Dimana si lemarinya ? Arrghhh kenapa kemarin-kemarin aku tidak perhatikan dimana Sasa mengambil pakaianku si ?!


Gamamnya sambil menggigit ujung jarinya, kemudian menyusuri seluruh sudut ruangan.


Sasa adalah pelayan yang selama seminggu ini membantu Moza mandi dan menyiapkan pakaian untuknya.


Moza beberapa kali berjalan mondar-mandir di depan ranjangnya. Hingga suara ketukan di pintu membuatnya terlonjak.


Sasa....Semoga itu Sasa....


โ€ข


โ€ข


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Pukul 7 pagi, seperti biasa Hega sudah duduk di sofa yang ada di ruang tengah diantara kamarnya dan kamar Moza.


Setelah memperpanjang bolos kerjanya dari dua hari menjadi hampir seminggu, akhirnya Hega dengan berat hati harus kembali pada rutinitasnya di kantor.


Sebenarnya Hega masih ingin menemani Moza, memantau kondisi gadis itu hingga pulih sepenuhnya.


Dan rencananya hari ini ia ingin membawa Moza jalan-jalan di taman melihat kondisi gadis itu yang sudah terlihat membaik.


Lagipula pekerjaan bisa dipantau dari rumah, bukankah dia boss nya, siapa juga yang akan mengomentari dirinya meski tak muncul di kantor sama sekali.


Jika bukan karena Bara terus menerornya setiap hari untuk segera datang ke kantor, pastinya Hega akan lebih memilih bersantai ria di rumah menemani pujaan hatinya.

__ADS_1


Hega sudah rapi dengan setelan jas berwarna navy, sedang fokus pada tablet 10 inch nya mengecek beberapa berkas perusahaan.


Menunggu gadisnya keluar dari kamar untuk turun bersama ke ruang makan.


Biasanya gadis itu sudah akan muncul dari pintu kamarnya, tapi hampir 30 menit menunggu tak juga terlihat batang hidungnya.


Hega melirik jam tangannya, pukul 7.30 tapi belum ada tanda-tanda pergerakan dari kamar Moza.


Merasa sedikit cemas, Hega meletakkan tablet berlogo apel tergigit itu di sofa, segera beranjak dari duduknya dan menghampiri kamar kekasihnya.


Tok tok tok


" Mo... Kamu baik-baik saja kan ? Kenapa belum keluar juga ? " Hega setengah berteriak, nada suaranya jelas terdengar cemas.


" Aaahhh.... Tunggu sebentar kak. " Teriak gadis itu.


" Apa yang kamu lakukan di dalam ? Ayo cepat keluar, kakek pasti sudah menunggu kita. " Ucap Hega masih berdiri di depan pintu kamar Moza.


" Kakak turun saja dulu. " Bukannya segera keluar malah meminta pemuda itu turun lebih dulu, padahal Hega sudah menunggunya begitu lama.


" Kenapa ? Aku akan menunggumu. " Tolak Hega tegas.


Ceklek,...


Suara handle pintu dan pintu terbuka sedikit lalu kepala Moza mengintip dari celah pintu kamar.


" Kenapa tidak keluar ? " Hega mencoba mendorong pintu tapi ditahan oleh Moza.


" Aaa.... Jangan masuk kak ! " Moza terpekik mendapati Hega yang berusaha masuk ke kamarnya.


" Kenapa ? " Tanya Hega penasaran.


" Anu kak.... Emmnn... itu... "


" Ada apa ? Buka pintunya ! " Mencoba mendorong pintu untuk kedua kalinya tapi masih ditahan dari dalam oleh pemilik kamar.


" Aaahhh jangan kak aku belum pakai baju... " Teriak Moza keceplosan, dan kemudian terdengar gerutuan tidak jelas dari dalam kamar.


Aaaa.... Kenapa aku bilang aku tidak pakai baju si ? Meskipun benar aku tidak pakai baju, tapi kan aku pakai kimono mandi. Bagaimana kalau kak Hega berfikir yang tidak-tidak ?


Glek....


" Apah ?! " Seketika Hega memalingkan wajahnya yang merona, menelan salivanya dengan sudah payah, dan muncul desiran aneh dalam dirinya.


Dan benar seperti dugaan Moza, pemuda di balik pintu itu memang barusaja membayangkan yang tidak-tidak.


" Ituh... bisakah kakak memanggilkan Sasa kemari ?! " Pinta Moza ragu.


" Kenapa ? Apa bahumu sakit lagi ? Kenapa panggil Sasa ? Bukankah kamu bilang mulai hari ini kamu akan siap-siap sendiri ?! " Bukannya memenuhi permintaan Moza, justru berbagai pertanyaan beruntun keluar dari bibir Hega yang terdengar cemas.


" Iya, eh tidak.... maksudku...... " Jawab Moza ragu.


Aaahhh.... Bagaimana aku mengatakannya ?! Malu rasanya jika aku bilang aku tidak tahu letak lemari pakaianku sendiri. Masa sudah seminggu disini bahkan letak lemari saja tidak tahu. Aaarrrggg.... benar-benar memalukan.


" Tapi apa ? Benar kan dugaanku bahumu yang memar masih sakit ?! " Cemasnya.


" Bukan kak, bukan itu. Aku sungguh sudah sembuh. "


Moza berusaha meyakinkan Hega jika lukanya benar-benar sudah sembuh. Tapi kalimat membingungkan Moza justru membuat Hega semakin curiga.


" Lalu kenapa ? "


Ahhh.... Masa bodoh, daripada aku mati kedinginan.


" Aku... Aku tidak tahu dimana Sasa menyimpan pakaianku. " Ucap Moza akhirnya, menggigit lagi ujung jarinya gusar, benar-benar menahan malu.


" Haaa ?! " Hega tercengang sesaat, kemudian menepuk keningnya dan tanpa sadar terbahak sambil memegang perutnya.


" Kakak mentertawakanku ? " Omel Moza kesal, kepalanya kembali menyembul di sela pintu memelototi kekasihnya dan kedua pipinya mengembang.


" Ah, tidak. Mana mungkin aku mentertawakanmu. Aku hanya... " Hega masih berusaha menahan tawa.


" Ayo kak panggilkan Sasa, aku bisa masuk angin nih. " Pinta Moza lirih.

__ADS_1


" Ehem... Kenapa harus panggil Sasa ? Kan ada aku. " Merasa mendapat kesempatan menggoda kekasihnya, tentu saja Hega tak menyiakan kesempatan itu.


Brak....


" Aaaaa... " Seketika Moza berteriak dan membanting pintunya.


" Aduhh.... Pelan-pelan dong tutup pintunya, kamu bisa membuatku jantungan. " Protes Hega terkejut mendapati suara pintu dibanting tepat di depan wajahnya.


" Kak Hega menyebalkan. " Omel Moza.


" Hei Moza sayang apa yang kamu pikirkan ?! Maksudku, ada aku yang bisa memberitahumu dimana pakaianmu. " Hega terkikik melihat kelakuan gadisnya.


Ceklek...


" Dimana ? " Kepala Moza kembali menyembul di sela pintu yang sedikit terbuka.


" Buka dulu dong pintunya. Bagaimana aku bisa menunjukkannya kalau aku tidak masuk ke dalam ?! " Sebuah senyum seringai terukir di bibir seksi pemuda itu.


Dan Moza hafal betul arti senyum Hega yang seperti itu, penyakit jahil kekasihnya sedang naik tingkatannya. Yang akan selalu sukses membuatnya mati gaya dan kalah telak dari pemuda itu.


Hega benar-benar tak melepaskan kesempatan ini, apalagi sekarang kekasihnya itu sudah sembuh jadi Hega benar-benar tak bisa lagi mengontrol keinginannya untuk terus menjahili gadisnya itu.


Karena selama seminggu ini, Hega harus menahan diri untuk menggoda Moza karena kondisi gadis itu belum sepenuhnya pulih.


" KAAAKKK......" Moza terpekik mendengar kalimat Hega, mukanya merah padam antara kesal dan malu.


" Pffttt..... Iya, iya. Kamu suka sekali berteriak padaku. Sepertinya kamu benar-benar ingin punya suami tuli ya ?! "


Celetuk Hega mengusap-usap telinganya yang terasa berdengung karena teriakan Moza.


Kemudian tersenyum, merasa sangat puas bisa melihat ekspresi kesal menggemaskan di wajah tunangannya yang cantik.


" Kak hentikan ! Aku sudah kedinginan ini. " Protes Moza, sembari mengusap lengannya.


" Hehe iya maaf, itu di samping kamar mandi ada pintu kaca besar, dorong saja dan masuklah kesana semua kebutuhanmu ada disana. " Ucap Hega kemudian.


" Ah... Baiklah, aku bersiap dulu. Kakak turun saja dulu. " Jawab Moza saat matanya menemukan cermin yang dimaksud Hega.


Aku kira itu cermin biasa, siapa yang tahu kalau itu sebuah pintu. Memangnya aku punya 'kucing biru' yang menyediakan 'pintu kemana saja' ?!


" Tidak, aku akan menunggumu. Bukankan kamu tadi bilang kalau kamu kedinginan, cepatlah pakai bajumu aku akan memelukmu nanti agar kamu tak kedinginan lagi. " Ucap Hega datar masih bertahan dengan kejahilannya.


Bugh...


" Auwhh..... "


Sebuah bantal sofa melayang dari dalam kamar mendarat di wajah tampan Hega.


" Rasakan. " Umpat Moza lalu membanting kembali pintunya.


Brak


โ€ข


โ€ข


๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค


Bagaimana episode kali ini ???!!! Semoga tidak mengecewakan ya ?!


๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡


( Eehhh.... BTW sebelumnya Maafkan akuh. Kalau akuh mau hiatus dulu boleh gak ?!!! Konsep dan alur cerita sudah ada si, tapi ide menjabarkannya sedang NOL BESAR ) ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Akuh sedang dalam kondisi MOOD DOWN โ˜นโ˜นโ˜น


Kalau besok akuh belum up lagi berarti beneran akuh hiatus dulu ya....


Sampai kapan thooorrr ?


Sampai menemukan kitab sucinya Sun Go Kong hihihi, ya sampai mood nya balik lagi lah dan ide bermunculan... Hehehe...


Sampai jumpa lagi teman-teman. Aku pasti balik membawa Babang Hega dan Momo Cantik .....โ˜น๐Ÿค—

__ADS_1


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


__ADS_2