
AUTHOR
Dokter Melisa masih memeriksa dengan seksama, denyut nadi gadis itu semakin melemah, suhu tubuhnya menurun.
Sesuatu yang sudah lama berhenti ia cemaskan akhirnya kembali lagi. Yah, Moza adalah salah satu pasien yang spesial bagi seorang Melisa. Pasalnya dokter itu menangani gadis itu saat pertama kali menggeluti kariernya sebagai dokter psikiatri.
Terlebih saat itu Moza masih berusia sembilan tahunan. Terlalu muda untuk mengalami trauma psikologis seberat itu.
Menyaksikan kematian kakak yang paling dicintainya di depan mata kepalanya sendiri. Kecelakaan yang merenggut saudara kandungnya yang berharga.
Begitu dalamnya luka trauma yang dialaminya, sempat membuat semangat hidup gadis kecil itu seolah menghilang. Tiap malam menangis histeris karena dihantui mimpi buruk.
Hingga akhirnya dokter Melisa terpaksa menyarankan metode Hipnotherapi untuk menghindari kemungkinan terburuk yang bisa dilakukan penderita PTSD jika mereka dalam keadaan sangat tertekan.
Yang otomatis akan menghilangkan segala memori tentang faktor utama yang menjadi penyebab utama timbulnya trauma dalam diri gadis itu. Dan bisa jadi akan mengaburkan memori tentang beberapa hal yang berkaitan dengan penyebab ganguan PTSD pasien.
Dan saat itu Ardi dan Ayu tidak pilihan lain selain menyetujuinya. Karena mereka tidak ingin terjadi hal yang tidak mereka inginkan. Mereka sudah kehilangan putra pertama mereka, dan mereka tidak sanggup jika harus kehilangan putri mereka juga.
" Apa terjadi sesuatu akhir-akhir ini, Pak Ardi ? "
" Tidak, dok. Tadi saat pergi putriku baik-baik saja dan sangat senang karena bertemu dengan calon suaminya. " Ayu yang menjawabnya dengan sangat yakin karena memang itulah kenyataannya.
" Lalu kenapa beberapa hari yang lalu ibu Ayu meminta rekam medis dan hasil terapi Moza yang sudah beberapa tahun lalu itu ? " Melisa menatap dengan penuh tanda tanya di matanya.
" Karena saat itu putriku sempat menunjukkan gejala kambuh, dok. " Jawab Ayu lagi.
" Lalu kenapa ibu Ayu tidak mengatakannya pada saya ? Seharusnya saat itu juga dia sudah dibawa pada saya. " Ujar Melisa dengan sedikit geram.
" Maaf, dok. Kami tidak mengira akan terjadi trauma susulan seperti ini karena saat kami mengunjunginya, putri kami dalam keadaan sangat baik. Saat itu dia bersama calon suaminya. Dan kami tidak melihat sesuatu yang aneh dari perilakunya. " Kali ini hiliran Ardi yang bersuara.
Dokter Melisa tampak menekan-nekan pelipisnya dengan gusar, " Haish. . . Sekecil apapun seharusnya bapak dan ibu menceritakannya pada saya, saya sudah merasa sangat tenang karena Moza tidak pernah datang kepada saya selama sepuluh tahun terakhir ini. Yang itu tandanya dia baik-baik saja. Tapi. . . "
" Lalu apa yang harus kita lakukan, dok ? " Tanya Ryu memotong perdebatan yang dia rasa tidak akan membuat kondisi sang kakak segera membaik.
" Bawa anak itu kemari ! " Ucap Melisa penuh arti.
Kening Ryu mengerut tidak mengerti, " Maksud dokter ?! "
" Anak yang bisa membuat Moza tersadar hanya dengan menyebutkan namanya. "
Ayu menatap sang suami, " Sudah bunda katakan tadi, Yah. Telepon Hega, minta dia segera datang kemari, huuu. . . " Ayu kembali terisak.
" Ayah sudah menghubunginya berkali-kali, tapi tidak tersambung, bun. "
AAAAAAHHHHH. . . .
Sebuah teriakan dari lantai satu mengejutkan sepasang suami istri itu. Ryu yang lebih sigap dengan cepat berlari keluar dari kamar kakaknya dan menuruni tangga untuk melihat apa yang sedang terjadi.
" Bang cukup, tolong berhenti ! "
Bugh. . . Bugh. . .
π
π
π
Hega yang baru saja menuruni jet pribadinya segera menaiki kendaraannya yang sengaja ia tinggal di parkir khusus landasan udara, untuk ia gunakan lusa saat acara akad nikah.
Untung saja Derka berinisiatif untuk mengambil alih kemudi mengingat kondisi emosional sahabatnya itu sedang tidak stabil.
" Cepat, Der ! Ini mobil sport jadi lambat banget kalo lo yang nyetir. "
" Diem lo, Ga ! Gue lagi fokus nyetir. "
Hega menghentakkan kakinya dengan sangat kesal, " Arrgh. . . Turun lo, Der ! Biar gue yang nyetir. Gue berasa naik odong-odong. " Geramnya kemudian.
" Hish, bawel lo ah, gue masih pengen hidup ya, gue gak mau mati muda gara-gara lo ngebut. Lagipula lo mana pernah naik odong-odong, jangan ngarang deh lo. " Protes Derka tak kalah kesal tapi masih juga sempat-sempatnya melemparkan candaan berharap membuat sahabatnya yang sedang dalam mode kesabaran minimum itu bisa sedikit tenang.
__ADS_1
Meskipun nyatanya tidak berpengaruh sedikitpun pada sahabatnya yang justru semakin tidak sabaran.
" Damn it ! Gas lagi, Der ! "
" Brengs*k nih bocah, lo diem aja napa sih, Ga. Ini udah mentok gas nya dodol. Kalo lo gak sabaran gini kenapa tadi lo gak bawa jet lo itu sampe di atap rumah mertua lo sih. " Geram Derka yang semakin pusing mendengar omelan sahabatnya yang menggila.
" Sialan lo, Der. Kalo bisa udah gue lakuin hal itu beg*. " Tandas Hega seraya melotot galak ke arah Derka.
" Hish, gak tahu terima kasih lo. Duduk aja yang manis, bentar lagi nih sampe. Kalo lo ribut mulu makin lama nih nyampenya. "
Dan akhirnya dengan diiringi perdebatan kedua sahabat itu, waktu tempuh bandara ke rumah Ardi Dama yang seharusnya setengah jam, bisa ditempuh hanya sekitar 15 menit saja dengan gaya mengemudi Derka yang ternyata ada bakat pembalap.
Dengan tidak sabar Hega segera keluar dari mobilnya, berlari memasuki rumah yang baru saja ia tinggalkan sekitar satu setengah jam yang lalu.
Saat hendak menaiki tangga, dilihatnya sosok yang membuatnya mengurungkan niatnya untuk segera melihat kondisi calon istrinya. Hega terpancing emosi saat melihat pria yang tengah duduk bersama Dea di sofa ruang tamu rumah Ardi Dama.
Dengan tatapan kemarahan Hega menghampiri pria itu dan mencengkeram kerah kemeja pria bernama Fabian itu.
" Brengs*k. "
Bugh. .
Sebuah tinju mendarat di pipi kanan Fabian hingga pria berkemeja biru itu jatuh tersungkur di lantai.
AAAAAAHHHHH. . . .
" Bang cukup, tolong berhenti ! " Teriak Deana yang syok dengan apa yang dilakukan calon suami sahabatnya itu saat Hega kembali mendaratkan pukulan di perut Fabian.
Bugh. . . Bugh. . .
" Apa yang sebenarnya sudah ada katakan padanya, hah ?! "
Amarah Hega sudah memuncak, Hega tahu pasti berdasarkan laporan dari Ragil, pingsannya Moza pasti berkaitan dengan apa yang dibicarakan calon istrinya itu dengan pria yang katanya adalah sahabat semasa SMA gadis itu.
" Bang, ada apa ini ?! " Ryuza yang terlihat berlari dari arah tangga segera menahan tubuh calon kakak iparnya yang hendak mengangkat kembali kepalan tangannya.
Deana membantu Fabian bangkit dari lantai dan mendudukkannya kembali di sofa. Gadis yang masih sesenggukan karena syok dengan apa yang terjadi pada sahabatnya itu semakin terisak saat menyaksikan insiden yang baru saja terjadi.
" Bang, berhenti ! " Ryu memekik dengan posisi masih memeluk dari belakang tubuh tinggi tegap calob kakak iparnya.
Derka yang baru saja memasuki ruang tengah, " Heh, Ga. Lo ini kebiasaan ninggalin gue. " Ocehnya sambil berjalan cepat menghampiri sahabatnya, " Lah, ini pada ngapain lagi ?! " Begitu terkejutnya Derka melihat kekacauan dan langsung berhambur mendekati sahabatnya.
Ruang tamu yang digunakan untuk acara lamaran beberapa jam yang lalu tiba-tiba menjadi arena tinju.
" Bang Der, tolongin Ryu, bang. Ini bang Hega kuat amat, Ryu gak sanggup nahannya. "
Derka ikut menahan tubuh Hega yang sudah seperti singa lapar yang ingin menerkam mangsa di hadapannya, " Ga, stop. Lo ini apa-apaan sih ?! Lo lupa apa tujuan lo buru-buru datang kesini ?! "
" Tapi dia Der. . ."
" Hush. . . Itu bisa kita bahas nanti. Kita lihat dulu adik ipar. "
" Dek, gimana kakak lo ?! "
" Masih belum sadar, bang. Dan bang Hega ditunggu ayah dan bunda, kata dokternya kemungkinan cuma abang yang bisa buat kakak sadar. " Dan kalimat itu berhasil mengalihkan Hega dari amarahnya.
Tanpa menunggu lagi, Hega menaiki tangga dengan cepat, bahkan melompati dua anak tangga sekaligus dalam sekali langkahnya.
" Mo. . . "
Melihat kedatangan pemuda itu, Ayu segera berhambur memeluk calon menantunya itu, " Hega. Kamu sudah datang, nak, huuu. . . Cepat, buat putri bunda sadar. Kembalikan putri bunda, Hega, huuu. . . " Ujarnya dengan tangis pilu.
" Bun. . . " Hega yang bingung harus berbuat apa reflek mengelus punggung wanita paruh baya yang sedang memeluknya erat itu, kemudian mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan bernuansa salem itu.
Dan netra hitamnya berhenti pada sosok gadis yang terbaring di ranjang, dengan selang infus terpasang di pergelangan tangan kanannya.
" Ayah, . . " Lirihnya saat melihat Ardi Dama berdiri di pinggir ranjang bersama seorang wanita paruh baya seusia Ayu dengan jas berwarna putih yang Hega yakini adalah seorang dokter.
Ardi menghampirinya dan memeluk pundak Ayu kemudian mendudukkan wanita itu di sofa. Melirik ke arah putra bungsunya, dan Ryu mengerti maksud sang ayah untuk menggantikannya menenangkan sang bunda.
__ADS_1
" Apa anda yang bernama Tuan Hega ? "
" Iya, saya. " Hega mendekat ke arah ranjang, duduk di pinggiran ranjang dan mengelus pucuk kepala Moza sambil sesekali menoleh ke arah Dokter Melisa yang sedang menjelaskan perihal kondisi gadis yang tengah tidak sadarkan diri itu.
" Saya dokter Melisa, yang menangani perawatan nona Moza sebelas tahun lalu. Anda pasti sudah tahu sedikit banyak yang dialami pasien saya ini mengingat yang dikatakan bu Ayu bahwa anda meminta rekam medis dan terapi nona Moza sebelas tahun yang lalu. "
Hega mengangguk, karena memang setelah insiden film horor tempo hari, Hega meminta laporan medis kondisi traumatik Moza pada sang bunda dan menyerahkannya pada Derka untuk mencari solusi penyembuhan untuk penyakit psikologis yang diderita gadis kesayangannya itu.
" Jadi apa yang bisa saya lakukan, dok ?! " Tanyanya dengan tangan masih mengusap kepala Moza.
" Sebelas tahun lalu, nona Moza kembali pada kesadarannya karena bu Ayu terus menyebut nama anda untuk menstimulasi agar nona Moza bangun dari kondisi trauma yang membuatnya cukup lama berada dalam alam bawah sadar atau koma. " Ujar dokter Melisa.
" Dan sepertinya metode serupa bisa kita coba kembali, sepertinya andalah sosok yang paling dibutuhkannya. Saya harap kali ini nona Moza bisa sadar lebih cepat mengingat anda sendiri sebagai faktor penting yang bisa menjadi pendorong kembalinya kesadarannya sekarang ada disini bersamanya. "
" Jadi yang perlu anda lakukan adalah terus disisinya, terus ajak dia bicara, ingatkan kembali pada masa-masa bahagia yang bisa memicu keinginannya untuk bangun, lakukan apapun yang bisa memancing respon tubuhnya. Jangan biarkan denyut nadinya melemah. "
" Baik, dok. Terima kasih. "
" Saya akan datang lagi setiap tiga jam sekali untuk mengecek perkembangan kondisinya. Tapi jika ada kondisi yang mendesak, Pak Ardi bisa menghubungi saya. "
" Anda tidak perlu cemas, saya yang akan mengawasi perkembangannya. " Sela Derka yang sedari tadi mendengarkan penjelasan dokter Melisa.
Dahi dokter Melisa mengerut, " Anda seorang dokter ? " Tanya Melisa dan dijawab anggukan oleh pemuda itu.
" Syukurlah, saya bisa lebih tenang meninggalkan Moza dengan tenang. Kalau begitu saya pamit. "
" Terima kasih dokter. Mari saya antar. "
Hega terus menatapi wajah pucat Moza, mengelus lembut pucuk kepala gadis itu, membelai menggenggam telapak tangan gadis itu dan mengecupnya berulang kali.
" Momo sayang, bangunlah. Ini aku, aku datang untukmu. Bangunlah, sayang. " Hega masih menggenggam tangan Moza dan mengelus jemari mungil gadis itu dengan sangat lembut.
" Mo, tolong bangunlah, kembalilah padaku ! Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu. Aku mohon buka matamu. Kita akan segera menikah apa kamu lupa itu, hem ?! Apa kamu tega membiarkanku sendirian di hari pernikahan kita ?! Bukankah kita sudah berjanji untuk bersama selamanya, bangunlah dan tepati janjimu. " Hega terus menghujani tangan Moza dengan kecupan lembut dan kalimat memohon agar gadis itu kembali sadar.
Semua orang hanya bisa diam menyaksikan adegan yang menyayat hati itu. Bahkan Dea dan Fabian yang juga sudah berada di ruangan pribadi Moza itu hanya bisa memandang dengan sendu gadis yang masih terbaring dengan lemah di atas ranjang itu.
Mereka tidak bisa berbuat apapun, yang mereka bisa lakukan hanya berdoa agar gadis itu segera membuka matanya.
Mo, sadarlah. Aku rela menukar hidupku agar kamu kembali membuka mata. Aku akan mengubur perasaanku dan kembali menjadi Fabian yang dulu jika itu bisa mengembalikan kesadaranmu. Aku tidak ingin melihatmu seperti ini, aku ingin melihatmu bahagia. Jadi sadarlah, akan aku lakukan apapun kemauanmu.
Hati Fabian terasa sangat sakit mendapati sosok yang dicintainya terbaring tidak berdaya. Dan terlebih lagi itu adalah karena ulahnya yang bodoh dan emosional.
Ayu masih terus terisak di sofa dengan ditemani si bungsu yang tidak henti-hentinya mengelus punggungnya memberi kekuatan pada sang bunda.
Hega masih terus berusaha menyadarkan Moza, melakukan apapun untuk memancing adanya respin dari tubuh gadis itu.
Hega terus mengusap lembut jemari tangan Moza, sesekali mengecupi punggung tangan gadis itu.
" Please don't torture me like this, baby. Wake up, please ! " Desisnya lirih.
[ Tolong jangan siksa aku seperti ini, sayang. Tolong bangunlah ! ]
Hega keembali mengecup kening Moza dengan perasaan hancur, merasa menjadi pria yang tidak berguna saat ini.
Tidak bisa melakukan apapun untuk mengembalikan kesadaran kekasihnya. Bahkan cinta yang dibanggakannya selama ini pun tidak mampu membangunkan Moza dari tidurnya.
" Bangunlah, Mo. Aku akan memberikan seluruh hidupku, seluruh duniaku untukmu. Akan aku berikan apapun yang kamu inginkan, jadi kembalilah, bangunlah, buka matamu ! " Hega terisak, sepertinya Hega sudah tidak mampu lagi menahan bulir air bening yang sudah menggantung di pelupuk matanya.
Hatinya terasa diremas-remas, padahal tinggal menghitung hari dirinya akan bersanding dengan sang pujaan hati mengikrarkan janji suci untuk menjadi suami istri sehidup semati.
Tapi apa ini ?
Kenapa kebahagiaan yang sudah ada di depan mata harus diuji kembali sedemikian rupa ?
^^ Tuhan punya cara tersendiri untuk menunjukkan kebahagiaan yang sempurna untuk kita. Hanya saja seringkali kita harus rela berputar arah lebih jauh untuk mendapatkannya meskipun ada jalan yang tampak lebih mudah ada di depan mata. Tapi yakinlah, jika bahagia itu ditakdirkan menjadi milikmu, maka kemanapun kamu melangkah, maka kebahagiaan itu akan tetap menjadi milikmu. ^^ ( Sherinanta )
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Sekitar 3 part lagi mungkin End.
__ADS_1
Dengan segenap kerendahan hati thor amatir ini meminta like dan komentarnya yah πππ
β‘οΈ Menuju Final Episode thor buat quiz iseng2 di GC. yang mau ikut bisa gabung di GC yah. tapi ya getoh, hadiahnya recehan yah, kan quiz iseng2 doang. Yang berasa sultan, tidak disarankan ikutan daripada entar nyinyir kerana hadiahnya retceeeehhhh πππ