
AUTHOR
Hega barusaja keluar dari ruang ganti pribadinya dan terhenti di pintu penghubung antara kamar dan ruang khusus berisikan semua keperluannya, saat dilihatnya gerakan-gerakan kecil di atas ranjang king size miliknya.
Pemuda itu bersandar di pintu, kedua tangannya bersembunyi di saku celananya.
Netra hitam Hega mengawasi pergerakan kekasihnya dalam diam. Dilihatnya Moza menarik selimut dan mengendus benda berwarna biru langit yang menutupi tubuhnya itu.
Hingga saat gadis yang masih terlihat cantik meskipun dalam kondisi kusut ala bangun tidur itu terlihat sedang mengendus rambutnya sendiri kemudian tersipu malu.
Hega benar-benar dibuat gemas dengan tingkah imut gadis kesayangannya itu, dan sedikit banyak Hega tahu apa yang sedang ada di pikiran Moza saat ini yanh membuat wajahnya merona merah malu-malu seperti itu.
Tak hentinya senyum terukir di bibir Hega melihat kelakuan menggemaskan Moza dan juga ingatan semalam kebersamaan mereka.
" Ekhem... Selamat pagi istriku yang cantik. " Moza terlonjak, mencari sumber suara dan langsung melotot mendengar panggilan Hega padanya.
" Ah... Maaf, maksudku calon istriku. " Ralatnya dengan cepat karena takut jika sampai dia membuat kekasihnya itu kesal, maka bisa jadi gadis itu akan menarik kembali ucapannya semalam dan membatalkan janji mereka.
Moza tersenyum puas, tapi senyumnya tidak bertahan lama saat mendengar gerutuan Hega yang bernada protes.
Hega berjalan mendekati ranjang dan duduk di tepi ranjangnya.
" Haish... Kenapa harus ada embel-embel 'calon' segala si ? 'Istriku' jelas lebih bagus ! Lebih enak didengar. " Sungut pemuda yang sudah mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih dengan dasi, vest dan celana berwarna hitam.
" Kaaaakkkk..... " Moza melotot galak pada kekasihnya yang sudah terlihat sangat tampan itu.
Eh... Kak Hega kok sudah rapi dan tampan begitu si ?
Ini masih pagi loh, tapi kenapa dia sudah bersinar begini si ? Bikin silau mata saja....
Batinnya saat melihat tampilan Hega yang berbanding terbalik dengan dirinya, rambut acak-acakan dan muka bantal.
" Aaarrrrh...." Teriaknya saat menyadari penampilan kacaunya, dengan cepat menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga kepala.
" Mo... " Hega hendak menarik selimut yang menutupi wajah kekasihnya, tapi diurungkannya karena penolakan dari gadis di balik selimut miliknya itu.
" Kakak keluar lah dulu ! Aku akan segera mandi dan bersiap dulu. " Ucap gadis itu dari balik selimut.
" Hei, kenapa kamu bersembunyi ? Apa yang coba kamu sembunyikan dariku, hem ?! " Masih mencoba menarik selimut yang ditahan dengan kuat oleh Moza.
" Aku malu, Kak. " Gerutu gadis itu masih di balik selimut.
Kening Hega mengeryit bingung, " Apa yang membuatmu malu padaku ? "
__ADS_1
Moza membuka sedikit selimutnya, mengintip kekasih tampannya yang seribu kali lipat lebih mempesona dibanding biasanya itu. Aaaa.... Sungguh lebay, tapi memang itulah yang ada di pandangan Moza saat ini.
Mungkin beberapa hari tidak melihat Hega, membuat gadis itu sempat lupa visual luar biasa yang dimiliki kekasihnya itu.
Satu kata untuk skor wajah dan penampilannya, yaitu S E M P U R N A.
" Kak, coba kak Hega berdiri dan bercermin ! " Titah Moza datar.
" Eh... Kenapa ? Apa penampilanku tidak bagus ?! Apa aku terlihat tidak tampan lagi dimatamu sampai-sampai kamu malu melihatku ?! " Bukannya menuruti kemauan Moza, Hega malah mengamati pakaiannya sendiri.
" Aaaa.... Bukan itu maksudku, Kak. " Moza terpekik kesal karena ketidak tahuan Hega justru membuatnya semakin kesal saja.
" Lalu apa ?! " Tanya Hega polos tanpa dosa.
" Justru karena kakak terlalu sempurna aku jadi malu. " Gumam Moza lirih namun masih bisa didengar oleh telinga Hega yang peka.
Dahi Hega kembali mengerut bingung.
" Ish... Lihatlah aku, Kak ! " Moza melotot galak.
" Memang kamu kenapa ?! "
Aish.... Kenapa pagi-pagi sudah diajak tebak-tebakan coba ?!
Moza menunjuk wajahnya dengan jari telunjuknya sendiri, " Lihatlah wajah bangun tidurku ini ! Rambut berantakan, pakaian kusut, dan.... " Ucapnya kemudian mengendus pakaian tidurnya.
" Dan aku pasti bau karena belum mandi.... Berbanding terbalik dengan penampilan kakak yang..... " Mulutnya terasa kelu, lelah rasanya mengucapkan kata 'tampan' setiap kali menggambarkan wajah kekasihnya itu.
Yaaahhh... Tapi mau bagaimana lagi, itu memang kenyataan yang tidak terelakkan. Pemuda di hadapannya itu memang sangat tampan, aaa.... bahkan kata 'tampan' saja sepertinya tidak cukup untuk mendeskripsikan wajah yang tengah tersenyum padanya itu.
" Hahahahha....... Apa yang ada di kepala kecilmu ini, Momo ?! " Hega tergelak gemas menjentikkan jarinya pelan di kening kekasihnya yang sedang memanyunkan bibirnya.
" Kamu tetap terlihat cantik dimataku, Mo. Sangat cantik dua ribu persen, bahkan aku sempat terkejut tadi waktu bangun tidur. " Hega tersenyum memandangi kekasih cantiknya.
" Kenapa ? "
" Aku terkejut sekaligus senang melihat ada bidadari cantik dan imut ada di sampingku saat aku bangun tidur. " Hega masih tersenyum dan mengelus pipi Moza yang merona merah tersipu.
Plak....
" Dasar gombal ! " Maki Moza seraya memukul lengan Hega membuat pemuda itu kembali tergelak.
" Kamu mau mandi atau masih mau melanjutkan sayang-sayangan di ranjang, Momo sayang ? " Goda Hega seraya mencondongkan badannya maju ke arah Moza.
__ADS_1
" Eh...." Tersadar akan bahaya untuk jantungnya, Moza reflek memundurkan tubuhnya.
Hega tersenyum nakal, melonggarkan dasinya dan membuka satu kancing kemejanya paling atas.
" Aku tidak keberatan bolos kerja sehari lagi untuk bisa menghabiskan waktu berduaan denganmu, [calon] istriku yang cantik. " Hega semakin mendekatkan tubuhnya.
" Aaaaa.... Ka-kak, hentikan ! A-aku a-ada kuliah pagi. " Moza tergagap, berusaha mendorong tubuh Hega menjauh darinya.
" Hahahha.... Bersiaplah, aku akan mengantarmu ke kampus. " Tuturnya diselingi tawa pelan seraya mengacak rambut Moza dengan gemas. Kemudian beranjak dari ranjang melangkah menuju pintu kamar, tapi belum sampai keluar kamar Hega berhenti dan berbalik badan.
" Ah.... Baju gantimu sudah aku siapkan di ruang ganti, katakan saja jika ada yang kurang atau hal lainnya yang kamu butuhkan ! "
Moza mengangguk pelan, " Eum.... Terima kasih, Kak. "
βββ
Tiga puluh menit kemudian, Moza sudah keluar kamar dengan penampilan cantik siap berangkan ke kampus. Setelah cukup lama bingung harus memakai baju apa karena ternyata Hega sudah mengisi ruang ganti pribadinya dengan semua kebutuhan kekasihnya itu.
Pilihan Moza jatuh pada dress selutut garis-garis dipadu dengan blazer berwarna navy dan flatshoes berwarna senada dengan blazernya.
Penampilan sederhana tapi tetap menonjolkan kecantikan Moza.
Hega yang sudah duduk di meja makan menatap lekat kekasihnya, dari sekian banyak pakaian yang disiapkannya kenapa gadis itu memilih model yang sesimpel itu.
Apa pakaian yang disiapkannya tidak ada yang sesuai dengan seleranya ?!
" Kenapa kakak menatapku begitu ? Apa baju ini tidak cocok untukku ?! " Moza terpaku melihat tatapan Hega yang tidak bisa diartikannya.
" Ah... Bukan, apapun yang kamu pakai selalu cocok untukmu kok. Dan kamu selalu terlihat cantik. Tapi apa yang ini tidak terlalu sederhana ?! " Tutur Hega lembut seraya meraih tangan Moza agar ikut duduk di sampingnya.
Aaaa... Sederhana dia bilang ?! Satu setel pakaian ini saja harganya sudah bikin aku sakit kepala. Dan apa tadi yang aku lihat di dalam sana ? Kenapa sebanyak itu ? Memangnya aku akan pindah tinggal disini apa ?!
Gumam Moza dalam hati, membuatnya teringat apa yang dilihatnya di ruang ganti tadi.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
Momo cantik makannya apa si kok cantiknya bisa dua ribu persen gitu ?
Bukan makanannya thor, tapi skincare nya π
Haish... Apa daya recehanku gak mampu beli skincare ala-ala mbak Momo. Mending buat beli kuota πππ
__ADS_1