
AUTHOR
Mendengar kata 'sederhana' dari mulut Hega, Moza jadi teringat deretan pakaian, tas dan sepatu yang dilihatnya di ruang ganti tadi. Dilihat dari bahan dan modelnya saja Moza tahu jika semua itu brand terkenal dan pastinya mahal.
Tidak ketinggalan aksesoris rambut dan beberapa buah jam tangan, dan jangan lupakan satu slot laci penuh berisikan pakaian dalam.
Aaah.... Moza bahkan merona merah malu saat membuka laci itu.
Semakin malu sendiri saat terpikirkan bagaimana pria itu tahu ukuran baju dalamnya ?!
Susunan dan penataan isi ruang ganti itu hampir mirip dengan walk in closet kamarnya yang ada di rumah utama keluarga Saint.
" Hei, apa yang kamu pikirkan sampai bengong begitu ?! " Hega mentowel pipi Moza yang terlihat sedang melamun.
" Ah... Tidak ada, Kak. Aku tidak memikirkan apapun. " Gadis itu menggelengkan kepalanya dan kemudian tercengir sendiri.
" Tidak mungkin, pasti ada yang mau kamu tanyakan padaku, kan ! " Selidik Hega tepat sasaran.
Hahahaha.... Memang percuma menyembunyikan apa yang aku pikirkan darinya. Dasar tukang baca pikiran orang seenaknya. Aku kan jadi tidak bisa bohong, meskipun aku tidak ada niat berbohong juga si.
Moza malah terkikik dalam hati.
" Kak, kenapa menyiapkan pakaian untukku sebanyak itu di ruang ganti kakak ? Memangnya aku akan tinggal disini apa ?! Dan juga kapan kakak menyiapkan semua itu ?! " Tanya Moza akhirnya, terlalu penasaran jika hanya dia ucap dalam hati saja.
Dan tentu saja Moza men-skip pertanyaan tentang darimana pemuda itu tahu ukuran pakaian dalamnya. Terlalu malu untuk membahasnya.
" Bukan aku yang menyiapkan, semuanya Paman Ben yang mengaturnya. Lagipula kalau kita menikah kan juga kita akan sering menginap disini." Jawab Hega datar sambil mengoleskan roti dengan selai coklat dan meletakkannya di atas piring Moza.
Seperti yang dikatakan Hega, tentu saja semua itu bukan disiapkan langsung oleh Hega, melainkan dengan bantuan orang kepercayaannya, tidak lupa bantuan dari Sasa, pelayan pribadi Moza di rumah utama.
Bukan hal yang sulit bagi Hega menyiapkan semua itu dalam waktu singkat, toh dialah pemilik Mall terbesar se-Asia.
Apa saja bisa didapatknya dengan mudah, semudah menjentikkan jarinya. Hanya dengan satu panggilan telepon, maka apapun yang dibutuhkannya akan siap sekejap mata.
" Memangnya setelah menikah kita tidak akan tinggal bersama kakek ?! " Melirik Hega yang sedang meraih kotak fresh milk di atas meja dan membuka tutupnya.
" Kita masih bisa tetap tinggal disana jika kamu mau, atau membeli rumah sendiri. Tapi ada kalanya kita akan menginap disini, terutama saat kita butuh privasi. " Ujar Hega lagi kali ini menuangkan segelas susu coklat untuk Moza.
Privasi ? Apa maksudnya coba ?! Dan kenapa selalu membahas menikah si ? Mentang-mentang aku sudah bilang 'iya', terus dia mau mengungkitnya terus begitu ?! Aaahh.... Bolehkan aku menyesal atas ucapanku semalam ?! Hiks...hiks....π
Sesal Moza dalam hati.
Hega menoleh menatap tajam kekasihnya, " Jangan berfikir untuk menarik ucapanmu semalam, hem ! " Ucapnya tegas dengan sedikit nada mengancam, Moza hanya tercengir merasa ketahuan apa yang barusaja terlintas di kepalanya.
" Ish.... Berhenti membaca pikiranku, Kak ! " Gerutu Moza sebal.
__ADS_1
" Hahaha.... Bukankah aku sudah bilang kalau apa yang kamu pikirkan tergambar jelas di wajahmu ?! Seudahlah, berhenti menggerutu. Ayo makan sarapanmu ! Atau kamu akan terlambat jika terus melamun. " Sambung Hega lagi dan meletakkan gelas yang sudah berisi cairan berwarna coklat itu di hadapan Moza. Lalu mencubit kecil pipi putih kekasihnya yang tengah memasang wajah jengkel padanya.
" Ck.... " Moza yang sadar jika tidak akan menang mendebat pria di sampingnya itu hanya bisa menyebikkan bibirnya, kemudian meraih roti dan menggigitnya dengan sedikit emosi.
βββ
β’ Area Parkir Fak. Ekonomi Universitas Dwitama β’
" Jam berapa kelasmu selesai ? " Tanya Hega saat barusaja tiba di tempat parkir.
" Jam sepuluh, Kak. " Jawab Moza sambil merapikan rambutnya.
" Aku akan menjemputmu nanti, jadi tunggu aku ! " Titah Hega sembari membantu melepaskan seatbelt kekasihnya.
" Em. " Jawab gadis itu singkat dan hendak membuka pintu.
" Ah... Iya, Kak. " Kembali menoleh pada Hega.
" Hem. Ada apa ?! " Hega sadar jika ada hal yang mengganjal di pikiran gadis itu.
" I-itu... "
" Katakan saja ! "
" Ssst.... Jangan teruskan lagi ! Dan jangan lagi berfikir aneh-aneh, seperti yang aku katakan sebelumnya jika kamu sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun. Semua kesalahan itu ada pada diriku sendiri, jadi jangan lagi berfikir yang tidak-tidak seperti tadi, apalagi menyalahkan dirimu sendiri. " Ucap Hega lembut.
" Tapi aku .... Ah...ya sudahlah jika kakak tidak mau mengatakannya, aku tidak akan memaksa lagi. Sampai nanti, Kak. " Moza hanya bisa pasrah, meskipun ada sedikit kekecewaan tapi Moza harus belajar menghargai keputusan Hega.
Moza yakin jika pasti pemuda yang dicintainya itu punya alasan tersendiri saat memutuskan untuk tidak bercerita padanya alasan dibalik kepindahannya.
Moza hendak membuka pintu mobil, saat Hega tiba-tiba mencekal lengan kanan gadis itu. Moza terpaksa duduk kembali, menatap kekasihnya yang juga tengah memandang dirinya.
" Huft..... Baiklah, baiklah. Aku akan mengatakan alasannya jika itu bisa membuatmu tenang dan berhenti berfikir aneh-aneh lagi. " Putus Hega akhirnya.
Moza menatap lekat Hega, menunggu pemuda itu melanjutkan ucapannya.
Hega memiringkan badannya menghadap ke arah Moza, menggenggam tangan Moza dengan tangan kananya, sedangkan tangan kirinya memainkan rambut Moza yang tergerai.
" Empat hari lalu kakek memanggilku. " Ucap Hega memulai ceritanya, Moza masih diam mendengarkan dengan tenang.
" Kakek menunjukkan padaku rekaman CCTV yang.... " Kalimat Hega terputus, terlihat jelas jika Hega ragu untuk meneruskan ceritanya, membuat manik mata Moza menyipit bingung.
Hega mendengus kecil, " Huuuh.... CCTV yang ada di ruang olahraga. " Lanjutnya kemudian seraya mengeratkan genggaman tangannya.
J E D E R . . . . .
__ADS_1
Empat hari lalu ? Rekaman CCTV ? Ruang Olahraga ?
Batin Moza mencoba mencerna ucapan kekasihnya itu.
Dan manik mata Moza membulat seketika membekap mulutnya dengan tangan kirinya syok, saat menyadari apa yang dimaksud oleh calon suaminya itu.
Jangan bilang isi rekaman itu.... !!!
Tidak ! Bisa jadi bukan itu kan yang dimaksud Kak Hega.
Moza reflek menoleh cepat ke arah Hega, menatap netra hitam kekasihnya mencoba mencari jawaban atas dugaan-dugaan yang muncul di kepalanya.
" Kaaak.... Jangan katakan isi rekaman CCTV itu.... ?! " Tidak mau hanya menduga-duga sesuatu yang tidak pasti, Moza memutuskan bertanya secara langsung.
Berharap jika apa yang terbersit di benaknya itu tidak lah benar.
Tapi harapannya sia-sia saat didapatinya pemuda di hadapannya itu mengangguk mengiyakan, seolah bisa menebak apa yang barusaja dipikirkan oleh kekasih cantiknya itu.
" Kaaaak.... " Seketika pula gadis itu terpekik kaget mendapati kenyataan jika sang kakek mengetahui apa yang sudah mereka lakukan di ruang olah raga beberapa hari yang lalu.
MALU . . . Satu kata yang langsung membuat tubuh Moza beringsut di kursi mobil Hega, tubuhnya lemas seketika, kaki dan tangannya gemetar. Gadis itu menggigit-gigit ujung kukunya gusar.
" Ja-jadi kakek melihat apa yang sudah kita lakukan waktu itu, Kak ?! " Tanya gadis itu memastikan.
" Hem. " Hega mengangguk.
Aaaa... Tidak, mau ditaruh mana mukaku jika bertemu dengan kakek nanti di rumah. Huuu...Aku malu... Apa nanti tanggapan kakek tentangku ?! Pasti kakek akan berfikir jika aku ini gadis yang tidak baik....
Pikiran-pikiran buruk menjalar di kepala Moza, kejadian di Ruang Olahraga beberapa hari yang lalu berputar-putar di ingatannya.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
...Tumben lu rajin up thor ? π€...
...Pengen aja, napa ? Gak seneng ? π...
...Seneng-seneng aja si, cuma aneh aja. π...
...Lagi fokus kejar tayang, biar akhir bulan udah bisa end story sesuai rencana. π...
...Dah mau end aja ? π...
...Iya, mau fokus sama bang Lian di TCSP. Baca yah....π...
...Deileh ujung-ujungnya promo π...
__ADS_1