
AUTHOR
~ Kembali ke cafe ~
Alina kembali pada kesadarannya dari lamunan panjang yang membuatnya kesal setengah mati. Tapi Alina terlalu keras kepala untuk mau menyerah begitu saja.
Begitu keras kepalanya hingga selama tiga tahun gadis itu masih tidak menyerah berjuang menakhlukkan hati Hega yang bahkan tidak pernah melirik sedikitpun ke arahnya.
Lalu kenapa dia harus menyerah sekarang karena gadis di hadapannya ini ?
" Bagaimana jika kita bersaing secara sehat ?! " Ucapnya masih dengan penuh percaya diri.
Fyuuuhh.... Dia ini gigih sekali si ? Berapa lama lagi aku harus meladeni dia ?!
Batin Moza agak frustrasi.
Moza kembali bersandar di sandaran kursi, menopang kepalanya dengan satu tangan yang sikunya bertumpu pada pegangan kursi, berdecak kecil dan kembali bersuara,
" Hmmm.... Sayangnya persaingannya sudah terlanjur tidak sehat. " Ucapnya dengan santai.
" Maksudmu ? " Tanya Alina bingung.
Moza tersenyum miring, " Apa kak Alina lupa, siapa yang ada di hatinya saat ini ? Bukankah jika kak Alina bersikeras untuk tetap bersaing, maka situasinya sangat tidak menguntungkan untuk kak Alina ? "
B R A K . . .
Alina mendelikkan matanya tampak kesal, " Kamu ?! " Emosi Alina terpancing tanpa sadar memukul meja dengan satu tangannya.
Ashhh.... Benar-benar memalukan ! Jika mau bertindak memalukan jangan bawa-bawa aku dong ?!
Dan kenapa aku yang jadi merasa sedang dilabrak karena merebut kekasihnya si ? Kan dia yang menantang mau merebut kak Hega.
Siapapun hentikan wanita ini sekarang juga ?!
Moza memejamkan matanya sejenak menenangkan pikirannya. Moza tidak ingin ikut terpancing emosi, sebenarnya bisa saja dia pergi meninggalkan wanita yang tengah menggila di hadapannya ini. Tapi Moza tahu jika masalah tidak akan selesai kalau dia memilih pergi begitu saja.
Moza merasa harus memperjelas semuanya, membuat wanita itu menyerah dengan sendirinya.
" Kamu terlalu percaya diri, merasa bisa mempertahankan posisimu di hatinya, begitu ? " Sambung Alina dengan satu tangan terkepal di atas meja, dan tangan lainnya meremas ujung gaunnya di bawah meja.
__ADS_1
" Tentu saja. " Jawab Moza tegas dan mantap.
" Tapi seandainya saja jika kita berada di situasi dimana tidak ada salah satu diantara kita yang ada di hatinya, mungkin aku akan menerima tantangan kakak untuk bersaing secara sehat memperebutkan cinta Kak Hega. " Sambung Moza, tidak lupa tersungging sebuah seringai kecil di bibirnya.
Senyum khas yang sering dilihatnya di bibir Hega ketika kekasihnya itu sedang dalam mode licik dan merencanakan sesuatu untuk memperdayai dirinya, yang selalu berakhir menyebalkan bagi Moza jika Hega berhasil menjalankan setiap ulah jahilnya.
Dan entah sejak kapan Moza bisa meniru senyum Hega itu yang selalu membuatnya merinding sekaligus kesal di waktu yang bersamaan.
" Bagaimana jika aku bisa membuatnya berpaling darimu ? Apa kamu masih akan bisa bersikap sepercaya diri itu ?! " Ujar Alina seraya tersenyum licik.
Senyuman masih tersungging di bibir tipis Moza yang sebenarnya gadis itu bahkan ingin tertawa saat ini.
Sungguh aneh memang, jika hal ini terjadi pada gadis lain, mungkin mereka akan menjambak atau menampar atau justru mencakar habis wajah wanita yang baru saja mengatakan hal itu di depan wajahnya.
Hah.... Aku bisa gila jika masih bertahan meladeninya di sini. Aku harus segera mengakhiri kekonyolan ini secepat mungkin.
Batin Moza seraya menghela nafasnya perlahan.
Moza menatap lekat gadis di hadapannya yang tampak begitu percaya diri itu.
" Tadi kak Alina sempat menanyakan seberapa besar cintaku padanya, kan ?! " Ujar Moza akhirnya.
Tapi mau bagaimana lagi, Moza ingin segera mengakhiri ini semua, segera terbebas dari situasi konyol dan memalukan yang tengah menghimpitnya.
Moza memasang raut wajah serius, keyakinan dan kepercayaan diri tampak jelas tergambar di ekspresi wajah cantik Moza saat ini.
" Maka jawabanya adalah sangat besar hingga aku tidak bisa mengukurnya. Hingga aku bahkan akan rela melepasnya jika kebahagiannya adalah bersama wanita lain dan bukan bersamaku. Karena aku tidak bisa jika harus melihat lagi ekspresi menyedihkan di wajahnya karena tidak bisa bersama dengan wanita yang dicintainya. Aku lebih memilih melihatnya bahagia bersama wanita yang dicintainya daripada hatiku sakit melihat air mata mengalir dari matanya. "
Kenangan menyedihkan di rooftop garden beberapa bulan yang lalu melintas di ingatan Moza. Gadis itu tidak ingin melihat pria yang dicintainya kembali terpuruk seperti itu untuk kedua kalinya.
Alina terperanjat mendengar penuturan Moza, " Kamu terlalu naif. Bukankah wajar jika kita memperjuangkan pria yang kita cintai ?! " Ucapnya dengan nada mencibir.
Moza tersenyum kecil, " Mungkin benar jika aku terlalu naif. Tapi seperti itulah bagiku yang disebut cinta. Karena memaksa seseorang untuk bersama kita dengan alasan kita mencintainya, itu bukan cinta namanya, tapi obsesi. " Ujar Moza kembali datar dan tenang namun sukses membuat Alina kembali tersulut emosi.
" KAMU !!! Maksudmu yang aku rasakan pada kak Hega itu bukan cinta tapi obsesi begitu ? " Alina begitu murka, wajahnya merah padam.
" Hemmm... Bukan itu maksudku, lagipula untuk hal itu hanya hati kak Alina sendiri yang bisa menjawabnya. Tapi mengejar seseorang yang sudah jelas mencintai orang lain bukankah itu disebut memaksakan diri ?! " Ujar Moza dengan tatapan datar.
" Seharusnya aku yang dicintainya, aku lebih lama mengenalnya. " Bentak Alina seraya menatap sinis ke arah Moza.
__ADS_1
" Tapi nyatanya aku lah yang dicintainya, dan aku tidak akan memberikan kesempatan bagi wanita lain untuk menggeser posisiku di hatinya. Jangankan untuk menggantikanku, untuk sekedar mengintip ke dalam hatinya saja tidak akan kuberikan siapapun memiliki kesempatan itu. " Terang Moza masih tetapan tenang namun begitu terdengar sinis menghujam di telinga Alina.
" Kamu terlalu sombong dan percaya diri. "
" Sekali lagi terima kasih atas pujiannya. " Moza tersenyum menanggapi cibiran Alina.
" Dan jika alasan siapa yang lebih dulu mengenalnya jadi penentu siapa yang lebih berhak ada di hatinya, maka maaf, sekali lagi kakak kalah telak dariku. " Ucap Moza penuh arti.
Alina mengernyit, " Apa maksudmu ? "
Moza tersenyum tipis, " Kak Alina mengatakan jika kakak sudah mencintainya sejak tiga tahun yang lalu, kan ? " Tanya Moza menekankan kata tiga tahun, dan Alina reflek mengangguk bangga.
" Hem... Itu berarti saat itu kak Alina berusia 20 tahun, aku benar kan ? "
Lagi-lagi Alina mengangguk membenarkan.
" Don't be convoluted ! [ Jangan berbelit-belit ! ]. Sebenarnya apa yang coba ingin kamu katakan ?! " Geram Alina.
" Kakak mencintainya saat berusia 20 tahun, tapi aku sudah ada di hatinya sejak 20 tahun yang lalu. " Tersenyum smirk.
" Maksudmu. " Alina benar-benar dibuat frustrasi dengan kalimat-kalimat Moza yang terdengar misterius.
" Tidak penting untuk kakak tahu. Yang jelas kak Hega adalah milikku, dan aku tidak suka ada orang lain yang mengusik milikku. " Tegas Moza yang sepertinya mulai kehilangan kesabarannya.
" Akhirnya kamu menampakkan sifat aslimu. " Ucap Alina tersenyum meremehkan.
" Aku kira kamu memang benar-benar gadis yang sangat baik dengan tidak menyalahkanku atas insiden di villa waktu itu. Padahal jelas-jelas aku mendorongmu. Tapi dengan sok polosnya kamu mengatakan jika aku tidak sengaja. Apa kamu mau dianggap sebagai gadis yang murah hati dan berhati malaikat ? Dengan begitu kamu bisa menipu kak Hega dengan wajah polosmu itu ?! Aku benar-benar menyesal meminta bertemu denganmu dan berharap bisa bersaing sehat denganmu. " Sambung Alina panjang lebar, seolah barusaja menemukan cela dalam kepribadian saingannya.
" Pffft..... " Moza benar-benar sudah tidak tahan lagi.
" Apa yang kamu tertawakan ?! " Alina mengeram marah.
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
NB : MAAF ATAS KESALAHAN UP SEBELUMNYA YA ππ
...JANGAN LUPA...
...β LIKE β KOMENTAR β VOTE β...
__ADS_1