Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Lamaran Resmi


__ADS_3

AUTHOR


Pagi hari di kediaman utama keluarga Saint, semua orang tampak sibuk kesana-kemari untuk bersiap berangkat ke kota asal mempelai wanita.


Semua barang yang sudah dipersiapkan juga sudah tertata rapi di mobil yang akan mengantar mereka ke landasan pesawat pribadi milik Suryatama.


Beberapa anggota keluarga besar yang kebanyakan tinggal di luar negeri juga sudah hadir, jadi Suryatama hendak memboyong sanak saudara dari jauh itu langsung ke kota asal mempelai wanita untuk mempersiapkan mengikuti acara akad nikah yang akan berlangsung tiga hari lagi.


Dan untuk lamaran, Hega akan didampingi oleh sang kakek dan juga kedua orang tuanya, Arya dan Rasti. Tidak lupa kedua sahabat Hega, siapa lagi jika bukan Bara dan Derka.


Selain itu kedua orang tua Bara yang juga tidak mau ketinggalan untuk menghadiri acara penting tersebut.


Suryatama sudah menyiapkam pesawat pribadi, agar mempermudah membawa barang seserahan yang jumlahnya tidak sedikit itu.


Pukul 10 pagi, pesawat yang membawa rombongan keluarga tiba di kota asal Moza. Barisan mobil mewah yang disediakan juga sudah berjajar rapi di lobi utama bandara.


Hega sengaja membawa salah satu mobil koleksi pribadinya, siapa tahu dirinya bisa mendapatkan ijin untuk menculik sejenak calon istrinya untuk berjalan-jalan sebentar bersamanya melepas rindu, meskipun sekedar keliling kota.


Karena lamaran yang akan dilaksanakan pukul satu siang, mereka terlebih dahulu menuju salah satu mansion pribadi Suryatama yang ada di kota tersebut.


" Paman Ben, tolong minta para maid membawa seserahan yang ada di mobil depan, dan disimpan dulu di kamar ya ! " Pinta Rasti saat baru turun dari mobilnya.


" Baik, nyonya. "


" Eh, kenapa dikeluarkan, Mi ? " Tanya Hega saat melihat beberapa barang dibawa oleh para maid memasuki mansion.


" Itu seserahan untuk pernikahan, lusa baru dibawa saat mau ijab kabul. Nanti kita bawa yang di mobil belakang untuk seserahan lamaran. " Jelas Rasti sembari sesekali mengawasi para maid yang berlalu lalang.


Alis Hega sedikit terangkat, " Memang apa bedanya ? "


" Ya beda lah sayang, Mami ribet jelasinnya, kamu cari aja di gugel apa bedanya seserahan lamaran dan pernikahan. Mami mau lihat yang lainnya dulu. "


" Iya, Mi. " Jawab Hega singkat membiarkan sang mami melanjutkan kesibukannya.


Hega merasa sangat beruntung ibu sambungnya itu begitu tulus mempersiapkan acara pernikahannya. Bahkan bisa dibilang, Rasti lah yang paling sibuk dalam persiapan hari penting putra tirinya itu.


Meskipun dibantu Wedding Organizer ternama, Rasti tetap turun tangan sendiri mengawasi dan memastikan semua tertata dan disiapkan sesempurna mungkin.


Hega kemudian melangkah masuk membiarkan sang mami dengan keriwehannya, Hega menjatuhkan tubuhnya di salah satu sofa ruang tamu bergaya eropa itu, berniat istirahat sejenak sembari mengisi tenaga.


" Cieh. . . Beneran mau kawin nih bocah. " Goda Derka yang barusaja datang bersama Bara dan langsung ikut duduk di sofa ruang tamu dimana Hega sedang merebahkan tubuhnya.


" Ck. " Hega yang sedang mode menghemat energi hanya bisa berdecak malas mendengar cibiran Derka.


" Hegaaaaa. . . "


Hega beranjak berdiri saat dilihatnya seorang wanita paruh baya menghampirinya, diikuti seorang pria di belakangnya.


Wanita itu kemudian memeluknya dengan sayang.


" Mami Linda. " Hega membalas pelukan dari ibu sahabatnya yang baru datang karena mobilnya berada paling belakang dan barusaja tiba.


" Akhirnya kamu menikah juga. Mami ikut senang. "


" Makasih Mam. "


" Bara, kapan kamu akan menyusul ? Mami sudah bosan melihatmu berganti-ganti wanita. " Jiwa emak-emak Linda membuncah, gatal rasanya mulutnya itu ingin mengomeli putra sulungnya.


Dan ini moment dan alasan yang tepat untuk membujuk anak nakalnya itu untuk segera menikah juga.


" Cih, Mami ini, Bara kan sudah lama tidak begitu. Sekarang kekasih Bara hanya satu, hanya Aliza, mami kan tahu itu. " Wajah Bara sudah menekuk.


" Iya, tapi kalian sudah lama berpacaran tapi tidak ada perkembangan apapun. Lihatlah Hega, ketemu jodoh langsung serius menikah. "

__ADS_1


" Sudahlah Mam, jangan merusak suasana hari bahagia Hega. " Ujar sang suami, Hendra Prasetya yang sudah berdiri di belakang wanita paruh baya itu.


" Ah. . . Iya, maafkan mami ya, sayang. "


Hega hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf dari ibu sahabatnya itu.


πŸƒ πŸƒ πŸƒ


Setelah istirahat dan sarapan pagi yang tertunda, tepqt pukul 12 siang, Rasti dan putrinya Rania sudah siap dengan gaun batik modern berwarna maroon.


Begitu pula dengan Aryatama dan Suryatama yang memakai kemeja batik senada dengan gaun Rasti dan Rania.


Tidak lama, tokoh utama pria juga sudah turun dari lanyai dua dengan kemeja batik yang sama dengan kakek dan papanya, dipadu dengan celana kain berwana hitam dan sepatu fantofel.


Sangat sangat tampan sekali, begitulah mendeskripsikan sang calon pengantin pria.


Pria yang kesehariaannya terbiasa dengan setelah jas itu tetap terlihat sempurna dengan sentuhan nusantara.


" Anak mami, ganteng banget. Iya kan, Pah ?! " Kata Rasti memuji putranya seraya merapikan kerah kemeja putranya dan melirik sang suami meminta dukungan atas pujiannya, Aryatama yang tengah menggendong putrinya itu mengangguk bangga.


Bagaimanapun ketampan putranya itu adalah hasil kerja kerasnya juga sebagai ayah kandung Hega yang menurunkan gen unggulnya.


Gitu-gitu waktu muda Aryatama juga pernah menjadi idola di kampusnya, dan banyak membuat mahasiswi patah hati karena Aryatama lebih memilih Nadira yang seorang yatim piatu dari sebuah panti asuhan yang didonaturi oleh Suryatama saat itu.


" Kakak sangat tampan dan keren. " Ucap Rania seraya mengangkat kedua jempolnya ke udara.


" Terima kasih sayang. Sini kakak yang gendong peri kecil kakak ini. " Hega menghampiri sang papa dan mengambil alih tubuh mungil Rania dari gendongan pria paruh baya itu.


" Biar Rania dengan papa saja, Ga. Nanti kamu kelelahan. "


" Tidak apa-apa, Pa. Rania tidak akan membuatku lelah. "


" Baiklah terserahmu saja. "


" Apa semuanya sudah siap ?! " Tanya Suryatama.


Rombongan lamaran bergegas masuk ke mobil yang sudah disiapkan, untuk acara lamaran ini hanya diikuti oleh keluarga inti ditemani oleh kedua sahabat Hega, siapa lagi kalau bukan Bara dan Derka. Serta kedua orang tua Bara yang didapuk untuk menjadi perwakilan keluarga dari pihak pria.


Sedangkan kerabat yang diboyong oleh Suryatama dipersilahkan untuk istirahat di mansin dan mengikuti ritual ikab kabul yang akan diadakan lusa.


πŸƒ πŸƒ πŸƒ


~ Di Rumah Keluarga Dama ~


Ardi dan Ayu sudah siap menerima kedatangan calon besan mereka untuk ritual lamaran resmi.


Di kamarnya, Moza tengah bersiap ditemani oleh sahabat karibnya Deana Mayangsari.


Amira dan Renata terpaksa melewatkan acara lamaran tersebut karena keduanya ada urusan keluarga yang tidak bisa mereka tunda.


Tapi mereka dipastikan hadir pada hari H pernikahan Moza.


" Ryu, coba lihat kakakmu ! Apa dia sudah siap ?! " Titah Ayu pada putra bungsunya yang sedang duduk santai di sofa dengan ponsel di tangannya.


" Iya, bun. "


Tok tok tok . . .


" Kaaaak . . . " Teriak Ryu dari balik pintu.


" Masuk aja, dek ! " Bukan Moza yang menyahut, melainkan Deana.


Moza baru keluar dari kamar mandi dan sudah memakai gaun modern yang seragam dengan milik Ayu, Rasti dan Rania. Hanya saja ada beberapa sentuhan khusus yang mempercantik gaun sang tokoh utama wanita itu.

__ADS_1


Sepasang anting berlian satu set dengan cincin lamaran dan kalung pemberian Hega sudah terpasang cantik melengkapi penampilan gadis itu.


Make up tipis dan natural membuatnya terlihat makin anggun dan menawan.


" Lo cantik banget sih, Mo. Iya kan, dek ?! " Puji Deana sambil memutar tubuh sahabatnya.


Moza yang merasa sedikit kurang terbiasa dengan dandanan serba wow itu hanya tersenyum canggung.


" Ya iyalah cantik, siapa dulu adeknya ?! " Celetuk Ryu sembari menjatuhkan bokongnya di ranjang sang kakak.


Salah satu sudut bibir Deana terangkat dan melirik jijik ke arah pemuda itu, " Dih, gak nyambung lo, dek. Yang ada itu biasanya 'siapa dulu ibunya atau siapa dulu bapaknya' gitu. " Protes Dea mendengar kenarsisan remaja di sampingnya itu.


" Ye, kak Momo itu cantik karena adeknya itu seganteng Ryu tahu gak sih ?! " Kekeuh Ryu mempertahankan pendapatnya sambil kedua tangan bersedekap di dada.


" Kagak tau gue. " Ketus Deana acuh.


" Lagian lo berkontribusi apa coba untuk kecantikan kakak lo ini ? Orang waktu kakak lo lahir lo aja belum ada. Terus apa coba hubungannya Momo cantik karena punya adek elo ini. Emang sebelum elo lahir, kakak lo ini kagak cantik begitu ?! Dan saat lo nongol di dunia ini membuat kakak lo ini tiba-tiba berubah jadi secantik ini, gitu ?! "


Mendengar ocehah panjang lebar kali tinggi gadis cerewet di hadapannya, Ryuza yang biasanya bisa mendebat siapa saja itu kali ini hanya bisa kicep dan garuk-garuk kepala.


" Ya bisa aja kan ? " Sungut Ryu kesal dan mengedikkan kedua bahunya malas mendebat lagi karena nyatanya ucapan sahabat kakaknya itu memang ada benarnya.


" Ngayal lo dek, kalau dibalik sih masih bisa gue terima. Lo ganteng karena kakak lo cantik, jadi gen unggulnya Momo masih nyisa buat bikin wajah lo jadi ganteng. Coba kalau semua gen unggul ayah sama bunda dibabat abis sama Momo, gue gak bisa bayangin tuh muka lo kayak apa sekarang, hahaha . . . " Ledek Deana dengan diakhiri tawa membahana.


Ryuza yang semakin kesal dengan cepat bangkit dari ranjang sang kakak, " Serah kak Dea aja, yang penting gue ganteng. Dan kak Dea mengakui itu, bweeee. . . " Jawabnya kemudian seraya berkacak pinggang dengan ekspresi wajah mengejek.


" Udah, udah. Kalian ini kalau ketemu selalu ribut. Telinga aku sakit dengernya. " Merasa pusing dengan perdebatan keduanya membuat Moza mau tidak mau ikut buka suara.


" Hehe, sorry Mo. Adek lo sih ngeselin ! "


" Biarin, Ryu sumpahin kak Dea dapat suami yang ngeselinnya kayak Ryu. Bwee. . . "


" Gue juga sumpahin lo dapet istri bawel kayak gue, kalau bisa lebih bawel dari gue. "


" Ihhh. . . amit-amit dah, cukup Ryu punya satu wanita bawel aja di dunia ini yaitu bunda. "


" Dasar anak durhakim lo, dek. Gue aduin bunda nih lo ngatain bunda bawel. "


" Aduin aja sana, aku gak takut. Udah kebal sama kebawelan bunda. " Ancam Deana membari mengangkat jari telunjuknya ke arah pemuda itu.


" Dah ah, aku turun aja. Males sama cewek bawel, nanti kak Momo turun kalau udah aku panggil ya. " Ucap Ryu kemuadian melangkah keluar kamar dengan sangat kesal.


" Hem. "


Tidak lama kepala pemuda itu kembali melongok di pintu kamar Moza " Awas loh jangan turun sebelum Ryu kasih aba-aba ! Jangan karena udah kangen berat sama Bang Hega, kak Momo lompat dari lantai dua nih karena gak sabar mau ketemu calon suami. Hihihi. . " Ujar Ryu menggoda sang kakak, membuat gadis itu semakin gugup saja.


" Iya, bawel ih kamu sekarang. Sana pergi, dek. Kamu bikin kakak makin gugup tahu gak ?! " Um0at Moza ikut kesal dengan kelakuan tengil sang adik.


" Hahaha. . . Itung-itung latihan kak, ini masih lamaran loh ini, belum akad nikah. "


" Ryuuuuu. . . " Pekik Moza dan Deana bersamaan.


πŸƒ πŸƒ πŸƒ


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸....


Udah akoh bilang ya, baca ini harus bener-bener extra sabar. . . Karena alurnya selowwww hahaha


Mau akoh persingkat, lah sayang dong draft yang udah akoh tulis.


So, akoh harap kalian tetap setia sampai akhir cerita. Janji deh gak bakal seribu episode 😁😁😁😁


HEGA : Seribu Episode emang lu mampu bayar gue thor ?

__ADS_1


Bayarnya pakai lope lope dan jempol dari pembaca ajah ya babang Hega, lu kan udah tajir melintir πŸ˜πŸ˜πŸ˜‰


HEGA : Heleh, πŸ˜’πŸ˜’


__ADS_2