Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Possesive Friend


__ADS_3

AUTHOR


Nih bocah waras kah ? Gue dibilang gila pas bilang gratis buat store di mall A, lah dia tawarin ganti tempat di Golden Mall. Sinting !!! Dan sialnya gue dibilang ceroboh segala, hancur sudah kharisma gue sebagai pria keren.... 😭😭 ~Bara~


Bantuin gue ketemu Moza sesering yang gue mau lo kata ? Memang sejak kapan gue main ke mall A. Kalo ini nih beneran gue bisa ketemu dia sesering mungkin. Usaha lo masih nanggung Bar.... ~Hega~


Nih gue gak salah denger kan ? Bukan Mall A, tapi Golden Mall, mall paling elite di kota bahkan di negeri ini. 😍😍🙀 ~Renata~


Glek.... Kuping gue perlu dikorek nih kayaknya. ~Amira~


Keren nih abang cakep, kalau pdkt gak tanggung-tanggung. Hehehehe..... ~Deana~


Sesaat mereka asyik dengan pikiran mereka masing-masing. Moza tampak masih mematung di tempatnya, pikirannya mendadak kosong. Belum lagi mata tajam yang masih menatap ke arahnya, dengan seutas senyum tipis yang membuatnya jantungnya berdebar tak karuan.


" Rena gak salah denger kan bang ? Golden Mall ya ? Bukan Mall A ? " Tanya Renata meyakinkan apa yang didengarnya dan Hega hanya mengangguk membenarkan.


" Oh my.... Gimana guys.... ? " Pertanyaan Renata beralih kepada ketiga sahabatnya.


" Aku sih yes, yes banget.... " Amira bersorak didukung anggukan Deana.


" Kalian atur aj lah, aku ngikut aja. " Jawab Moza lirih.


" Maaf ya gue baru gabung. " Sambar Dimas yang langsung duduk di sofa di sebelah Moza.


" Ya kita maklum kok Dim. " Jawab gadis cantik itu.


Moza mengalihkan dirinya ngobrol dengan Dimas berpindah tempat duduk memisahkan diri dari teman-temanya, sesekali tertawa dengan candaan Dimas. Menceritakan kelakuan Julian yang kena gampar pacarnya gara-gara ketahuan menggoda pelanggan kafe.


Sepasang mata tampak seolah terbakar melihat keakraban dua sahabat itu. Bersandar di sofa dan menyilangkan kedua kakinya, menautkan jari-jari kedua tangannya diatas kakinya.


Deana yang melihat arah tatapan mata membara pria di hadapannya tersenyum gemas.


Kalau tuh mata ada lasernya, bisa berlubang sahabat akuh....Batin Deana merasa lucu dengan apa yang disaksikannya.


Selama ini yang dia tahu dari Bara tentang Hega adalah bahwa pemuda itu adalah sosok yang kaku dan dingin.


Meskipun banyak gadis mengejarnya tapi tak membuatnya tertarik sama sekali untuk berkencan. Dan saat ini justru dilihatnya pemandangan seorang pemuda yang sedang jatih cinta.


" Tenang aja bang, mereka beneran cuma teman kok. " Ucapan Deana sontak membuat Hega tergelak, kemudian terpaksa tersenyum miring.


Renata tengah asyik mengobrol dengan Bara dan Amira, tak menghiraukan sekitarnya.




🍒🍒🍒

__ADS_1


HEGA


Gemas rasanya melihat ekspresi imutnya saat matanya setengah melotot ke arahku, ingin kucubit pipi putihnya yang tengah memerah.


Aku tahan semua hasrat dalam diriku, mencoba setenang mungkin menghadapi gadis ini. Aku tak ingin dia kabur jika aku terlalu menunjukkan ketertarikanku padanya.


Tapi apa daya rasanya hampir meledak kemarahanku saat kulihat dia beranjak berdiri dari hadapanku, dan berpindah ke meja yang lain, bersama pria lain.


" Tenang aja bang, mereka beneran cuma teman kok. " Ucapan Deana sontak membuatku tergelak, kupaksakan tersenyum senatural mungkin.


Sejak kapan sepupu Bara ini memperhatikan jika aku sedang memandangi temannya ?


Benar saja memang aku merasa kesal melihat keakraban diantara mereka, meskipun aku tahu jika mereka sudah lama bersahabat.


Kekesalanku bertambah saat kulihat Julian datang menghampirinya, meletakkan lengannya di pundak gadis itu.


Kemudian terdengar gelak tawa mereka bertiga, dan semakin panas hatiku saat kulihat Julian sedang mengacak rambut Moza. Ingin rasanya kupelintir tangan pemuda itu.


Brakk....


Tanpa sengaja kupukul meja dan beranjak pergi dari sana, naik ke lantai tiga kafe yang memang hanya bisa diakses oleh orang-orang tertentu saja.




🍒🍒🍒


AUTHOR


Tak satupun yang tahu apa yang membuat Hega pergi dengan wajah kesal.


Deana tampak tersenyum melihat kejadian yang baru saja dia saksikan, mungkin hanya dia yang tahu persis apa penyebab kekesalan pemuda itu.


" Ada apa dek ? " Tanya Bara yang melihat Deana senyum-senyum sendiri.


Deana hanya mengangkat bahunya dan mengaduk gelasnya, pura-pura tak tahu apa yang terjadi. Tapi Bara yang peka tentu tidak mudah dibohongi, ditatapnya Deana dengan mata menyelidik.


Deana memberikan isyarat menunjuk ke arah meja yang diduduki Moza, dimana gadis itu tengah kembali pada obrolan serunya bersama Julian dan Dimas.


Dalam sekejap Bara sadar apa yang terjadi, secepat kilat menyusul sahabatnya ke lantai tiga.


" Ada apa sih De ? " Tanya Rena dengan polosnya.


" Anak kecil diam aja. Gue ke toilet dulu. " Ucap Deana jahil membuat Renata menyebikkan bibirnya kesal.


Disisi lain Bara melihat sahabatnya tengah bersandar di kursi, menyilangkan kedua tangannya di dada sambil melihat ke langit dan sesekali menghela nafas panjang.

__ADS_1


" Nih minum. " Bara mengulurkan kaleng soda ke arah pemuda itu.


" Gimana caranya supaya gue bisa deketin dia Bar ? Gue frustrasi liat dia cekikikan bersama pria lain. " Ucapnya sambil meneguk soda pemberian Bara.


Bara menggaruk kepalanya yang tak gatal, bingung harus berkata apa, jika itu terjadi padanya, dengan sifat extrovertnya pasti dengan mudahnya dia akan mendekati gadis yang disukainya dengan santai. Karena itulah yang selalu dilakukannya sampai saat ini jika ada perempuan yang menarik perhatiannya.


Tapi dia tahu cara yang selalu dilakukannya tak akan bekerja pada sahabatnya yang bertolak belakang sifat dengannya.


" Bang Hega punya cermin besar gak di rumah ? " Sebuah suara mengejutkan kedua pemuda tersebut.


Deana berjalan mendekati kedua pria itu, menyambar kaleng soda di tangan Bara dan kemudian meminumnya.


" Dek, minuman abang ituh... " Gerutu Bara.


" Idih abang mah pelit, biasanya abang yang suka nyerobot minuman aku, ambil lagi sono bang. " Omel Deana.


" Bang Hega belum jawab pertanyaan Dea. " Lanjutnya.


" Ada memang kenapa ? " Jawab Hega seraya mengernyitkan dahinya.


" Apa tiap kali bercermin abang tidak sadar kalo abang tuh punya ketampanan yang dapat membereskan setiap masalah. Tinggal bilang saja abang suka sama Moza. Beres kan. " Celetuk Deana membuat tenggorokan Hega mendadak tercekat.


Diteguknya soda di tangannya hingga hampir tandas, Bara melongo mendengar perkataan adik sepupunya yang tepat sasaran.


" Gimana kalau ditolak dek ? " Goda Bara sambil melirik ke arah sahabatnya dengan jahil.


" Bukan pria sejati jika sudah mundur karena takut ditolak. Dan jika bang Hega adalah pria seperti itu, maka Dea tidak akan mendukung abang. " Ucap Deana serius.


" Saya hanya takut dia akan kabur jika saya terlalu terang-terangan mendekatinya ?" Kata Hega dengan nada serius.


" Jika dia mau kabur, dia sudah melakukannya bang. Abang tahu kan maksud Dea. Jika takut membuat abang ragu, lebih baik berhenti di sini, Dea gak akan biarin siapapun membuat sahabat paling berharga Dea kecewa. " Jawab Deana serius.


" Lo posesive banget sih dek sama sahabat lo. " Cibir Bara.


" Terserah abang mau bilang apa, Dea turun dulu ya bang. " Pamitnya kemudian.


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕

__ADS_1


.


__ADS_2