
AUTHOR
B R U K . . .
Mendengar penjelasan Derka, Hega seolah kehilangan tenaga, tubuhnya lemas seketika limbung dan terhempas di sofa. Hega tampak kacau, menundukkan kepalanya dan beberapa kali meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
Hega tidak pernah mengira jika trauma yang dialami gadisnya bisa separah ini. Hega mengira gadis itu hanya mengalami insomnia dan mimpi buruk biasa, dan yang dia tahu bahkan sudah lama Moza tidak bermimpi buruk di malam hari ataupun kambuh penyakit insomnianya.
Dan kenyataan bahwa gadis itu menyimpan obat seperti yang dikatakan Derka, membuatnya juga ikut bertanya-tanya separah apa trauma yang diderita Moza.
Saat bunda Ayu menitipkan Moza padanya, Hega menyesal kenapa saat itu dirinya tidak bertanya lebih jauh perihal kondisi psikologis gadis itu pasca kecelakaan yang menjadi penyebab kematian Arka.
Pria macam apa dirinya yang bahkan tidak mengetahui perihal kondisi kesehatan gadis yang dicintainya. Karena terlalu terlena dengan rasa bahagia, Hega bahkan lupa mencari tahu perihal kehidupan gadis itu selama sebelas tahun ini.
" Haaaah . . " Desisnya lirih menahan frustrasi.
" Sebenarnya calon istri lo itu sakit apa sampai harus menyimpan obat seperti ini, Ga ?! "
Derka tentu saja cemas, bagaimana mungkin gadis yang terlihat normal dan sehat itu harus bergantung pada obat-obatan yang hanya dikonsumsi oleh penderita depresi, dan itupun obat khusus penderita depresi berat sehingga harus menggunakan kedua obat itu sekaligus.
" GAAA !!! " Bentak Derka dengan raut wajah yang kacau karena tidak juga mendapat jawaban.
" Pulanglah, Der ! Kita bicara lagi besok ! " Ucap Hega dengan suara parau dengan posisi kepala masih menunduk.
Hega bukannya tidak mau menjawab keingintahuan Derka, tapi nyatanya Hega sendiri tidak tahu secara jelas perihal kondisi gadisnya.
" Tapi, Ga. "
Hega mengangkat wajahnya, menatap Derka dengan ekspresi kalut. " Gue janji, besok gue temui lo di rumah sakit. Momo butuh gue sekarang, Der. Pulanglah ! "
Untuk pertama kalinya Derka tidak bisa membantah Hega, namun bukan karena ia tidak bisa melakukannya.
Tapi nada suara Hega yang melemah membuat Derka mau tak mau menuruti permintaan sahabatnya itu.
Untuk pertama kalinya Derka mendengar Hega berbicara dengan nada memohon seperti itu padanya.
" Baiklah. Gue tunggu lo besok, jangan sampai lo gak datang ! " Ucapnya dengan sedikit mengancam, dan bukannya marah mendengar ancaman Derka, Hega malah mengangguk lemah.
" Hem. Thanks buat hari ini. "
What ?!!! Beruang kutub barusan bilang makasih sama gue ?! Kuping gue perlu dikorek nih. Kenapa gue merinding ya denger ucapan terima kasih dari ini bocah ?!
Gumam Derka dalam hati, jika situasi sedang normal, mungkin Derka akan heboh sendiri dan mencela kata sakral yang barusaja keluar dari mulut sahabatnya itu.
Tapi nyatanya situasi sedang tidak memungkinkan untuk menjadikan hal itu sebagai bahan candaan mengingat wajah kacau Hega yang memprihatinkan.
" Kek, Derka pamit pulang. "
" Iya, terima kasih sudah merepotkan nak Der malam-malam begini. "
" Tidak apa-apa, Kek. Kapanpun Derka selalu siap untuk keluarga ini. "
" Ya, hati-hati dijalan. " Ujar Suryatama seraya menepuk lengan pemuda itu.
" Ben, antarkan dokter Derka ke depan ! "
" Baik, Tuan Besar. Silahkan Tuan Muda Raharsa. "
Suryatama mendekat ke arah sofa yang diduduki cucunya, wajah tampan sang cucu tampak muram.
" Hega, naiklah ! Temani calon istrimu ! " Titah sang kakek seraya menepuk-nepuk bahu cucunya.
Hega mendongakkan kepalanya menatap sang kakek dengan wajah kusutnya, dilihatnya pria tua itu mengangguk kecil dan tersenyum seolah memberikan kekuatan padanya.
" Baiklah, Kek. Hega keatas dulu. Kakek juga istirahatlah ! " Ujarnya lirih dan perlahan bangkit dari duduknya berjalan gontai menaiki satu per satu anak tangga.
▪▪▪
__ADS_1
Saat kembali sampai di kamar kekasihnya, Hega tidak langsung memasuki ruangan bernuansa feminim itu.
Hega menyandarkan tubuhnya di ambang pintu, menghirup oksigen sebanyak yang dia bisa dan menghembuskannya perlahan.
Sasa yang sedari tadi duduk di sofa bulat kecil di samping ranjang sang nona yang susah dilayaninya hampir dua bulan ini langsung berdiri saat menyadari kehadiran tuan mudanya.
Sasa membungkukkan badannya hormat pada majikan mudanya dan dibalas anggukan oleh pemuda yang tengah melangkah memasuki kamar dan mendekati ranjang.
Sasa segera undur diri saat mendapat isyarat dari tangan Hega untuk meninggalkan kamar calon istrinya yang sudah tampak terlelap di balik selimutnya.
Lama Hega menatap wajah ayu dan polos gadis kesayangannya, wajah lugu yang selalu terlihat tegar dan dingin. Tapi dibalik sikap kuatnya itu ternyata menyimpan sejuta luka dalam hatinya.
Hega menyadari kondisi Moza ini pasti berkaitan dengan insiden sebelas tahun lalu yang merenggut nyawa kakak sulungnya. Karena saat dalam perjalanan pulang tadi, Moza terus mengigau menyebut nama Arka dalam tidurnya. Bahkan gadis itu meminta agar almarhum kakaknya itu membawa dirinya pergi bersamanya.
Sebesar apa luka yang kamu derita selama sebelas tahun ini ?
Gumam Hega lirih seraya duduk di pinggir ranjang, membetulkan selimut yang sedikit terbuka.
Bagaimana kamu melewatinya seorang diri ?
Jari tangannya membelai lembut pipi putih dan bibir Moza yang masih sedikit pucat.
Andai saja aku kembali lebih cepat, apakah aku bisa membantumu menanggung beban dan luka hatimu ?
Setidaknya luka itu tidak mengkristal di dalam hatimu hingga selama ini.
Setidaknya sedikit demi sedikit aku bisa mengobati setiap luka itu.
Maafkan aku yang begitu terlambat kembali padamu.
Hega mengecup sekilas kening Moza dengan penuh kelembutan, hatinya terasa nyeri mendapati kondisi kekasihnya itu hingga tanpa sadar bulir air mata lolos dari kelopak mata pemuda itu dan membasahi kening kekasihnya.
Aku janji mulai detik ini aku akan selalu ada untukmu,
gadis kecilku,
belahan jiwaku. . .
Jangan katakan lagi untuk pergi bersama kakakmu !
Jika kamu pergi, lalu bagaimana denganku ?!
Aku tidak bisa hidup tanpa melihatmu,
tanpa mendengar suaramu,
tanpa merasakan sentuhanmu. . . .
Bertahanlah sedikit lagi,
Aku pastikan akan membuatmu bahagia. . .
Hega terus bermonolog dengan dirinya sendiri sembari terus memandangi wajah polos kekasihnya yang sangat dia cintai.
Menggenggam erat tangan Moza dan terus mengecupi telapak tangan mungil kekasihnya.
Ya, sepertinya Hega harus mengakui jika memang dirinya tengah terkena kutukan Arka, sahabatnya, kutukan untuk menjadi bucin adik perempuan sahabatnya itu.
Dan Hega rela menyandang gelar menggelikan yang selama ini dia lontarkan pada sang sahabat,
Si kakak bucin.
Si kakak posessif.
Hingga akhirnya gelar itu saat ini berpindah pada dirinya,
Kekasih bucin, dan
Kekasih posessif.
__ADS_1
Semalaman Hega menemani kekasihnya, pemuda itu memutuskan untuk tetap bersama Moza meskipun terlihat gadis itu sudah begitu lelap dalam tidurnya.
Mungkin ini juga berkat efek suntikan yang diberikan oleh Derka sebelumnya yang membuat Moza bisa jatuh tertidur dengan mudahnya, meskipun masih tersisa gurat kecemasan di wajah cantik gadis itu.
Hega memilih tinggal di kamar bernuansa cream-peach itu. Menaiki ranjang Moza dan bersandar di kepala ranjang kekasihnya, dengan tangan kiri tidak henti-hentinya membelai pucuk kepala gadis itu. Semakin memberikan kenyamanan untuk Moza dalam apam bawah sadar gadis itu.
Dan benar saja, gadis itu terlelap hingga pagi, tanpa sekalipun mengigau ataupun menangis di tengah malam karena serangan mimpi buruk.
Bahkan Hega ikut jatuh tertidur dengan posisi semula, setengah tubuhnya masih bersandar di kepala ranjang meskipun tanpa sadar posisinya sedikit merosot bersandar bantal dengan posisi miring menghadap ke kekasihnya. Dengan tangan kanan memeluk tubuh mungil Moza yang tertutup selimut tebal.
Ceklik . . .
Hingga pada pagi hari saat cahaya matahari menerobos dari celah tirai.
Dan netra hitam Hega dipaksa untuk kembali terjaga, mata hitam legam itu mengerjap beberapa kali saat mendengar suara handel pintu.
Dan terbelalak dengan sempurna saat menyadari siapa yang membuka pintu.
" Ayah, bunda. . . " Hega setengah terpekik dengan suara berat serak khas bangun tidurnya mendapati calon mertuanya sudah ada di ambang pintu dan melihat dirinya berada di atas ranjang yang sama dengan putri mereka.
▪▪▪
Sepasang suami istri paruh baya tergopoh-gopoh memasuki rumah mewah bak istana itu.
Sang suami terus mencoba menenangkan sang istri, tapi apapun yang dilakukan pria paruh baya itu tidak serta merta bisa membuat sang istri tenang.
Wajahnya jelas memperlihatkan kecemasan yang luar biasa.
" Bunda, tenang dulu ! Momo pasti baik-baik saja. " Ardi Dama terus mengucapkan kalimat yang sama sedari mereka berangkat dari rumah subuh tadi, bahkan di pesawat pun, kalimat itu terus diucapkan sang suami sudah bagaikan rekaman yang diputar berulang-ulang.
Namun tetap tidak bisa mengurangi kecemasan di wajah sang istri. Untunglah putra bungsunya tidak mengetahui jika kedua orang tuanya akan pergi mengunjungi kakak kesayangannya itu.
Jika tidak, bisa heboh pagi-pagi dan Arya tidak sanggup menangani kecemasan dua orang sekaligus.
Menenangkan istrinya saja sudah begitu sulit, apa jadinya jika ditambah Ryuza yang terlalu over protectiv dan posessif pada kakak perempuannya itu.
" Nak Ayu dan Nak Ardi, kalian sudah sampai rupanya. " Suryatama menyambut kedua orang tua Moza di ruang tengah.
" Bagaimana keadaan Momo kami, Om Surya ? " Ayu langsung menanyakan keadaan putrinya bahkan tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu.
" Dia baik-baik saja, dan sepertinya masih tidur. "
" Boleh Ayu melihatnya ? "
" Tentu saja, itulah kenapa aku menelfon kalian semalam. Karena sepertinya dia membutuhkan orang-orang terdekatnya, terutama kalian yang adalah orang tuanya. " Tutur Suryatama penuh wibawa seperti biasanya.
" Naiklah ! " Sambung pria tua itu mempersilahkan.
" Terima kasih, Om Surya. "
Ayu dengan langkah cepat menaiki satu per satu tangga, kecemasannya bahkan membuat wanita cantik berhijab itu melupakan jika di rumah itu ada lift yang bisa mempercepat dirinya sampai di lantai tiga, kamar putrinya berada.
Ceklik. . .
Dengan perlahan Ayu memutar handel pintu di hadapannya, ya benar kata Suryatama, putri kesayangannya masih tertidur pulas di ranjang besar berwarna peach itu.
Ayu bisa bernafas lega, setidaknya kejadian bertahun-tahun yang lalu tidak terjadi lagi.
Saat dimana gadis itu menangis semalaman dan meronta dalam kegelapan kamar tidurnya, tanpa bisa seorangpun menenangkan dirinya.
Kedua manik mata Ayu melihat sosok lain di ranjang putrinya, siapa lagi jika bukan calon menantunya, pemuda tampan yang dia percaya untuk menjaga putri semata wayangnya.
" Ayah, bunda. . . " Hega setengah terpekik dengan suara berat serak khas bangun tidurnya mendapati calon mertuanya sudah ada di ambang pintu dan melihat dirinya berada di atas ranjang yang sama dengan putri mereka.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
OMEGAAATTT. . . Babang Hega tercyduk. . . Langsung kawinin ya mak. . .
FYI : Ini hanya karangan kehaluan semata, jika ada kesalahan kata atau istilah, mohon jangan dicela ya. Diingatkan atau dibantu memperbaiki yang salah boleh. Tapi jangan dicaci maki, Thor gampang sakit hati loh. Entar thor santet onlen kalo bandel, canda yah 😁😁
__ADS_1