
AUTHOR
Hega sudah memutuskan untuk mengambil kesempatan satu persen yang sempat diungkit-ungkit oleh Bara sahabatnya.
Kesempatan yang meskipun terbilang sangat mustahil baginya itu tetap ingin direngkuhnya. Siapa tahu apa yang diucapkan Bara ada benarnya, jika mungkin saja satu persen itu bisa jadi berpihak padanya.
Dan setelah beberapa hari memutar otak bagaimana caranya membuka jalannya lagi untuk mendekati Moza. Ternyata nasib masih mendukungnya, terbukti dengan pertemuan yang tak diduga beberapa minggu lalu.
Di indoor garden salah satu Mall saat dirinya tengah menemani adik perempuannya jalan-jalan.
Dan seketika otak jeniusnya mengalir ide untuk mempertemukan dirinya dengan gadis itu.
Berbekal janji Moza pada Rania untuk bertemu kembali, Hega menggunakan kesempatan itu untuk kembali memulai dari awal kisah asmara yang sempat nyaris kandas.
Namun bagaiman jika ternyata yang terjadi justru sebaliknya ?
Bagaimana jika ternyata satu persen kesempatan itu ternyata tidak berpihak padanya ?
Bagaimana jika gadis yang ditunangkan dengannya belum memiliki kekasih ataupun pria yang disukainya ?
Bagaimana jika gadis kecil adik sahabatnya itu benar-benar siap menikah dengannya ?
Apakah Hega siap untuk kembali memutuskan meninggalkan gadis yang dicintainya ?
Kembali menorehkan luka pada hati mereka berdua, berpisah karena keadaan.
Selama beberapa minggu bahkan dua bulan lebih Hega memikirkannya.
Dia bahkan tidak sanggup lagi jika harus berpisah dengan Moza, satu-satunya gadis yang ada di hatinya.
Memaksakan untuk menikahi gadis lain hanya karena tanggung jawab dan balas budi ?
Baginya tidak akan menyelesaikan masalah dan memberi kebahagiaan untuk satu sama lain.
Justru hanya akan memberi penderitaan bagi keduanya. Jika dia tetap mengambil pilihan untuk menikah dengan adik sahabatnya itu, bukan hanya dirinya sendiri yang akan merasa menderita, tapi gadis yang tidak tahu apapun itu juga tidak akan bahagia.
Perempuan mana yang akan bisa bahagia mendapati suaminya mencintai wanita lain ?
Perempuan mana yang akan bisa bahagia jika tahu bahwa pernikahan mereka hanya karena dasar tanggung jawab masa lalu dan hutang nyawa ?
Tentu saja almarhum Arka juga tidak akan rela jika adik kesayangannya tidak bahagia.
Jadi Hega telah mengambil keputusan secara sadar dan diyakininya adalah yang terbaik. Mempertahankan gadis yang dicintainya.
Lalu bagaimana jika gadis yang dijodohkan dengannya dan keluarganya bersikeras melanjutkan pertunangan itu ?
Maka satu-satunya cara yang terpikirkan oleh Hega adalah memohon, bahkan pemuda itu rela bersujud di hadapan gadis itu serta seluruh keluarganya agar mereka bersedia membatalkan janji masa lalu kedua keluarga.
Lalu bagaimana dengan harga diri dan tanggung jawabnya sebagai seorang pria sejati ?
__ADS_1
Hega sudah tak peduli lagi, dia sudah merasakan pedih dan sakitnya jauh dari gadis yang dicintainya selama beberapa bulan ini.
Dia tak akan mampu menjalani hari seperti itu lagi lebih lama, belum lagi membayangkan jika Moza akan dimiliki oleh pria lain. Hal mengerikan yang tak akan mampu ditanggungnya.
Mungkin selama ini Hega terlihat normal, hanya kegilaannya pada pekerjaan yang membuat dirinya seolah terlihat baik-baik saja.
Tapi hanya dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu bagaimana pemuda itu menjalani hari-hari menyiksa selama menahan diri dan perasaannya.
Dan disinilah Hega saat ini berada, di sebuah taman hiburan bersama gadis yang selalu mengisi hati dan pikirannya, tentu saja juga bersama si peri kecil Rania yang seolah benar-benar menjadi peri penyelamat bagi kisah cintanya.
Setelah sarapan bersama dan jalan-jalan di mall, makan es krim serta berjam-jam bermain di gamezone, bahkan sempat-sempatnya Rania meminta untuk mengambil foto di sebuah mesin photobox yang sudah hampir ketinggalan jaman saat ini.
Sesuai permintaan Rania, tujuan terakhir adalah di taman hiburan.
Gadis kecil itu seolah tidak merasa lelah setelah bermain seharian, jutru masih tampak bersemangat dan antusias saat memasuki area taman hiburan.
" Ayo kak kita naik itu. " Ucap Rania ceria sambil menggandeng tangan Moza dan menunjuk beberapa wahana bermain kemudian menarik Moza mendekati salah satu permainan komidi putar.
Moza tampak dengan senang hati mengikuti kemauan gadis kecil itu, dan Hega mengekor di belakang kedua gadis cantik kesayangannya.
Setiap kali mereka bersama, ada saja komentar lucu dari beberapa orang yang mereka lewati.
Pasangan muda yang serasi ya, papanya ganteng, mama dan anaknya cantik. ~ Netizen1 ~
Irinya punya suami hot gitu, ganteng dan keren, apalagi kelihatan sayang banget sama istri dan anaknya. ~ Netizen2 ~
Jika sudah begitu, Hega semakin usil saja setiap kali ada yang memuji keharmonisan mereka, ada kalanya menggenggam tangan Moza secara sepihak hingga merengkuh bahu gadis itu sambil berjalan mengikuti langkah Rania yang dengan lincahnya kesana-kemari.
Dengan segera dihampirinya gadis itu, dengan posesif melingkarkan lengannya di pinggang Moza, kemudian menatap tajam ke arah gerombolan pemuda tadi. Senyum iblisnya tersungging di bibirnya.
Tatapan yang seolah mengatakan,
Dia milikku, berani mendekat mati kalian. ๐คฃ๐คฃ๐คฃ
" Uhuk... Kak, lepaskan. " Berontak Moza.
Namun bukannya melepaskan justru semakin mempererat lengannya, merapatkan tubuh gadis itu ke tubuhnya. Dan tersenyum tanpa dosa, kemudian melambaikan tangan ke arah Rania yang masih duduk manis di wahana permainannya.
" Anggap saja latihan menjadi orang tua. " Ucap Hega santai.
Setelah beberapa wahana bermain mereka naiki, dan terakhir mereka menaiki wahana terakhir yaitu bianglala atau bahasa kerennya biasa disebut Ferris Wheel.
" Rania berani naik itu ? " Tanya Moza ragu menunjuk bianglala besar dengan tinggi 24 meter tersebut ( tertulis di keterangan permainan ).
Dan gadis mungil itu mengangguk yakin, kemudian meraih tangan Hega dan Moza secara bersamaan dan menarik mereka berdua ke arah wahana permainan itu.
Mereka tak perlu mengantri untuk naik karena Hega sudah membeli tiket terusan yang paling mahal, dengan akses permainan tanpa batas.
Moza duduk di satu sisi bersebelahan dengan Rania, dang Hega di sisi lainnya. Selama lebih dari dua jam keduanya belum saling bicara, Hega hanya mengamati Moza dan Rania, menunggu waktu yang tepat untuk mengajak gadis itu bicara.
__ADS_1
" Apa kamu senang peri kecilku ? " Tanya Hega mencairkan suasana.
" Tentu saja Rania senang, ayo kita sering bermain kesini kak. " Jawab Rania antusias.
" Baiklah. Dengan senang hati gadis manis, kita akan sering main kesini berdua nanti. " Ucap Hega memancing Rania sambil mengerling nakal ke arah gadis kecil itu.
" Tidak, Rania maunya bertiga dengan kakak cantik juga. "
Celetukan Rania sontak membuat Moza terperangah, mututnya setengah menganga tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dan sekejap kemudian tersadar lalu menelan salivanya bingung dengan apa yang harus diucapkannya untuk menolak ide gila itu.
Aaaaaa..... Apa yang kalian rencanakan ? Kenapa aku harus pergi bersama kalian lagi ? ~ Moza ~
" Tapi kakak cantikmu ini pasti keberatan. " Kalimat Hega membuat senyum ceria Rania memudar.
" Kenapa ? Apa kakak cantik tidak menyukai Rania ? Apa kakak cantik tidak senang jalan-jalan dengan Rania ? Hiks... hikss.... " Rania merajuk kecewa.
" Hei... Apa yang Rania manis ini katakan, tentu saja kakak senang bersama Rania, kakak juga suka dan sayang pada Rania. " Rengekan gadis kecil itu membuat Moza merasa bersalah, kemudian menunduk dan memeluk gadis mungil di sampingnya.
Dan lagi-lagi Rania mengerling nakal pada sang kakak dibalik punggung Moza yang tengah memeluknya.
Saat Moza melepaskan pelukannya, gadis mungil itu kembali menatap penuh harap. Membuat Hega takjub sendiri, bagaimana adiknya bisa lebih licik darinya dengan akting yang luar biasa itu.
" Jadi apa kita akan sering main ke sini kak ? " Tanya Rania dengan mata berbinar penuh harap.
Hiks hiks hiks.... Kenapa aku harus terperangkap dengan senyum manis ini sih ? Bagaimana aku bisa menolak gadis manis sepertimu.... ๐๐๐ฃ
Tolong dong jangan lakukan ini padaku gadis manis, aku ingin move on dari kakakmu Rania sayang.....๐ซ๐ซ๐ซ
" Baiklah. " Jawab Moza pasrah.
" Yey... " Sorak bahagia Rania yang tersenyum dengan mata berbinar.
Sedangkan Hega, jangan ditanya. Dalam hati pemuda itu sangat puas dan bahagia, jika bisa Hega ingin mengangkat adik kecilnya itu dalam gendongannya dan menghujani adiknya itu dengan kecupan sayang.
๐
๐๐๐๐งก๐โค๐๐๐๐งก๐โค
Bantu VOTE agar karya ini naik RANK yah....
Terima kasih ๐๐๐๐
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya ๐๐๐๐๐
Jika kalian suka Episode ini, jangan lupa kasih aku vitamin MENGHALU yah ...
โ LIKE ๐
โ COMMENT โ๐
__ADS_1
โ VOTE ๐ฑ๐ฒ yah ๐๐๐