Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
H-3 [ Pingsan ]


__ADS_3

AUTHOR


Moza melangkah cepat keluar dari restoran, hatinya berkecamuk, dia bahkan melupakan Deana yang tadi mengantarnya.


Ekspresinya langsung berubah kalut saat sudah berada di luar restoran, padahal sebelumnya gadis itu bisa menyembunyikan dengan sangat baik kegelisahannya dari mata Fabian.


Moza melangkah gontai di sepanjang trotoar menjauh dari area restoran, pandangan matanya kosong, pikirannya melayang entah kemana.


Percakapan akhir antara dirinya dan Fabian yang tadi terus terngiang-ngiang di telinganya.


Kecelakaan sebelas tahun lalu yang merenggut nyawa kakak sulungnya.


Kenapa Fabian harus meminta permohonan maaf untuk itu ?


Bukankah itu kecelakaan, tidak ada yang bisa menghindari takdir kapan Tuhan memanggil semua yang bernyawa di dunia.


Atau kecelakaan itu ada kaitannya dengan Fabian ?


Ada sesuatu yang seolah hilang dari ingatannya, ada hal yang mengganjal di hatinya.


Sesuatu yang membuat kepalanya selalu terasa berdenyut menyakitkan setiap kali dirinya mencoba mengingat apa yang ia lupakan.


Apa yang sebenarnya terjadi sebelas tahun lalu, kenapa hatinya selalu terasa sakit tanpa sebab setiap mengingat kecelakaan itu.


Lebih sakit daripada saat mengingat kenyataan bahwa kakaknya telah pergi untuk selamanya.


Apa yang dia lupakan sebenarnya ?!


Kenapa Fabian menyebutkan nama Hega ?


Apa calon suaminya itu mengetahui sesuatu ?


Apa yang disembunyikan Hega darinya ?


Tidak ! Lebih tepatnya apa yang disembunyikan oleh kedua orang tuanya selama ini di balik kematian kakaknya.


Yang Moza ingat hanya setitik memori yang tidak lengkap tentang insiden yang terjadi sebelas tahun lalu.


Kepalanya mendadak kembali berdenyut, detak jantungnya semakin cepat dan menyesakkan, pandangan matanya memburam.


Langkah kakinya melemah, bulir air mata terjatuh dari kelopak matanya tanpa seijinnya.


Tanpa sadar kakinya melangkah menuruni trotoar, menapak jalan beraspal. Sepasang mata masih mengawasi Moza tak jauh dari tempat gadis itu berdiri.


Tubuhnya lunglai seketika saat menyadari dimana dirinya berada.


Sebuah mobil yang melaju kencang di jalan raya menuju tempat gadis itu berdiri mematung.


Sekelebat ingatan insiden sebelas tahun lalu melintas di matanya. Melihat laju mobil menuju ke arahnya, tubuhnya mendadak membeku, kakinya terasa berat untuk melangkah.


Padahal jarak mobil sudah semakin dekat.


Ckiiiiiiit. . . .


Aaaaaaaaa . . .


Tubuh Moza yang lemas, kakinya yang gemetar membuatnya reflek berjongkok dan menyembunyikan wajahnya di kedua kakinya yang menekuk sembari menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya.


Mobil itu hampir saja menghantam tubuhnya jika saja si pemilik kendaraan terlambat sedikit saja menghentikan laju mobilnya.


" Nona. " Suara bass seorang pria mengembalikan sedikit kesadarannya.


Pria itu memegang kedua bahu Moza, " Nona Moza. Nona baik-baik saja, kan ?! "


Moza mendongakkan kepalanya menatap pria yang ikut berjongkok di hadapannya.


Dilihatnya pria berjas hitam itu terus memanggil dirinya dan mengguncang tubuhnya.


" Nona Moza, Nona. . . Tolong jawab saya ! "


Ya, Moza mengenali pria itu. Dia adalah pria yang sama yang menyelamatkan dirinya saat insiden kecelakaan sepeda yang menimpanya beberapa waktu yang lalu.


" Nona, tolong jangan diam saja ! Katakan sesuatu ! " Pria itu masih terus mengguncang tubuh Moza.


Tapi Moza terlalu lemah untuk bersuara, bahkan tubuhnya masih gemetaran.


" A-aku. . . " Seketika kepalanya kembali berdenyut, pandangan matanya semakin kabur dan menggelap.


B R U K . . .


" Nona. " Pria itu mengguncang kembali tubuh Moza yang kehilangan kesadaran.


Gadis itu pingsan, dan dengan sigap pria berbaju serba hitam itu membopong tubuh Moza menuju ke dalam mobilnya dan segera melaju dengan cepat.


Pria itu tidak lupa menghubungi seseorang untuk melaporkan apa yang terjadi pada Moza. Tapi nomor yang ditujunya sedang berada di luar jangkauan.


Hingga sekitar tiga puluh menit melaju, mobil Mercedes hitam itu sudah berada di depan sebuah rumah sakit.


Saat hendak keluar dari mobilnya untuk membawa Moza memasuki rumah sakit. Gadis itu terlihat mulai tersadar dari pingsannya.


" Akh. . . " Moza memekik sembari memijat kepalanya yang terasa sakit.


" Nona, syukurlah anda sudah sadar. Mari saya bantu ! " Ucap pria yang sepertinya lebih tua dari dirinya itu.


" Anda. . . ? " Moza membetulkan posisi duduknya dan terlihat mengingat sesuatu tentang pria yang masih berdiri membungkuk di pintu mobil.


" Saya Ragil, Nona. " Ragil adalah shadow guard yang sudah ditugaskan Suryatama untuk menjaga gadis itu sejak dua tahun. Tapi tentu saja tanpa sepengetahuan Moza.


" Iya, saya pernah melihat anda. Akh. . . " Ucap gadis itu, masih memegangi kepalanya yang terasa sakit.


" Saya yang ditugaskan. . . "


" Bukankah Anda yang menolong saya saat kecelakaan sepeda waktu itu ?! " Tanya Moza memotong ucapan pria tinggi dan gagah, dengan wajah yang terbilang terlalu tampan untuk ukuran seorang pengawal.


" Benar, itu saya, Nona. "

__ADS_1


" Akh. . . Kepalaku. "


" Mari saya antar Nona untuk memeriksa kondisi Nona. "


Moza mengedarkan pandangannya ke luar, " Memangnya kita ada dimana ? "


" Sekarang kita sudah di rumah sakit, Nona. Tadi nona pingsan jadi sepertinya anda harus diperiksa oleh dokter. "


" Tidak ! Saya ingin pulang saja. Bisakah tolong panggilan saya taksi ?! " Entahlah, rasanya rumah sakit adalah tempat yang paling tidak ingin Moza datangi saat ini. Dan melihat bangunan besar bernuansa putih itu membuat kepalanya justru semakin terasa sakit.


" Apakah tidak sebaiknya anda diperiksa dulu oleh dokter. Sepertinya nona sangat kesakitan ?!


" Saya tidak apa-apa. Tolong panggilkan saya taksi. "


" Saya yang akan mengantar anda kembali ke rumah anda. "


" Tidak perlu, saya akan merepotkan anda. "


" Tidak sama sekali, nona. Karena ini memang merupakan tugas saya untuk menjaga nona. "


" Baiklah, tolong antarkan saya pulang saja ! Alamatnya . . . "


" Saya tahu alamat rumah nona. " Pria bernama Ragil itu dengan sigap menutup kembali pintu belakang dan kembali masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesih kendaraannya.


" Ah. . . Maaf merepotkan Anda. " Ucap Moza saat Ragil hendak menjalankan mobilnya kembali.


Meskipun sempat bingung bagaimana pria asing itu kembali membantunya di saat yang tak terduga seperti ini hingga tahu alamat rumahnya. Tapi sepertinya Moza terlalu lelah untuk bertanya, dan membiarkannya begitu saja.


Ragil menoleh ke jok belakang, " Sama sekali tidak merepotkan, apakah nona yakin tidak perlu diperiksa oleh dokter ?! " Tanyanya kemudian


memastikan sang majikan dalam keadaan baik-baik saja.


Dan Moza mengangguk mengiyakan, " Iya, saya yakin. " "


" Baiklah. Nona istirahat saja, kita akan sampai di rumah nona sekitar dua puluh menit.


" Iya, terimakasih banyak. "


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


Sampai di rumah, Moza langsung turun dari mobil memasuki bangunan rumah bertingkat dua dengan nuansa biru muda itu.


Tentu saja setelah mengucapkan terima kasih pada pria yang telah mengantarkan dirinya pulang.


Moza melangkahkan kakinya menuju lantai dua kamar tidurnya.


Mengabaikan sisa-sisa keributan yang terjadi di rumahnya, dimana masih ada beberapa orang tengah sibuk membereskan sisa acara lamaran tadi, dan juga ada beberapa pekerja dari Wedding Organizer yang sedang mendekor rumahnya untuk acara akad nikah yang akan dilaksanakan lusa.


Begitu sibuknya semua orang hingga tidak ada satupun yang menyadari wajah muram calon mempelai wanita.


Yang diinginkannya saat ini hanyalah berdiam diri di kamarnya, mengunci pintu dan mematikan lampu penerangan di ruang pribadinya itu.


Saat hendak menaiki tangga menuju kamarnya, terdengar obrolan kecil dua anak-anak berusia sekitar 5 dan 10 tahunan.


" Kakak, adek mau kue. " Pinta seorang gadis kecil berusia 5 tahunan itu pada seorang anak lelaki yang sepertinya adalah kakak si gadis kecil.


" Duduk disini ! Akan kakak ambilkan. " Bocah lelaki itu mengangkat adiknya ke sofa, dan kemudian tampak berlari kecil menuju meja ruang makan dimana ada beberapa ibu-ibu yang tengah merapikan kue-kue suguhan saat acara lamaran tadi.


Dan tidak lama si bocah lelaki kembali membawa sebuah cupcake coklat di tangannya dan memberikannya pada si gadis kecil, " Ini, makanlah ! "


" Pelan-pelan makannya, lihat mulutmu belepotan semua. " Dengan sabar sang kakak membersihkan sudut bibir adiknya.


" Hehe. . . " Si bocah kecil hanya tercengir mendengar gerutuan yang kakak.


" Kakak, adek mau minum. "


" Ya, tunggu sebentar. "


Dan begitulah beberapa kali si kakak mondar-mandir mengikuti kemauan sang adik. Moza terduduk di salah satu anak tangga, menatap dengan tersenyum haru pemandangan bahagia di depan matanya itu.


Rasanya seperti kembali ke masa lalu. Saat masih ada kakaknya, Hyuza, yang selalu memanjakannya dan menuruti semua keinginannya tanpa sekalipun penolakan.


Bulir air mata Moza kembali lolos dan terjatuh di pipi putihnya. Moza yang sudah beranjak berdiri dan berbalik badan hendak menuju kamarnya, terhenti oleh suara rengekan si gadis kecil.


" Kakak, adek mau es krim. huaaa. . . "


" Nanti ya di rumah, tunggu ibu selesai dulu. " Bujuk sang kakak sambil menunjuk salah seorang wanita yang sedang membagi-bagi kue lamaran dan memasukkannya ke dalam kotak-kotak kecil untuk dibagikan ke tetangga calon mempelai wanita.


" Tidak mau, adek mau sekarang huuuu. . . " Tangis si adik semakin keras.


" Tapi, dek. Disini tidak ada es krim, nanti waktu pulang kakak belikan. Jangan menangis lagi, ya. Nanti ibu akan memarahi kakak. " Bujuk si kakak lagi.


" Huuuu. . . Sekarang, kak. Adek mau es krim huhuhu. . . "


Moza yang hendak menghampiri gadis kecil itu mendadak langkahnya terhenti seketika karena kepalanya kembali berdenyut, ada rasa sesak di hatinya.


" Kakaaaak, es krim. . . Es krim. . . " Teriak si bocah perempuan dengan menghentakkan kakinya di lantai.


Nyut . . . nyut. . . nyut. . .


Rengekan gadis kecil itu semakin terasa memekakkan indera pendengarannya, sebuah kilat memori melintas di kepalanya.


" Kak, Hyu, Mo mau es krim. "


" Nanti di rumah ya, sayang. Kakak kan sudah buatkan es krim dirumah. "


" Tidak mau, Mo mau es krim itu, seperti teman-teman Momo. " Rengek Moza kecil sambil menunjuk penjual es krim di yang di sedang dikerumuni beberapa anak kecil di seberang jalan depan sebuah Sekolah Dasar dimana Moza bersekolah.


" Oke, jangan cemberut gini, tunggu disini sebentar ! "


B R U A K. . . .

__ADS_1


Sebuah mobil melintas dengqn kecepatan tinggi, menabrak tubuh remaja lelaki yang baru saja sampai di tengah jalan, menghempaskan tubuh pemuda itu ke jalan beraspal. Seketika darah mengalir deras membuat noda memerah di jalan berwarna abu-abu itu.


Aaaaaahhhh. . . .


Moza melihat sang kakak tergeletak di jalan dengan kepala dan tubuhnya berlumuran darah. Saat ingin berlari menghampiri kakaknya, eeseorang menyambar tubuhnya dan mendekap dengan kuat tubuh gemetar Moza dalam pelukannya.


β–ͺβ–ͺβ–ͺ


" Akh. . . " Moza memegangi kepalanya yang terasa semakin sakit, hingga pandangan matanya langsung menggelap dan tubuh gadis itu limbung terjatuh ke lantai.


B R U K. . .


" Ehhhh. . . Mbaaaak, mbak Ayuuuu. Anaknya pingsang, mbak. Mbak Ayu. "


Seorang wanita yang hendak pamit pulang mendapati tubuh dari anak tetangganya itu sudah terbaring tidak sadarkan diri di lantai.


Ayu tergopoh-gopoh menghampiri sumber suara dan bersimpuh di sisi tubuh putrinya yang tidak sadarkan diri.


" Momo sayang, kamu kenapa sayang ? Bangun sayang ? " Ayu menepuk pelan pipi putrinya beberapa kali tapi tidak ada respon dari anak gadisnya itu.


" Ryuuuuuuu. . . Ayaaaaah. . . Huuuuuu. . . " Teriak Ayu memanggil suami dan putranya bungsunya.


" Bunda, kenapa ini ?! " Ardi berjongkok melihat kondisi sang putri


Ryuza yang mendengar teriakan sang bunda tidak kalah terkejutnya saat mendapati tubuh sang kakak tergeletak di lantai.


" Bun, kakak kenapa ? "


" Huuu. . . Momo, Yah. . . Huuu. . . " Ayu semakin sesenggukan melihat putrinya tidak kunjung sadar.


Dengan cepat Ryuza membopong tubuh mungil sang kakak, meskipun Ryuza lebih muda 4 tahun dari sang kakak, namun pertumbuhan Ryuza memang terbilang sangat cepat. Dan untuk mengangkat tubuh sang kakak, bukanlah suatu yang sulit untuknya.


" Ayah, panggil dokter. " Ucap remaja itu sembari berjalan cepat menuju kamar sang kakak dan membaringkan gadis itu di ranjang.


πŸƒ


πŸƒ


πŸƒ


Ditempat lain, Hega yang baru saja turun dari pesawat langsung mengaktifkan ponselnya. Karena sejak meninggalkan gadisnya di restoran, pikiran dan perasaan Hega terus saja tidak tenang.


Tidak ada notifikasi pesan apapun ataupun panggilan dari nomor sang calon istri. Padahal ini sudah satu jam berlalu sejak Hega berpisah dari Moza di restoran.


Saat hendak menghubungi nomor sang kekasih, Hega dikejutkan banyaknya panggilan masuk dari satu nomor yang sama. Dengan cepat Hega melakukan panggilan pada nomor tersebut.


~ Dalam Panggilan Telepon ~


" Ragil, ada apa kamu terus menghubungiku ? "


( Itu Tuan Muda, Nona tadi pingsan di jalan. )


" APAH ? Bagaimana bisa ? Apa yang terjadi ? "


( Setelah keluar dari restoran, nona terlihat agak aneh. Dan nona tidak bersama dengan nona Deana. )


" AAAARG. . . Lalu dimana dia sekarang ? "


( Saya sudah mengantar nona pulang kerumah, karena saat saya membawanya ke rumah sakit, nona menolaknya. )


" Oke, kamu terus berjaga disana ! "


( Baik, Tuan Muda. )


tut tut tut . . . ~ End Call ~


" Ada apa, Ga ? " Tanya Bara cemas melihat ekspresi sahabatnya.


Hega yang semakin khawatir setelah mendengar laporan Ragil, segera meraih kembali ponselnya dan mengabaikan pertanyaan Bara.


" Assalamualaikm, bun. "


( Huuuuu. . . Waalaikm-salam. )


" Bunda, ada apa ? Apa terjadi sesuatu dengan Momo ? "


Mendengar suara isak tangis wanita di seberang telepin membuat hati Hega terasa sakit.


" Bun, tolong jangan buat Hega semakin cemas, ada apa bun ? "


( He-ga, huuu. . . )


Hanya terdengar tangis di ponselnulya, hingga tidak lama suara di seberang telepon berubah menjadi suara seorang pria, yang ternyata adalah ayah mertuanya.


( Hega, Momo pingsan, kami sedang menunggu dokter untuk memeriksanya. Maaf bundamu sedang syok. )


" Yah, apa yang terjadi ? "


( Ayah tidak tahu, tadi kami sedang sibuk beberes hingga tidak tahu Momo sudah pulang, dan tetangga yang kebetulan mau pamit pulang malah melihat Momo sudah tergeletak di lantai. Sudah dulu, Ayah harus menenangkan bundamu. Nanti ayah akan mengabarimu lagi. Assalamualaikm. )


" Ayah, yah, tunggu yah. "


Tut tut tut . . .


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Nikahnya kapan thor ?


Undangannya baru jadi, lusa kan nikahnya jadi ya 3 hari lagi 😁😁😁😁


Masalah mulu ?


Makanya kalo dipingit jangan bandel, pamali, tuh kan ada aja cobaan sebelum nikah. Nakal sih. . . πŸ˜‰πŸ˜‰


➑️ Seperti biyasah, akoh menanti like dan komentarmu ya pembaca yang baik dan budiman serta budiwati. . . 😘

__ADS_1


__ADS_2