
AUTHOR
" Jangan menghela nafas seperti itu, seolah terlihat jika saya sedang menyiksamu. " Ucap Hega santai.
" Memang tidak secara langsung ? Tapi memang benar jika kakak sedang menyiksaku. " Gerutu gadis itu pelan yang masih bisa didengar oleh Hega.
" ". Mendengar gerutuan Moza, Hega kembali mengerutkan dahinya bertanya-tanya.
" Apa kakak tidak sadar jika setiap kali bersama kakak, tiba-tiba akan banyak tatapan mata membunuh mengarah padaku ? " Omelnya sambil melihat ke sekelilingnya sambil pura-pura bergidik.
Mendengar penuturan gadis itu, membuat Hega merasa gemas, kemudian sekilas ikut mengamati sekitar mereka mengikuti arah pandangan gadis di hadapannya.
" Pft....."
" Apa yang lucu ? " Protes Moza mendengar respon pria di hadapannya yang seolah menjadikan omelannya sebagai sebuah lelucon.
" Sejak kapan kamu terganggu pada tatapan orang lain ? " Tanya Hega menormalkan ekspresinya kembali.
" Sejak banyak mata perempuan yang seolah ingin mencakar wajahku dan menjambak rambutku setiap kali aku bersamamu. " Moza mendengus jengkel menghadapi kelakuan Hega yang tidak satu dua kali ini membuatnya mengalami hal serupa. Ditatap oleh tatapan tajam dan cemburu para wanita.
" Jadi selama ini tatapan para pria tidak mengganggumu ? Bukankah mereka lebih menakutkan, para wanita itu mungkin hanya cemburu padamu, tapi ada saya yang akan melindungi kamu. " Ucapnya santai.
" Selama ini para pria yang mengejarmu pasti lebih berbahaya, mereka pasti menatapmu seperti serigala yang ingin memangsamu. " Goda Hega dengan nada serius, membuat Moza semakin kesal.
" Tapi tentu saja saya tidak akan memberikan kesempatan pada lelaki manapun untuk mendekati kamu. " Lanjutnya sambil merubah posisi bersandarnya menjadi posisi menahan dagu dengan satu tangan di meja.
" Jangan alihkan pembicaraan. " Moza berdecak semakin menunjukkan kekesalannya.
" Oke oke.... Lalu apa mau kamu sekarang ? " Tanya pria itu melunak.
" Pergi dari sini.... Jauhkan aku dari bahaya para fans yang menggilaimu. " Ucapnya sambil menatap sinis ke arah beberapa gadis yang tengah terang-terangan menatap ke arah pria di hadapannya.
" Tidak mau. " Jawab pria itu santai.
Grrrrrr.
Moza sontak menatap tajam ke arah Hega, kesal pada tingkahnya.
" Saya suka melihat kamu cemburu. " Ucap Hega kemudian melihat ekspresi gadis di hadapannya.
" Cemburu ? Siapa ? " Moza menyangkal dengan sedikit gelagapan.
" Kamu tentu saja. " Goda Hega lagi.
" Huff .. Kalau kakak tak mau pergi, maka aku yang akan pergi. " Ucapnya mencoba mengalihkan pembicaraan, mengambil buku dan kotak pensilnya dari atas meja dan hendak beranjak dari sofanya.
Dengan cekatan diraihnya pergelangan tangan gadis itu agar kembali duduk.
" Baiklah saya akan mengantarmu. " Ucapnya datar membuat gadis manis itu semakin kesal karenanya.
" Kak. " Ucapnya setengah berteriak sambil beranjak dari sofa.
" Pft..... Kenapa kamu begitu menggemaskan sih ? Ayo kita pergi ke tempat lain. " Jawab Hega sambil mengelus lembut kepala gadis cantik yang masih cemberut didepannya.
Ini memang bukan pertama kalinya dia mendapat perlakuan seperti itu dari Hega, tetapi tetap saja Moza belum terbiasa.
Bukan hanya karena sikap yang ditunjukkan pria itu menjadikannya sasaran empuk dari mata tajam para wanita di yang melihatnya, tapi juga karena apa yang dilakukan pria itu membuat detak jantungnya semakin tak bisa dikendalikan.
Sebenarnya Moza sadar betul perasaan apa yang sedang dia rasakan pada pemuda itu, tapi gadis itu masih ingin mengelak dari hatinya sendiri.
__ADS_1
Ketakutan yang selama ini membayangi dirinya dan membuatnya menutup hatinya dari perasaan cinta. Ketakutan akan kehilangan seseorang yang berharga, juga keinginannya untuk hanya menyimpan nama sang kakak di hatinya, membuatnya tidak ingin terlampau jauh berurusan dengan pria.
Anggap saja dia terobsesi pada sang kakak, tapi sesungguhnya gadis itu merasa bahwa jika dia mencintai seorang pria, maka hal itu dianggapnya sebagai penghianatan pada kasih sayang sang kakak yang selama hidupnya hanya tercurah untuk dirinya.
Itulah yang membuatnya bertekad menutup mata hatinya pada cinta, karena seumur hidupnya hanya akan mengasihi dan mencintai kakaknya, seperti sang kakak yang hanya mengasihi dirinya hingga akhir hidupnya.
Gila memang, tapi itulah yang membuat hati gadis itu sedingin es. Apalagi seringkali sang kakak muncul dalam mimpinya, mimpi yang sama dan berulang. Mimpi yang membuatnya semakin kuat bertahan sekaligus semakin rapuh.
Hanya dengan melihat sang kakak dalam mimpi saja itu cukup baginya mengobati kerinduannya pada kakaknya, membuatnya bertahan menjalani hari-harinya, berusaha menjadi seorang kakak yang baik bagi adik bungsunya.
Dan melakukan yang terbaik sebagai seorang kakak untuk si bungsu, seperti yang dulu dilakukan sang kakak untuknya.
Sekaligus membuatnya begitu rapuh, karena mimpinya akan berakhir dengan adegan mengerikan yang merenggut nyawa sang kakak, kecelakaan yang dia saksikan dengan mata kepalanya sendiri, seorang gadis berusia 9 tahun yang masih begitu kecil untuk menyaksikan dan merasakan kepedihan yang begitu besarnya.
Selama lebih dari sepuluh tahun dia membentengi dirinya dengan ego dan luka mendalam. Menghindari apa yang dinamakan asmara.
Tapi siapa yang menyangka jika setelah sekian lama, akan tiba saatnya dimana akan hadir seorang pemuda yang membuat jantungnya berdebar dengan hebatnya tanpa bisa dikendalikannya.
Hingga gadis itu bahkan tidak sadar jika semenjak pemuda itu terus berkeliaran di sekitarnya dan memberikan perlakuan istimewa padanya, tidak pernah satu malampun dia bermimpi tentang sang kakak. Mimpi indah sekaligus mimpi terburuk baginya.
•
•
🍒🍒🍒
Setelah keluar dari restoran, Hega kembali melajukan kendaraannya melintasi padatnya lalu lintas kota. Bukan mengantar gadis itu pulang ke kosnya, malah dibawanya Moza ke tempat lain.
Moza yang tak tahu kemana Hega akan membawanya pergi hanya pasrah duduk manis di samping kursi kemudi, sesekali menatap pria disampingnya dengan tatapan kesal.
" Mungkin akan lama sampainya, jika kamu lelah tidur saja. Akan saya bangunkan jika sudah sampai. " Ucap Hega lembut dengan tatapan masih lurus ke depan.
Lelah bertanya kemana tujuan mereka sebenarnya, Moza hanya bisa diam sembari menyebikkan bibirnya. Sesekali menggerutu kesal, yang hanya direspon dengan senyum gemas pria di sampingnya.
Melihat sang gadis tengah terlelap kelelahan, Hega menghentikan sejenak mobilnya di pinggir jalan. Kemudian mengatur sandaran kursi di sampingnya agar membuat gadis itu dalam posisi tidur yang nyaman.
Diambilnya jas miliknya dari kursi belakang, menjadikannya selimut untuk Moza. Tersenyum bahagia melihat ekspresi polos dan tenang gadis yang dikasihinya.
" Tahukah kamu, saat tidurpun kamu terlihat sangat manis. " Gumamnya pelan sambil merapikan anak rambut Moza yang berantakan.
Setelah itu kembali menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya kembali menyusuri jalan, menuju tempat yang hanya dia sendiri yang tahu.
Hingga akhirnya sampai di pinggiran pantai, menghentikan kendaraannya di salah satu sudut jalan yang langsung menghadap ke arah pantai.
Ditatapnya kembali gadis yang masih terlelap dalam tidurnya, masih tampak tenang di posisi yang sama.
Dilepasnya seatbelt dari tubuhnya, kembali mengelus lembut kepala gadis itu. Menatap setiap inci wajah mungil Moza, kemudian tanpa sadar tatapannya terhenti pada bibir mungil berwarna peach yang sontak membuatnya menelan ludahnya.
Glek.....
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
🌟 IKLAN 🌟
Pembaca : Udah thor gemes gue lihatnya. Modus mulu, langsung tembak aja napa ? 😤
Me : Sabar.... Ada waktunya.... 😔
Pembaca : Kelamaan thor....
__ADS_1
Me : Hehehe.... Sengaja dibuat gitu.... ✌
Pembaca : Halah gak bikin tambah like juga, cuma bikin yang baca kesel karna terlalu lama jalan ceritanya....
Me : Maafkan ya... tidak apa gak nambah like juga karna akuh tuh cukup seneng bisa menghalu sepanjang ini.....😁😁😁
Tapi kalau ada yang like aku tak menolak 😁😁😁.
Pembaca : Idih....
Me : Maklum lah ini kan tulisan pertama akuh gitu.... Tanpa rencana... Mengalir begitu saja..... Dukung mah aku gitu 😘
Pembaca : Hadeh.... Serah lu lah....
Me : Jangan marah atuh..... Bentar lagi kok udah mau ending nih....
Pembaca : Yah gitu doang ending ? Belum juga adegan cinta-cintaannya udah mau ending ajah thor
Me : Hehehe.... Tenang dong.....
Pembaca : Tenang apaan 😡😡😡 Gue belum nemu adegan ena ena nya thor yang 21+ gituh..... 🤣🤣🤣🤣
Me : Haduh.... Ternyata ituh yang dirimu cari toh ????
Pembaca : Iya lah thor.... Gue gak muna ya, Udah gede ini....
Me : Xixixiixi.... Belum mukhrim tuh Abang Hega sama si Momo main minta adegan ena ena segala....
Pembaca : Dikit aja thor.... 🤤🤤🤤
Me : Ntar diriku pikirin ya..... Soalnya diriku maunya nih cerita genrenya percintaan sehat 😁😁😁
Pembaca : Bener ya thor....???? 🤤🤤🤤😍😍😍 Gue lebih suka yang gak sehat thor, lebih bersemangat bacanya....
Me : Idih udah mupeng tuh muka.....
Pembaca : Hehehe.... Gue tunggu loh yah adegan ena ena nya ....
Me : Kasih diriku like dan comment dulu atuh plus vote nya....
Pembaca : Iya tenang entar pas udah ada adegan ena ena tuh gue setor poin deh 😘😘😘
Me : Sekarang aja napa ?
Pembaca : Ogah.... Ntar aja... 😋😋
Me : Idih masih pelit dan ada maunya doang.....
Pembaca : Biarin... Gue yang punya jari ini.... Suka-suka gue mau like and vote apa kagak....
Me : Serah dirimu lah.... 😤😤😤🍒😔😔😔
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.
Bantu VOTE agar karya ini UP yah....
__ADS_1
Terima kasih 😊😘😘😍
Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕