
AUTHOR
Atas permintaan Suryatama, keluarga Moza menginap di rumah utama karena rencananya besok mereka harus melanjutkan pembahasan detail acaranya, konsep dan lain sebagainya.
Ardi dan Ayu sudah beristirahat di kamar tamu yang ada di lantai dua. Sedangkan Ryuza akan tidur di kamar Hega. Bukan karena tidak ada kamar lagi di rumah besar itu, hanya saja memang Hega yang memintanya setidaknya dia ingin lebih dekat dengan calon adik iparnya itu.
Di sofa panjang kedua pemuda itu tengah duduk menghadap layar besar dan di tangan mereka masing-masing menggenggam stick Plasystation.
Pandangan keduanya terfokus pada layar datar yang menampakkan permainan bola. Sesekali terdengar umpatan dari mulut Ryuza, dan dibalas decakan malas dari bibir Hega.
" Bang, kok bisa abang sejago ini sekarang ? " Gerutu Ryuza kesal di sela permainan mereka yang masih berlangsung
" Jangan-jangan abang waktu itu ngerjain aku ya, bang ?! Abang pura-pura gak bisa main PS dan sengaja mengalah dariku. " Omel Ryuza lagi karena sedari tadi dikalahkan oleh sang calon kakak ipar.
" Ck... Apa faedahnya saya mengalah sama kamu ? " Decak Hega lirih dengan mata masih fokus pada layar besar di depannya dan ibu jarinya masih sibuk menekan-nekan stick PS di tangannya dengan lincah.
" Ya, supaya abang dapat simpati aku lah. Kan abang ngalahin aku waktu tanding basket, baseball, bahkan aku kalah waktu kita tanding bela diri. Aahhh... Ya pasti abang sengaja ngalah kan waktu aku tantang abang main PS ?! Ah.... Sial, aku kalah lagi. " Umpatnya seraya meletakkan stick itu di atas meja dengan kesal.
" Tidak ada dalam kamus hidup saya yang namanya mengalah dalam persaingan. Apapun itu jenis persainganya dan siapapun lawannya. "
" Jadi abang beneran gak bisa main PS ?! " Masih menatap curiga kekasih kakaknya.
" Saat itu pertama kalinya saya memegang benda ini. " Ujar Hega seraya mengangkat stick PS di tangannya.
" Ck... Aku gak percaya, bang. " Decak Ryuza dengan bibir bersungut.
" Terserah kamu. Dan satu lagi, bohong juga tidak ada dalam kamus hidup saya. " Tegas Hega datar.
" Terus ini apa ?! Gimana bisa dalam waktu kurang dari sebulan abang bisa sejago ini ? " Ryuza yang merasa kesal karena sudah dikalahkan oleh Hega dalam beberapa jenis permainan Plasystation.
" Tidak ada ilmu di dunia ini yang tidak bisa dipelajari, Ryu. Kegigihan dan kerja keras akan selalu membawa kita pada puncak keberhasilan. Dan satu lagi jangan lupa, DOA. " Ucap Hega bijak seraya menepuk-nepuk pelan pundak calon adik iparnya itu.
Hega meletakkan kembali stick PS di atas meja, dan hendak menuju kamarnya.
" Lalu berapa lama abang belajar main PS sampai bisa sejago ini dan mengalahkan aku dengan mudah ?! "
Hega mengurungkan niatnya untuk berdiri dan kembali melirik remaja di sampingnya, " Terhitung dengan hari ini, ini kali ketiga saya memainkan benda itu. " Tutur Hega sambil menunjuk stick PS yang sudah tergeletak di atas meja.
" HAAAA.... " Ryuza terlongo mendengar penuturan kekasih kakaknya itu.
" Abang bohong kan ! " Omel Ryuza dengan tatapan tak percaya, matanya melotot nyaris keluar.
" Sepertinya kamu lupa apa yang saya katakan tadi. Bohong tidak . . ."
" Ah.. iya, iya. Tidak perlu diulang ! " Ryuza mendengus kesal. Benar adanya yang diucapkan ayah dan bundanya, jika calon suami sang kakak itu bukan pria sembarangan.
__ADS_1
" Ingatan yang bagus. " Puji Hega kembali menepuk bahu Ryuza dan kemudian berdiri dan saat berbalik badan dilihatnya sosok cantik tengah menatap ke arah mereka.
" Mo... Kenapa kamu hanya berdiri disana ? Kemarilah ! " Hega tersenyum dan melambaikan tangannya pada sang kekasih yang mematung di ambang pintu kamarnya.
βββ
Di sisi lain di kamar bernuansa peach dan putih, Moza sedang duduk di ranjang besarnya bersandar di kepala ranjang dan memeluk si beruang raksasa pemberian Hega.
Moza teringat akan pertanyaan calon suaminya itu siang tadi.
~ Flashback ~
Setelah bercerita tentang masa lalunya dan bagaiman hubungannya dengan istri kedua dari sang Papa. Hega berbaring di sofa dan menjadikan paha kekasihnya sebagai bantal, menatap wajah ayu sang calon istri.
Begitu juga Moza yang membalas tatapan mata elang Hega yang tampak sayu. Moza mengelus lembut kepala Hega dan sesekali memainkan rambut Hega dengan jarinya.
Sentuhan lembut Moza mampu memberikan kenyamanan luar biasa pada pemuda yang tengah kalut hatinya itu. Perasaannya menjadi terasa tenang dan damai karena perlakuan kekasihnya yang penuh cinta.
Hega menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya, jantung milik sahabatnya. Hega teringat pembicaraan antara Moza dan Ryuza di taman tadi.
" Mo... " Lirih Hega masih menatap intens wajah gadisnya.
" Hem. "
" Apa hatimu masih sakit setiap mendengar suara detak jantung ini ? " Tanya Hega dengan suara parau.
Moza membalas tatapan Moza dengan tatapan penuh cinta, dan kemudian tersenyum tipis.
" Aku memang sempat merasa seperti itu. Tapi itu dulu, Kak. Sekarang aku belajar melihat semua yang terjadi dalam hidupku dari sudut pandang yang berbeda. " Jawab Moza lembut, dahi Hega terlihat mengeryit sedikit, pertanda pemuda itu tidak memahami maksud ucapan Moza.
" Aku mencintai kakakku, aku tentu berharap dia masih ada disisiku ikut merasakan kebahagiaanku dan menjadi bagian dari kebahagiaan itu. Sempat terbersit dalam benakku untuk mengubur cintaku untuk Kak Hega karena hatiku sakit setiap melihat kakak. "
Hega terlonjak dan bangkit dari tidur dan terduduk dengan wajah tegang menatap sang kekasih.
" Mo... Tidak ! Jangan lakukan itu ! Aku akan mati jika kamu pergi. " Hega meraih kedua tangan Moza dan menggenggamnya.
" Jangan benci aku karena hidup dengan jantung ini. Aku akan membayar semua pengorbanan Arka selama sisa hidupku, jadi tolong jangan lagi berfikir untuk berhenti mencintaiku ! " Pinta Hega memohon, merengkuh tubuh Moza dan memeluknya sangat erat, begitu takut jika gadis itu benar-benar pergi dan menghilang dari hidupnya.
Moza melepaskan pelukan Hega, merangkum wajah kekasihnya dengan kedua telapak tangannya.
" Tidak, Kak. Aku tidak akan berfikir seperti itu lagi. Aku sangat mencintaimu dan aku sendiri juga tidak bisa hidup tanpamu. Aku juga akan mati jika berpisah dan jauh darimu. "
" Aku melihat semua ini sebagai takdir Tuhan untukku, saat insiden kecelakaan itu, Tuhan mengambil kakak yang sangat aku sayangi, dan diwaktu yang sama saat Kak Hega tiba-tiba menghilang, Tuhan menjauhkan aku dari pria yang aku kasihi. "
" Tapi sepuluh tahun kemudian Tuhan mengembalikan dua orang terpenting dalam hidupku. Tuhan mengirim kak Hega padaku, mengembalikan kakak yang aku sayangi dan pria yang aku cintai sekaligus, mengembalikan cinta kalian padaku, menutupi lubang hatiku yang menganga saat kepergian kalian. " Ucap Moza menatap nanar sang kekasih.
__ADS_1
" Jadi kakak tidak perlu takut aku akan pergi karena meskipun kakak yang memintaku pergi sekalipun aku akan terus menempel pada kakak. Dan jangan lagi terbebani dengan hal ini. Kakak cukup mengingat jika aku sangat mencintai kakak, dan kak Hyu pun pasti juga menyayangi kakak, itulah mengapa ia mempercayakan kakak untuk menjaga dan mecintaiku. "
Ucapan Moza terasa bagaikan tetesan embun pagi yang menyejukkan hati Hega. Bagaikan oase di padang pasir yang mengobati hati Hega yang kering.
Kakak yang aku sayangi, saudara yang aku cintai hidup di dalam diri pria yang aku cintai.
Kakak yang aku cintai memberikan hidup pada pria yang aku cintai.
Mungkin sudah takdir Tuhan menempatkan kalian berdua di sisiku. Dan aku sangat bersyukur dengan hal itu.
Lirih Moza seraya menatap mata kekasih yang sangat dicintainya.
" Terima kasih telah kembali padaku, Kak. Terima kasih telah mencintaiku. " Bisik Moza penuh rasa syukur.
" Aku akan mencintaimu dan menjagamu selama sisa hidupku, memberi semua kebahagiaan padamu hingga tidak akan ada celah untukmu memikirkan kesedihan di masa lalu. " Ucap Hega penuh yakin.
Moza mengangguk kecil, " Eum... Saat ini pun kakak sudah memberikan kebahagiaan padaku dengan berada di sampingku. " Jawab Moza tersenyum menatap wajah tampan di hadapannya.
" Ah... Tapi singkirkan wajah masam ini dari wajah tampan kakak ! Aku tidak suka kakak terlihat muram begini, jelek sekali tau. Jangan salahkan aku jika nanti aku akan berubah pikiran dan kabur untukbmencari pria yang lebih tampan dari kakak. " Goda Moza seraya mencubit pipi kekasihnya.
Hega mendelikkan matanya menatap tajam mata kecoklatan kekasihnya, " Eh. . . Awas saja kalau kamu berani melakukannya ! Aku akan mengurungmu di kamar selamanya denganku. Agar kamu tidak bisa kabur dariku. " Protes Hega yang merasa terancam, mendorong pelan tubuh Moza sehingga gadis itu terbaring di sofa, tangan jahilnya menggelitiki pinggang kekasihnya.
" Hahahaha.... Kak, berhenti ! Geli, Kak. Tolong berhenti ! " Moza tergelak di bawah kuasa Hega mencoba berontak dan menghentikan ulah tangan jahil Hega.
" Memohon lah dulu, hem ! Katakan kalau aku pria paling tampan yang pernah kamu lihat dan juga katakan kalau kamu sangat mencintaiku. " Masih terus menggelitiki kekasih cantiknya.
" Hahaha.... Iya, iya. Aku mohon hentikan, hahahaha.... Kakak lah yang paling tampan di dunia, dan aku sangat mencintai kakak. Puas !!! " Jawab Moza masih sambil menahan geli atas perlakuan Hega.
Akhirnya Hega menghentikan ulahnya, tersenyum puas dengan jawaban kekasihnya kemudian memeluk kembali Moza dan membenamkan wajah Moza di dadanya.
" Tentu saja aku merasa puas. Lagipula dimana lagi kamu bisa menemukan pria yang setampan aku, hem ?! " Ucap Hega penuh percaya diri.
" Hahahaha... Kakak narsis. " Moza terkekeh mendengar kenarsisan sang kekasih yang memang layak untuk narsis karena wajah sempurna seperti pahatan dewa itu.
Hega sontak melonggarkan pelukannya menunduk dan memandang wajah Moza.
" Apakah ucapanku salah, hem ? Pernahkah kamu melihat ada pria setampan aku ?! " Hega merasa kesal saat menduga-duga jika Moza melihat pria lain selain dirinya.
Dahi Moza tampak mengerut tanda berfikir, " Iya juga si, tidak ada yang setampan senarsis dan semenyebalkan calon suamiku ini. " Celetuk Moza jahil mencubit hidung mancung Hega dan menggerakkannya ke kanan dan ke kiri, kemudian keduanya tergelak bersama.
~ Flashback End ~
...πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ...
...JANGAN LUPA GOYANG JEMPOLNYA YA...
__ADS_1
...βLIKE β KOMENTAR β VOTE β...