Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
[ Saingan Cinta ] Moza vs Alina


__ADS_3

AUTHOR


Semua mata menatap dengan pandangan bertanya-tanya ke arah Suryatama. Menunggu dengan penasaran hal mengejutkan apa lagi yang dari cerita masa lalu yang bahkan lebih menarik dari fakta jika Moza sudah tergila-gila pada Hega sejak usia gadis itu masih sangat belia.


" Tenang saja Moza sayang, kenyataan yang sebenarnya justru bocah yang sedang duduk di sampingmu itulah yang terlebih dahulu terpesona dan tergila-gila olehmu. " Sambung Suryatama berkata pada Moza sembari melirik Hega dengan ekor matanya.


" Ah... ? " Moza tampak menautkan kedua alisnya bingung, menandakan jika ia tidak mengerti maksud ucapan Suryatama dan penasaran juga ada cerita apa di masa lalu antara dirinya dan Hega.


Hega sendiri juga tidak terlalu ingat masa lalunya, beberapa memori di masa lalunya seolah terpotong dan ada yang samar-samar.


" Arya, kamu ingat kan kejadian 20 tahun yang lalu ?! Bagaimana kelakuan putramu saat pertama kali melihat seorang bayi perempuan cantik yang barusaja lahir ? " Tanya Suryatama pada putranya.


Arya tersenyum mengingat kenangan masa lalu itu, sekaligus muram ketika bayangan istri pertamanya muncul di pikirannya. Almarhumah Nadira, istri pertamanya yang juga adalah ibu dari putranya, Hega Airsyana.


Ayu dan Ardi ikut tersenyum ketika mereka teringat memori yang barusaja disebutkan oleh Suryatama.


Aaaahhh.... Apalagi coba ? Aku penasaran tahu.... Ayo dong cerita, Kek ! Siapa tahu dengan cerita itu aku bisa mengalahkan cucu kakek yang wajahnya terlihat menyebalkan tapi tampan ini. Huuuu....


Arggh... Kenapa aku tak bisa melupakan kata "tampan" setiap kali mendeskripsikan wajahnya si ?! Menyebalkan... πŸ˜–πŸ˜‘


Dahi Moza semakin tampak mengerut, bola matanya menatap Kakek Suryatama dengan wajah memohon agar melanjutkan ceritanya.


β€’


⚘⚘⚘


Di ruang kerjanya di H-Mo Boutique, Moza sedang fokus pada sketch book miliknya, menggoreskan pensil gambarnya pada lembar putih dengan gerakan jari yang sangat lincah.


Moza membuat goresan tipis-tipis untuk membentuk sketsa gaun yang sedang tergambar di bayangannya. Dimulai dengan bentuk dasar busana, lalu perlahan-lahan menambahkan beberapa detail seperti aksesoris, renda atau kerutan, dan beberapa ornamen yang dirasa sesuai untuk model gaun yang sedang dirancangnya.


Sesekali dahinya mengerut menandakan ketidakpuasan pada hasil goresan pensilnya, kemudian memandangi buku itu lekat-lekat dan terlihat memejamkan matanya sejenak seolah mencari-cari apa yang membuatnya kurang puas dengan hasil desainnya.


Cukup lama Moza mengamati sketsa yang barusaja dibuatnya, dan sebuah tarikan ke atas terukir di kedua sudut bibirnya. Dibukanya halaman baru, menggores ulang kertas polos itu dengan pensilnya, menyempurnakan desain sebelumnya.


Jarinya menari-nari di atas buku polos itu hingga terciptalah sebuah sketsa indah yang berhasil memuaskan hatinya. Moza meletakkan pensil gambarnya, mempertegas sketsanya dengan menebali seluruh gambar menggunakan pena.


Sekali lagi senyuman terukir di bibir Moza, senyum yang bisa membuat para kaum Adam terpesona oleh kecantikannya.


Moza menatap lamat-lamat hasil desain terbarunya, dengan cepat mengambil kotak pensil warna dan mempercantik desainnya.


Mulai dengan menggunakan warna paling terang, mewarnai daerah yang lebih lebar dengan pulasan yang panjang dan konsisten, yang gerakannya sama dengan arah pada kain. Kemudian dengan perlahan-lahan menambahkan warna yang lebih gelap sesuai dengan pola dan bayangan yang ada di kepalanya.


Dari gambar hitam putih menjadi lebih hidup saat Moza memberikan sentuhan warna pastel pada rancangan gaun yang barusaja dibuatnya. Gadis itu sedang cukup bersemangat mencari ide-ide baru untuk koleksi terbarunya.


Hingga suara dering ponsel dari dalam tasnya mengalihkan konsentrasinya.


Drrrrt..... Drrrrt.... 🎢🎡🎢🎡

__ADS_1


πŸ“² ~ Unknown Number ~


[ Nomor Tidak Dikenal ]


Moza yang memang tidak pernah menanggapi nomor asing yang menelepon ataupun mengirim chat padanya kemudian memilih me-reject panggilan tersebut. Bahkan hingga beberapa kali panggilan, gadis itu terus mengabaikannya.


Bukan tanpa alasan Moza melakukan itu, tapi memang sejak dulu ponselnya sering mendapat panggilan atau pesan dari orang yang tidak dikenalnya.


Lebih banyak adalah dari para pria yang mengejarnya dan ingin berkenalan dengannya. Karena itulah sejak masuk SMU, Moza berprinsip tidak akan merespon panggilan dari nomor asing yang tidak tersimpan di phonebook ponselnya.


Barusaja Moza hendak meletakkan kembali ponselnya, benda pipih itu kembali berbunyi.


Tring...


Sebuah notifikasi pesan masuk kedalam aplikasi chatnya.


πŸ“© +6281762xxxxx :


Aku Alina, bisakah kita bertemu ?


Ada yang ingin aku bicarakan denganmu. Aku tunggu kamu di BlueMoon Cafe & Resto, Jl. XXX pukul 12 siang ini.


Moza Artana :


Baiklah.


⚘⚘⚘


~ BlueMoon Cafe and Resto ~


Moza menghampiri satu sudut ruangan dimana wanita yang mengajaknya bertemu itu sudah duduk menunggunya.


Terlihat jelas kegelisahan di wajah wanita cantik itu.


" Maaf saya terlambat. " Ucap Moza sembari mengulurkan tangannya pada Alina yang tampak sedang melamun.


" Ah... Tidak, aku juga barusaja tiba. Duduklah dan santai saja, jangan bicara formal padaku, toh sepertinya usia kita tidak berbeda jauh, kan ?! " Jawaban Alina sedikit canggung seraya membalas uluran tangan Moza.


" Baiklah. " Moza meletakkan tasnya di kursi kosong di sampingnya.


" Mau minum apa ? " Tanya Alina sambil mengangkat tangannya memanggil pelayan restoran.


" Ah, tidak perlu. Terima kasih. "


" Pesanlah, aku memintamu bertemu jadi tidak sopan jika aku tidak menawarimu minum. " Pinta Alina berbasa-basi.


" Hem, baiklah. Orange juice saja, terima kasih. "

__ADS_1


" Tambah satu orange juice ya ! " Ucap Alina saat seorang pelayan sudah berdiri di samping meja mereka.


" Jadi apa yang mau anda bicarakan ?! " Tanya Moza saat pelayan sudah meninggalkan mereka.


" Panggil saja Alina. "


Moza tersenyum datar, " Baiklah, kak Alina mau bicara tentang apa ? " Tanya Moza lagi.


Basa-basi benar-benar bukan gaya seorang Moza Artana. Jelas Moza sudah bisa menebak apa yang hendak menjadi topik pembicaraan wanita di hadapannya itu.


Terlihat Alina sedang menghela nafas, seolah sedang mengumpulkan keberaniannya untuk bicara.


Alina meminum lemon tea pesanannya, kemudian menautkan kedua telapak tangannya dan bertumpu di atas meja.


" Aku sudah mencintainya selama 3 tahun, mengejarnya dan mendekatinya selama 3 tahun pula. " Ucap Alina pada akhirnya.


Kalimat yang memang sudah bisa ditebak oleh Moza jika alasan pertemuan ini adalah untuk membahas seorang pria.


Moza hanya diam mendengarkan, gasis itu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya, menyilangkan satu kakinya ke atas dan kedua tangannya saling bertautan di atas kakinya.


" Aku belum bisa menyerah karena aku merasa jika aku masih memiliki kesempatan. Toh kalian barusaja berpacaran dan masih ada kemungkinan kalian putus kan. " Sambung Alina penuh percaya diri.


Moza masih diam, menunggu waktu yang tepat untuk bersuara.


" Jadi selama kalian belum resmi menikah aku akan terus mengejarnya. " Imbuh Alina lagi dengan nada mantap.


J E N G . . . J E N G . . . J E N G . . .


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Kira - kira apa jawaban Moza ?


Apakah Moza akan diam saja ataukah justru Moza akan bisa membuat saingan cintanya diam seribu bahasa ?


Kalau kalian jadi Moza kalian akan melakukan apa ?


a. Diam saja


b. Bilang dengan nada menantang dan tersenyum devil " Coba saja rebut dia jika bisa ? "


c. Ambil gelas lemon tea dan siram ke muka nya. πŸ™ŠπŸ™‰πŸ™ˆ


d. ........ (bebas isi sendiri 😁😁😁)


...JANGAN LUPA GOYANG JEMPOLNYA YA...


...⚘ LIKE ⚘ KOMENTA ⚘ VOTE ⚘...

__ADS_1


...I πŸ’œ U PULL...


__ADS_2